Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
TUJUH PULUH


__ADS_3

Terasa sedikit sesak, namun hangat dan nyaman. Kurang lebih, begitulah yang bisa Lana deskripsikan tentang bagaimana yang ia rasakan saat ini, ketika ia pertama kali membuka mata di dalam dekapan sang suami, Segara Adhitama. Keposesifan yang Segara tunjukkan melalui eratnya dekapan lengan di pinggang Lana seperti hendak menegaskan kepada istrinya, bahwa mulai sekarang, Lana adalah milik Segara, begitu pula sebaliknya. Segara seakan ingin membuktikan kepada Lana bahwa dia bisa menjadi suami yang baik, suami yang senantiasa membuat istrinya merasa nyaman dan aman.


Lana tahu, perjalanan mereka masih panjang. Apa yang Segara lakukan kepadanya masih belum bisa membuat Lana dengan sombong mengatakan bahwa lelaki itu telah mencintainya sepenuhnya. Tapi, tidak apa-apa. Sama seperti Segara yang dengan kerelaan hati bersedia membuka hatinya untuk menerima kehadirannya, Lana pun akan demikian. Tidak masalah bagi Lana untuk menunggu sampai pintu hati Segara terbuka penuh, agar ia bisa masuk dan menetap di sana untuk waktu yang cukup lama.


Matahari di luar sana masih bersinar malu-malu. Cahayanya yang tidak seberapa belum mampu menembus tirai putih tulang yang membalut pintu akses menuju balkon. Atau barangkali, ia memang tidak mau. Barangkali ia memang menahan diri untuk tidak bersinar terlalu terik, agar tidur sepasang suami istri itu tetap lelap sampai nanti memang waktunya mereka harus bangkit untuk menjalani hari dengan semangat yang baru.


Lana mengulurkan tangan perlahan, menyentuh kelopak mata Segara yang terpejam. Dari sana, jemari Lana terus bergerak turun, membelai hidung, pipi, hingga berakhir pada belah bibir yang sialnya—sudah bisa membuat Lana menjadi candu.


Jauh sebelum ini, tidak sekalipun di dalam kepalanya Lana pernah terbayangkan bahwa ia akan berakhir menerima perlakuan sebaik ini dari laki-laki yang awalnya hanya ingin menjadikan ia sebagai ibu sambung untuk putrinya. Tidak. Lebih dari itu, Lana tidak pernah berpikir akan menikah hanya untuk menjadi ibu sambung bagi seorang anak.


“Morning, Mommy.” Lana tersentak kala belah bibir yang sedang ia jamahi itu tahu-tahu bergerak, terbuka perlahan mengeluarkan kalimat yang masih terasa asing. ‘Mommy’. Panggilan itu sudah biasa Lana dengar dari bibir Mikha yang cerewet, tapi dari bibir ayahnya yang irit sekali bicara, panggilan itu terdengar lain.


Lana hendak menjauhkan jemari lentiknya, ketika tiba-tiba saja, belah bibir tebal itu menggigitnya pelan, membuat sang empunya terkejut namun tidak punya cukup kekuatan untuk berteriak.


“Kamu habis ngupil, ya, Mom? Jari kamu asin.” Celetukan itu datang bersamaan dengan terbukanya mata Segara, disusul kekehan ringan yang membuat pipi Lana langsung terasa memanas.


Malu. Jelas, lah. Siapa yang tidak akan malu jika ditanya seperti itu? Dan meskipun ia tidak habis mengupil seperti apa yang dituduhkan, Lana tetap tidak bisa memberikan pembelaan. Terlalu beku. Terlalu tidak punya stok kata-kata untuk dilontarkan ketika fokusnya justru terpaku pada netra teduh Segara yang menatapnya lekat-lekat.


“Bercanda.” Ucapnya, lalu ia kembali menggigit ujung jari telunjuk Lana dan mendaratkan kecupan di sana setelahnya. Barulah kemudian, jemari Lana dilepaskan. “Pipi kamu merah, Mom. Lucu.” Sambungnya tiba-tiba.


Refleks, Lana bergerak mendekat, hanya agar ia bisa membenamkan wajah semerah tomat miliknya di dada bidang Segara yang hangat. “Stop it.” Lana bergumam, terdengar samar sebab ia terlalu erat menyembunyikan wajah di dada suaminya.


Reaksi alami yang akan selalu Segara berikan kepada Lana setiap kali ia berhasil menggoda adalah tawa renyah yang kedengaran tanpa beban. Meski begitu, Lana masih tidak terbiasa. Meski Lana tahu tawa itu adalah bentuk penghiburan dari Segara untuk dirinya sendiri. Meski Lana tahu tawa itu tidak bermaksud untuk menyudutkannya, apalagi sampai membuatnya mereka buruk, Lana tetap belum bisa terbiasa.


Degup-degup manja makin jelas terasa. Apalagi ketika Lana merasakan lengan kekar Segara yang semula anteng saja di pinggang mulai bergerak naik, merambati punggung Lana dan berakhir memberikan usapan-usapan menenangkan yang seperti hendak mewakili seribu satu perkataan menenangkan yang Segara memang tidak ahli dalam merangkainya.


“Mom,” bisikan itu terdengar jelas, sebab dikatakan persis sekali di telinga Lana. Membuatnya bukan hanya merinding karena deru napas hangat Segara menampar permukaan kulit telinga yang sensitif, tetapi sekaligus membuat Lana refleks menjauhkan diri.


Dan saat itulah, Lana kembali menemukan tatapan yang masih terasa asing. Ia masih menolak percaya bahwa tatapan itu ditujukan untuknya. Menolak menjadi terlalu percaya diri karena takut hanya akan berakhir menyakiti perasaannya sendiri dengan harapan-harapan yang ia pupuk terlalu tinggi.

__ADS_1


“Apa?” sekian lama bungkam, Lana akhirnya bisa kembali bersuara. Tentunya dengan usaha yang lumayan. Sebab detak jantung dan aliran napasnya terasa susah sekali untuk diatur kembali menjadi normal.


“Boleh aku minta morning kiss-ku dulu?” tanya Segara. Momen itu, alih-alih menyasar bibir Lana, tatapan teduh itu masih menetap tepat di manik istrinya. Seperti sengaja. Seperti dia memang sudah berencana untuk membawa Lana masuk sedalam-dalamnya, berkelana di sana sampai puas, sampai perempuan itu lupa jalan pulang. “Boleh?” tanyanya sekali lagi.


Lana tidak menjawab. Lebih tepatnya, enggan untuk berkata ‘boleh’ atau ‘tidak’ karena keduanya akan membuat ia merasa tidak enak. Maka sebagai gantinya, Lana menurunkan pandangan, menguliti bibir tebalnya yang sehat. Lalu dengan menepikan rasa malu, ia bergerak maju, mengecup bibir itu sekali dan langsung menjauhkan diri secepat mungkin. Sebelum keterusan, sebelum ia tidak tahu caranya berhenti mereguk rasa manis dari sana.


“Wake up, kamu harus siap-siap berangkat kerja.” Kala mengatakan itu, tatapan Lana sudah berlarian ke mana-mana. Urat malunya masih tersisa banyak, tidak semudah itu untuk dihilangkan sepenuhnya meski sepertinya akan lebih baik jika ia bisa.


Serabutan, lebih mirip seperti seorang tawanan yang hendak kabur dari tahanan, Lana menarik diri dari pelukan Segara. Tapi sebelum ia benar-benar berhasil melarikan diri, Segara lagi-lagi membuat detak jantungnya nyaris berhenti.


Tubuh Lana diambil alih, punggungnya kembali bertemu dengan permukaan kasur yang lembut sementara di atasnya, Segara menatap dalam, seperti sedang menyusun siasat untuk ‘menyerang’ tanpa henti.


“Ga,” di tengah kegugupan, Lana berusaha untuk tetap tenang. Satu tangannya terulur, bermaksud menahan dada Segara ketika ia merasakan tubuh suaminya semakin bergerak mendekat. Namun sia-sia saja usaha tidak seberapa itu ketika Segara malah meraih tangan itu, menguncinya dalam genggaman yang membuat Lana seketika lupa akan banyak hal.


“I need my morning kiss, Mommy. The real one, not just a peck.” Ia berkata begitu tepat di depan wajah Lana. Dan, sebelum Lana bicara apa-apa, ia semakin memajukan wajahnya. Terus maju sampai hidung mereka saling bertemu.


“Kamu punya waktu tiga detik buat kabur, Mom. Lewat dari itu, aku nggak akan biarin kamu ke mana-mana.”


Pergerakan bibirnya yang konsisten membuat Lana terhanyut. Kelopak matanya terpejam perlahan, lalu bibirnya mulai bergerak mengimbangi gerakan Segara yang lembut tak menuntut. Di sela-sela pagutan yang terjadi, Segara membiarkan Lana mengambil napas, memastikan paru-paru istrinya tetap mendapatkan pasokan oksigen yang cukup agar ia bisa membawa Lana lebih jauh ke ‘nirwana’.


Pada 30 detik pertama, Lana masih sempat menghitung berapa banyak waktu yang terlewati selama pagutan mereka berlangsung. Tapi setelahnya, ia sepenuhnya kehilangan hitungan. Tidak peduli lagi seberapa banyak waktu yang terbuang. Lana hanya terus bergerak mengimbangi, sesekali mencoba memimpin meski ujung-ujungnya tetap kalah karena Segara terlalu dominan.


“Thank you for the morning kiss, Mommy.” Ucapan terima kasih itu Lana terima setelah pagutan mereka selesai. Dan satu kecupan singkat ia terima setelahnya, sebagai sentuhan terakhir sebelum tangannya dilepaskan dan Segara sepenuhnya menjauhkan diri, berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Lana tidak pernah tahu, kalau apa yang mereka perbuat pagi itu telah menjadi tontonan menarik bagi Arkana yang baru saja pulang dalam keadaan setengah mabuk. Pemuda itu berdiri di ambang pintu yang ternyata terbuka sedikit, senyum-senyum sendiri seperti baru saja mendapatkan kabar paling baik di tengah usahanya untuk bertahan menjalani hidupnya yang sudah porak-poranda.


...****************...


Rutinitas Segara berubah drastis setelah ia memulai malam pertamanya bersama Lana. Yang tadinya ia hanya memberikan morning kiss untuk Mikha, dan itu pun hanya terlabuh di pipi gembilnya yang menggemaskan, kini Segara juga harus memberikannya kepada Lana. Ia hanya merasa... itu adalah haknya. Setelah penantian yang panjang dan kesabarannya dalam mengurus Mikha serta menunggunya membuka hati, Segara pikir sebuah morning kiss adalah harga yang tidak seberapa untuk ia bayar. Ke depannya, ia mungkin harus memberikan lebih banyak hal. Bukan hanya memastikan Lana merasa aman terlindungi, tetapi juga untuk membuatnya merasa dicintai.

__ADS_1


“Thank you for the morning kiss, Mommy.” Ucap Segara. Satu lagi kecupan singkat ia daratkan di bibir Lana sebagai sentuhan terakhir sebelum menjauhkan diri dan masuk ke dalam kamar mandi.


Jika diberi pilihan untuk bergegas atau tetap melanjutkan kegiatan mengasyikkan bersama Lana, maka ia akan memilih opsi yang kedua. Segara bisa saja mengajukan izin datang terlambat kepada Adella karena sebelumnya pun ia sudah memastikan jadwalnya mulai padat setelah jam makan siang. Jadi seharusnya tidak masalah jika ia datang satu atau dua jam lebih siang daripada jam masuk kantor.


Akan tetapi, keberadaan Arkana yang mengintip dari balik pintu kamar jelas membuatnya urung. Kalau bukan karena akan terlalu aneh jika ia langsung menghentikan kegiatan mereka begitu saja, Segara mungkin akan langsung menarik diri agar tidak lebih banyak yang bisa Arkana lihat. Segara pribadi tidak masalah, tapi itu akan menjadi hal lain jika Lana tahu ada sepasang mata yang menyaksikan pertemuan bibir mereka yang begitu intens. Yang Segara tahu, Lana itu pemalu. Jadi hal-hal seperti itu pasti akan membuatnya tidak nyaman.


Hanya berselang 15 menit setelah Segara masuk ke kamar mandi, ia keluar dengan keadaan rambut yang basah dan hanya mengenakan handuk untuk membalut tubuh bagian bawah. Lana sudah tidak ada di ranjang. Berdasarkan suara sayup-sayup yang terdengar dari sebelah, ia menduga istrinya itu sedang berada di dalam kamar putri mereka, membangunkan malaikat kecil mereka yang cerewet itu untuk ikut memulai hari.


Satu hal lainnya yang berubah dan mulai bisa Segara terima dengan senang hati adalah Lana yang selalu menyiapkan pakaian untuknya pergi ke kantor, memastikan setiap serat kain yang ada di pakaiannya telah rapi dan wangi untuk menambah kepercayaan diri sebagai seorang pemimpin. Meski hanya sementara, dan Segara akan segera menarik diri setelah yakin kondisi Papa sudah membaik sepenuhnya, Lana bilang ia tetap harus memberikan kesan yang baik untuk semua karyawan di bawah kepemimpinannya.


“Daddy!” sapaan riang itu Segara terima dengan senang hati. Bocah mungil menggemaskan yang sudah mulai pintar membalikkan kata-kata itu berlarian ke arahnya sambil menggendong Hechi, sedangkan ibunya menyusul di belakang dengan rona kemerahan yang masih awet saja menghiasi pipi.


“Daddy ganti baju dulu, kamu tunggu dulu sana di kasur.” Segara menunjuk ke arah ranjang dan Mikha dengan cepat menurut. Dari dulu, dia memang anak yang manis dan jarang sekali membantah perintah ayahnya. Tapi Segara merasa, sejak ada Lana, sikap Mikha jadi semakin manis dan ia jadi lebih mudah untuk dibujuk. Kecuali soal adik. Untuk yang satu itu, Segara menyerah untuk memberinya pengertian.


“Ga, aku turun duluan buat bikin sarapan.” Pamit Lana dan Segara menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Tubuh ramping itu menghilang dalam sekejap, menyisakan aroma vanila yang kemudian tertinggal di pangkal hidung Segara. Setelah aroma mawar, itu akan menjadi aroma favoritnya yang selanjutnya.


“Daddy,”


Di sela kegiatan mengancingkan baju, Segara berdeham untuk menyahuti panggilan itu.


“Mikha harus nunggu berapa lama sampai adik bayinya ada?”


Satu lagi kancing yang harus dipasang, namun Segara memilih untuk berhenti. Lalu ia membalikkan badan, menatap Mikha yang duduk di tepian ranjang dengan kedua kakinya yang menggantung dan diayunkan ke depan ke belakang.


“Bosan, Daddy. Mikha mau ada teman main.”


Kapan? Segara sendiri tidak tahu. Meski usaha siang malam tanpa henti sekalipun, jika Tuhan belum memberikan kesempatan, bukankah ia juga tidak bisa berbuat apa-apa? Lantas, Segara harus menjawab apa? Tidak ada yang bisa ia janjikan kepada anak ini ketika ia sendiri pun tidak bisa memastikan apa-apa.

__ADS_1


“Sabar.” Akhirnya, hanya itu yang bisa Segara berikan sebagai jawaban. “Banyak-banyak berdoa, biar Tuhan bantu Mikha punya adik lebih cepat.” Dan ia harap, Mikha akan mengerti.


Bersambung


__ADS_2