Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Dimanfaatkan Ayah Sendiri


__ADS_3

“Kenapa mama tidak mencari aku dan Sierra? Apa mama lupa? Tunggu, kalau mama menjadi vampir, berarti mama ingat semuanya...”


Sofia memberinya anggukan kecil.


“Kenapa mama tidak kembali dan membiarkan kami berpikir bahwa mama benar-benar sudah meninggal? Aku sangat merindukanmu.”


Saat itu Chloe hanya bisa menangis sendirian tanpa suara. Dia masih tidak rela mamanya pergi begitu mendadak tanpa kata perpisahan. Sierra juga bersedih namun rasa lega melebihi segalanya karena Sofia hanya menjadi beban sejak dia sakit.


Chloe bagaikan tubuh yang tidak bernyawa. Dia melanjutkan aktivitas sehari-hari dan di malam hari dia menangis sendirian. Lalu Sierra dituduh mencuri. Chloe tidak mau kehilangan keluarga satu-satunya di dunia ini. Makanya dia nekad membunuh Dimitri demi Sierra.


Sofia berjalan ke arahnya dan menggenggam tangannya, membuat Chloe tersadar. Tangan dingin mereka bersatu. Mamanya benar-benar nyata. Ini bukan sihir.


“Maaf, Chloe. Kalian sudah besar dan bisa bertanggung jawab mengurus diri sendiri. Sofia memang telah meninggal saat dia mengingat apa yang dilakukan vampir itu.”


Wajah Sofia mengeras, tidak ada kelembutan di dalamnya.


“Maksud mama, Edric?”


“Mendengar namanya saja membuatku muak.”


Edric sudah menceritakan masa lalunya dengan Sofia dan bagaimana Chloe bisa terlahir ke dunia. Tapi Chloe tidak tau bagaimana perasaan mamanya yang saat itu masih muda dan harus menanggung penderitaan ditinggal suaminya.


Sofia mengelus tangan Chloe. “Mama tidak mau membicarakan tentang dia. Bagaimana dengan kamu, Chloe? Bagaimana kabar Sierra? Mama dengar dari Alaric kalau kamu sudah berubah.”


Ibu dan anak melepas kerinduan malam itu dan tidak terasa, fajar telah menyingsing. Chloe menyelesaikan ceritanya sampai di mana dia bisa menerima dan memaafkan Dimitri.


“Mama, aku janji pada anak dan suamiku akan pulang hari ini. Mama ikut denganku ya? Dwayne pasti senang dapat melihat neneknya.”


“Itu…” Sofia terlihat ragu.


“Kenapa, ma? Mama juga bisa bertemu dengan Edric. Dia sangat menderita selama ini.”


Sofia beranjak berdiri dan berjalan ke jendela. “Aku tidak ada hubungan lagi dengannya. Semua perbuatan dia masih menyakiti hatiku. Aku tidak akan pernah memaafkan apa yang pria itu lakukan.”


“Dia melakukan itu demi menyelamatkanku, ma.”


Sofia berbalik menatapnya. “Aku tidak pernah mau hamil anaknya!”


DEG!


Hati Chloe seperti tertimpa batu besar. Mamanya tidak pernah menginginkannya. Dia teringat bagaimana Sofia lebih menyayangi Sierra, putrinya yang paling cantik dan sempurna.


“Aku tidak berdaya. Aku terpikat dan terbuai dengan kata-kata manisnya. Dia berjanji akan menjagaku, dia bilang semuanya akan baik-baik saja. Tapi apa?”

__ADS_1


Sofia menumpahkan kekesalannya, dendam yang berapi-api di matanya membuat Chloe hanya bisa diam mendengarkan.


“Dia menghapus ingatanku, membiarkanku berjalan sendiri saat semua tetangga mulai menatapku sinis karena… Karena aku hamil di saat suamiku pergi melaut! Lalu Erik pulang. Perutku sudah membesar. Tentu saja dia tau kalau anak yang ada di rahimku bukan anaknya.”


“Erik pergi meninggalkan mama karena aku,” sambung Chloe pelan.


“Bukan! Ini bukan salahmu tapi salah dia! Semua ini terjadi karena aku sangat sial sehingga bisa bertemu dengannya.”


Sofia melangkah begitu cepat dan menggenggam tangan Chloe erat.


“Kita bernasib sama. Digunakan lalu dibuang begitu saja. Kenapa kamu mau…”


TOK TOK TOK!


Ketukan pintu mengagetkan mereka berdua. Alaric muncul dengan senyuman di wajah.


“Kalian sudah reuni semalaman, Magnus sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Chloe. Dia juga menyuruhmu ikut, Sofia.”


Sofia melepas genggamannya dan menyentuh wajahnya, berusaha tersenyum. “Baik. Kami akan segera ke sana.”


Sepanjang jalan menuju singgasana, Chloe mengulang-ulang perkataan mamanya. Nasib mereka sama! Edric menghapus ingatan Sofia dan meninggalkannya sendiri dalam keadaan hamil sampai dia harus diceraikan suaminya dan membesarkan dua putri sendirian.


Dia dapat mengerti perasaan Sofia yang belum bisa memaafkan Edric.


“Selamat datang. Kamu pasti Chloe Elizabeth Suarez.”


Dia berjalan turun dari singgasananya dan menghampiri Chloe.


Alaric berdiri di sampingnya berkata, “Dia ketua klan Children of The Night, Magnus.”


Magnus memperhatikannya dengan seksama. Dari atas kepala sampai ke kaki. “Jadi kamu yang lahir dari rahim manusia. Hmm… Aku dengar kamu punya kekuatan spesial. Mungkin kamu bisa membuktikan kebenaran itu.”


“Aku datang bukan untuk mempertontonkan kekuatanku.”


Saat Chloe bertemu dengan Alaric di persimpangan, dia berkata bahwa Magnus ingin bertemu dengannya dan juga Dwayne. Tentu saja Chloe menolak. Dia masih belum tau apa yang diinginkan Magnus jadi dia setuju untuk bertemu dengan ketua klan ini terlebih dahulu.


Tidak Chloe sangka dia malah akan berjumpa dengan mamanya kembali.


“Well, sepertinya kedatanganmu tidak sia-sia karena kamu bisa bertemu dengan ibumu. Di mana putramu?”


“Dia tidak ikut.”


Magnus mengerutkan dahinya. “Kenapa? Kamu takut aku akan membahayakannya?”

__ADS_1


Chloe membalas melihat Magnus dari atas ke bawah, namun dengan sinis.


“Hanya ingin memastikan terlebih dahulu seperti apa ketua klan Children of The Night itu.”


Chloe hanya memasang wajah datar dan itu membuat ego Magnus tersentil, apalagi mengingat Chloe adalah vampir yang baru menetas.


“Dia mau bertemu denganmu dulu, Magnus. Makanya dia setuju untuk ikut ke sini, benar kan, Chloe?” Alaric buru-buru menyela.


Chloe tidak menjawab atau menganggukkan kepalanya.


“Ah, aku juga ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu dengan Dimitri. Sayang sekali kalian belum bisa pulang karena terhambat dengan dua kematian beruntun yang menimpa Raja Azov dan calon raja berikutnya.”


“Ternyata sinyalmu hebat juga bisa mengetahui kejadian di luar sana meskipun kamu hanya mengurung diri di kastil ini.”


Magnus terlihat menahan emosinya. Wanita ini benar-benar sedang mencari masalah.


“Tentu saja. Aku juga tau kalau Edric Suarez adalah orang yang memuluskan jalan Permaisuri Juliana untuk menaiki tahta. Ah, maksudku putranya.”


“Edric yang…”


“Oh, papamu tidak bilang? Kematian mereka memang terlihat natural. Tapi coba pikir…” Magnus membalikkan badannya dan duduk di singgasananya.


Dia melipat kedua kakinya. “Raja Azov gemar berburu dan sangat lihai. Tapi dia meninggal karena diserang babi hutan? Aku rasa bocah kecil pun tau sikap hewan yang sedang marah dan mau menyerang. Lalu saat Pangeran Dixon akan diangkat, dia juga meninggal. Apa kamu tidak merasa janggal?”


Chloe mengepalkan tangannya karena Magnus secara terang-terangan menuduh papanya.


“Edric tidak memiliki keuntungan kalau dia membantu Permaisuri Juliana.”


Ya, sama sekali tidak. Vampir tidak boleh menjadi raja karena mereka tidak dapat menghasilkan keturunan. Kalau pun Edric mendekati Juliana, apa yang dia mau dari seorang manusia?


Sofia menghela napas. “Dia tidak pernah berubah. Dia lebih mementingkan jabatannya daripada kita, Chloe. Dia meninggalkanku, menghapus ingatanku, dan tidak mencari anaknya sendiri selama berpuluh-puluh tahun. Kamu sudah dibohongi Edric.”


Chloe tidak ingin mendengarnya. Tapi rasa ragu mulai menyusup hatinya.


“Anak yang bernasib malang. Kamu sudah dimanfaatkan ayahmu sendiri.”


...----------------...


...Thank you semuanya yang uda setia support...


... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...


...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...

__ADS_1


__ADS_2