
Setengah sebelas malam, dengan sebatang rokok yang terselip di sela-sela jari, Segara berdiri di balkon kamarnya. Angin berembus menerpa wajah lelahnya, menamparnya berkali-kali hanya untuk membuat hela napas berat lelaki itu lolos tanpa bisa dihindari.
Kepalanya sedang sangat ribut sekarang. Perihal Rudi yang menerima perintah untuk menyampaikan ancaman kepada dirinya tentu masih harus diselidiki lebih lanjut. Tapi di sisi yang lain, ada hal yang lebih mendesak untuk dia pikirkan solusinya.
Ini adalah soal Mikha. Sejak kejadian hari Sabtu kemarin, rumah sudah bukan lagi tempat yang aman untuk meninggalkan bocah itu selagi dia bekerja. Sedangkan kantor sedang dalam kondisi sibuk karena ada beberapa hal yang perlu diurus seiring pergantian pemimpin yang tiba-tiba. Ia tidak mungkin melepas tanggungjawab yang telah dipercayakan kepada dirinya begitu saja. Karena di tangannya, bukan cuma nama Papa yang dipertaruhkan tapi juga hidup ratusan karyawan.
Di belakangnya, tepatnya di ambang pintu penghubung kamar dengan balkon, Arkana berdiri dengan punggung bersandar ke tembok. Sedari bermenit-menit yang lalu, lelaki itu ada di sana, memperhatikan dirinya dari kejauhan tanpa mengucapkan apa-apa.
Segara tahu Arkana ada di sana, dia bahkan bisa mendengar suara hela napas yang berembus amat pelan, beradu dengan gemerisik pepohonan yang tertiup angin. Hanya saja, ia seolah tidak punya kekuatan untuk membalikkan badan atau sekadar mengajak lelaki itu bicara dari tempatnya. Alhasil, selama bermenit-menit itu juga, mereka berdua hanya diam, membiarkan hening tertawa jemawa karena telah berhasil berkuasa.
Segara memandangi rokok yang terapit di sela jemarinya denga senyum tipis yang tak kentara. Sebenarnya, sejak Mikha lahir ke dunia empat tahun lalu, ia hampir tidak pernah merokok lagi. Kapanpun hatinya terasa gundah dan resah merundungnya tanpa henti, ia hanya akan mengambil sebatang kemudian memainkannya seperti sekarang ini. Tidak pernah sampai dinyalakan, apalagi disesap sampai habis. Kecuali kalau resahnya sudah benar-benar keterlaluan, barulah ia akan menyalakannya dan mengisap nikotin dari sana sampai asapnya masuk memenuhi rongga dada.
Dan malam ini, Segara memutuskan untuk menyalakan rokoknya.
Api yang menyala dari pemantik dalam sekejap telah berhasil menyulut rokok itu, membuat bara warna merah menyala terang di tengah kondisi balkon yang gelap. Lampu di atas kepala Segara sudah berhari-hari mati, dan ia tidak punya waktu untuk menggantinya dengan yang baru.
Atau barangkali, ia memang tidak mau. Sebab gelap adalah teman yang pas ketika beribu pikiran konyol menyerbu kepalanya. Sebab gelap bagi Segara adalah jalan keluar paling baik dari riuhnya isi kepala.
__ADS_1
Rokok mulai dihisap dengan gerak lambat, seolah ia ingin asap dari sana berjalan pelan melewati tenggorokannya sebelum sampai ke paru-paru. Dari seluruh asap yang ia hirup, hanya sebagian kecil yang ia hembuskan kembali ke udara. Kegiatan itu ia lakukan berulang-ulang kali, sampai bara yang membakar ujung rokok bergerak semakin serakah, merembet ke bagian lain dan memakan seluruh bagian rokok yang berisi tembakau sampai tak bersisa lagi.
Segara mendesah sebal tatkala menyadari sudah tidak ada lagi tembakau yang bisa dia hisap. Sedangkan untuk menyalakan satu batang rokok lagi, ia harus kembali berjalan ke kamarnya dan ia enggan melakukannya. Karena itu berarti dia harus membalikkan badan dan bertemu tatap dengan Arkana.
Segara ingin terus berpura-pura tidak tahu akan eksistensi lelaki itu di belakangnya. Sebab ada terlalu banyak hal yang tidak ingin dia debatkan dengan lelaki itu sekarang.
Akhirnya, mau tidak mau, Segara merelakan kegiatan merokoknya selesai sampai di sini. Ia matikan sisa bara yang masih terus berusaha membakar bagian rokok yang tersisa kemudian meletakkan puntung yang sudah benar-benar padam itu ke atas tembok pembatas balkon.
Sejenak, Segara memandangi puntung rokok yang baru saja dia tinggalkan. Tiba-tiba saja dia merasa puntung rokok itu tak ubahnya dirinya sendiri, yang kini teronggok tak berdaya setelah api amarah membakarnya habis hingga tak bersisa.
Tapi dipikirkan sampai bagaimanapun, ia tetap tidak keberatan. Meski api amarah akan melahapnya lagi dan lagi, ia tetap tidak akan memadamkannya karena hanya dengan itu ia bisa memiliki tekad untuk mencari tahu bajingan mana yang sudah berani mengusik hidupnya. Bukankah dia hanya perlu berpura-pura di depan Mikha bahwa semuanya sedang baik-baik saja?
Di tengah riuhnya isi kepala, Arkana tiba-tiba bersuara, membuatnya berdecak sebal karena sejujurnya ia ingin lelaki itu tetap diam. Segara ingin menghabiskan waktu lebih banyak untuk berseteru dengan isi pikirannya, sampai puas, sampai tewas. Tapi Arkana telah menggagalkan rencananya.
"Do you want another cigarette, Bruh?" Setelah kalimat itu, Arkana berjalan mendekat ke arahnya. Dalam sekejap, lelaki itu sudah berada di sampingnya, menyodorkan sebatang rokok kepadanya dengan raut wajah yang terlalu sulit untuk dibaca.
"Thanks." Segara meraih rokok dari tangan Arkana, namun ia sudah tidak lagi berniat untuk menyalakannya. Keinginannya untuk merokok sudah hilang sejak tadi, seiring dengan mengudaranya suara Arkana yang berhasil memecah skenario yang telah ia rangkai sedemikian rupa di dalam kepala.
__ADS_1
Maka, sebatang rokok itu kembali hanya menjadi penghuni di sela jari-jarinya.
"Gue udah kirim berkas-berkasnya Mikha ke daycare." Kata Arkana mengawali. Segara tidak sadar sejak kapan ada sebatang rokok lain yang terselip di antara jemari lelaki itu. "Owner-nya bilang, Mikha bisa dititipkan ke sana mulai besok. But still, it's up to you. Kalau lo merasa belum yakin, ya nggak usah dulu." Lalu Segara melihat rokok itu dinyalakan.
Detik-detik selanjutnya, hening kembali berkuasa. Arkana asyik menikmati setiap asap yang dia hisap dengan pandangan yang lurus ke depan, jatuh pada jajaran pohon tinggi di sepanjang jalanan kompleks yang tampak kesepian di matanya.
Atau barangkali, dia lah yang sebetulnya kesepian. Sejak satu-satunya orang berharga dalam hidupnya mati, Arkana rasa dia sudah akrab sekali dengan kesepian yang diam-diam merangkak naik ke dalam ulu hatinya. Walau pada kenyataannya, ia tidak pernah ditinggalkan di tempat yang sepi. Setiap hari ia bergelut dengan banyak keramaian, tapi kesepian tak kunjung menepi walau riuh di kepalanya juga semakin ricuh seiring berjalannya waktu.
Di sebelahnya, Segara juga tak melakukan banyak hal. Ketika ia diam-diam melirik ke arah kakak iparnya itu, Arkana hanya menemukan Segara sedang memandangi batang rokok yang terselip di jemarinya. Ada senyum miris yang tersungging walau tidak kentara. Kemudian perih perlahan merambat naik ke ulu hatinya ketika menyadari ada banyak hal yang telah berubah dari lelaki itu.
Dulu, Segara yang ia kenal tidak begini. Sejak pertama kali memperkenalkan diri sebagai seseorang yang mencintai Karenina hingga mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menikah, ia mengenal Segara sebagai seseorang yang ramah dan murah senyum. Lelaki itu peduli dan terlalu peka pada keadaan sekitar, itu juga yang membuatnya bisa bertemu dengan Karenina dan akhirnya jatuh cinta.
Tapi semenjak kematian Karenina, Segara bukan lagi sosok yang sama. Senyum yang hangat itu sudah jarang sekali bisa Arkana lihat. Dan yang lebih parah, lelaki itu kini sepenuhnya menutup mata pada keadaan sekitarnya, berubah menjadi sosok yang dingin dan terlalu acuh pada orang-orang jika itu tidak ada kaitannya dengan Mikha dan orang-orang yang dia sayangi.
Segara jadi fokus pada kesedihannya atas kepergian Karenina, sekaligus ambisi untuk mencari tahu kebenaran di balik kecelakaan yang menimpa perempuan itu demi bisa membalaskan dendam pada pelakunya. Arkana merasa, Segara sudah kehilangan dirinya sendiri.
"Daycare aktif dari jam berapa sampai jam berapa?"
__ADS_1
Bersambung