Mainan Tuan Dimitri

Mainan Tuan Dimitri
Nona Eliza dan Penggemarnya


__ADS_3


[Dimitri’s POV]


Semua para tamu undangan yang sudah berkumpul di ballroom istana menatapku berbicara dengan Raja Azov. Dari para pria yang memberiku tatapan sinis, kumpulan wanita yang sudah punya suami mengagumiku, apalagi para gadis yang belum menikah.


Mereka melempar senyum malu ke arahku. Tapi hanya satu orang yang kunantikan kehadirannya. Kami berpisah semalam setelah menyampaikan kabar kemenangan pada Raja Azov.


“Mari kita sambut Tuan Suarez dan putrinya, Nona Eliza!”


Pintu ballroom coklat emas terbuka dan aku menoleh dari Azov untuk melihat belahan jiwaku. Aku terkesiap ketika Chloe masuk, satu lengannya berada di tangan Edric. Sesuai adat untuk wanita yang belum menikah, rambut panjangnya dicepol ke atas.


Chloe mengenakan gaun pesta berwarna putih. Di Kerajaan Azov, putih melambangkan kesucian. Tanpa terasa, kedua kakiku sudah melangkah ke arahnya. Edric melepas tangan Chloe dan pergi.


Aku hendak memanggil namanya ketika entah dari mana, muncul begitu banyak orang di depanku, mengerubungi Chloe.


“Nona Eliza, mau kah kamu berdansa denganku?”


“Nona Eliza, kamu masih ingat aku? William Hill. Apakah kamu mau berdansa denganku malam ini?


“Nona Eliza, beri aku kesempatan untuk menulis namaku masuk ke antrian.”


Nona Eliza. Nona Eliza. Semua sibuk mau berdansa dengannya malam ini. Chloe hanya berdiri disana dengan tegak dan senyuman kecil yang dia paksakan tersungging.


“Maaf semuanya. Kartu Nona Eliza sudah penuh dengan namaku.”


Semua mata tertuju padaku. Mereka menatap sinis dan hendak protes namun aku membalas tatapan mereka satu per satu. Kerumunan berjumlah 20an lebih orang itu pun bubar dengan menghela napas panjang.


“Dimitri. Terima kasih sudah mengusir nyamuk untukku.”


Aku menaikkan satu alis ke atas dan terkekeh, “Untung saja kamu menganggap mereka sebagai nyamuk. Aku sudah panas dibakar api cemburu dan hendak menebas kepala mereka satu per satu.”


Chloe hendak membuka mulutnya ketika dua orang gadis muda menghampiriku dan memberi hormat.


“Tuan Dimitri, perkenalkan saya Beatrice Wright.”


“Saya Charlotte Smith, tuan.”


“Ladies,” sapaku singkat tidak tertarik. Aku menoleh dan Chloe berusaha untuk tidak tersenyum geli.


Mereka menyodorkan kartu dansa yang digunakan untuk mengisi nama para pria yang ingin berdansa dengan mereka.


“Tuan Dimitri, kartu dansa saya belum penuh. Maukah kamu berdansa denganku?” Beatrice memberiku senyuman termanis.


“Punya saya juga, tuan.”


Aku hendak membuka mulut untuk menolak, namun Chloe yang memberi jawaban.


“Tentu saja Tuan Dimitri tidak akan menolak. Dia adalah orang yang ramah dan baik. Betul, Dimitri?”


Kedua mata gadis itu berbinar. Mereka menatap Chloe dengan kagum sedangkan aku menatapnya tak percaya. Pada akhirnya, aku menuliskan namaku di kartu mereka dan gadis yang lain berdatangan.

__ADS_1


Kalau tidak ada Chloe disini, aku pasti sudah menolak mereka mentah-mentah. Mataku meliriknya, namun wanita yang berdiri disana sudah menghilang.


Sialan! Aku mengacuhkan beberapa gadis yang masih menyodorkan kartu mereka dan pergi untuk mencari Chloe. Setelah beberapa saat mengarungi lautan manusia di ruangan yang sesak itu, aku melihatnya berdiri di balkoni seorang diri.


“Nona Eliza. Kamu terlihat cantik malam ini.”


“Terima kasih, Tuan Dimitri. Kamu juga sangat menawan malam ini.” Dia memuji tapi nadanya terdengar datar.


Gaun yang dia pakai sangat mewah dengan sentuhan sedikit renda, belahan dada yang turun sampai aku harus menahan untuk tidak menelan ludah. Aku ingin mencongkel mata semua pria yang melihatnya atau mungkin aku harus menyembunyikan Chloe dari mereka semua.


“Bukankah seharusnya kamu berkumpul dengan kelompok gadis yang belum menikah?”


Chloe mendengus. “Aku tidak tahan lama-lama bicara dengan mereka. Yang mereka bahas hanya seputar suami, bagaimana mendapatkan suami dengan status tinggi, baju apa yang harus mereka pakai. Lebih baik aku membunuh tentara Nelson daripada bergabung dengan mereka.”


Aku terkekeh karena tidak biasanya Chloe bicara panjang lebar. Tanpa baju zirahnya, kecantikan Chloe tiada banding. Membuatku ingin menculiknya pulang.


“Jadi kamu tidak ada rencana untuk menikah?”


Tatapan jauh Chloe memandang langit bertabur bintang membuatku ingin memeluknya.


“Aku belum menemukan pria yang tepat. Aku ingin dicintai seperti aku mencintai orang itu. Atau mungkin aku yang tidak memiliki kemampuan untuk mencintai orang lain.”


Chloe menggelengkan kepalanya. “Hanya ada rasa hampa di hatiku.”


Aku memegang dagu kecilnya, membuatnya menatapku.


“Sama, Chloe. Aku juga pernah merasakan hal yang sama. Menjadi vampir membuat hatimu membeku, seakan tidak ada lagi kehangatan untuk mencintai orang lain. Hatiku juga hampa selama 1 milenium lamanya hidup di dunia ini, sampai kamu datang di hidupku.”


Aku terdiam. Lidahku kelu untuk menjawab. Kamu membenciku, Chloe.


Lalu matanya tertunduk seakan malu, “Eden bilang kamu…”


Aku mengernyitkan dahi. “Eden bilang apa, Chloe?”


“Eden bilang kamu mencintaiku, Dimitri.” Dia tertawa dan menepis tanganku. “Tentu saja aku tidak percaya.”


Chloe hendak berjalan masuk tapi aku menarik lengannya. “Kamu harus percaya, Chloe. Aku benar-benar...”


Alunan musik indah untuk mengiringi dansa sudah dimulai. Ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk menceritakan semuanya. Aku belum siap, begitu juga dengan Chloe.


“Nona Eliza, dansa pertamamu malam ini harus denganku.”


“A-aku tidak tau caranya berdansa, Dimitri. Sebaiknya kamu mengajak gadis yang lain.”


“Aku akan menuntunmu, Chloe.”


Tangannya melingkar di lenganku dan kami berjalan ke tengah ruangan. Beberapa pasangan juga sudah berdiri disana. Chloe melepas tangannya. Apa aku melihat ekspresi gugup di wajahnya?


“Nona Eliza. Maukah kamu berdansa denganku?”


Aku pikir Chloe hendak menolak dan lari dariku, namun tangan kanannya dia letakkan di atas tangan kiriku. Saat itu juga, hatiku seakan meloncat keluar.

__ADS_1



Chloe terkesiap ketika aku mendekap tubuhnya erat.


“Hang on tight, darling.”


Hanya ada aku dan Chloe di dunia ini. Aku terkekeh pelan saat kakinya menginjakku.


“Tidak disangka, seorang Dewi Kematian yang mahir bermain pedang dan memanah malah tidak bisa berdansa.”


Chloe hendak menarik dirinya pergi, namun tidak mungkin karena pegangan tanganku yang erat.


“Aku tidak pernah berdansa sebelumnya, Dimitri.”


Hatiku bertambah girang. Jadi semua pria yang mengemis padanya selalu dia tolak!


“Jangan bilang aku pria pertama yang berdansa denganmu, Nona Eliza?”


Dia tampak berpikir, “Aku tidak tau… Apa sebelumnya aku tidak pernah berdansa dengan pria lain? Sebelum aku berubah menjadi…”


“Tidak. Chloe yang dulu tidak pernah berdansa.”


Aku memutar badannya, lalu melanjutkan langkah kami seiring dengan alunan musik. Aku memperhatikan leher jenjangnya, ada kalung choker satin berwarna putih melingkar disana. Aku ingin menariknya turun, melihat apakah bekas gigitanku masih ada disana walau aku tau itu mustahil.


“Jadi kita sudah impas, Dimitri.”


“Impas dalam hal apa, Chloe?”


“Aku sudah mengabulkan permintaanmu untuk berdansa denganku.”


Mulutku tertarik ke atas, tanganku yang melingkar di pinggang Chloe menariknya dekat hingga tidak ada jarak di antara kita.


“Aku tidak bilang kalau berdansa adalah permintaan yang harus kamu kabulkan, Chloe.”


Mata Chloe melebar. “Kamu!!”


Dia menoleh ke kanan dan kiri, banyak pasangan lain yang menatap kami penasaran. Chloe menenangkan dirinya sendiri.


“Lalu apa permintaanmu, Dimitri? Aku ingin segera melunasinya supaya aku tidak perlu bertemu denganmu lagi.”


Musik sudah hampir habis, semua pria di lantai dansa mengangkat tubuh pasangannya ke atas, sama seperti yang aku lakukan pada Chloe. Aku kembali mendekapnya erat saat dia turun, mulutnya terbuka sedikit.


Musik berhenti dan para tamu undangan memberi tepukan tangan meriah. Dengan berat hati, aku melangkah mundur, menundukkan kepalaku dan mencium tangannya lembut.


“Permintaanku adalah kamu harus membuka hatimu untukku, Chloe.”


...----------------...


*Hang on tight, darling.*


\= Pegang yang erat, sayang.

__ADS_1


__ADS_2