Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Terjebak Dalam Masa Lalu


__ADS_3

[Chloe’s POV]


Aku berbohong hanya untuk menyakiti perasaannya. Aku duduk sendirian dalam gelapnya malam di taman belakang Istana Navarre. Tidak melakukan apa-apa dan hanya mematung di sana sampai matahari muncul dan sayup-sayup terdengar perbincangan manusia dari dalam istana.


Aku berpindah tempat ke kamar anakku, berlutut di samping kasurnya dan mengusap keningnya dengan ibu jariku.


“Dwayne, mama harus bagaimana? Memaafkan dan melanjutkan hidup dengan papamu atau selamanya terjebak dalam masa lalu?”


Setelah aku menanyakan itu, aku langsung mendapatkan jawabannya.


Aku sedang mengganti baju Dwayne, bocah kecil itu tidak suka mandi di pagi hari dan cemberut, ketika ayahnya masuk dengan ekspresi serius. Tangannya memegang selembar kertas kecil.


“Fiona, pakaikan kaos kakinya.”


“Baik, nona.” Fiona yang sedang merapikan kasur, bergegas mengambil alih tugasku.


Aku berdiri dan menghampiri Dimitri. “Ada apa?”


Dia menyodorkan kertas itu. “Raja Azov meninggal semalam sore.”


Aku membacanya dan mengernyitkan dahiku. “Meninggal saat berburu karena diserang oleh babi hutan?”


Raja Azov setiap minggunya pasti berolahraga dengan berburu hewan. Dia sangat mahir melakukannya dan tentu saja tau bagaimana menghindar dari seekor babi hutan yang mengamuk. Tidak dapat disangka, dia meninggal karena serangan babi hutan mengoyak perutnya, merusak organ dalam tubuhnya dan dia tidak dapat diselamatkan karena infeksi yang sudah menyebar.


“Saat surat ini datang dan aku tidak bisa menemukanmu, aku sudah pergi duluan ke pelabuhan untuk menyewa kapal. Kita berangkat satu jam lagi. Fiona, bantu nonamu mengemas barang-barangnya.”


Fiona sudah selesai memakaikan kaos kaki dan sepatu. “Baik, Tuan Dimitri.”


“Kita harus berpamitan dengan Raja Lewis.” Aku melewatinya, melangkah keluar dari pintu yang masih terbuka, namun Dimitri tetap berdiri di sana.


“Kamu tidak ikut?” tanyaku heran.


“Kamu pergi duluan. Aku akan menyusul nanti,” jawabnya tanpa menoleh.


Setelah berpamitan dengan Raja Lewis, dia meminjamkan kereta kuda agar perjalanan kami ke pelabuhan bisa lebih santai.


“Aku turut berduka atas kepergian Raja Azov. Aku belum sempat bertemu langsung dengannya dan mengucapkan terima kasih karena telah menghentikan rencana jahat saudara tiriku. Sampai jumpa, Chloe. Aku akan merindukanmu…,”


Lewis melirik ke arah Dimitri yang sudah duduk di atas kudanya, dia menolak untuk masuk ke dalam kereta yang sempit. Dimitri hanya menatap lurus ke depan, tidak melihat kami.

__ADS_1


“Maksudku, merindukan persahabatan kita.” Lewis tersenyum dan menge*cup punggung tanganku. “Have a safe journey, Chloe.”


“Selamat tinggal, Lewis.”


Kereta kuda kami melaju keluar dari Istana Navarre. Dimitri berada di samping kereta saat aku membuka gorden jendela kecil itu. Dia menatapku sebentar lalu melajukan kudanya ke depan.


Aku menghela napas lesu. Perjalanan pulang kali ini dalam situasi yang tidak menyenangkan.


*


*


*


Semua rakyat Kerajaan Azov sedang berduka. Raja mereka meninggal secara tiba-tiba, padahal di tangannya, masyarakat dapat hidup dengan sejahtera. Kegelisahan mulai terlihat, di sepanjang jalan pulang menuju kediaman Edric, aku dapat melihat pedagang-pedagang toko lebih memilih untuk berbincang daripada berjualan.


“Siapa yang akan menggantinya? Pangeran Dixon? Tapi dia tidak dapat diandalkan.”


“Ya, belum menjadi raja saja dia sudah bengis. Kamu masih ingat rumah keluarga petani yang dia bakar habis?”


Aku menutup gorden jendela kereta yang sudah disediakan Edric. Dwayne tertidur dalam pangkuanku sampai kami tiba di rumah baru dia terbangun.


“Wah, jadi ini rumah mama dan Edric?” Dia melihat halaman yang luas dari jendela, berlutut di pahaku.


“Ini juga rumah kamu sekarang, Dwayne.” Aku mengelus rambutnya.


“Asikkk. Dwayne punya banyak rumah. Tapi kita akan tinggal di mana?”


“Di mana saja Dwayne mau, mama akan ikut.”


Edric menyambut kami di depan kastil, dengan tangan terbuka lebar dan mengambil cucunya dari tanganku. Mereka melepas rindu padahal baru beberapa hari tidak bertemu.


Dimitri sudah duluan sampai dan rambutnya masih acak-acakan terkena angin. Saat di dalam kapal, dia berada di dek atas sedangkan aku menemani Dwayne melihat lautan di dek bawah. Dia menghindariku sepanjang hari.


Yah, ini salahku juga karena sudah berbuat kelewatan batas.


Aku menghampirinya. “Sini aku rapikan.” Tanganku terangkat ke atas untuk merapikan rambutnya.


Namun sebelum aku dapat menyentuhnya, Dimitri memegang lenganku dan berkata dingin. “Tidak perlu.”

__ADS_1


Edric sepertinya melihat bagaimana aku ditolak secara terang-terangan dan dia dengan cepat mengarahkan kami masuk.


“Kalian pasti capek dan butuh istirahat. Setelah itu kalian bisa berburu di hutan.”


“Kalian masuk duluan. Aku mau pergi berburu sekarang.” Dimitri membalikkan badannya dan menuruni anak tangga.


“Kamu tidak ikut dengannya, Chloe?” tanya Edric.


Dimitri yang menjawab, “Dia sudah kenyang semalam. Betul kan, Chloe?”


Edric menatap kami bingung seakan bertanya ada masalah apa lagi di antara kita berdua. Aku tidak tahan lagi dengan sikap Dimitri yang dari tadi mengacuhkanku. Aku akan segera membereskan masalah ini.


“Aku akan ikut denganmu, Dimitri. Kita harus bicara.”


Edric memberiku satu anggukan dan Dwayne melambaikan tangannya. Kami berjalan menuju hutan dan aku teringat apa yang kami lakukan terakhir kalinya di hutan ini.


“Dimitri, aku minta maaf. Perkataanku semalam kelewatan batas.”


Dia tidak menghentikan langkahnya. “Tidak perlu minta maaf, Chloe. Aku memang pantas, mengingat bagaimana dulunya kamu juga sengsara akibat perbuatanku.”


Aku memegang lengannya, “Tapi aku tidak benar-benar…”


“Aku mengerti, Chloe. Aku tidak akan melarangmu minum darah pria lain. Kamu bebas melakukan apa pun yang kamu mau. Tapi aku tidak bisa menjadi suami yang hanya mendapatkan raga istrinya. Aku juga butuh jiwamu. Jadi lebih baik hubungan kita hanya sebatas status agar Dwayne memiliki keluarga yang lengkap.”


“Maksudmu?”


Dia berhenti dan menatapku. “Maksudku, semalam adalah terakhir kalinya aku menyentuhmu.” Dia memaksakan sebuah senyuman, “Ini hukuman terberat yang bisa kamu berikan padaku.”


Aku masih tidak mengerti. Atau aku menolak untuk memahaminya. Semalam menjadi terakhir kalinya dia menyentuhku?


“Kenapa begitu? Pernikahan ini akan hampa tanpa… Lagipula kamu bilang kamu mencintaiku.”


Dimitri menatapku dari atas ke bawah. “Justru karena itu, aku tidak tau apakah aku sanggup menyentuhmu lagi setelah kamu menghabiskan sepanjang malam bersama Lewis.”


Aku mengepalkan tanganku dan Dimitri langsung jatuh ke tanah, dia memegang pipinya dan membuang ludah ke tanah, lalu berdiri lagi seperti tidak terjadi apa-apa.


“Berani-beraninya kamu! Kamu pikir aku wanita murahan? Semalam aku tidak minum darahnya, apalagi tidur dengannya!! Aku mengatakan itu hanya untuk membuatmu marah karena kamu bersikap panas dan dingin padaku. Apa ini salah satu cara yang kamu pelajari dari buku sialan itu?”


...----------------...

__ADS_1


...Ngebut nulis dulu yaaa...


...2 hari lagi MTD tamat 🔥🔥...


__ADS_2