Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
SEPULUH


__ADS_3

Pukul setengah tujuh malam, setelah memastikan Mikha menyantap makan malam dan membiarkan gadis kecil itu memiliki waktunya sendiri dengan menonton serial kartun di ruang keluarga, Segara menarik lengan Arkana menuju ruang kerjanya. Lelaki itu membiarkan Arkana duduk di kursi kerjanya demi bisa melihat beberapa video yang telah dia potong di bagian penting untuk dianalisis lebih lanjut.


Sejak tiga tahun belakangan, Segara telah merekrut Arkana sebagai salah satu tim IT yang bertugas untuk menjaga keamanan jaringan internet di perusahaan demi mencegah terjadinya peretasan dan kebocoran data. Segara tidak mempekerjakan Arkana secara resmi, sehingga pemuda itu tidak perlu datang ke kantor untuk memenuhi kewajibannya bekerja dan Segara hanya akan menghubunginya untuk beberapa hal penting yang kiranya harus lelaki itu diskusikan berdua,.


Seperti hari ini, Segara menghubungi Arkana karena dia ingin pemuda itu turut serta dalam upayanya untuk membongkar kebenaran di balik serangkaian teror yang dia terima beberapa bulan terakhir. Kepada Arkana, Segara telah menceritakan beberapa hal termasuk jatuh sakitnya Papa dan pemuda itu telah ikut bergerak untuk menyelidikinya walau sampai sekarang masih belum berhasil menemukan petunjuk apa-apa.


"Lo bilang lo kenal sama remaja yang ada di video ini?" Arkana menoleh ke samping, sedikit mendongak untuk menatap Segara yang berdiri menjulang di sampingnya.


Segara mengangguk. "Namanya Rudi, anak ATR yang kerja di sini." Jelas Segara.


"Kalau gitu bagus, kita bisa lebih gampang buat interogasi dia." Kata Arkana. Kini matanya sudah kembali fokus ke layar laptop.


"Bukan itu poinnya." Ucap Segara sehingga membuat Arkana kembali menolehkan kepala dengan alis yang bertaut.


"Kalau orang ini bisa suruh Rudi untuk lakuin hal semacam ini ke gue, itu artinya gue udah nggak bisa percaya sama siapapun lagi, Ar." Jelas Segara dan Arkana langsung mengangguk paham.


"Lo pasti bingung antara mau pertahankan ART lo untuk tetap kerja di sini atau nggak, kan?" tanya Arkana.


Segara mengangguk, diiringi hela napas gusar yang membuat Arkana meringis. Dia tidak pernah melihat Segara seputus asa ini selain ketika lelaki itu menceritakan kepadanya tentang kematian Karen setelah dia kembali ke Indonesia satu minggu setelahnya.


"Pertama, kita coba temuin si Rudi ini dulu. Kita harus caritahu alasan kenapa dia mau terima perintah dari orang ini buat kirim ancaman ke lo. Apakah itu karena uang, atau ada hal lain." Arkana bangkit setelah menutup layar laptop di hadapan.

__ADS_1


"Sepintar-pintarnya orang ini sembunyi, gue yakin kita bisa temuin dia dalam waktu dekat, sebelum dia bertindak lebih jahat." Katanya berusaha meyakinkan Segara bahwa masalah ini akan sampai pada titik terang, ceapt atau lambat. Satu tepukan dia daratkan di bahu Segara yang kini merosot, berusaha memberikan kekuatan pada kakak iparnya itu sebanyak yang dia bisa.


Arkana melangkah lebih dulu, meninggalkan Segara yang kini menatap nanar pada pigura foto di sisi pojok meja kerjanya yang menampakkan potret dirinya dan Karen juga malaikat kecilnya, Mikha.Kemudian setelah puas memandangi foto itu, Segara pun beranjak. Dia menyusul Arkana yang kini sudah duduk anteng di samping Mikha, asik menggoda putriya itu dengan mencomot biskuit dari kaleng yang Mikha peluk erat-erat.


"Om Ar, jangan usil!" protes Mikha, tapi Arkana sama sekali tidak peduli. Dia malah semakin bersemangat untuk menggoda Mikha hingga akhirnya gadis kecil itu berteriak kesal dengan bibir yang mencebik lucu dan barulah Arkana berhenti setelah menyemburkan tawa puas.


Segara berjalan mendekat, langsung mengambil posisi duduk di sisi lain Mikha. Tangannya bergerak pelan meraih toples biskuit dari pelukan Mikha kemudian meletakkannya ke atas meja. "Kamu udah makan biskuitnya terlalu banyak." Katanya, hanya untuk membuat Mikha melayangkan protes karena pada kenyataannya, Arkana lah yang sudah melahap sebagian besar biskuit di dalam toples tersebut.


"Anak lo gemes banget." Kata Arkana yang gemas sekali melihat Mikha terus-terusan protes pada Segara karena lelaki itu tetap tidak mau memberinya satu keping biskuit lagi.


Segara cuma tersenyum sebagai tanggapan. Dia kemudian meraih tubuh Mikha ke dalam gendongan. "Waktunya tidur." Bisiknya pelan di telinga bocah itu, membuat si kecil yang diajak bicara merengek karena masih ingin menonton serial kartun favoritnya. Lagipula, ini malam minggu. Biasanya Segara akan mengijinkan Mikha untuk menonton tv lebih lama dan tidur sedikit lebih larut dari hari-hari biasanya. Tapi kenapa malam ini ayahnya begitu bersemangat untuk membuatnya tidur lebih awal?


Dan pertanyaan lugu itu terjawab saat Segara berucap pelan di tengah langkahnya menuju kamar Mikha. Dia berkata, "Daddy punya pekerjaan untuk dilakukan malam ini juga, jadi Mikha harus tidur lebih cepat supaya Daddy dan Om Ar bisa menyelesaikan pekerjaan itu."


Menit-menit berlalu dan lagu pengantar tidur yang Segara nyanyikan sudah berganti beberapa kali, namun Mikha sama sekali masih belum bisa memejamkan matanya. Dia tidak bisa tidur karena memang belum mengantuk. Siang tadi dia tidur untuk waktu yang cukup lama sehingga kini energinya masih banyak tersisa. Tapi karena tidak ingin membuat sang ayah kesulitan, Mikha akhirnya memejamkan mata dan pura-pura tertidur agar ayahnya bisa segera pergi dari kamarnnya dan melakukan pekerjaan seperti yang telah lelaki itu katakan sebelumnya.


Dan benar saja, tidak lama setelah Mikha melancarkan aksinya untuk pura-pura tidur, Mikha merasakan ranjangnya sedikit bergoyang yang menandakan bahwa Segara telah mengangkat bokongnya dari sana. Setelah satu kecupan mendarat di kenignnya dan sebuah kalimat selamat malam yang diucapkan dengan suara pelan nan lembut, Mikha mendengar suara langkah kaki Segara yang menjauh.


Setelah memastikan ayahnya benar-benar pergi, Mikha merubah posisi tidurnya menjadi miring ke kiri, memunggungi connecting door sementara mata kecilnya kembali terbuka lebar. Mikha masih terlalu kecil untuk memahami apa yang sedang terjadi dengan ayahnya, tapi dengan pemahamannya yang masih terbatas itu, Mikha berharap kehadirannya tidak akan membuat keadaan Segara menjadi semakin sulit.


Di sisi lain, saat Segara berjalan kembali ke ruang tengah untuk menemui Arkana, dia menemukan pemuda itu sedang berdiri di dekat sofa, memunggunginya. Di depannya, ada dua orang yang sedang duduk berdampingan di sofa. Segara mengerutkan alis karena seharusnya hanya ada satu orang saja yang datang. Tapi kenapa sekarang ada dua?

__ADS_1


"Ar," panggilnya pelan.


Arkana menoleh dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Dua orang yang duduk berdampingan di sofa juga ikut menoleh dan memadang Segara degan takut-takut ketika lelaki itu berjalan semakin dekat ke arah mereka.


"Bi Surti ngapain di sini?" tanyanya pada salah satu di antara dua orang yang duduk di sofa.


Yang ditanya hanya diam, sehingga Arkana harus angkat bicara untuk mewakili wanita paruh baya itu.


"Dia mau tahu anaknya udah bikin salah apa sama lo, makanya kekeuh minta ikut kesini. Padahal gue udah bilang nggak akan ngapa-ngapain akanya, tapi ibu ini kayaknya khawatir banget sama anak laki-lakinya sampai mohon-mohon ke gue untuk diijinkan ikut." Jelas Arkana, hanya untuk membuat Segara menghela napas panjang.


"Saya cuma mau bertanya beberapa hal sama Rudi, jadi sebaiknya Bi Surti pulang sekarang." Bujuk Segara dengan suara setenang mungkin. Dia masih belum tahu apa motif dibalik tindakan Rudi siang tadi, jadi Segara tidak ingin melibatkan Bi Surti karena belum tentu wanita itu juga tahu tentang hal ini. Segara ingin melibatkan sedikit mungkin orang, agar risikonya juga tidak semakin besar.


Tapi wanita paruh baya itu malah menggeleng dengan begitu keras kepalanya, membuat Arkana menatapnya sengit. Sejak masih sangat kecil, dia tidak pernah merasakan bagaimana seorang ibu melindungi anaknya, jadi dia tidak tahu apakah semua ibu akan bertindak seperti ini hanya untuk melindungi buah hatinya sekalipun mereka telah berbuat kesalahan.


"Oke, kalau Bi Surti mau tetap di sini, nggak apa-apa." Kata Segara pada akhirnya, hanya untuk memuat Arkana menatap tajam ke arahnya.


"Tapi saya tetap nggak bisa biarin Bi Surti dengar obrolan kami. Jadi, tunggu saja di sini, kami bertiga akan mengobrol di ruang kerja saya." Final Segara.


Kalau sudah begitu, tidak ada yang bisa melawan. Aura dominan Segara membuat Bi Surti terdiam dan Rudi langsung bangkit dari duduknya begitu Segara berbalik dan melangkah menuju tangga disusul Arkana di belakanganya. Remaja berusia 16 tahun itu sempat menoleh ke arah ibunya sebentar sebelum Arkana berbalik dan menyeretnya untuk segera mengikuti langkah Segara yang sudah terlampau jauh di depan.


Sampai di ruang kerjanya, Segara tidak langsung menodong Rudi dengan berbagai macam pertanyaan yang memenuhi kepalanya sejak siang tadi. Pertama-tama dia mempersilakan Rudi untuk duduk di seberangnya, kemudian dia mengutak-atik laptop lalu menyurukkannya ke hadapan Rudi yang seketika tampak tegang saat sebuah video yang menangkap dirinya tengah melemparkan botol kaca ke jendela rumah Segara itu terputar.

__ADS_1


"Rudi, bisa kamu jelaskan pada saya apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Segara dengan suara tenang.


Bersambung


__ADS_2