
...- Kerajaan Azov -...
[Third POV]
Darah.
Haus.
Darah.
Kaki yang tak beralaskan sepatu menginjak jalan pasir dan bebatuan, rambut panjangnya tergerai kusut menutupi sebelah wajah, bibir tipisnya masih terdapat sisa darah mangsa tadi malam.
Dia sudah menghisap habis darah dari dua orang pria namun rasa hausnya masih tak ter*puaskan.
Fajar menyingsing, wanita itu melihat ke arah timur dengan mata merahnya dan mendesis. Dengan cepat dia mencari tempat persembunyian saat mendengar suara teriakan dari arah belakang.
Dia menoleh dan melihat beberapa orang dengan menunggangi kuda mengejarnya. Memicingkan matanya, dia melihat lima pria... Bukan. Empat manusia dan satu vampir.
“Itu dia!!”
“Tangkap dia!!”
Wanita itu menggeram dan dia melupakan rasa hausnya sejenak.
Ancaman! Harus sembunyi! Cahaya Matahari!
Dia berlari dengan cepat dan matanya sudah melihat sebuah kastil gelap terbengkalai yang masih jauh jaraknya. Merasa itu adalah tempat paling sempurna untuk lari dari kejaran, dia semakin memacu kakinya.
Suara derap kaki kuda terdengar mendekat, cahaya matahari hanya melemahkan dirinya. Jika malam masih gelap, dia pasti sudah tiba di sana dalam hitungan detik.
Sebuah tangan menggapai bahunya, mencengkeram begitu erat sampai badannya berputar menghadap vampir berjubah hijau gelap itu. Terdapat sebuah benda berbentuk lingkaran berwarna perak di tangan kirinya.
Stefan, kaki tangan Edric Suarez hendak mengkalungkan lingkaran itu ke leher vampir yang baru lahir ini. Mereka telah mengejarnya selama dua hari dan tidak pernah berhasil menangkapnya.
Strategi baru pun disusun. Perburuan dilakukan saat matahari terbit, dimana vampir yang baru lahir berada di titik terlemah.
Tangan Stefan hendak mengkalungkan lingkaran berlapis perak ke leher vampir wanita itu, akhirnya dia berhasil menangkapnya!
Belum saja rasa bangga itu usai dari dalam diri Stefan, tawanannya menyunggingkan senyum remeh padanya lalu menghilang begitu saja dari hadapan Stefan.
Stefan tersentak kaget, tangan kirinya masih terayun ke atas dan lingkaran itu hanya menangkap udara.
“Kemana dia?”
Dia sampai berkedip beberapa kali dan melihat sekelilingnya untuk memastikan bahwa wanita itu benar-benar hilang.
Prajurit Raja Azov yang melayani Tuan Edric berhenti di belakangnya dan turun dari kuda mereka.
“Tuan, dimana gadis itu?”
Para prajurit tidak tau kalau yang mereka kejar adalah seorang vampir.
“Tadi saya melihat tuan sudah begitu dekat dengannya, tapi kenapa sekarang dia tidak ada disini?” tanya yang lain dengan bingung.
Stefan masih tak percaya apa yang terjadi. Dia diam begitu lama sebelum berkata, “Hilang. Dia menghilang.”
Dia mengepalkan tangannya, seorang tangan kanan Edric Suarez kalah dengan vampir yang baru lahir?
__ADS_1
Matahari sudah hampir keluar dengan utuh. Mereka tidak bisa melanjutkan perburuan ini.
“Kalian semua, susur semua daerah hutan ini! Cari apakah ada gubuk atau tempat terbengkalai yang gelap. Tapi jangan coba-coba untuk masuk. Jika ada yang mencurigakan, beritahu aku. Mengerti?”
“Siap, tuan!”
Mereka kembali menaiki kuda dan berpencar. Stefan sendiri bersiap-siap untuk melaporkan kegagalannya pada Tuan Edric.
***
...[Aula Rapat Kerajaan Azov]...
“Raja, tanpa mengurangi rasa hormat saya. Izinkan saya berpendapat.”
Raja Azov, pria berusia 45 tahun dengan bentuk tubuh besar di tengah, tidak terlalu tinggi dan memakai jubah velvet biru mewah, mempersilahkan duta perdamaiannya untuk berbicara.
“Hm. Silahkan, Edric.”
Edric Suarez berdiri dari bangkunya dan menatap semua orang yang duduk di meja persegi panjang itu. Semuanya terlalu bersemangat untuk berperang tanpa memikirkan rakyat yang ada di bawah.
Kerajaan Azov bukan kerajaan miskin. Mereka diakui akan jumlah prajurit, senjata perang serta ketersediaan bahan makanan. Namun jika perang pecah, hidup rakyat di kerajaan ini juga akan susah.
“Saya mengerti kemarahan kalian semua, para tuan terhormat. Komandan perang kita, Lazarus, terbunuh sia-sia. Dia bukan tewas karena berperang, tapi tewas di tangan seorang wanita. Tapi jangan sampai amarah ini membutakan kalian. Kita sedang dalam situasi terhimpit.”
Lalu Edric menatap Raja Azov yang duduk di singgasananya dengan segelas anggur merah di tangan kiri yang penuh cincin batu berukuran besar.
“Raja, kita harus memikirkan serangan dari Kerajaan Navarre. Dalam bulan ini sudah dua kapal perang kita telah lenyap dari perbatasan laut timur, raja. Saya kira itu sudah merupakan sinyal untuk menyerang kerajaan kita.”
“Saya setuju dengan perkataan Tuan Suarez,” ucap seorang pria tua berambut putih yang duduk di ujung meja, Argo, mantan komandan perang Raja Azov.
“Lagipula, Lazarus tewas karena salahnya sendiri. Dia telah menculik seorang wanita yang berasal dari kerajaan lain, lalu dia bukan terbunuh di tanah Azov. Saya rasa kita tidak perlu melanggar kesepakatan yang telah kita buat dengan Kerajaan Rudolmuv hanya karena seorang komandan perang yang semakin menua.”
Ruangan semakin bising dengan banyaknya pendapat lain membuat Raja Azov membanting gelasnya ke atas meja.
“Lalu siapa yang akan menjadi komandan perangku yang baru?!”
Semuanya hening tak berani membuka mulut mereka untuk memberi usul. Raja Azov terkenal dengan standar tingginya dalam memilih komandan perang. Dia hanya akan menyetujui orang yang benar-benar lihai bertarung.
“Kenapa kalian diam? Kalau sampai Kerajaan Navarre mendengar kabar seorang Raja Azov tidak memiliki komandan perang, aku bisa ditertawakan!”
Istri ketiga Raja Azov yang hanya duduk diam di samping suaminya, akhirnya buka suara, “Bagaimana dengan Cedric? Dia sudah cukup umur dan berlatih selama ini untuk diangkat sebagai komandan perang Azov.”
Raja Azov mendengus, “Sepupumu yang tak berguna itu? Jangan harap aku akan mengangkat bocah itu menjadi komandan perangku!”
Permaisuri Juliana terdiam mendengar sindiran suaminya yang secara terang-terangan menyatakan rasa jijiknya di hadapan semua pejabat penting.
Edric melihat ke luar pintu, tangan kanannya yang merupakan seorang vampir, Stefan telah kembali. Dari raut wajahnya, dia gagal lagi untuk menangkap vampir yang baru lahir itu.
“Tuan, beri saya waktu untuk mencari pengganti komandan perangmu.” Edric menurunkan kepalanya sebagai tanda hormat.
Raja Azov mengayunkan empat jarinya, sebagai tanda bahwa pertemuan telah usai. Mereka berada di jalan buntu, walaupun telah berminggu-minggu dihabiskan untuk pembicaraan ini.
Selama dia tidak punya komandan perang, Raja Azov tidak dapat melakukan apapun.
Edric keluar dari ruangan rapat dan menyeret Stefan ke samping, jauh dari pendengaran yang lain.
“Bagaimana? Kamu gagal lagi?”
Stefan menelan ludah karena malu, “Maaf, tuan. Tapi anda tidak akan percaya pada apa yang saya lihat! Vampir itu…” dia melihat sekelilingnya dan menurunkan volume suaranya.
__ADS_1
“Wanita itu bisa menghilang, Tuan Edric.”
Edric mengernyitkan dahinya tidak percaya pada perkataan tangan kanannya.
“Sumpah, tuan. Saya sudah begitu dekat dengan dia, bahkan tangan saya sudah berada di pundaknya hendak mengkalungkan segel perak di leher vampir itu. Tapi tiba-tiba dia menghilang tuan.”
Stefan merinding kembali ketika dia menceritakan peristiwa yang terjadi pada tuannya.
Segel perak, alat yang digunakan untuk menangkap vampir baru yang berkeliaran tanpa pendamping. Lingkaran itu akan masuk ke leher vampir dengan tali yang juga terbuat dari perak, dapat menahan vampir baru yang memberontak.
“Kalau sampai vampir itu tidak tertangkap, kamu mengerti kan siapa yang akan turun tangan?” desis Edric.
Dia tidak mau mengundang kehadiran Klan Children of the Night, selagi dia mampu mengurus permasalahan yang terjadi disini.
Apa susahnya menangkap seorang vampir yang baru lahir? Mereka tidak akan tahan berlama-lama di bawah cahaya matahari. Pikiran mereka hanya diselimuti dengan rasa haus. Tidak ada yang mereka pikirkan selain darah.
Edric semakin penasaran dengan vampir yang tak kunjung mereka tangkap. Dia hendak mengatakan bahwa dia sendiri yang akan menangkap vampir baru itu ketika matanya melihat siapa yang berjalan ke arah mereka.
“Alaric.”
“Hello, Edric Suarez. Senang bertemu denganmu kembali setelah… Hm, 50 tahun yang lalu?”
“Apa yang membuatmu kemari, Alaric?”
Alaric mengangkat satu alisnya ke atas, “Apa perlu ditanya, Edric? Kamu punya masalah yang tak kunjung kamu tangani.”
Jika Alaric sudah mendapat kabar bahwa ada vampir baru yang berkeliaran bebas dan membunuh 29 manusia dalam waktu kurang dari seminggu, maka Klan Children of the Night telah tau.
“Sebentar lagi dia akan tertangkap,” geram Edric.
Mata biru Alaric berkilau, dia suka dengan tantangan baru.
“Kamu duduk tenang saja di kastil megah ini, Edric. Aku yang akan menangkap vampir baru lahir itu.”
...----------------...
Tokoh Baru yang akan muncul di bab-bab berikutnya:
☼ Alaric: Utusan Klan Children of the Night.
☼ Stefan: Vampire, tangan kanan Edric.
☼ Argo: Mantan komandan perang Azov.
...----------------...
...Coba tebak kekuatan Chloe apa?...
...Comment dibawah 👇🏻...
Para readers setia, semoga terobati ya rasa penasarannya. Author lagi sibuk di dunia nyata, maklum menulis hanya sebagai hobi. Belum bisa jadi mata pencaharian utama 🤭
Author nggak mau cepat UP tapi isi cerita amburadul. Walaupun cuma author recehan, tapi pengen kasih karya terbaik untuk kalian baca. Harap mengerti yaa…
Oh ya, karena MTD uda berhasil kontrak, jadi author rencana minggu depan akan daftar ikut CRAZY UP 🔥
Ditunggu aja ya pasti bakal crazy up namun tetap menjaga alur cerita dengan baik. Thank you semuanyaaa -XOXO-
...Vote Vote Vote yang banyak yaaa 🔥...
__ADS_1