Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
LIMA BELAS


__ADS_3

"Daycare aktif dari jam berapa sampai jam berapa?"


Arkana menoleh ketika suara Segara mengudara. Ia melihat lelaki itu menatap lurus ke depan dengan satu tangannya masuk ke saku celana sedang yang satunya lagi bergerak pelan meremas batang rokok yang semula terapit di sela-sela jari. Kalau diperhatikan lebih teliti, rahang lelaki itu mulai mengeras, menampakkan otot-otot di sekitar area leher yang menonjol lebih kentara daripada biasanya.


"Jam 9 sampai jam 5. Khusus Mikha, gue minta perpanjangan waktu satu jam, sampai jam 6. Jaga-jaga kalau kerjaan lo di kantor masih belum beres dan harus telat jemput Mikha." Jelas Arkana. Ia melihat Segara mengangguk, namun lelaki itu masih tidak mengalihkan pandangannya.


"Lo yakin daycare itu aman, ya?"


"Aman." Arkana meyakinkan. Karena dia tidak akan merekomendasikan daycare itu sebelum mencari tahu seluk beluknya secara mendalam. Sebab baginya, Mikha bukan sekadar keponakan yang lahir dari rahim kakaknya yang sudah meninggal. Lebih dari itu, Mikha bagi Arkana adalah separuh napasnya yang tidak boleh hilang.


Arkana mendengar Segara menghela napas. Lalu rokok yang sudah tidak berbentuk itu diletakkan di sebelah puntung rokok miliknya yang sudah padam sejak bermenit-menit yang lalu. Lelaki itu kemudian menoleh, hanya untuk membuat tenggorokannya tercekat sebab di kedua mata lelaki itu sudah tidak nampak lagi binar yang cerah.


"Oke." Hanya itu yang Segara katakan.


Tapi satu kata itu sudah cukup untuk membuat Arkana mengerti. Maka, setelah menyelesaikan rokoknya hingga hisapan terkahir, ia bergerak pelan mengeluarkan ponsel dari saku ******. ***** sekejap, telepon tersambung dan dia seketika larut dalam obrolan dengan seseorang di seberang telepon, sementara Segara hanya bisa diam mendengarkan.


Tak lama kemudian, telepon terputus. Arkana memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku celana sebelum berlalu meninggalkan Segara setelah mengucapkan beberapa patah kata.


"Soal Mikha udah clear, ya? Kalau gitu gue pamit sekarang. Masih ada urusan lain yang harus gue beresin." Kemudian ia betulan pergi.


Bermenit-menit setelah kepergian Arkana, Segara masih enggan beranjak dari tempatnya. Sejujurnya, memutuskan untuk menitipkan Mikha ke daycare bukanlah solusi yang ia rasa tepat, karena sudah sejak lama ia tidak bisa lagi percaya pada sembarang orang. Tapi untuk saat ini, ia tidak punya pilihan lain karena nyatanya orang terdekat yang dia percaya pun masih punya celah untuk membuat rasa tidak percayanya kembali timbul.

__ADS_1


Segara menghela napas berat. Lagi. Dingin menyergap tubuhnya tatkala angin tiba-tiba berhembus lebih kencang dari sebelumnya, seolah mengusir dirinya untuk segera pergi dari sana. Barangkali, angin pun muak melihat penampilan buruknya saat ini. Barangkali, ia memang sudah sehancur itu sampai tidak ada lagi tempat untuknya pergi selain orang-orang yang ia sayangi.


Dengan langkah gontai, Segara beranjak. Ia tinggalkan puntung rokok di sana, bersama keresahan yang ia harap tidak akan menemuinya lagi untuk waktu yang cukup lama. Setelah memastikan pintu penghubung kamar dengan balkon terkunci dengan baik, ia berjalan menuju kamar Mikha.


Namun, langkahnya tidak pernah sampai kepada gadis mungil yang tengah terlelap di atas kasur itu, sebab kakinya mendadak terasa lemah dan ia jatuh tersungkur ke lantai dalam gerak yang dramatis. Lampu kemuning yang menjadi penerang di kamar Mikha membuatnya bisa merasakan lebih banyak kegetiran tatkala matanya menelusuri setiap sisi wajah Mikha yang tampak begitu polos dan murni.


Diam-diam, ia kembali memaki takdir yang sudah membawanya jatuh ke dalam kesengsaraan sialan ini. Lebih dari itu, ia memaki takdir karena sudah membuat gadis kecilnya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu.


Malam ini, ditemani lampu kemuning yang tenang, di bawah naungan atap yang tak lagi terasa hangat, Segara menangis. Ia meratap, menyumpah, dan sesekali berdoa minta dibangunkan karena di beberapa kesempatan, ia merasa ini semua hanyalah mimpi buruk yang berkepanjangan.


...****************...


Semalam, setelah puas menangisi takdir sialan yang merundungnya, ia berjalan gontai menuju meja kerjanya. Hanya untuk menangis lebih banyak ketika foto yang terpajang di sisi meja kerjanya kembali menghadirkan rindu yang akhir-akhir ini ia bungkam agar tidak berhamburan keluar.


Tanpa Segara sadari, Mikha telah berdiri di ambang pintu ruang kerjanya, menyaksikan bagaimana ayahnya tidur dengan posisi tidak nyaman sampai akhirnya lelaki itu terbangun dan termenung cukup lama memandangi pigura foto di hadapan.


Sekali lagi, Mikha masih tertalu kecil untuk memahami situasi semacam apa yang sedang ayahnya hadapi, tapi segala sedih dan resah yang Segara rasa nyatanya sampai juga kepada bocah itu, terbukti ketika Mikha memutuskan untuk diam mengamati bagaimana ayahnya berusaha mengendalikan diri alih-alih merengek seperti yang ia lakukan ketika bangun tidur dan tidak menemukan ayahnya ada di sampingnya.


Mikha hendak kembali ke kamarnya, berniat untuk melanjutkan tidurnya yang terjeda ketika suara serak Segara membuat pergerakannya terhenti. Bocah itu membalikkan badan, tak mampu menahan desakan air mata ketika Segara berjalan ke arahnya dan langsung berjongkok demi menyejajarkan posisi tubuh mereka. Tangan besar lelaki itu menyentuh puncak kepala Mikha, mengusapnya pelan hingga tangis yang sedari tadi Mikha tahan akhirnya pecah juga.


Mikha menghambur ke dalam dekapan Segara, menangis sejadinya di dada bidang sang ayah sambil sesekali membaui aroma tubuh ayahnya yang kali ini terasa berbeda. Ada bau apak sisa asap rokok yang menempel di baju ayahnya, tapi sekali lagi Mikha terlalu kecil untuk bisa mengidentifikasi bau yang asing itu. Yang Mikha tahu, aroma tubuh ayahnya telah berubah.

__ADS_1


"Hei, kenapa?" Segara mendorong tubuh Mikha pelan, hanya untuk membuatnya bisa melihat wajah mungil itu dengan lebih jelas.


Yang ditanya hanya diam, sibuk menyeka air mata yang masih terus mengalir dengan tangan kecilnya.


"Kenapa bangun, hm? Mikha mimpi buruk?" tanyanya, membantu gadis kecilnya menyeka air mata menggunakan tangan besarnya.


Bocah itu mengangguk, mengundang hela napas berat lolos dari belah bibirnya. Rasa tembakau masih terasa tertinggal di ujung lidahnya, membuatnya meringis tatkala menyadari Mikha baru saja mengisap sisa-sisa asap rokok yang menempel di bahunya.


Seketika itu juga, Segara merutuki kebodohannya yang telah gagal mengendalikan diri. Harusnya, tidak ia sesap rokok sialan itu. Supaya Mikha tidak perlu mengisap sisa asapnya dan ia bisa menjaga paru-paru Mikha tetap sehat supaya gadis mungil ini bisa hidup lebih lama.


"Mimpi apa, Sayang?" Segara dengan sabar menunggu sampai isakan Mikha mereda.


Lalu saat isakannya sudah sepenuhnya reda dan napasnya kembali stabil, gadis itu mulai bercerita.


"Mikha mimpi Opa, Oma dan Daddy pergi. Om Ar juga pergi. Mikha mimpi semua orang pergi dan cuma ada Mikha yang ditinggalkan sendirian di rumah ini."


"It's ok, it's just a dream. Daddy nggak akan kemana-mana. Oma, Opa sama Om Ar juga nggak akan kemana-mana. Kita akan di sini sama Mikha, so there's nothing you need to worry about." Segara meraih tubuh kecil Mikha, mendekapnya erat seolah tidak ingin ada satu detik pun yang terlewat. Ia ingin mendekap Mikha sebanyak yang ia bisa, mengucapakan betapa ia menyayangi anak ini sampai mulutnya berbusa. Sebab hanya Mikha yang dia punya sekarang.


"It's ok, Mikha. Daddy di sini, it's ok."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2