
[Chloe’s POV]
“Ada apa ini? Apa yang terjadi?” Edric bertanya dengan heran.
Semuanya melongo melihat kejadian di depan mata mereka. Eden tiba-tiba berubah menjadi pasir? Mereka seperti baru saja terbangun dari mimpi.
Seseorang menepuk tangannya dengan keras, Magnus berjalan maju beberapa langkah.
“Amazing, sungguh hebat. Kekuatan yang tidak biasa ada di tubuh wanita kecil sepertimu.” Magnus memperhatikanku dari atas ke bawah dengan mata berbinar.
“Aku jadi penasaran, bayi seperti apa yang kalian lahirkan ke dunia ini…”
Aku menggeram. Enak saja dia pikir dia bisa melihat anakku seperti melihat pertunjukan di kebun binatang.
“Mama! Papa!”
Mataku membesar dan langsung menoleh ke belakang. Tangan kiri Dwayne terangkat ke atas, melambai ke arah kami sedangkan tangan kanannya digenggam oleh seorang pria berkulit pucat dengan manik mata hijau.
Dwayne melepas tangannya dan berlari ke arah Dimitri, dia langsung diangkat oleh papanya.
“Dwayne, papa sudah bilang nunggu di kapal saja.” Dimitri menatap pria yang membawa anaknya.
“Maaf, aku tidak bermaksud buruk. Aku bertemu dengannya sedang duduk di bawah sana sendirian. Anak kecil selucu ini tidak boleh ditinggal tanpa pengawasan.” Pria itu tersenyum lembut.
“Santiago…” Sofia berjalan melewati Edric. Tangannya melingkar di lengan pria itu.
Rahang Edric mengeras. “Santiago? Kenapa kamu bisa mengenal tangan kanan Magnus?”
“Sofia, kamu kenal dengan mereka semua?” Pria bernama Santiago itu bertanya.
“Ya, itu anak keduaku Chloe dan suaminya, Dimitri.” Mata Sofia melihat anak kecil yang digendong. “Dan kamu pasti cucuku, Dwayne.”
Dwayne melirik mama dan papanya.
“Dia nenek kamu, Sofia.”
“Bolehkah aku menggendongmu?” tanya Sofia ragu sambil menjulurkan kedua tangannya. Matanya berkaca-kaca.
Dwayne mengangguk dan air mata Sofia jatuh saat mendekap badan kecilnya.
“Nenek Dwayne? Berarti Sofia akan ikut pulang bersama kita?”
“Tidak, sayang. Rumah aku di sini. Lagipula Edric sudah mempunyai istri. Nyonya Suarez pasti tidak akan senang.”
Edric buru-buru menyela, “Aku sudah lama pisah rumah dengannya. Kita bisa bersama lagi, Sofia. Tidak ada yang menghalangi kita seperti dulu.”
__ADS_1
Santiago memeluk bahu Sofia dari belakang. “Edric, sepertinya kamu belum mendengar kabar kalau aku sudah mempunyai istri.”
“Tidak mungkin…”
“Ya, Sofia adalah istriku.”
“Jadi kamu yang telah mengubahnya??” Edric mengepalkan tangannya dengan begitu erat.
“Aku tidak tau dia siapa. Tapi sejak Sofia memintaku untuk mencabut rasa sakitnya, aku telah jatuh cinta dengannya. Sofia adalah wanita yang ditakdirkan untukku.”
“Apa katamu? Sofia adalah milikku!!”
Sebelum ini semua jadi pertumpahan darah kedua, aku buru-buru menenangkan situasi.
“Papa, kamu masih berutang penjelasan kepadaku. Dan sebaiknya kita segera pulang karena di sini bukan tempat yang tepat untuk bicara.”
Aku melirik Dwayne dan Edric mengangguk mengerti. Dia bisa menyelesaikan masalahnya dengan Sofia nanti. Kenapa Santiago bilang mama adalah wanita yang ditakdirkan untuknya? Mungkin dia hanya berbohong. Tapi dia terlihat sangat serius.
“Sofia, aku akan kembali setelah masalah di kerajaanku terselesaikan. Aku juga ingin bicara denganmu, Santiago.”
Pria itu mengangguk dan dia membawa Sofia masuk ke kastil, sedangkan Edric hanya bisa menatap mereka pergi.
“Dia siapa, mama?” tanya Dwayne saat matanya melihat Magnus.
“Dia adalah ketua klan yang tinggal di kastil ini.”
Magnus tertawa terbahak-bahak. “Aku suka anak ini. Dwayne, setelah kamu besar, jangan lupa mencariku.”
“Ehm!!” Dwayne mengangguk pasti.
Aku dan Dimitri hanya bisa bertukar tatapan tak percaya. Dwayne memang paling ahli merebut hati orang.
Setelah berpisah dengan ketua Klan Children of The Night, kapal kami pun berlayar pulang. Oh, tidak lupa aku berbisik pada Alaric.
“Hentikan rencana licikmu karena tidak ada yang bisa memisahkanku dari Dimitri.”
*
*
*
Aku keluar dari kabin setelah berbicara panjang dengan Edric. Semua kecurigaan dan salah pahamku tertuntaskan. Beberapa hari sebelum penobatannya, Pangeran Dixon mabuk dan meracau kalau dia yang telah membunuh Raja Azov kepada seorang temannya.
Karena tau apa yang diperbuat Pangeran Dixon adalah kejahatan yang tidak biasa, dia pun melapor apa yang dia dengar kepada ayahnya yang kebetulan adalah pejabat tingkat menengah. Lalu dia menceritakan apa yang disampaikan anaknya pada Edric.
__ADS_1
Edric yang selama ini setia melayani Raja Azov tentu saja berang. Dia mencari Pangeran Dixon dan menyeretnya ke hadapan Permaisuri Juliana untuk mengaku. Namun Pangeran Dixon bersikukuh bukan dia yang membunuh ayahnya.
Kemudian di bawah pengaruh manipulasi pikiran Edric, dia mengakui semua perbuatannya. Dia mencampurkan ramuan ke dalam minuman ayahnya sendiri. Ramuan itu membuat stamina dan konsentrasi Raja Azov menurun. Itu sebabnya dia tidak bisa menghindar dari serangan babi hutan.
Permaisuri Juliana mengutuk hal tersebut tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia membuat Edric berjanji bahwa perbuatan Pangeran Dixon tidak boleh tersebarkan.
Akhirnya Pangeran Dixon dapat melenggang bebas tanpa hukuman berarti.
“Tapi dia tidak bisa mengelak dari hukuman Tuhan. Aku rasa Dixon pantas mendapat karma itu karena sudah menjadi anak yang durhaka.” Aku menyelesaikan ceritaku pada Dimitri, sedikit tertampar dengan perkataanku sendiri karena aku hampir menjadi anak yang durhaka juga.
Kami berdiri di ujung dek kapal, Dwayne sudah tertidur pulas di bahu papanya. Aku menahan beberapa rambut yang diterpa angin sambil melihat ke ujung lautan, teringat bagaimana dulu aku ingin lari dari sisinya.
Tapi sekarang aku tidak bisa membayangkan tempat lain selain berada di samping Dimitri.
“Bagaimana dengan Edric? Sepertinya dia sangat terguncang.”
“Aku rasa Edric masih bisa bertahan untuk saat ini. Banyak tugas yang harus dia selesaikan di Kerajaan Azov.” Aku menghela napas. “Ini juga menjadi hukuman baginya karena sudah meninggalkan mama dan membuatnya sengsara.”
Dimitri mengangguk. “Untung saja aku sudah melewati masa hukuman itu. Apa pandanganmu tentang Permaisuri Juliana?”
“Menurutku, Permaisuri Juliana juga cukup bijaksana. Dia bisa menghargai wanita dan tidak malu jika komandan perangnya seorang perempuan tapi itu semua bukan masalahku lagi setelah melepas status komandan perang.”
Dimitri menaikkan alisnya. “Hmm… Jadi apa yang mau kamu lakukan sekarang?”
“Belum tau. Aku masih memikirkannya,” ucapku sambil tersenyum kecil. Merasa seluruh jiwaku sangat tentram dan tenang.
Tapi sepertinya Dimitri tidak puas dengan jawabanku. “Hei, begitu saja?”
Aku tertawa dan menyandarkan kepalaku di dadanya. Tidak menunggu lama, satu tangannya merangkulku erat.
“Yang aku tau pasti, aku akan selalu berada di sampingmu bersama dengan anak kita.”
“Terima kasih sudah datang ke dalam hidupku, little rose.”
Dulu dia memanggilku babu kecil tapi sekarang aku adalah bunga mawar kecil-nya. Dimitri mengecup kepalaku dan aku memejamkan mataku.
Setiap cerita pasti ada akhirnya. Tapi bagi Chloe dan Dimitri, cerita mereka baru saja dimulai, untuk hidup saling mencintai dalam keabadian untuk selamanya.
...----------------...
Author mau mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk semua readers setia MTD.
Sungguh terharu dengan support kalian yg sudah baca dan menemani dari awal. Jadi teringat dulu MTD direncanakan hanya maksimal 50 chapters, tapi bisa melampaui itu dan akhirnya bisa sampai di chapter 90 sebagai penutup.
Apabila ada kekurangan dalam tulisan ini silahkan kritik dan saran ya 🤗🤗
__ADS_1
...THANK YOUUUU SEMUANYAAA...