Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Melanjutkan Hidup tanpa Belahan Jiwa II


__ADS_3

Dimitri berdiri di balik pintu, melihat dari celah pintu yang terbuka. Bayi itu tertidur di tangan Adreana.


Dia tidak sanggup melihat wajah anaknya sendiri. Dwayne mengingatkan dia pada wanita yang dicintainya. Dimitri akhirnya mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini, seorang anak, tapi dengan bayaran dia harus kehilangan Chloe.


Dimitri pikir dia akan mudah melupakan Chloe. Mencintai manusia biasa bukanlah bagian dari rencananya. Dia sudah terbiasa hidup menyendiri selama 1 milenium, dia tidak butuh manusia rendahan.


BRAAKK!


Pohon besar yang sudah berdiri selama bertahun-tahun di halaman kastil, roboh hanya dengan sekali tinjuan.


‘Aku Dimitri D’Arcy tidak akan hancur hanya karena seorang wanita!’


BRAAAK!!


Pohon kedua tumbang, tapi dia belum puas. Kepalan tangan Dimitri hendak meninju pohon berikutnya, namun seseorang mencegahnya.


“Draven!” dia mendesis saat melihat siapa orang itu.


“Ini tidak ada gunanya, Dimitri! Chloe tidak akan pernah mengingatmu kembali dan jangan lupa… Kamu yang sudah mengusirnya pergi dengan kejam.”


Perkataan Draven semakin membuat Dimitri murka, seperti menuangkan bensin ke api yang menyala, Dimitri tidak segan untuk menghantam wajah Draven.


Tapi baru kali ini, Draven dapat menyingkir sebelum hantaman itu merusak wajahnya.


“Gerakanmu semakin lambat, Dimitri. Apa sejak umurmu menginjak 1 milenium, tenagamu menciut?” ejeknya.


Dimitri menggeram, mata merahnya menatap tajam ke arah Draven. Lalu dia sadar, Draven hanya memancing emosinya.


Dimitri meretakkan jarinya lalu lehernya yang kaku ke kiri dan ke kanan. Matanya berubah normal, dia kembali menahan emosinya. Tidak ada ekspresi yang bisa dibaca Draven dari wajah vampir itu.


‘Shi*t! Dia lebih mengerikan kalau bersikap dingin.’


Draven menelan ludahnya, “Dimitri, ini tidak dapat terus berlanjut. Kamu sendiri yang berencana untuk mengeluarkan Chloe dari…”


“Jangan sebut namanya.”


Dimitri berbalik dan menjauh darinya tapi Draven mengikuti dari belakang.


“Fine. Kamu sendiri yang sudah merencanakan semuanya, Dimitri. Anak itu tidak salah apa-apa tapi kenapa kamu tidak pernah menggendongnya lagi? Hell, bahkan sudah seminggu ini kamu tidak melihatnya, Dimitri!”


Dimitri tidak memberi respon.


“Apa kamu menyesali semuanya, Dimitri? Kalau saja kamu tidak berambisi untuk mempunyai seorang anak, mungkin dia masih berada di sisimu!”


Dimitri berhenti, dia menoleh hanya untuk melihat Draven dan memberi peringatan.


“Jangan ikut campur, Draven. Aku tidak ingin mendengarnya lagi.”


Setelah itu, dia berjalan pergi meninggalkan Draven yang berdiri disana. Tau pasti kalau dia membuka mulutnya sedikit saja, Dimitri akan mengusirnya keluar.

__ADS_1


‘Baiklah, kalau itu kemauanmu, Dimitri! Dasar vampir tua tak tau diuntung!’


***


Sudah satu minggu Dimitri tidak minum darah. Jika ini terus berlanjut, dia bisa mati. Tenaganya juga seakan hampir habis, bahkan Draven yang lemah saja bisa menghindar dari hantamannya.


Ingin mencoba keluar dari belenggunya, Dimitri menyuruh seorang pelayan masuk ke kamarnya. Pelayan baru itu kebingungan saat mendapat perintah dari majikannya. Matanya menatap seisi ruangan yang bernuansa merah itu dengan ragu.


Dimitri dapat mendengar degup jantungnya yang kencang. Bau darah wanita itu membuat gigi taringnya gatal, tapi tidak dapat memanjang.


‘Sial! Sampai kapan gigi taringku bisa kembali!’


“T-tuan, ada yang bisa saya lakukan untukmu, Tuan Dimitri?”


Itu bukan suara yang ingin dia dengar. Dimitri teringat saat pertama kali Chloe masuk ke kamarnya. Sebelum tangan kecil itu membuka pintu, Dimitri sudah mendengar langkah kakinya yang pelan.


Dia yang sedang duduk di depan perapian sambil menyesap anggur merahnya dengan santai, langsung berbaring di atas kasur.


Saat pintu kamar terbuka, bau darah Chloe begitu semerbak, Dimitri sampai berusaha setengah mati untuk tidak menerkamnya di saat itu juga. Lebih mengejutkannya lagi, pelayan rendahan itu berani untuk membunuhnya!


“Buka bajumu.”


Pelayan baru itu langsung mengerti keinginan tuannya. Dia sudah pernah bekerja untuk beberapa tuan, dan tidak asing lagi jika mereka ingin menggunakan tubuh para pelayan. Tanpa ragu, dia membuka kancing bajunya.


“Berhenti.”


Tangan pelayan itu belum selesai membuka semua kancingnya saat Dimitri menghentikannya. Dalam satu kedipan mata, dia sudah berdiri di depan wanita itu dan menggigit lehernya.


Dia memikirkan Chloe saat menghisap darah pelayan itu, walaupun bau dan rasanya berbeda. Perut Dimitri hampir memuntahkan darah yang telah dia hisap namun dia tahan. Setidaknya, gigi taring Dimitri bisa keluar.


Setelah menghilangkan ingatan si pelayan, Dimitri menyuruhnya pergi. Dia kenyang tapi darah itu tidak memuaskan nafs*unya.


Dimitri melangkah keluar dan berhenti di depan pintu kamar anaknya, dia melepas tangan yang sudah di atas gagang pintu dan mengurungkan niatnya untuk masuk.


Tidak untuk saat ini.


***


Matahari sudah terbit di timur, suara burung berkicau begitu merdu namun Elfin tidak berhenti mondar-mandir dari kandang kuda ke depan pintu pagar.


“Kenapa nona Chloe belum kembali? Tidak biasanya nona berkuda sampai selama ini…” dia begitu takut sampai berbicara pada dirinya sendiri.


Suara derap kaki kuda terdengar dari kejauhan dan Elfin membalikkan badannya.


‘Nona Chloe!’


Jantung Elfin hampir copot saat melihat Twinkle kembali tanpa penunggang!


Dia berlari menuju arah Twinkle dan menarik tali kekang kuda itu untuk menghentikannya. Kuda putih itu meringkik seakan dia tau apa yang terjadi dan ingin memberitahu Elfin.

__ADS_1


“Twinkle! Dimana nona Chloe?!” suaranya bergetar, pikirannya kalut, dia sampai bertanya pada satu-satunya saksi yang tidak dapat berbicara bahasa manusia.


‘Gawat!! Aku harus segera memberitahu Tuan Dimitri!’


Elfin tidak mungkin mencari nona Chloe seorang diri, dia tidak memiliki kemampuan untuk melacak orang. Walaupun dia takut akan mendapat amukan Tuan Dimitri, tapi keselamatan nona Chloe yang paling utama.


Tanpa pikir panjang lagi, Elfin bergegas menunggangi Twinkle dan pergi ke Kastil D’Arcy.


Sesampainya disana, petugas gerbang memberi akses masuk dan Elfin dengan cepat berlari ke pintu depan kastil yang besar dan menjulang tinggi.


Ini pertama kalinya Elfin menginjakkan kaki di Kastil D’Arcy, tapi tidak ada perasaan senang di hatinya.


Denis, kepala pelayan kastil menyambut Elfin. Belum sempat dia tersenyum kepada orang itu, Elfin sudah berteriak.


“Panggil Tuan Dimitri! Cepat panggil Tuan Dimitri!! Ini gawat!”


Denis kebingungan, “Ada masalah apa, tuan?”


“Aku bukan tuan! Aku penjaga kandang di Ivy Cottage… Nona Chloe hilang! Maksudku dia tidak kembali… Cepat kamu panggil saja Tuan Dimitri.”


Melihat ekspresi Elfin, Denis tau bahwa ini situasi yang genting. Dengan sigap dia memanggilkan Tuan Dimitri di kamarnya.


Elfin menunggu sambil berjalan mondar-mandir di aula kastil, mendongakkan kepalanya ketika Tuan Dimitri turun dengan wajah seram.


GULP!


Elfin menelan ludahnya. Belum saja dia bilang bahwa Nona Chloe menghilang, tapi wajah majikannya sudah seperti mau membunuh orang.


Tuan Dimitri menangkat satu alisnya, “Ada apa, Elfin?”


“Tuan Dimitri, anu… Nona Chloe…”


Mendengar nama itu keluar dari mulut Elfin dengan suara yang bergetar, Dimitri sudah tau ada yang tidak beres.


“Cepat katakan!”


“Nona Chloe tidak kembali, tuan. Hanya Twinkle yang kembali.”


“Apa maksudmu? Katakan dengan jelas!” bentaknya.


“Sepertinya nona Chloe menghilang, tuan… Dia pergi berkuda di malam hari dan selalu pulang saat matahari terbit. Tapi tadi kuda putih yang selalu dia tunggangi, pulang tanpa penunggang, tuan…”


Kepala Dimitri berdenyut.


Elfin melanjutkan, “Saya takut terjadi sesuatu pada nona Chloe, tuan…”


...----------------...


...Ayuk temenan sama author di IG...

__ADS_1


...Instagram: @misscapri._...


__ADS_2