Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
DUA PULUH


__ADS_3

Di tengah guyuran hujan deras, Segara mengemudi bagai orang gila. Tangannya tak berhenti memencet klakson, meneriaki pengendara lain di depannya yang bergerak terlalu lambat agar segera menginjak pedal gas mereka lebih dalam. Lampu lalu lintas berkali-kali dia langgar, hanya untuk membuatnya dihadiahi rentetan klakson yang datang beruntun bagai upaya balas dendam.


Sebelumnya, Segara telah meminta tolong kepada Arkana untuk menjemput Mikha setelah dia sadar bahwa pekerjaannya masih terlalu banyak untuk ditinggalkan begitu saja. Akan tetapi, 15 menit yang lalu, Arkana malah menelepon. Pemuda itu mengabarkan telah terjadi insiden kecil di daycare tempat Mikha dititipkan sehingga mereka tidak bisa segera pulang.


Segara tidak mendengarkan lebih lanjut penjelasan Arkana soal insiden apa yang dimaksud karena dia sudah kadung panik. Dia pikir, sesuatu yang buruk telah terjadi kepada Mikha dan dia tidak bisa menunda lebih lama untuk datang menemui putrinya. Dia bahkan tidak ingat lagi apakah ruang kerjanya telah ia kunci dengan baik atau belum.


Selama berkendara, Segara tidak henti-hentinya merutuk. Menyesali keputusannya untuk menitipkan Mikha ke daycare hanya karena merasa tidak memiliki pilihan lain. Dia tidak akan menyalahkan Arkana atas usulan tersebut, karena terkadang hal-hal yang sudah dirancang dengan baik pun masih tidak berjalan dengan sempurna. Sepenuhnya, dia sadar bahwa tujuan Arkana adalah baik dan dia tidak akan mengutuknya.


Usai berkendara hingga membahayakan nyawanya sendiri dan nyawa pengendara lain di sekitarnya, mobil Segara akhirnya tiba di depan daycare Mikha. Dua penjaga yang seharusnya standby di sana tidak terlihat, membuat pikirannya semakin melayang ke mana-mana.


Mobil dia parkirkan asal, lalu dia keluar menerobos hujan lantas berteriak kesetanan ketika tiba di depan pintu gerbang yang dikunci dari dalam. Kedua tangannya mencengkeram erat teralis pagar, mengguncangnya dengan kuat seakan dia bisa merobohkan pagar kokoh itu sendirian.


“Arkana! Mikha!” teriaknya lagi.


Tak lama kemudian, seorang penjaga berlari tergopoh-gopoh dari arah dalam banguan daycare. Payung besar berwarna biru tua yang dia bawa bahkan sampai meleyot saking kencangnya dia berlari, membuat benda itu menabrak angin lebih keras. “Ada apa ya, Pak?” tanya penjaga laki-laki itu setelah sampai di depannya. Pagar masih belum dibukakan, dan tatapan lelaki itu jelas menyelidik.


“Saya mau jemput anak dan adik ipar saya.” Ucap Segara. “Mereka masih ada di dalam? Apa yang terjadi sebenarnya?” sambungnya masih kepalang panik.


Kepanikan Segara merembet kepada sang penjaga, tetapi lelaki itu tampak berusaha keras mengendalikan diri. “Tenang dulu, Pak. Saya perlu tahu dulu, Bapak ini mencari siapa? Nama anak dan adik ipar bapak siapa?” tanya si penjaga berusaha menenangkan.


“Mi—“ belum selesai Segara berucap, ia kembali mereog. Alasannya hanya satu, yaitu karena dia menemukan sosok Arkana muncul dari dalam daycare bersama Mikha di dalam gendongannya. Dan ... seorang perempuan yang Segara tidak tahu siapa. “Saya cari mereka!” seru Segara seraya menunjuk ke arah Arkana.

__ADS_1


Si penjaga mengikuti arah jari telunjuknya, kemudian kembali menatapnya lantas menganggukkan kepala. “Baik, Pak.” Ucapnya. Kemudian, gerbang dibukakan sehingga Segara bisa berlarian menghampiri putri kecilnya.


“Mikha!” panggilnya.


Sampai di hadapan putrinya, Segara sibuk menelisik setiap bagian di tubuh bocah itu, mencari di mana yang terluka. “Mikha, you okay? Apa yang terjadi?” tanyanya.


“Mikha oke, kok.” Suara itu adalah milik Arkana. Dengan raut yang begitu tenang, pemuda itu menyerahkan Mikha ke gendongan sang ayah. “Tadi ada sedikit problem, tapi sekarang semuanya udah oke.” Sambungnya.


Penjelasan Arkana tersebut rupanya masih belum bisa membuat Segara merasa lega. Alih-alih menyudahi obrolan dan segera membawa Mikha masuk ke dalam mobil sebelum gadis itu semakin kedinginan, dia malah melemparkan tatapan ke arah perempuan yang berdiri di samping Arkana. Perempuan itu sedikit menduduk, tapi Segara masih bisa melihat bibir-bibirnya yang pucat.


“Problem apa?” tanya Segara masih dengan tatapan yang tertuju pada perempuan itu.


Bukan Arkana, jawaban yang Segara dengar selanjutnya justru datang dari perempuan yang sedari tadi dia tatap tanpa jeda. Ketika perempuan itu sepenuhnya mengangkat kepala dan tatapan mereka bertemu, Segara berani sumpah itu adalah kali pertama dia menemukan sepasang mata yang begitu cantik, setelah sekian lama.


“Mikha dan omnya terlambat pulang karena harus membantu saya terlebih dahulu, Pak. Sekali lagi, saya meminta maaf.” Kepala itu kembali mendunduk sedikit, sebagai permohonan maaf paling tulus, yang Segara sendiri bahkan tidak tahu telah terjadi apa sehingga perempuan itu perlu meminta maaf seperti ini kepadanya.


“Tadi Miss-nya Mikha jatuh, jadi gue sama Mikha bantuin dulu.” Segara mengalihkan pandangannya kembali ke arah Arkana. Samar, dia melihat pemuda itu mengangguk, dan dia menangkapnya sebagai sebuah isyarat untuk tidak memperpanjang masalah.


Warna langit sudah sepenuhnya gelap, air hujan yang turun semakin banyak dan gelegar petir kian memekakkan telinga. Jadi sebaiknya, mereka segera pulang.


Maka dengan sebuah hela napas begitu panjang sebagai sebuah awalan, Segara akhirnya mengiyakan. Toh, dia sudah memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa putri kecilnya tidak terluka. Baginya, itu sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


“Oke. Kita pulang sekarang.” Ajaknya. Dia sudah akan berjalan lebih dulu, ketika Arkana menahan lengannya sehingga membuatnya kembali berbalik dengan dahi yang berkerut. “Kenapa lagi?” tanyanya heran.


“Gue buru-buru, ada urusan.” Ucap Arkana. Tentu, jawaban itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Segara, dan malah menimbulkan satu pertanyaan baru. Apa hubungannya Arkana yang terburu-buru harus pergi melakukan sesuatu, dengan mereka yang harus segera pulang? Bukankah mereka toh datang dengan mobil yang berbeda? Tidak masalah bahkan jika mereka langsung berpisah begitu melesat pergi dari area bangunan daycare.


“Miss-nya Mikha, Ga. Tolong anterin pulang.” Celetuk Arkana, menangkap cepat kebingungan di wajah kakak iparnya.


Perempuan yang sedari tadi menunduk dan lebih banyak diam itu seketika mengangkat kepala, lalu menggeleng begitu cepat. “Nggak perlu, Pak. Saya sudah oke, bisa pulang sendiri.” Ucapnya kepada Arkana, sedangkan Segara hanya dibiarkan menjadi penonton—masih kebingungan.


“Sama Mikha dan ayahnya aja, Miss. Muka Miss masih kelihatan pucat, saya takut Miss kenapa-kenapa di jalan.” Kekeuh Arkana. Di mata Segara, adik iparnya itu memang cukup keras kepala. Tapi untuk melihat anak itu peduli terhadap orang lain—notabene orang asing—ini adalah yang pertama.


Si perempuan yang entah siapa namanya itu tampak melirik takut ke arahnya, membuat Segara kembali meloloskan hela napas panjang karena sejujurnya, dia tidak punya waktu untuk mengikuti jalannya drama ini lebih lama. Pekerjaan yang dia tinggalkan di kantor harus selesai sebelum besok, jadi ada baiknya jika mereka segera bergegas agar dia bisa melipir ke kantor demi mengambil berkas-berkas yang diperlukan. Membiarkan perempuan ini bersikeras untuk tidak mau diantar hanya akan membuat waktunya terbuang sia-sia, dan Segara tidak suka itu.


Maka setelah berusaha menahan diri untuk tidak mengedepankan emosi, Segara dengan sopan menawarkan—atau lebih tepatnya, memaksa dengan halus. “Mari, saya antar.” Ia berkata dengan suara pelan, namun penuh dengan penekanan yang bagi siapapun pendengarnya, jelas tahu bahwa ucapan itu sama sekali tidak bisa dibantah.


Tidak menunggu sampai perempuan itu menyahut, Segara pergi lebih dulu. Dengan Mikha yang berdiam di gendongannya, dia berlarian menerobos hujan. Tak dihiraukannya niat baik penjaga tadi yang berusaha memayungi dirinya dan Mikha. Yang ada, dia malah menggunakan satu tangannya untuk melindungi kepala Mikha agar setidaknya bagian kepala anak itu tidak terkena air hujan.


Sementara Segara sudah mulai memasukkan Mikha ke dalam mobil dengan gerakan yang serabutan, Lana masih berdiri di tempatnya dengan pikiran yang belum sepenuhnya pulih. Ketakutan masih membayang jelas di pelupuk matanya, tubuhnya pun masih sedikit gemetar dan dia tidak yakin bisa berjalan menghampiri Mikha dan ayahnya.


“Miss?”


Lana menarik napas dalam-dalam sebagai upaya untuk menenangkan diri dengan lebih baik. Dengan senyum tipis yang dipaksakan, dia menoleh ke arah Arkana, lalu mengangguk pelan. “Terima kasih,” ucapnya, lalu dia menyeret langkahnya yang terasa berat menghampiri mobil yang mesinnya sudah terdengar menderu cukup nyaring.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2