
“Pak,”
Baru hendak mendaratkan bokong, Segara terpaksa menegakkan tubuh kembali kala suara menyebalkan Adella menginterupsi. Sambil mendengus kasar, ia menoleh ke arah pintu, di mana Adella berdiri dengan setumpuk berkas di dalam pelukan. Berkas-berkas menakutkan itu membuat Segara merinding. Seperti dia baru saja diingatkan kembali pada kondisi beberapa bulan lalu ketika ia pertama kali bergabung dengan perusahaan dan harus mempelajari banyak sekali berkas dalam satu waktu.
Ouch! Jangan lagi. Segara tidak mau fase itu terulang kembali.
“Apa lagi?” tanyanya malas setelah Adella berdiri persis di depan meja kerjanya. Matanya masih terus mengawasi, tubuhnya sudah memasang kuda-kuda untuk mengantisipasi kalau misalnya berkas-berkas itu memang akan diserahkan kepada dirinya. “Saya baru mau duduk loh, jangan bilang saya harus pergi lagi.” Imbuhnya hanya beberapa detik setelah pertanyaan pertama dilontarkan.
Masalahnya, kenyataan yang harus dia hadapi hari ini benar-benar jauh sekali dadi prediksi. Di awal, dia sudah percaya diri bisa menghabiskan waktu sedikit bersantai karena Adella bilang jadwalnya akan mulai padat setelah jam makan siang. Tapi kenyataannya, dia sudah tiga kali bolak-balik ke lokasi proyek karena adaaaaaa saja masalah yang mengharuskannya untuk terjun langsung. Dia baru kembali, tubuhnya masih penuh keringat dan hawa panas masih menyertai, wajar kalau sekarang dia kesal karena Adella kembali datang menginterupsi.
Adella malah mengambil napas dalam sekali, mengembuskannya dengan begitu dramatis sehingga membuat perasaan Segara semakin tidak enak.
“Bapak kenapa sih kayaknya antipati banget sama saya akhir-akhir ini?” pertanyaan balik dari Adella itu membuat Segara ingin sekali menyemburkan tawa jahat. Setelah semua yang terjadi, setelah begitu banyaknya drama yang harus dia hadapi, masih bisa-bisanya Adella bertanya mengapa ia menjadi antipati terhadap perempuan itu?
“Sorry to say,” Segara mengawali. Setelah sebelumnya menunda, kini dia memilih untuk tetap duduk di kursinya yang empuk. “Kedatangan kamu itu selalu bawa hawa negatif buat saya akhir-akhir ini, so you know the reasons kenapa saya ngeri setiap kali kamu datang, apalagi kalau sambil bawa-bawa berkas kayak gitu.” Ia melanjutkan sambil menunjuk tumpukan berkas yang masih berada di pelukan Adella.
Yang perempuan mendengus pelan, bibirnya komat-kamit tanpa suara. Padahal dia hanya menjalankan tugasnya, tapi bosnya ini membuat dirinya seolah-olah seperti hantu gentayangan yang harus dihindari.
Sekian lama merutuk dan mengutuk, Adella akhirnya menyerah. Dia keluarkan ponsel dari saku rok sepan berwarna biru tua yang dia kenakan lalu menyodorkannya kepada Segara.
Sebelah alis Segara naik begitu tinggi, sebab Adella tidak mengatakan apa-apa setelah menyerahkan ponselnya dan membiarkan benda pipih itu teronggok di atas meja. Helaan napas panjang lolos seiring dengan satu pertanyaan yang ribut sekali di dalam kepala. Perihal, apakah semua wanita di dunia ini memang seperti itu? Berharap kaum laki-laki akan mengerti apa maksud mereka, tanpa mereka mau menjelaskan sejelas-jelasnya? Apa mereka pikir, semua laki-laki di dunia ini memiliki kemampuan untuk membaca pikiran, sama seperti para cenayang yang suka meramalkan masa depan?
“Apa?” tagihnya kemudian. Ia menatap malas pada Adella yang masih tidak bersuara. Agaknya perempuan itu benar-benar berharap dia bisa membaca pikiran.
“Makan siang.” Jawab si sekretaris yang job desk-nya sudah mulai berubah seperti asisten pribadi. “Saya ke sini mau pesan makan siang buat Bapak, tapi Bapak keburu marah-marah, jadinya saya malas. Tuh, Bapak pilih aja sendiri, nanti kalau udah kasih tahu saya biar langsung saya check out.”
Kasar? Tidak sopan? Kalau ini di perusahaan lain dan bosnya bukan Segara, hal pertama yang akan Adella terima pastilah bentakan dan segala bentuk caci-maki. Tapi berhubung si Segara bosnya itu sadar diri bahwa ia tidak bisa mengurus apa-apa tanpa bantuan Adella selaku sekretaris, lelaki itu hanya bisa membuang napas kasar sebelum meraih ponsel dan mulai menggulir layar, memilih menu makan siang yang hendak dia santap.
__ADS_1
Ada banyak sekali pilihan menu makanan yang bisa dia nikmati di siang hari yang teriknya sudah seperti berada di neraka ini. Tapi ujung-ujungnya, Segara tidak bisa memutuskan akan memesan apa dan malah mengembalikan ponsel kepada sang empunya.
“Kalau saya balik ke rumah buat makan siang, boleh nggak sih?” tanyanya. Praktis, ia mendapat sebuah pelototan sebagai hadiah spesial. “Nggak boleh ya?” ia menjawab pertanyaannya sendiri sambil tersenyum kikuk.
“Nggak usah aneh-aneh kalau Bapak masih mau saya bantuin kerja.” Adella mengancam.
Segera mengerucutkan bibir, “Kan cuma nanya.” Kilahnya.
Adella memutar bola mata malas. Dia tidak punya cukup waktu untuk meladeni drama ini. Pekerjaannya masih banyak, dan dia bahkan belum kepikiran untuk memesan makan siangnya sendiri.
“Saya pesenin yang biasa aja, ya.” Ucap Adella kemudian. Bukan pertanyaan, itu lebih kepada keputusan sepihak yang tidak boleh diganggu gugat. Karena bahkan sebelum Segara setuju, Adella sudah putar balik sambil memasukkan pesanan makanan ke dalam keranjang belanja dan langsung melakukan pembayaran.
Di kursinya, Segara tidak bisa berbuat apa-apa. Pasrah saja dia menerima keputusan Adella, yang itu artinya dia harus memakan menu yang sama selama empat hari berturut-turut. Hah... memang nasibnya begitu. Statusnya saja sebagai bos, tapi segala sesuatu yang dia lakukan haruslah dengan persetujuan Adella. Ia mungkin harus mulai mempertimbangkan untuk mengubah struktur organisasi perusahaan dan meletakkan Adella di posisi paling tinggi.
“Tapi kalau nggak ada dia, gue juga makin pusing.” Dan itu adalah benar. Kalau tidak ada Adella, dia mungkin sudah menyerah di tengah jalan.
Sementara itu di waktu yang sama, di tempat yang berbeda...
Rerumputan hijau di halaman belakang menjadi saksi betapa cerahnya senyum Mikha siang itu. Bersama dengan Arkana yang baru siuman dari efek alkohol yang menguasainya sejak pagi, bocah menggemaskan itu berlarian ke sana kemari. Berteriak, tertawa, lantas berguling-guling di atas rerumputan tanpa peduli jika baju yang dia kenakan akan menjadi basah dan kotor.
Di ambang pintu, Lana mengulum senyum. Pemandangan yang tersuguh di depannya telah berhasil merebut banyak sekali tempat di hati, memeluk kesepian yang selama ini dia dekap erat untuk dirinya sendiri. Interaksi antara Mikha dengan Arkana memang tidak pernah gagal membuatnya tersentuh. Lalu di tengah perasaan hangat yang menjalar jauh ke dalam relung hati, Lana mulai bertanya-tanya. Akan sampai kapan interaksi seperti itu bisa terjadi? Sampai Mikha mulai bersekolah kah? Atau sampai nanti ketika Arkana memutuskan untuk menikah dan memiliki keluarganya sendiri?
“Mommy!” seruan Mikha membawa tatapan Lana kembali fokus pada anak itu. Dengan baju yang sudah lecek dan terdapat noda di sana sini, bocah itu berlari ke arahnya, merentangkan tangan lebar-lebar sementara di belakangnya, Arkana turut berlari dengan senyum yang terkembang sempurna. “Help me!”
HAP!
Lana mendapatkan tubuh Mikha, mendekapnya erat sementara si bocah kecil itu menggeliat lucu di dalam gendongannya.
__ADS_1
“Help! Om Ar berubah jadi zombie!” adunya seraya menyembunyikan wajah di dada Lana, sedangkan telunjuk kecilnya terarah pada Arkana yang mulai berjalan terseok-seok, mempraktikkan bagaimana menjadi zombie yang ada di dalam film.
“Rawr—otak ... Mau otak....” Arkana mengulurkan kedua tangannya, menggerayang tubuh Mikha dan membuat anak itu semakin kelojotan.
“Mommy!” Mikha bergerak semakin ribut.
Lana tidak punya pilihan selain turut andil dalam drama perzombie-an itu. Dengan sekuat tenaga, dia menahan lengan Arkana agar tidak semakin gencar menjamah Mikha. Kemudian, sebelum si ‘zombie’ semakin menjadi-jadi, Lana buru-buru melarikan diri.
Bersama Mikha yang tergelak puas di dalam gendongannya, Lana berlari sekuat tenaga. Begitu mendalami peran seakan jika langkahnya terhenti sedetik saja, mereka berdua akan menjadi santapan zombie lapar yang mengejar di belakang.
Tawa renyah menggema, merambat ke mana-mana ketika Lana berhasil membawa Mikha ke tempat aman—ruang tengah. Di sana, ada Mama dan Papa yang sedang menikmati kudapan dengan secangkir teh hangat ditemani siaran berita. Dua orang tua itu menghentikan kegiatan mereka, menatap heran pada sosok Lana dan Mikha secara bergantian sebelum akhirnya turut tergelak kala menemukan Arkana menyusul di belakang masih sambil berakting menjadi zombie.
“Udah! Udah! Stop, Om Ar!” pekik Mikha heboh kala Arkana masih saja menyerang dirinya. Pemuda itu tak segan-segan menggigiti kaki kecilnya. Dan meski itu hanya bercanda, tapi Mikha tahu perbuatan omnya itu tetap akan meninggalkan bekas gigitan yang iyuhh sekali.
Puas meninggalkan tanda, Arkana menarik diri. Ia tersenyum puas melihat ekspresi kesal di wajah Mikha. “Om Ar menang!” serunya kemudian, semakin membuat Mikha merengut.
“Curang! Om Ar harusnya nggak bisa gigit Mikha lagi! Kan udah masuk ke dalam rumah!” si bocah memprotes. Ini tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Di mana mereka—ia dan Arkana—sudah setuju bahwa Arkana hanya bisa menyerang ketika berada di zonanya, yaitu saat masih berada di halaman belakang. Mikha merasa ditipu, dia kesal sekali.
“Bodo amat, yang penting Om Ar menang.” Lidah panjang Arkana terjulur, sepenuh hati meledek Mikha yang wajahnya sudah semerah tomat matang saking menahan kesalnya.
“Om Ar jelek!” menjadi senjata terakhir yang selalu Mikha gunakan agar Arkana berhenti menggoda. Sudahnya, dia kembali menenggelamkan wajah di dada ibunya. “Om Ar jelek, Mommy.” Sambungnya, nyaris setengah berbisik.
Orang-orang dewasa yang ada di sana serempak tergelak melihat tingkah Mikha. Yang paling kencang tertawa tentu saja Arkana, si biang kerok yang membuat bocah menggemaskan kesayangan mereka itu merajuk sejadi-jadinya.
Dalam gelak tawa itu, Lana kembali menjeda. Hanya untuk bertanya sekali lagi, sampai kapan interaksi semacam ini bisa dia lihat dan rasakan selama sisa hidupnya?
Bersambung
__ADS_1