
[Chloe’s POV]
“Nona Eliza, ada kiriman bunga mawar lagi di bawah pagi ini.” Layla berdiri di depan pintu perpustakaan sambil membawa seikat bunga mawar.
Aku meliriknya sebentar dan memutar bola mataku. “Buang saja, Layla.”
“Tapi bunga ini masih segar dan harum, nona. Sangat sayang untuk dibuang, apalagi harga bunga mawar merah sangat mahal di musim ini. Ah, aku akan meletakkannya di pot bunga yang satu lagi.”
“Ini sudah dua hari berturut-turut seseorang memberimu bunga mawar, nona. Biasanya para penggemar nona pasti memberi bunga lily, daisy atau tulip. Ini penggemar baru ya, Nona Eliza?”
“Kamu ingat pria yang masuk tanpa izin ke dalam tendaku? Dia orangnya.”
Layla sudah menata bunga mawar itu di dalam pot bunga kristal, dia membelalakkan matanya.
“Aku sudah tau, nona! Pria itu pasti tergila-gila padamu. Dia sangat tampan dan tinggi.”
Alarm berdering di kepalaku.
“Bukannya kamu membencinya, Layla? Kenapa sekarang kamu malah memujinya?”
“Setelah mendengar kata prajurit yang ikut berperang dengan nona, aku sudah melihatnya sebagai pria yang berbeda. Dia memang kelihatan dingin di luar, tapi dia sangat perhatian pada nona.”
“Layla, selain di tenda kemarin, kamu ada bertemu dengannya lagi?”
Layla tampak berpikir sebentar. “Hmm… Oh, aku bertemu dengan Tuan Dimitri dua hari lalu saat ikut dengan nona di istana. Dia memanggilku sebentar tapi aku lupa apa yang kita bicarakan.”
Aku menutup bukuku dengan begitu keras dan beranjak dari sofa. Aku akan membuat perhitungan dengannya! Dia sudah berani untuk memanipulasi pikiran Layla. Lalu terpikirkan hal lain yang membuatku merinding.
“Layla, apa dia berbuat hal aneh pada lehermu?”
Spontan Layla memegang lehernya sendiri. “Aku lupa, Nona Eliza. Maafkan aku, nona. Aku bersumpah tidak akan mencoba untuk merebutnya dari anda, nona. Aku bukan orang seperti itu.”
“Siapkan Stormy sekarang juga! Aku akan membuat perhitungan dengannya!”
Layla menelan ludahnya dan memberiku hormat lalu segera pergi keluar ketika mataku menangkap sosoknya dari jendela kaca. Aku berlari turun sambil mengangkat gaun panjangku.
Ketika aku sampai di bawah, Jack sudah menerima tamu itu masuk. Rambut hitamnya sedikit berantakan karena terkena angin, dia membuka jubah hitamnya dan Jack dengan sigap mengambilnya dari tangan Dimitri.
“Selamat pagi, Nona Eliza. Kamu terlihat sangat cerah dengan gaun biru, menyejukkan pemandangan.” Matanya melirikku dari atas ke bawah, tidak peduli dengan Jack yang berdiri disana.
Aku melangkah santai ke arah pria itu.
“Selamat pagi, Dimitri. Kamu juga terlihat…”
__ADS_1
Kepalan tanganku yang meninju wajahnya berhasil membuatnya terhuyung sedikit. Jack melihat kami dengan ekspresi takut namun aku menyuruhnya pergi dengan mengangkat kepalaku ke atas.
“Terlihat sangat tampan dengan wajah yang remuk karena tinjuanku.”
Aku meretakkan jariku, bersiap untuk mengantisipasi serangannya namun Dimitri hanya tertawa. Memang dia sudah gila!
“Aku ada salah apa Chloe?” Dia membetulkan rahangnya.
“Kamu berani bertanya?! Kamu sudah memanipulasi pikiran Layla! Membuatnya berkata baik tentangmu.”
Dimitri melangkah mendekatiku.
“Mungkin aku memang menggunakan sedikit kekuatan vampir untuk membuat Layla menyukaiku. Dengan begitu, tidak ada halangan lagi untuk mendekati nonanya.”
Aku hendak memberinya satu jotosan lagi namun tangan kecilnya dipegang erat oleh Dimitri saat terayun di udara.
“Kamu sudah menerima bunga mawar yang aku berikan?”
Ibu jarinya mengusap kulit yang menutupi urat nadiku, membuatku merinding.
“Ya, semuanya sudah kubuang. Mau apa kamu kesini, Dimitri?” Aku menepis tangannya.
Dimitri memegang dadanya dengan dramatis. “Bukankah kamu sudah berjanji akan membuka hatimu untukku, Chloe?”
Permintaan bodoh Dimitri benar-benar membuatku pusing! Aku semalaman memikirkan bagaimana bibirnya menyentuh kulit tanganku, saat dia memutar badanku dan mendekapku kembali. Kedekatan tubuhnya yang keras membuatku menginginkan lebih.
“Tapi aku tidak berjanji akan membuka pintu rumahku untukmu, Dimitri!”
“Nona Eliza, kamu sungguh galak. Ini bukan rumahmu, melainkan rumah Edric Suarez.”
Seakan dipanggil, Edric keluar entah dari mana dan menyambut Dimitri. Mereka basa-basi sebentar dan aku memperhatikan saat kedua pria itu berdiri disana. Kalau dihitung dari umur vampir maka Dimitri lebih tua dari papaku!!
“Malam ini kamu bisa dinner disini, Dimitri.”
“Papa!”
“Please, Chloe. Hanya sebagai tanda terima kasih untuk komandan perang Raja Rudolmuv yang sudah membantu kita. Sebagai duta perdamaian, papa harus menjamu Dimitri.”
Aku mendengus. Tidak biasanya aku bersikap kekanakan begini. “Dia tidak makan makanan manusia dan aku tidak setuju kalau dia menghisap darah salah satu pelayan kita!”
“Menghisap darah Layla maksudmu?” nadanya sengaja membuat darahku yang telah membeku jadi mendidih.
“Kamu!!”
“Sudah, sudah. Kalian seperti anak kecil saja. Dimitri itu sama seperti kita, Chloe. Dia tidak minum darah manusia lagi.”
Aku mengangkat satu alisku tak percaya. Dimitri tersenyum dengan bangga. Dia bangga tidak minum darah manusia?
__ADS_1
“Apa alasanmu tidak minum darah manusia lagi?”
“Penasaran, Nona Eliza?”
Edric berdehem. “Dimitri, temui aku di ruang kerja setelah kamu selesai bicara dengan Chloe.”
Kami berdua menunggu Edric pergi sampai pintu ruang kerjanya tertutup.
“Sejak kamu pergi dari hidupku, aku tidak bisa minum darah wanita lain lagi… Oh, aku mencobanya sekali tapi perutku tidak bisa menerima darah manusia. Aku berhenti minum untuk waktu yang lama saat tau kamu sudah tiada… Aku hanya bertahan karena ada seseorang yang membutuhkanku.”
“Kamu pasti memanipulasi pikiranku supaya aku memberimu darah. Aku bukan Chloe yang dulu lagi.”
Ada ekspresi sedih di wajahnya, lalu dia berkata, “Kekuatan vampir tidak mempan untukmu, Chloe. Itu yang membuatku semakin tertarik padamu. Kamu manusia yang unik, babu kecil. Aku pernah berkata begitu…”
Aku menolehkan kepalaku ke samping. “Apakah kamarmu dominan dengan warna merah?
Dimitri tertegun sejenak. “K-kamu sudah mengingatnya, Chloe?”
“Aku hanya asal menebak ternyata benar.” Aku memegang perutku menahan tawa. Wajah Dimitri sangat lucu ketika dia pikir aku sudah mengingat semuanya.
Dia menghela napas lega. “Baguslah, kalau kamu ingat semuanya mungkin aku sudah tidak berdiri disini lagi.”
***
Sebelum matahari terbenam, aku dan Dimitri berjalan menyusuri jalan setapak menuju hutan di belakang kediaman Edric Suarez.
Papa tiba-tiba bilang dia tidak bisa ikut dengan kami karena ada urusan mendadak. Dia memohon padaku untuk menemani Dimitri pergi berburu. Dengan berat hati, aku akhirnya berada disini, berjalan di belakangnya dengan malas.
“Apa kamu sudah lapar, Chloe? Aku bisa menggendongmu sampai kita tiba di tengah hutan.”
Aku mempercepat langkahku dan melewatinya. “Siapa bilang? Aku bisa jalan sendiri, terima kasih.”
Terdengar suara tawanya dari belakang. Kami tiba di tengah hutan lebat itu, aku sudah dapat melihat targetku dari kejauhan perlahan mendekat menuju kami. Ada satu rusa besar yang cukup untuk disantap kami berdua. Tanganku bersiap-siap untuk mengambil anak panah.
“Oh, jadi ini caramu berburu? Sama seperti manusia.”
Rusa itu lari ketika mendengar suara Dimitri. Aku mendesis padanya karena mungkin itu rusa terakhir yang dapat kita temui sebelum matahari tenggelam. Sebenarnya aku membawa busur dan anak panah karena tidak mau menggunakan kekuatanku di depan Dimitri.
Tapi mau bagaimana lagi? Daripada aku tidak makan hari ini, akhirnya dalam sekejap mata aku menghilang dari sisi Dimitri.
...----------------...
...Thank you semuanya yang uda setia support...
... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...
__ADS_1
...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...