
WARNING WARNING! Bab ini ada adegan panasnya.
*
*
*
[Dimitri’s POV]
Menahan diri. Sepertinya itu adalah langkah terberat bagiku. Beberapa kali aku menutup buku ini dan melemparnya saat membayangkan apa yang dilakukan Chloe sekarang. Dia turun untuk makan malam dengan Raja Lewis dan mengikuti anjuran dari buku ini—buku yang kutemukan secara tidak sengaja di perpustakaan Istana Navarre—aku harus menahan emosi.
Aku tau limit diriku sendiri. Jadi aku memutuskan untuk tidak ikut ke bawah dan menyaksikan kedekatan mereka. Tapi aku jadi gelisah sendiri. Mungkin aku harus turun untuk melihat istriku?
CEKLEK!
Pintu kamar terbuka dan aku buru-buru mengambil buku yang tadi kulempar, menyandarkan punggungku di sandaran kasur dan mencoba untuk berkonsentrasi pada huruf-huruf di dalam buku.
Sepertinya Chloe tidak senang dia diacuhkan. Aku terkekeh dalam hati. Berarti nasihat dari buku ini manjur.
“Kamu baca apa sampai begitu serius, suamiku?”
Chloe merampas buku yang sedang kubaca dari tanganku. Aku membiarkannya mengambilnya. Saat dia membaca judulnya, aku tidak tau apa yang dia pikirkan tapi sepertinya ada kepulan asap yang keluar dari ubun-ubunnya.
Dia mendesis dan berkata dengan nada rendah, hampir tidak menggerakkan bibirnya. “Aku tidak berselingkuh, Dimitri!”
“Oh ya? Jadi hubunganmu dengan Lewis itu apa?”
Chloe melirik Dwayne dan mendekatkan dirinya kepadaku untuk berbisik. “Aku dan Lewis hanya sebatas teman!”
Aku mencemooh, “Sulit untuk dipercaya.”
“Ini terbalik, Dimitri. Harusnya aku yang marah padamu.”
“Oh, aku tau kamu sengaja mendekati Lewis untuk membuatku cemburu. Kamu berhasil, Chloe. Aku sangat cemburu sampai aku memilih untuk tidak terpancing. Jadi kamu sudah bisa menghentikan balas dendammu agar kita bisa pulang besok.”
Chloe hendak membuka mulutnya, tapi Dwayne sudah menguap dengan keras.
“Mama, Dwayne ngantuk.” Dia merangkak ke tengah kami dan meringkukkan badannya untuk tidur.
Chloe memberiku satu tatapan laser sebelum merebahkan dirinya di samping Dwayne, menepuk-nepuk punggungnya sambil bersenandung. Wajahnya berubah lembut dan teduh, membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya.
Persetan dengan buku ini dan 1001 cara bodohnya. Aku menyentuh tangannya yang sedang mengelus punggung Dwayne.
__ADS_1
“Chloe, kita bisa menjadi keluarga yang bahagia. Cobalah untuk memaafkanku, sayang.”
Dia spontan menarik tangannya. “Aku akan menidurkan Dwayne di kamarnya.”
Tubuh mungil Dwayne diangkat dan mereka pergi menuju pintu penghubung kamar. Aku mengusap wajahku dengan kasar. Sial! Aku sudah salah langkah. Chloe pasti tidak akan kembali ke kamar malam ini.
Satu jam berlalu. Dia benar-benar tidak kembali. Aku membuka bajuku dan berpikir untuk mengalihkan pikiranku yang gelisah dengan berenang di laut.
Tapi tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Chloe masuk. Dia kembali!
Dia tersentak saat aku membalikkan badan. Tatapan matanya turun ke dadaku. Ada api has*rat yang tidak dapat dia sembunyikan. Tubuhnya masih bereaksi padaku dan itu langsung membangkitkan harapan yang sirna.
Aku masih memiliki kesempatan untuk meluluhkan hatinya.
Kakiku melangkah mendekatinya dan dia mengalihkan pandangannya namun dia tidak lari. Saat aku berdiri di hadapannya, matanya kembali tertarik pada tubuhku.
“I miss you, darling.” Aku mengelus pipinya dengan satu jariku.
Dia terlihat seperti hewan yang terluka dan aku harus sangat berhati-hati untuk mendekati dan menyentuhnya, memberinya perhatian. Saat dia memejamkan matanya dan memiringkan kepalanya ke samping untuk meresapi elusan tanganku, aku menger*ang dan menangkup kedua pipinya.
Aku melu*mat bibirnya yang sudah sangat kurindukan. Yang mengejutkan, Chloe juga membalas pagutan demi pagutan. Tangannya menelusuri dada bidangku lalu turun menyapu kolom-kolom petak di perutku.
Dia melingkarkan lengannya di leherku, membuat tubuh kami menempel dan bersatu. Tanganku sudah turun ke bawah menelusuri punggungnya lalu menangkup kedua bok*ongnya yang bulat dan penuh.
Dia melepas bibirku untuk menger*ang. Pintu penghubung kamar hanya satu jengkal di samping, aku menutupnya dengan kakiku. Maaf, Dwayne. Papa dan mama sedang sibuk.
Dengan tangan tergesa-gesa, Chloe membuka celanaku. Saat tidak ada lagi yang menghalangi, aku mengangkat kedua kakinya di lenganku dan mendorong masuk, tapi dia terlalu licin sehingga aku hanya mengges*eknya.
“Aah,” Tangannya turun ke bawah, tapi aku mendorong lagi sehingga dia tidak bisa menggapai senjataku.
Ini membuatnya frustasi. “Bagaimana? Kamu lebih haus darah Lewis atau ini?”
Dia menggigit bibir bawahnya, menolak untuk memberikan jawaban. Tapi mata hazelnya sudah diselimuti kabut has*rat. Dia menginginkan ini sama seperti aku menginginkannya. Kalau tidak, dia pasti sudah menghilang pergi.
“Dimitri, cepat berikan padaku.” Dia mencakar punggungku.
Aku tidak menghentikan gesekan tubuh kami. “Berikan apa, istriku? Kamu harus mengatakannya agar aku tau apa yang kamu mau.”
“I-itu… Aaah!”
“Aku bisa melakukan ini sepanjang malam,” ucapku lagi memberinya kenikmatan yang setengah-setengah.
Dengan tangannya sendiri, Chloe menekan titik inti tubuhnya.
“Hei, kamu curang.”
__ADS_1
Belum sempat aku mencegahnya, tubuhnya sudah menegang dan aku dapat merasakan cairannya keluar membasahi milikku.
“Cepat sekali, istriku. Kamu tidak menungguku.”
Aku menghun*jam rongga sempitnya yang masih berkontraksi dan berdenyut, aku menggeram. “Da*mn!”
Aku mendorong pinggulku berkali-kali dengan ritme yang cepat dan teratur. Chloe mencengkeram lenganku dengan erat, sampai kuku-kukunya menusuk dagingku. Seperti binatang buas, aku menggigit lehernya dengan ganas.
Dia tidak banyak bergerak dalam kungkunganku, karena aku tidak memberinya ruang dan kesempatan. Tempoku semakin cepat dan cepat. Aku dapat merasakan Chloe akan orga*sme sekali lagi.
“Oh, istriku. Selamanya kamu adalah milikku.”
Kami bersama-sama menuju gerbang nirvana.
*
*
*
Tidak tau berapa lama kami berdiri dalam posisi itu. Kedua kakinya masih berada di lenganku, telapak tanganku menopang boko*ngnya. Kepalaku terbenam di lehernya, menghirup aroma rambutnya.
Aku hendak mengangkatnya dan memindahkan permainan kami ke kasur.
“Ronde dua?” Bibirku mulai menyapu tulang selan*gkanya.
Chloe mendorongku dan aku mengernyitkan dahi, tapi aku membiarkannya turun. Tubuh kami berpisah.
Dia berjalan ke arah baskom di atas meja rias yang berisikan air, mengambil kain dan membasuh sisa pergumulan tadi. Setelah itu dia memakai jubah tidurnya, mengikat tali di pinggangnya.
Lalu mengangkat kepalanya dan mata kami saling bertatapan di cermin.
“Terima kasih, suamiku. Aku lapar, jadi aku mau pergi cari makan dulu.”
“Tunggu, aku akan ikut berburu.” Aku segera mengambil bajuku yang ada di lantai.
Chloe merapikan rambutnya dengan tangannya. “Tidak perlu. Makananku tidak akan cocok dengan perutmu.”
Makanan yang dia maksud adalah darah Raja Lewis!
“Chloe, tunggu. Aku pikir kita sudah baikan.”
Dia melirikku dengan ujung matanya. “Selain menjadi ayah dari anakku, kamu hanya pemuas naf*suku.”
Setelah itu dia menghilang. Meninggalkanku dengan perasaan yang kacau. Sampai kapan Chloe akan bersikap seperti ini??
__ADS_1