Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
EMPAT PULUH LIMA


__ADS_3

Alih-alih pulang ke rumah setelah pekerjaannya selesai, Segara malah membiarkan dirinya terjebak di ruang kerjanya, menyaksikan bagaimana Pamela menenggak 3 kaleng bir sambil meracau soal masalah apa yang tengah dihadapi olehnya.


Ponsel yang tergelak di atas meja kerjanya berkali-kali berdering, pelakunya adalah Arkana. Namun, tak satupun dari banyaknya panggilan itu yang Segara angkat, karena dia tidak ingin mendengar Arkana mengoceh panjang lebar jika pemuda itu tahu alasan terlambat pulangnya ia malam ini.


Yah, walaupun Arkana tidak pernah secara gamblang menyatakan ketidaksukaannya terhadap Pamela, namun sebagai salah satu orang yang dekat dan mengenal pemuda itu dengan baik, Segara tahu Arkana agak kurang bisa menerima kehadiran Pamela. Hal itu sudah terlihat sejak ia dan Karenina pertama kali berpacaran, dan semakin terlihat menjadi-jadi setelah Arkana kembali ke Indonesia 4 tahun silam.


“Cukup.” Segara merebut satu kaleng bir yang masih tersegel dari tangan Pamela, menjauhkannya dari jangkauan perempuan itu dengan menyembunyikannya di belakang tubuhnya. Tiga kaleng bir rasanya sudah cukup, Pamela tidak boleh minum lebih banyak kalau tidak mau berakhir muntah-muntah.


“Balikin, aku masih mau minum.” Tangan Pamela masih berusaha menggapai kaleng bir di belakang tubuh Segara. Kekeraskepalaannya itu berakhir membuat tubuhnya oleng, menubruk tubuh besar Segara yang duduk di sofa yang sama dengan dirinya.


Kalau ini adalah adegan di dalam drama percintaan, maka yang akan Segara rasakan ketika tubuh mereka saling berdempetan dan posisi wajah mereka nyaris tak berjarak adalah degup-degup manja tak terelakkan di dalam dada. Tapi karena ini bukanlah cerita seperti itu, maka yang Segara rasakan sebagai gantinya adalah ketidaknyamanan.


Tanpa berniat untuk menyinggung perasaan Pamela, Segara menggunakan kedua tangan besarnya untuk menciptakan jarak aman di antara mereka. Ia mendorong tubuh Pamela menjauh, di saat yang bersamaan turut menggeser posisi duduknya agar jarak yang tercipta semakin banyak.


“Tuh, kamu udah sempoyongan, udah nggak bisa minum lagi.”


Kalimat itu berakhir membuat Pamela mendecih tidak suka. Kedua tangan Segara yang masih memegangi bahunya dihempaskan kasar, lalu ia bergeser sampai ke ujung sofa. “Cuma kepleset dikit, bukan karena mabuk.” Elaknya.


Meskipun begitu, ia tetap tidak mendapatkan bir yang dia inginkan. Sebab sebelum bibirnya semakin merepet tidak keruan, lengannya sudah lebih dulu ditarik oleh Segara. Tubuh kurusnya terangkat dalam satu kali sentakan, ketidaksiapannya untuk bangkit nyaris menimbulkan bencana jatuh yang memalukan, jika saja telapak tangan besar milik Segara tidak dengan sigap menopang punggungnya sehingga ia bisa kembali berdiri tegak.


“Setengah 10, Mel, aku anterin kamu pulang sekarang.” Ucap lelaki itu.


Pamela tahu Segara tidak sedang membuat penawaran, maka tidak akan pula ada penolakan yang bisa dia berikan. Malahan, kalau lelaki itu mau, tubuh kurusnya bisa saja akan diangkat, digeret paksa untuk ikut pulang seperti yang dia katakan sebelumnya.


Maka, dengan begitu pasrah—meski masih sesekali menggerutu—Pamela mengemasi barang-barangnya, memasukkannya ke dalam tas lalu mengayunkan langkah lebih dulu ke arah pintu.


“Ayo, buruan.” Ajaknya, saat menyadari Segara malah diam mematung di sisi meja kerjanya.


Segara tidak mengatakan apa-apa, hanya kemudian berjalan cepat ke arahnya setelah menyambar jas dan kunci mobil.

__ADS_1


Jam segini kantor sudah sepi. Rekan yang satu divisi dengannya juga sudah membubarkan diri sejak pukul 6 lewat. Kini, Pamela tidak perlu tergesa-gesa, bisa sedikit melambatkan langkahnya demi menghabiskan waktu lebih banyak bersama Segara.


Sebenarnya, rumor yang menyebar di kantor tentang dirinya dan Segara adalah hal baik untuk Pamela. Ia senang orang-orang berpikir dirinya dan Segara memiliki hubungan. Tapi agaknya, hal tersebut tidak berlaku untuk Segara karena sejak rumor itu beredar, lelaki itu malah menjauhinya.


Berhari-hari setelah itu, Pamela hanya bisa bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, mengapa Segara harus sampai mengabaikan keberadaannya ketika di kantor? Bentuk profesionalitas kah atau apa?


Dan seminggu yang lalu, pertanyaan itu akhirnya terjawab juga. Lelaki itu sudah memiliki perempuan lain yang dicintai. Oh, bukan cuma dicintai, tapi juga dinikahi. Ugh! Pamela tidak menyangka dia akan patah hati lagi karena orang yang sama!


“Hati-hati.” Suara Segara terdengar seperti setengah menggeram. Pamela yang tidak mengerti peringatan itu diberikan untuk apa, hanya bisa menoleh ke arah Segara dengan tatapan polos tanpa dosa. “Tiang.”


Oh. Pamela kembali menoleh ke depan, menemukan tiang penyangga menjulang tinggi di depannya, nyaris bertubrukan dengan tubuhnya.


“Jangan meleng kalau jalan.” Peringatan itu datang sekali lagi. Untuk mendukungnya, Segara bahkan sampai menggeret Pamela untuk lebih dekat ke sisi tubuhnya, menjaga agar tidak ada lagi drama hampir menabrak tiang seperti tadi.


Selanjutnya, yang terdengar memenuhi basement hanyalah suara hak sepatu mereka yang beradu dengan lantai basement yang keras. Malam semakin bergerak, waktu berlalu melewati apa saja yang dia temui tanpa berniat untuk berhenti sejenak demi bisa berbasa-basi.


Pamela benci itu. Dia benci saat waktu berjalan lebih cepat ketika dia sedang bersama dengan Segara. Dia benci segala hal yang berjalan tidak sesuai dengan rencananya. Dan, dia paling membenci dirinya sendiri karena tidak memiliki kuasa apa-apa.


...----------------...


Jadi, ketika suara Arkana menyambutnya dengan nada tinggi hanya sesaat setelah ia menampakkan diri di depan pemuda itu, Segara sudah tidak terkejut. Berkilo-kilo meter sebelum mobilnya mendekat ke rumah, dia bahkan sudah menyiapkan diri. Sudah menyiapkan jawaban apa saja yang akan dia katakan kepada Arkana untuk setiap pertanyaan yang mungkin akan pemuda itu lontarkan.


Kalau Arkana bertanya dari mana saja ia, Segara akan menjawab dari kantor, lembur. Tidak sepenuhnya bohong, tapi tidak 100 persen jujur juga. Kalau Arkana bertanya kenapa ia tidak mengangkat telepon, Segara akan menjawab bahwa ponselnya sedang dalam mode hening dan dia terlalu sibuk mempelajari berkas kontrak untuk tahu bahwa layar ponselnya menyala berkali-kali. Dan masih banyak lagi. Dia masih menyimpan banyak stok jawaban, bahkan untuk pertanyaan paling tidak masuk akal sekalipun.


Akan tetapi, alih-alih menanyakan semua pertanyaan yang sudah dia prediksi, Arkana justru mengoceh panjang lebar kepada dirinya karena dia membiarkan Lana membereskan semua pekerjaan rumah sendiri. Pemuda itu protes. Katanya, apa gunanya mempekerjakan Bi Surti kalau Lana yang seharusnya hanya bertugas mengurus Mikha malah harus menyapu, mengepel, mencuci baju, bahkan sampai mengeluarkan semua sampah di rumah ini ke bak sampah di depan gerbang.


Segara tidak memprediksi soal keluhan itu, tidak pula menyangka kalau Lana ternyata akan secara sukarela melakukan segala pekerjaan rumah yang sejatinya biasa dikerjakan oleh Bi Surti. Wanita paruh baya itu sudah sembuh, jadi seharusnya ia tetap datang untuk memenuhi kewajibannya bekerja di rumah ini sebagaimana mestinya. Tapi, kenapa Lana malah mengerjakan semuanya sendiri?


“Lo tahu gue ngeliat apa pas baru pulang dari meeting sama klien? Miss Lana lagi naik ke atas tangga, mau ganti lampu yang ada di ada di dapur. Itu lampu udah mati dari 2 hari yang lalu sebelum gue izin nggak pulang, dan lo ternyata belum ganti juga?”

__ADS_1


“Gue lupa,”


Jawaban sederhana itu nyatanya malah membuat Arkana makin mencak-mencak. “Kok ya bisa-bisanya lo lupa?!”


Segara mendesah pelan, “Ya namanya lupa, Ar, mau gimana lagi?”


“Ah, si anying.” Arkana mengusak rambutnya sendiri dengan gemas. “Gue tahu lo nikahin Miss Lana cuma demi Mikha, tapi bukan berarti lo boleh biarin dia kerjain semua pekerjaan rumah tangga, dia bukan pembantu.”


“Gue nggak pernah nyuruh dia buat ngerjain apapun.”


“Dan lo juga nggak pernah kasih tahu dia buat jangan ngerjain apa-apa selain jagain Mikha!” sergah Arkana.


Begitu saja, Segara dibuat bungkam. Tadinya Mikha, sekarang gantian Arkana. Kenapa orang-orang cenderung berpihak kepada Lana sekarang? Apa sebenarnya bagian istimewa dari perempuan itu?


“Dia nggak akan dengerin kalau gue yang bilang, jadi better lo kasih tahu dia buat nggak usah ngerjain apapun lagi mulai besok. Ya pura-pura dikit lah jadi suami yang baik. Pura-pura doang, nggak akan bikin lo mati.” Pungkas Arkana, lalu pemuda itu ngeloyor, meninggalkannya seorang diri.


“Main character-nya siapa sih sebenarnya di sini? Gue atau Miss Lana?”


...----------------...


Satu lagi harapan Segara yang harus pupus kala dia menemukan Lana tengah tertidur di ranjang kecil di kamar Mikha. Lengan perempuan itu mendekap Mikha posesif, begitu juga sebaliknya. Jika ada orang asing yang melihat, penampakan mereka berdua saat ini memang sudah seperti pasangan ibu dan anak yang sesungguhnya.


Papa, Mama, Mikha dan Arkana terlihat senang dengan kehadiran Lana, tapi Segara tidak merasakan hal yang sama. Makin hari, dia makin merasa takut. Eksistensi Lana bisa jadi membuatnya sedikit demi sedikit goyah, membuatnya ingkar pada lebih banyak janji yang dia buat untuk Karenina.


Hanya dengan kesadaran diri bahwa pernikahan ini terjadi atas kehendaknya, ia tidak sanggup marah pada Lana. Karena kalau dia mau berpikir lebih panjang, perempuan itu juga mungkin tidak ingin terjebak dalam sebuah pernikahan di mana tidak ada cinta di dalamnya. Tawarannya sudah pernah ditolak, itu adalah bukti nyata bahwa sama seperti dirinya, Lana pun hanya setengah hati menjalani semuanya.


Karena terus berdiri memandangi Lana dan Mikha dari ambang connecting door tidak akan membuahkan hasil apa-apa, Segara pun memutuskan untuk pergi dari sana, kembali ke kamarnya.


Pukul sebelas, belum ngantuk-ngantuk amat, tapi tetap saja Segara memaksa dirinya untuk berbaring di atas ranjang, memejamkan mata dan berusaha untuk tidur.

__ADS_1


“Aku kangen kamu, Ren.”


Bersambung


__ADS_2