
“Draven.”
Dimitri hanya memberinya satu tatapan yang mengisyaratkan bahwa dia tidak perlu capek-capek mengotori tangannya karena Lewis hanya seorang manusia.
Draven mendengus dan duduk kembali. Jerrick menatap mereka keheranan namun Edric yang bisa menangkap situasi di sana langsung mengalihkan konsentrasi penasihat raja.
Dimitri menahan diri untuk tidak terpancing emosi ketika Raja Lewis tebar pesona pada Chloe. Dia begitu percaya diri kalau Chloe tidak akan tertarik dengan pria seperti Lewis.
Akhirnya acara makan malam berakhir tanpa ada pertumpahan darah. Draven langsung berada di sisi Adreana untuk menarik kursinya dan menggenggam tangan kekasihnya.
Namun Dimitri dihalangi oleh pertanyaan Jerrick. “Tuan Dimitri, untuk upacara pernikahan besok, kami sudah menyiapkan segala keperluannya termasuk pendeta. Apa ada permintaan anda yang lain? Kami akan dengan senang hati membantu melancarkan acara ini.”
“Cukup dibuat sederhana saja, Jerrick. Maaf kalau aku terpaksa harus meminjam taman belakang rajamu.”
Mata Dimitri tidak lepas mengikuti Raja Lewis yang menarik kursi Chloe dan berada dekat di sampingnya. Chloe dengan sopan menolak untuk dibantu berdiri dengan menggenggam tangan Lewis.
“Justru ini suatu kehormatan bisa menyaksikan pernikahan Komandan perang Rudolmuv di kerajaan kecil kami. Raja Lewis sudah memerintahkan kami untuk memberikan servis yang terbaik.”
“Terima kasih, Jerrick.” Dimitri menganggukkan kepalanya kepada pria itu dan berlalu pergi.
“Setelah ini, ada makanan penutup yang bisa kita nikmati di ruang tamu,” ajak Raja Lewis pada Chloe.
“Maaf, Yang Mulia. Kami harus segera naik ke atas untuk menemani anak kami.” Dimitri merangkul bahu Chloe.
Ada kekecewaan di wajah Raja Lewis dan dia menatap tangan Dimitri di atas bahu Chloe. “Oh ya aku mengerti. Kalian juga pasti butuh istirahat untuk besok. Kalau begitu, selamat malam Tuan Dimitri, Chloe.”
*
*
*
Setelah pamit dengan yang lainnya, Chloe dan Dimitri berjalan menyusuri aula istana dan menaiki tangga menuju kamar mereka.
“Jadi sekarang Raja Lewis memanggilmu ‘Chloe’? Tadi saat kamu tidak ada di kamar, kamu bilang dia memanggilmu. Apa yang kalian bicarakan?”
Chloe tidak terbiasa segala gerak-geriknya dipertanyakan. Ini membuatnya tidak nyaman. Belum menjadi suami saja, Dimitri sudah posesif, apalagi nanti mereka sah menikah. Chloe tidak melewatkan bagaimana lengan Dimitri tadi merangkul, menunjukkan pada Raja Lewis kalau Chloe adalah miliknya.
__ADS_1
“Pembicaraan kami tentang Dwayne, membuatku sadar kalau aku sebagai ibunya tidak tau apa-apa tentang anakku sendiri. Aku merasa gagal karena orang luar seperti Raja Lewis saja tau jam tidur dan bangun Dwayne, sedangkan aku tidak.”
Dimitri menghentikan langkah kaki Chloe, memutar badannya sehingga mereka berhadapan.
“Chloe, kamu baru saja bertemu dengan Dwayne. Bahkan belum ada satu hari berlalu. Bagaimana kamu bisa tau semua kebiasaan Dwayne? Kamu tidak perlu risau tentang itu. Setelah kita menikah, kita bisa tinggal bersama dan kamu sendiri yang akan menjaga Dwayne.”
Chloe mengernyitkan dahinya. “Tinggal bersama? Dimana?”
“Tentu saja di kediaman D’Arcy di Kerajaan Rudolmuv. Kamu akan menjadi Nyonya D’Arcy.”
Nyonya D’Arcy!
“Ya ampun! Aku mana mungkin tinggal di Kerajaan Rudolmuv? Aku komandan perang Azov!”
Semuanya terjadi begitu cepat sampai-sampai dia tidak berpikir bahwa dia masih ada tugas yang tidak bisa dia tinggalkan begitu saja.
“Kamu bisa mengundurkan diri, Chloe. Aku tidak menentangmu menjadi Komandan Perang, tapi mana mungkin kamu membelah diri antara Kerajaan Rudolmuv dan Azov. Apalagi sekarang ada Dwayne yang membutuhkan ibunya.”
“Dimitri, sebaiknya kita tidak usah terburu-buru menikah dulu. Aku akan kembali untuk membicarakan hal ini dengan Azov.”
Chloe sebenarnya juga ragu dengan kemampuan dirinya untuk menjadi seorang ibu. Dia bahkan tidak ingat dia pernah melahirkan!
Dimitri mengeraskan rahangnya. “Kamu terlihat tidak sabar untuk segera menikah denganku tadi pagi, lalu kenapa kamu berubah pikiran? Apa ini kerjaan Lewis yang menanamkan keraguan di benakmu?”
Dimitri mengejarnya dari belakang dengan satu langkah menaiki dua anak tangga sekaligus.
“Apa statusmu sebagai Komandan Perang lebih penting dari anakmu sendiri?”
Chloe membalikkan badannya dan menatap Dimitri tajam. “Aku bahkan tidak ingat aku pernah melahirkan seorang anak, Dimitri!! Apa kamu tidak bisa memberiku sedikit waktu untuk berpikir? Bagaimana kalau selamanya aku tidak bisa ingat? Aku merasa seperti kehilangan suatu bagian dari diriku.”
“Maaf, Chloe. Aku tau ini terjadi begitu mendadak. Aku hanya takut kamu berubah pikiran dan membatalkan pernikahan kita. Begini saja, kita tetap menikah besok tapi setelah pulang dari Navarre, aku akan memberimu waktu untuk menetap di Kerajaan Azov. Tapi aku berharap kamu akan ikut pulang denganku dan Dwayne.”
Ketika Chloe hanya diam, Dimitri menggenggam tangan kanannya. “Kamu setuju?”
Statusnya sebagai Komandan Perang memang tidak terlalu penting bagi Chloe. Kalau dia mengundurkan diri, palingan Edric yang harus memutar otaknya untuk mencari pengganti Chloe. Dia lebih risau dengan perasaannya sendiri, tidak tau mengapa dia merasa harus menunda pernikahan mereka.
Tapi dia juga tidak bisa mengecewakan Dwayne yang terlanjur mengetahui kalau orang tuanya akan menikah. Akhirnya Chloe mengangguk.
__ADS_1
...- Kamar Tamu di Istana Navarre -...
Malam itu mereka menemani Dwayne sampai dia tertidur dengan mama dan papanya berbaring di sisi kanan dan kirinya, merasa aman dan dilindungi.
“Aku masih tidak percaya bisa melahirkan anak yang begitu tampan seperti Dwayne ke dunia,” bisik Chloe.
Dia memainkan kalung titanium yang melingkar di leher Dwayne. Ada inisial nama mereka bertiga di sana.
Dimitri tersenyum, tatapannya begitu lembut membuat hati Chloe berbunga. Dia sungguh beruntung memiliki Dimitri dan Dwayne di dalam hidupnya. Kenapa tadi dia berpikir mau membatalkan pernikahan mereka? Pasti hanya keraguan sesaat yang dialami setiap calon pengantin.
“Aku masih tidak percaya kamu ada di sampingku dan Dwayne. Biasanya setiap malam, saat Dwayne sudah tertidur, aku hanya bisa membayangkan dirimu.”
“Bagaimana Chloe yang dulu? Apakah sifatku masih sama atau berbeda?”
Dimitri mengangkat kepalanya, menopang dengan tangan kirinya. “Hmm… Bisa dibilang Chloe yang dulu begitu rapuh dan halus seperti bunga Bluebells. Mungkin karena kamu manusia, jadi kamu terlihat tidak berdaya bagiku.”
“Kalau aku yang sekarang?”
“Kalau kamu yang sekarang bagaikan bunga mawar. Memikat tapi kalau tidak hati-hati bisa melukai dengan durimu yang tajam.”
Chloe memukul bahunya, “Bisa saja! Aku tidak percaya Sang Penghancur akan kesakitan kalau terkena duri kecil bunga mawar.”
Dimitri memegang dagu Chloe, “Aku serius. Kamu bahkan tidak tau seberapa kuatnya kamu menggenggamku, Chloe.”
Mata mereka tidak bisa lepas, seperti ada magnet yang membuat wajah mereka semakin dekat dan dekat. Bibir mereka hampir bertemu ketika sebuah erangan dari tengah badan mereka membuyarkan suasana harmonis itu.
Si kecil Dwayne menggigil dan menarik selimutnya. Dimitri segera beranjak duduk di kasur dan menggendongnya.
“Aku akan menidurkan Dwayne di kamar sebelah.” Setelah memastikan anaknya tidak terbangun, Dimitri berjalan menuju kamar yang terhubung dengan kamar mereka.
Dimitri menoleh sebentar ke arah Chloe yang masih berbaring di kasur melihat calon suami dan anaknya.
“Tunggu aku kembali, darling.”
Tatapan matanya tidak menyembunyikan gelora has*rat dan membuat Chloe mengantisipasi apa yang dijanjikan dari nada rendahnya itu.
...----------------...
...Hampir menuju akhir dari cerita MTD 😆...
__ADS_1
Begitu selesai baca 1 bab langsung ninggalin jejak yah…
...Maunya Happy Ending atau Sad Ending?...