
Seperti dejavu, Segara kembali menemukan dirinya hancur. Kondisi hatinya berantakan, persis seperti keadaan rumahnya yang terlihat habis terkena badai. Pecahan kaca berserakan memenuhi lantai, beberapa perabotan bergelimpangan meninggalkan tempatnya, dan di sudut ruang tamu yang telah dipenuhi oleh petugas polisi yang sedang melakukan olah TKP, dia menemukan asisten rumah tangganya terduduk lemas dengan tubuh yang bergetar hebat. Wajahnya memerah, peluh bercucuran dan trauma tergambar jelas dari raut wajahnya yang ketakutan.
“Coba ulangi sekali lagi, Ar. Lana kenapa?” pintanya. Berharap kali ini, Arkana akan memberikan jawaban yang berbeda. Berharap telinganya salah dengar, atau apa yang disampaikan oleh Arkana sebelumnya adalah sebuah kesalahan.
“Lana diculik, Ga, sama Pamela juga. Rumah ini disatroni perampok dan mereka berdua dibawa setelah para perampok itu menggasak semua barang-barang berharga yang bisa mereka bawa.” Namun sayangnya, apa yang Arkana katakan masih sama persis dengan apa yang dia dengar beberapa menit sebelumnya.
Rasanya, Segara nyaris gila. Dia tidak peduli seberapa banyak kerugian yang harus dia tanggung untuk barang-barang yang hilang dan properti yang dirusak, semua itu bisa dia cari gantinya dengan mudah. Tapi Lana dan Pamela, ke mana dia harus mencari keberadaan kedua perempuan yang penting dalam hidupnya itu? Apa yang harus dia serahkan untuk mendapatkan mereka kembali?
Dengan langkah yang terseok-seok, Segara berjalan menghampiri Bi Surti yang masih bergetar ketakutan, lalu tubuhnya ambruk tepat di hadapan asisten rumah tangganya itu. Dengan tubuh yang tak kalah gemetar dan suara yang terasa tercekat di tenggorokan, Segara bertanya lagi kepada Bi Surti mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa rumah mereka bisa disatroni perampok, dan kenapa Lana serta Pamela juga bisa turut dibawa pergi oleh mereka.
“Tolong jelaskan sama saya kronologinya, selengkap-lengkapnya tanpa ada yang terlewat.” Pintanya.
Bi Surti yang masih dalam keadaan syok, dan sebetulnya sudah sempat memberikan keterangan kepada Arkana dan petugas polisi, terpaksa kembali mengulangi cerita yang sama. Yang itu berarti, dia harus memutar kembali adegan mengerikan yang menimpa dirinya, Lana dan Pamela.
“Saya....”
Flashback....
Yang Bi Surti tahu, Pamela adalah teman baik Segara. Dulu saat lelaki itu masih menikah dengan Karenina pun, Pamela juga sering datang berkunjung, untuk sekadar ngobrol santai seperti yang kini perempuan itu lakukan bersama Lana di ruang tengah. Maka dari itu, ia santai saja membiarkan kedua perempuan itu berbincang dengan leluasa, sementara ia kembali ke dapur untuk mulai menyiapkan makan siang sebelum Segara dan Mikha kembali dari perjalanan mereka.
__ADS_1
Awalnya, semuanya masih baik-baik saja. Sesekali terdengar suara gelak tawa dari ruang tengah, yang otomatis juga membuatnya menarik ujung-ujung bibir—ikut tersenyum. Satu persatu masakannya juga mulai selesai, siap dihidangkan di atas meja makan. Sampai kemudian, terdengar suara teriakan dari arah depan yang membuatnya sontak menghentikan semua aktivitas dan bergegas berlarian ke depan untuk memeriksa.
Setibanya ia di ambang pembatas ruang tengah, dia menemukan Pamela dan Lana sudah terduduk di lantai dengan posisi berlutut dan kedua tangan terikat di belakang, bibir keduanya ditutup lakban hitam. Enam lelaki bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam dan topeng penutup wajah bergerak membagi tugas. Dua di antaranya berjaga di belakang tubuh Lana, dua bergerak menjarah barang-barang berharga, sementara dua lagi yang dilengkapi senjata api tampak berjaga di area depan. Satu di antara dua orang yang bersenjata itu kemudian berderap menghampiri Bi Surti yang berdiri kaku, lalu sama seperti Lana dan Pamela, tangannya juga diikat serta mulutnya dilakban dan dia didudukkan di sudut ruangan.
Yang selanjutnya terjadi adalah, para perampok itu menggasak semua barang berharga yang ada. Dari lantai satu hingga lantai dua, semuanya mereka jarah dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Bi Surti tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa terduduk pasrah melihat rumah majikannya dikuras habis. Dan di tengah ketakutan yang mendera, dia berkontak mata dengan Lana. Tidak seperti dirinya yang penuh sekali dengan kekhawatiran, perempuan itu terlihat jauh lebih tenang. Tidak meronta, tidak menangis (meski ia jelas terlihat ketakutan) dan malah menganggukkan kepala pelan—seperti kode bahwa semuanya akan baik-baik saja selama mereka tidak banyak berontak.
Puas menggasak semua barang berharga, Bi Surti pikir semuanya akan usai. Dia pikir, enam perampok itu akan segera kabur dan meninggalkan mereka. Toh, wajah mereka tidak terlihat sama sekali, jadi seharusnya tidak masalah bagi mereka untuk meninggalkan para penghuni rumah setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Namun, Bi Surti tidak kuasa menahan diri untuk meronta sekuat yang dia bisa ketika di depan matanya, dia melihat Lana dan Pamela digelandang paksa oleh para perampok itu. Dua wanita lemah tak berdaya itu diseret, dipaksa berjalan mengikuti mereka sementara satu orang bersenjata menahan Bi Surti agar tidak mengeluarkan suara.
Ketakutan Bi Surti semakin menjadi-jadi, namun dia tidak bisa membiarkan Pamela dan Lana dibawa begitu saja. Jadi, dia tetap meronta dan berusaha berteriak meski mulutnya dilakban. Atas tindakannya itu, Bi Surti akhirnya mendapatkan sebuah pukulan keras di kepala, yang membuat kepalanya terasa berputar dan kesadarannya perlahan menghilang.
Tubuh lemahnya jatuh terkulai di lantai, dan di tengah-tengah ambang antara sadar dan tidak, ia melihat Lana kembali menoleh ke belakang seolah ingin menenangkan. Anggukan kepala yang terlibat samar itu menjadi hal terakhir yang Bi Surti lihat sebelum semuanya menjadi gelap.
Flashback end....
Saat ini, Segara merasa dia ada di ambang batas antara hidup dan mati. Dia sadar nyawanya masih ada di dalam tubuh, menghuni sang raga rapuh. Namun, dia juga sadar bahwa segala sisi di tubuhnya sudah tidak bisa lagi difungsikan dengan sebagaimana mestinya. Bahkan, apa yang selanjutnya Arkana katakan kepadanya pun tidak terdengar sama sekali. Dia hanya bisa melihat bibir pemuda itu berkomat-kamit, namun di telinganya itu sama sekali tanpa suara.
__ADS_1
Kehadiran Mikha yang kemudian memeluk tubuh lunglainya menjadi penolong di saat yang tepat sebelum dia benar-benar kehilangan kesadaran. Tangan-tangan kecil anak itu menyentuh pipinya yang sepucat mayat, mata bulatnya yang jernih menatap lekat, membuat Segara akhirnya tak kuasa menahan tangis yang dia tahan-tahan agar tidak tumpah.
Tubuh kecil Mikha dia raih, dia dekap erat selagi ia terisak-isak memikirkan bagaimana nasib dua perempuan yang dia sayangi. Terlebih lagi, mengingat kondisi Lana yang sedang hamil muda dan masih rentan sekali untuk terjadi gangguan pada kehamilannya. Segala kemungkinan buruk berseliweran, dan Segara sama sekali tidak bisa menghalaunya.
Sementara di belakang tubuhnya, Arkana harus menjadi seseorang yang lebih tegar. Seseorang yang bahunya lebih kokoh dan kepalanya tetap terjaga waras. Karena kalau dia ikutan jatuh, tidak akan ada yang bisa bergerak untuk mencari solusi atas kekacauan ini.
“Kami sudah periksa CCTV seperti yang Bapak arahkan, namun sayang tidak satu pun dari CCTV yang terpasang itu berfungsi sebagaimana mestinya. Komplotan perampok itu sepertinya sudah lebih dulu merusaknya sebelum menjalankan aksi mereka.” Salah seorang petugas polisi bergerak mendekati Arkana untuk menyampaikan penemuan mereka.
Menanggapi hal itu, Arkana hanya bisa menghela napas panjang. Sudah banyak hal buruk yang terjadi di dalam hidupnya dan Segara, dan mengecek CCTV untuk menemukan jawaban adalah pekerjaan yang sia-sia karena dia tahu, para bajingan itu selalu lebih cerdik ketimbang mereka.
Tapi bukan berarti Arkana akan menyerah begitu saja. Dia akan mencari keberadaan Lana, sekalipun dia harus menembus gerbang neraka untuk bisa membawa kembali perempuan itu.
“Sebaiknya, lo sembunyi dengan benar, karena ketika gue berhasil menemukan lo nanti, gue akan pastikan hidup lo berakhir saat itu juga.” Di dalam hati, dia mengutuk para bajingan itu untuk yang kesekian kalinya. Sejak dia pulang dan menemukan keadaan sudah kacau, dan dia akhirnya menelepon polisi, dia sudah tahu bahwa ini bukan sekadar aksi perampokan semata. Para bajingan ini pasti adalah orang-orang yang sama yang terlibat dengan kejadian-kejadian buruk di masa lalu, termasuk kematian Karenina.
“Terima kasih atas kerja kerasnya, tolong hubungi saya kalau ada perkembangan lain.” Ujarnya pada petugas polisi yang tadi, lalu dia berjalan menuju pintu keluar seraya menggeser layar ponselnya beberapa kali.
“Gue butuh bantuan kalian.” Ucapnya pada seseorang yang dia hubungi melalui sambungan telepon.
Kali ini, dia tidak akan bersikap lunak. Siapa pun orangnya, dia akan memastikan orang itu babak belur dulu sebelum nanti dia jebloskan ke dalam penjara.
__ADS_1
Bersambung