
Dimitri berdiri dengan kaku disana, menunggu penjelasan penjaga kandang yang panik.
“Sepertinya nona Chloe menghilang, tuan… Dia pergi berkuda di malam hari dan selalu pulang saat matahari terbit. Tapi tadi kuda putih yang selalu dia tunggangi, pulang tanpa penunggang, tuan…”
Kepala Dimitri berdenyut.
Elfin melanjutkan, “Saya takut terjadi sesuatu pada nona Chloe, tuan…”
“Tunggu. Apa maksudmu dia pergi berkuda malam hari?”
Dimitri sengaja menempatkan Twinkle di Ivy Cottage untuk menemani Chloe. Dia teringat saat mereka pergi ke kediaman Myres, bagaimana wanita itu dengan lihai menunggangi Twinkle.
Tapi Dimitri tidak tau kalau Chloe berkuda di malam hari!
“Ya, tuan… Nona Chloe setiap malam pergi ke hutan dengan menunggangi Twinkle. Tapi dia selalu pulang tepat waktu, tuan. Makanya saya bergegas kesini untuk memberitahu anda. Mungkin… Mungkin dia mengalami kecelakaan atau…”
Belum sempat Elfin menyelesaikan perkataannya, Dimitri sudah berjalan keluar dari aula.
Dia berteriak, “Siapkan kuda sekarang juga!”
“M-maaf, tuan… Saya tidak melaporkan perihal nona Chloe yang selalu berkuda di malam hari. Dia selalu berwajah murung, tuan. Saya takut anda tidak mengizinkannya berkuda lagi dan dia semakin sedih.”
Suara Adreana terdengar, “Ada apa ini? Siapa yang semakin sedih?”
Elfin tidak mengenal siapa nona cantik ini tapi dia menjawab, “Nona Chloe, nona… Dia menghilang.”
“Apa? Hilang? Bagaimana bisa?”
Draven yang berdiri di sebelahnya menatap Adreana dengan curiga.
“Kenapa kamu melihatku seperti menuduhku, Draven?”
“Soalnya hanya kamu disini yang mau mencelakakan Chloe.”
Adreana membelalakkan matanya, mulutnya terbuka lalu tertutup lagi. Dia kehabisan kata-kata dituduh oleh Draven.
“Kalau Adreana melangkahkan kaki keluar dari kastil ini, aku akan tau,” ucap Dimitri lalu dia berjalan keluar dari kastilnya.
“Tuh, dengar…” Adreana memukul bahu Draven, namun pria itu tidak membalasnya, lebih fokus pada masalah yang terjadi.
“Tunggu, Dimitri. Aku akan pergi bersamamu mencari Chloe.”
“Tidak perlu. Kalian tetap disini menjaga bayi itu.”
‘Bayi itu?’
Draven dan Adreana saling bertukar pandang mendengar ucapan dingin Dimitri yang telah pergi meninggalkan kastil, memacu Onyx dengan kecepatan tinggi.
Dia mengambil rute dari arah Ivy Cottage agar dapat melihat jejak kaki Twinkle, mereka masuk ke dalam hutan yang lebat, melewati padang rumput luas, lalu masuk ke hutan lagi. Jejak kaki Twinkle semakin samar, Dimitri sampai harus turun beberapa kali untuk memastikan dia berada di rute yang benar.
Udara segar di pagi hari telah membawa terbang aroma darah Chloe. Dimitri sama sekali tidak mencium bau darahnya. Kalau Chloe terjatuh dari punggung Twinkle dan cedera, pasti Dimitri sudah menemukannya.
__ADS_1
‘Kamu dimana, Chloe?!’
Dimitri sudah berkuda selama 1 jam lebih sampai dia menemukan jejak kaki Twinkle berbelok ke jalan kecil. Di balik itu ada tebing!
Onyx meringkik saat Dimitri melajukan kudanya dengan cepat melewati jalan terjal itu. Pikirannya berkecamuk.
‘Kamu harus baik-baik saja, Chloe! Kalau tidak…’
Dimitri menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau memikirkan hal yang belum pasti. Di lubuk hatinya yang terdalam, dia dapat merasakan bahwa belahan jiwanya masih hidup.
Dimitri menghirup air laut, ombak menghantam sisi tebing, dia tiba di permukaan kosong nan luas, menghadap laut utara. Dimitri turun dari punggung Onyx ketika dia melihat jejak kaki Twinkle berhenti disana, bercampur dengan jejak lainnya saat Twinkle kembali pulang.
Jika Twinkle menghapal jalan pulang, berarti Chloe sering pergi ke sini.
‘Chloe! Apa yang kamu lakukan disini?’
Keringat dingin mulai mengucur, matanya memperhatikan pemandangan di depan. Sungguh indah namun hati Dimitri kalut.
Sesuatu di tanah bersinar karena pantulan cahaya matahari, menangkap perhatiannya. Sebelum tangan Dimitri mengambil barang itu, dia sudah tau.
Kalung titanium dengan inisial mereka.
Dimitri merasakan batu besar menjegal kerongkongannya. Chloe membuang kalung yang dia pegang erat saat dicambuk di Istana Rudolf. Bahkan saat dia pingsan, kalung ini tidak lepas dari genggamannya.
Dimitri sengaja mengembalikan kalung itu kepada Chloe, sebagai pengingat bahwa mereka berdua pernah ada di hidupnya, meskipun wanita itu lupa.
Matanya terasa pedih dan terbakar sambil memandang kalung di telapak tangannya. Angin bertiup sangat kencang, menerbangkan bagian bawah jubah hitamnya.
“Tidak…” suaranya tertekan.
Setetes air mata turun membasahi pipi kirinya.
“Tidak mungkin…”
Dia mengambil satu langkah mundur.
“Kamu tidak mungkin tega melakukan ini, Chloe! Aku tidak percaya! Kamu pasti sedang mempermainkanku kan? Hahah… Kamu pasti ingin balas dendam dengan membuatku takut kan? Kamu sudah berhasil… Keluar, Chloe! Keluar dari tempat persembunyianmu!”
Dimitri berteriak lantang tapi hanya ada suara burung camar yang beterbangan di langit yang menjawabnya.
“Please, keluar Chloe! Aku mengaku kalah! Kamu mau aku minta maaf? Aku akan melakukannya sepanjang hidupku, aku akan bersujud dan mencium kakimu selama yang kamu mau, Chloe! Apa kamu dengar?! Jawab akuuu!!!”
Dimitri jatuh dengan kedua lutut di atas tanah, dia menatap langit biru yang begitu cerah, begitu kontras dengan perasaannya. Seumur hidupnya yang panjang, dia tidak pernah menangis.
Namun saat ini, dia menengadahkan kepalanya dan menjerit begitu keras sampai suaranya menggema dan hilang ditelan deru ombak.
Sia-sia. Semua permohonannya tidak mungkin dapat terkabulkan. Walaupun hatinya berteriak bahwa Chloe masih hidup, namun kenyataan berkata lain.
Jejak kaki itu terlihat jelas di ujung tebing. Jejak kaki terakhir dari wanita yang dicintainya.
Dimitri hanya dapat berbisik pada dirinya sendiri. “Kembali padaku, babu kecil.”
__ADS_1
***
...[Kastil D’Arcy]...
“Stop it, Draven! Aku yang pening lihat kamu mondar mandir begitu cepat,” protes Adreana kepada pria yang tidak bisa diam itu.
Draven berhenti hanya untuk melihatnya sebentar dan kembali melakukannya.
“Bagaimana kalau sesuatu benar-benar menimpa Chloe? Seharusnya aku ikut dengan Dimitri! Menunggu bukan keahlianku!”
Adreana baru saja membuka mulutnya ketika dia melihat sosok Dimitri menaiki tangga menuju pintu depan. Rambut hitamnya acak-acakan, dia melangkah seperti seseorang yang baru saja kalah perang, tatapannya kosong.
Draven dengan cepat berdiri di sisinya, menanyakan segudang pertanyaan yang tidak dijawab oleh pria itu. Dia terus melangkah masuk tanpa melihat mereka, lalu pergi menaiki tangga.
“Jangan-jangan… Chloe sudah meninggal? Mungkin dia terlempar saat berkuda, lehernya patah lalu meninggal di tempat. Hm…” Adreana asal menebak.
Draven ingin membungkam mulut wanita tak berperasaan itu, namun dia lebih mengkhawatirkan Dimitri.
Jika tebakan Adreana benar, ini pasti akan menjadi pukulan berat untuk Dimitri.
Perlahan dia melangkah ke atas, mengikuti Dimitri. Dari celah pintu, Draven dapat melihat sepasang tangan mengangkat Dwayne yang sedang tertidur di box bayinya.
Dimitri hanya menatap anaknya sendiri begitu lama sampai membuat Draven sedikit takut dan hendak masuk ke dalam saat dia mendengar suara sendu Dimitri.
“Kamu sangat mirip mamamu, Dwayne.”
Dimitri memperhatikan wajah bayi mungil di tangannya. Sejak Chloe pergi, dia tidak pernah menggendong anaknya sendiri karena dengan melihat Dwayne, Dimitri hanya akan teringat dengan ibunya.
Dwayne Ansel, nama yang dia pilih tanpa persetujuan Chloe. Dimitri berpikir, apa yang saat itu dirasakan Chloe saat mengetahui bahwa dia sudah memilih nama untuk anak mereka?
“Mamamu pergi tanpa pernah melihat wajahmu, nak. Dia tega pergi meninggalkan kita, Dwayne. Sekarang hanya ada kamu dan aku di dunia ini.”
Dimitri meletakkan bayi tak bersalah itu kembali ke kasur hangatnya. Semua ini salah Dimitri. Dia yang begitu terburu-buru untuk menghapus ingatan Chloe.
Dimitri telah bersalah menyebabkan anaknya tidak mempunyai seorang ibu. Tangannya menggenggam erat box bayi Dwayne, dia berlutut disana, menyesali tindakannya.
Perkataan Chloe terngiang di benaknya.
“Kamu akan menyesal telah melakukan ini padaku, Dimitri. Aku bersumpah kamu akan hidup abadi dalam penyesalan.”
Jika bukan karena ada anak ini yang membutuhkan seorang ayah, Dimitri juga pasti sudah menyusul wanita yang dicintainya. Hanya anak ini satu-satunya alasan mengapa dia masih ada di dunia ini.
“Aku tidak tau harus bagaimana hidup tanpa dia.”
...----------------...
...Thank you semuanya yang uda setia support...
... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...
...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti untuk penulis pemula seperti author 🤗🥺...
__ADS_1