
...[Kastil Klan Children of The Night]...
Di sebuah kastil tua dengan nuansa antik dan dapat membuat siapa pun yang melihatnya bergidik, desa*han dan erang*an seorang wanita muda yang terdengar menyakitkan sedang berlangsung.
Kastil ini terletak di sebuah pulau terpencil yang tandus, berada di antara Kerajaan Rudolmuv dan Kerajaan Azov, namun tidak sembarang kapal yang bisa berlabuh di sana karena selalu ada badai dan petir yang menyelimuti sekitarnya.
Alaric berlutut dengan satu kaki di lantai, menundukkan kepalanya dan menunggu orang itu selesai menghi*sap darah. Dia sendiri mulai merasakan gigi taringnya gatal karena bau darah yang begitu menyengat.
Walaupun ada kehadiran Alaric di sana, pria yang sedang duduk di singgasana tidak berhenti seakan dia sudah terbiasa dilihat dan tidak malu lagi. Wanita berpakaian pelayan itu duduk di pangkuannya, bagian bawah gaun coklatnya terangkat ke atas. Tangan kokoh, putih dan dingin berada di dalam, menyentuh inti tubuhnya, memberi kenikmatan.
Satu jeritan terakhir membuat wanita itu tidak sadarkan diri.
“Membuat mereka terang*sang itu penting karena darah mereka akan terasa lebih manis beribu kali lipat.”
Magnus, ketua klan Children of The Night, mengeluarkan tangannya yang basah dan membasuhnya di gaun pelayan muda itu. Lalu tanpa kesulitan, dia beranjak naik sambil menggendong tubuhnya yang ringan dan memindahkannya ke atas tangan seorang pengawal.
Pengawal yang sudah tau tugasnya apa, segera membawa pergi tubuh pelayan yang masih bernapas itu.
Tubuh Magnus tinggi dan berotot. Penampilan yang tidak biasa dari seorang vampir dan membuatnya terlihat mencolok.
Dia mencuci tangannya dari sisa cairan bening di sebuah baskom emas. “Bagaimana dengan urusan Nelson? Apakah sudah diurus?”
“Sesuai perintahmu, Nelson sudah dieksekusi.”
“Hmm, bagus. Lalu ada berita penting apa lagi?” Dia mengeringkan tangannya dan membenarkan kerah bajunya.
Alaric bangkit berdiri. “Kamu tidak akan percaya apa yang aku saksikan saat melakukan tugasku di Kerajaan Azov, Magnus.”
Magnus kelihatan tidak tertarik. Ada hal apa lagi yang mungkin terjadi yang tidak pernah dia tau? Dia sudah hidup sangat lama, bahkan terlalu lama untuk mengetahui semua kejadian di dunia ini.
“Apa itu?”
“Edric memiliki seorang putri dari rahim manusia. Dia menyembunyikan rahasia ini selama belasan tahun, sampai putrinya berubah menjadi vampir.”
Magnus menarik alisnya ke atas. “Bagaimana bisa? Vampir lainnya pasti bisa mengendus kalau ada manusia yang hamil anak vampir.”
“Tebakanku adalah Edric menggunakan bantuan mage untuk menyegel kekuatan anak ini sehingga dia tumbuh besar seperti manusia normal lainnya.”
Perbuatan Edric tidak terlarang. “Lalu saat di Kerajaan Azov, kamu bertemu dengannya?”
“Betul. Namanya Chloe Elizabeth Suarez dan dia memiliki kekuatan yang luar biasa.”
Dua setengah tahun yang lalu, Alaric sudah bertemu dengannya. Tapi dia menyembunyikan hal ini dari ketua klannya sendiri. Dia tidak ingin ada yang mengetahui keberadaan Chloe karena hanya dia yang boleh memiliki wanita cantik itu.
__ADS_1
Tapi setelah mengetahui Chloe mempunyai seorang kekasih, dia merasa dikhianati. Dia mulai mencari tahu tentang Dimitri D’Arcy, yang hanya dia kenal sebagai Sang Penghancur yang misterius.
Setelah semua informasinya terkumpul, dia terkejut ketika selesai menarik benang merah kusut itu. Tidak ada harapan baginya untuk menang dan mendapatkan hati Chloe.
“Apa kekuatan yang dianugerahkan pada anak setengah vampir setengah manusia itu?”
Alaric tersenyum sinis. “Teleportasi.”
Mata Magnus yang berwarna merah langsung berkilap takjub. “Anugerah yang tidak biasa. Aku ingin bertemu dengannya.”
“Ceritaku belum selesai, Magnus.”
Sekarang ketua klannya mendengarkan dengan serius.
“Sebelum Chloe Elizabeth berubah menjadi vampir, dia bertemu dengan Dimitri D’Arcy.”
“Ah, Sang Penghancur.”
“Dari pertemuan itu, Chloe melahirkan seorang anak untuknya.”
Magnus membuka mulutnya lebar, lalu dia tertawa kencang dan menepukkan tangannya. “Surprise, surprise. Sungguh menarik. Baru kali ini aku mendengar kejadian seperti ini terjadi. Jadi apa kekuatan anak itu, Alaric?”
“Aku belum tau. Bahkan keberadaan anaknya saja dia sembunyikan dengan rapat. Yang aku tau, anak itu bernama Dwayne.”
Magnus manggut-manggut. “Hm, hm…”
“Apa kamu akan memberi mereka ujian seperti yang kamu lakukan pada Lazarus dan Charlotte?”
Magnus berhenti. “Kamu benar. Apa arti hidup ini kalau tidak ada permainan dan sedikit hiburan? Atur semuanya agar aku bisa menyaksikan pertunjukan apik.”
Alaric tersenyum puas. “Siap laksanakan.”
Dia berbalik meninggalkan singgasana Magnus. Hanya segelintir orang yang tau kesukaan ketua Klan Children of The Night itu apa. Dia suka menyusupkan keraguan dan kegetiran di dalam hati pasangan vampir. Alaric menebak kalau sebenarnya Magnus iri karena dia tidak memiliki orang yang ditakdirkan untuknya.
Saat berada di aula Kastil, dia bertemu dengan istri dari tangan kanan Magnus. Wajahnya masih muda dan cantik meskipun dia berubah saat usianya hampir menginjak umur 40 tahun. Alaric dapat mengerti kenapa Santiago bisa jatuh cinta dengan wanita ini.
“Selamat siang, Sofia. Kamu datang sendirian?”
“Siang, Alaric. Suamiku ada di depan kastil, dia menyuruhku masuk duluan. Aku bisa memanggilkannya untukmu.”
“Ah tidak perlu repot, Sofia. Aku sudah mau pergi nanti ketemu dia juga di depan.”
Sofia mengangguk. “Kalau begitu, permisi.”
Dia melewati Alaric yang mengulum senyum. Sempurna. Dia hanya perlu mengeksekusi setiap rencana yang sudah tersusun di benaknya
__ADS_1
*
*
*
Sudah satu minggu ini Edric kelihatannya selalu sibuk dan tidak pernah ada di rumah. Padahal cucunya sedang tinggal di sana.
“Ed! Ed! Ed!” Dwayne menepuk-nepuk meja dengan tangan kecilnya.
“Dwayne kangen sama Edric ya?” tanya Chloe sambil menyuapi anaknya satu baby carrot.
Dwayne memalingkan wajahnya. Dia memang paling susah makan sayuran. Papanya yang duduk sedang membaca buku di ujung sofa pun tertawa.
“Dimitri, lihat anakmu ini tidak mau makan sayur. Kamu malah tertawa.”
“Dia mewarisi sifatku, lebih suka minum…,”
“Stop! Belum saatnya dia mendengar itu. Untuk saat ini dia butuh makanan manusia.”
Chloe mencegahnya dan Dimitri menggerakkan bibirnya untuk berkata ‘darah’. Chloe memutar bola matanya.
“Tapi aku jadi penasaran. Apa dia terlalu sibuk mengurus masalah penobatan Pangeran Dixon?”
Akhirnya diputuskan bahwa Pangeran Dixon yang akan menjadi Raja Azov selanjutnya. Dia berjanji akan berubah, walaupun banyak yang sulit percaya.
Dimitri cuma mengangkat bahunya. “Mungkin.”
Terdengar derap langkah kaki yang tergesa-gesa dari luar ruang santai. “Nona Eliza, Nona Eliza…”
Tampak wajah Layla memerah dan napasnya tidak beraturan karena berlari sekuat tenaga.
“Ada apa, Layla?” Chloe berusaha memasukkan wortel itu ke mulut Dwayne.
“Nona Eliza…,” Layla menarik dan menghembus napasnya. Berusaha menenangkan diri.
“Ba-barusan ada kabar. Pangeran Dixon jatuh saat berkuda dan lehernya patah. Dia meninggal di tempat!”
...----------------...
...Thank you semuanya yang uda setia support...
... ♚ Mainan Tuan Dimitri ♚...
...Like, Vote, Favorit & Comment kalian sangat berarti 🤗🥺...
__ADS_1