Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
ENAM PULUH DELAPAN


__ADS_3

“Tumben kamu udah pulang jam segini?” Lana terheran-heran melihat Segara sudah berada di rumah ketika matahari belum sepenuhnya rebah. Biasanya, suaminya itu akan pulang ketika jam makan malam sudah habis. Atau terkadang, malah hampir tengah malam tergantung seberapa banyak pekerjaan yang harus diurus hari itu.


“Iya, kan mau bikin adik buat Mikha.” Yang ditanya nyeletuk tanpa dosa, membuat Lana hampir saja tersedak salivanya sendiri saking terkejutnya. Ini... Tidak seperti Segara yang dia kenal. Atau jangan-jangan, yang sedang berdiri di hadapannya ini memang bukan Segara yang asli? Mungkinkah makhluk halus yang menyerupai suaminya, atau justru makhluk kloning yang diciptakan khusus untuk mengambil alih kehidupan yang asli? Nope. Lana terlalu banyak menonton serial misteri!


“Bercanda.” Ucap Segara lagi tatkala menemukan Lana tidak berkedip sama sekali. Ternyata, menjahili Lana rasanya asyik juga. Dia akan mencobanya lagi lain kali. “Anak kita di mana?” tanyanya.


Sesungguhnya, jika didengarkan sekilas, tidak ada yang aneh dari pertanyaan itu dan Lana bisa saja langsung menjawab kalau Mikha saat ini sedang berada di dalam kamarnya, bermain dengan Hechi. Tapi Lana malah kembali salah fokus pada kata ‘anak kita’ yang berakhir membuatnya bungkam. Lagi.


Segara sadar istrinya tak kunjung bicara, lalu sibuk sendiri menerka di mana lagi letak salah dari ucapannya. Tidak ketemu. Menurutnya, tidak ada yang salah. “Kamu kenapa, sih?” tanyanya kemudian. Lebih baik mengonfirmasi secara langsung kepada yang bersangkutan daripada harus sibuk menerka-nerka sendiri.


“Mikha ada di kamarnya,” akhirnya, jawaban itu keluar juga. Demi menjaga dirinya sendiri, Lana berbalik cepat, meninggalkan Segara yang sedang berusaha melepaskan dasi yang masih menggantung di lehernya.


“Sendirian? Ar belum balik?” Segara bertanya seraya membuntuti Lana. Dasi yang sudah berhasil dia lepas lalu digulung-gulung, kemudian dimasukkan ke dalam saku di bagian samping tas kerja.


“Ar pulang malam. Tadi dia ngabarin, katanya ada kerjaan dadakan.” Lana menjelaskan. Segara manggut-manggut saja sambil masih terus mengekor di belakang Lana sampai mereka tiba di lantai dua.


“Tadi Bi Surti izin pulang cepat karena si Rudi demam, jadi belum sempat bikin makan malam.” Lana memberi informasi. Di depan pintu kamar, langkahnya terhenti dan dia berbalik menatap Segara yang berdiri menjulang di hadapannya. “Kamu mau maka apa? Biar aku yang masakin.”


“Makan di luar aja, yuk?” usul Segara.


Lana tidak keberatan, jadi dia langsung menganggukkan kepala. Setelah itu, mereka berjalan lagi, beriringan masuk ke dalam kamar. Lana berhenti di kamar mereka, menyiapkan segala keperluan untuk Segara mandi sementara sang suami melipir ke kamar Mikha untuk mengecek kondisi sang putri tercinta.


“Baby,” Segara menubruk tubuh kecil Mikha dari belakang ketika bocah itu sedang duduk sendirian di atas lantai, asyik mendandani Hechi dengan setelan football yang dibelikan Arkana tempo hari.


“Daddy!” Mikha berseru senang dan balik memeluk sang ayah. Untuk kesekian kalinya, Hechi yang menjadi korban. Boneka beruang tak berdosa itu terlempar jauh ke belakang, mendarat di lantai yang keras dengan kondisi pakaian yang belum sempurna dikenakan. Satu lengan bajunya masih belum masuk, membuatnya tidak jadi tampil keren dan malah terlihat seperti bocah gelandangan.


“Adik!” tagih Mikha setelah melepaskan diri dari pelukan Segara.


Ditodong begitu, Segara nyengir. “Iya, iya, nanti bikin adik.” Ucapnya. Energinya sudah tidak tersisa kalau harus mendebat Mikha. Janji adalah hutang yang harus tetap dia bayar entah bagaimanapun caranya. Tapi lebih dari itu, ia juga mulai berpikir sepertinya akan seru kalau ada Segara junior di rumah ini. Siapa tahu, kan, dia bisa membuat Lana mengandung anak laki-laki yang mirip dengan dirinya? Supaya dia memiliki teman dan tidak terus merasa sendirian di antara para wanita beda usia yang cerewetnya nyaris serupa.


Kebersamaan antara ayah dan anak itu kemudian berlanjut. Gelak tawa terdengar memenuhi seisi kamar, menyingkirkan sepi yang semula masih sesekali tandang meski sudah tidak seterang-terangan dulu. Senyum Segara terkembang lagi setelah sekian lama, tawanya meledak tanpa bisa ditahan dan hatinya perlahan-lahan terasa lebih hangat dan ringan.


Menjadi saksi untuk pemandangan hangat itu, Lana pun turut merasa senang. Di ambang pintu kamar Mikha, ia tak melepaskan pandangan, sambil terus berdoa di dalam hati semoga kebahagiaan senantiasa melingkupi keluarga kecil mereka sampai nanti. Semoga, tidak akan ada lagi sakit dan patah hati yang mendera. Sekalipun ada, semoga mereka bisa saling menjadi obat untuk satu sama lain.


...****************...

__ADS_1


Hampir lewat tengah malam, Lana masih terjaga karena Arkana belum kunjung pulang. Pemuda itu tidak membawa kunci cadangan karena pergi secara terburu-buru sehingga Lana harus berjaga agar Arkana tidak perlu menunggu terlalu lama untuk dibukakan pintu. Segara tidak tahu, jadi lelaki itu santai saja terlelap bersama Mikha di dalam kamar.


Lana menunggu di ruang tamu, bertemankan ponsel pemberian Segara yang lalu dia gunakan untuk menonton serial drama kriminal yang sedang booming akhir-akhir ini. Ceritanya tentang beberapa orang yang tergabung di dalam satu kelompok balas dendam. Mereka terdiri dari orang-orang yang terluka di masa lalu, dan menyadari bahwa hukum tidak pernah berlaku adil untuk orang-orang seperti mereka yang ada di lapisan bawah dari sebuah tingkatan kehidupan. Maka mereka berkumpul, menyusun strategi sedemikian rupa untuk membalas perbuatan jahat para kriminal yang lolos dari hukum dengan cara mereka sendiri.


“Kalau hukum bisa berjalan adil, pasti nggak akan ada kelompok yang berpikir untuk main hakim sendiri.” Komentarnya ketika ia sampai pada adegan di mana kelompok balas dendam itu akhirnya membawa salah seorang tersangka penggelapan dana dan bandar judi yang tidak pernah tertangkap polisi ke sebuah dermaga, memasukkannya ke dalam sebuah kapal kecil yang akan membawanya ke sebuah pulau terpencil tak berpenghuni.


Diasingkan. Sebuah hukuman paling kejam menurut Lana karena rasa kesepian itu bisa membunuh secara perlahan. Ibaratnya, lebih baik menerima seratus atau bahkan seribu kali cambukan menyakitkan yang lukanya akan hilang dalam kurun waktu tertentu, daripada harus dibiarkan hidup dalam kesepian panjang yang bisa membunuh sewaktu-waktu.


“Aku cariin ke mana-mana, nggak tahunya kamu di sini.” Suara berat Segara membuat konsentrasi Lana buyar. Mau tak mau, ia meninggalkan tontonan yang padahal sedang seru-serunya itu agar dia bisa mengalihkan fokus pada Segara yang berjalan menghampirinya.


“Kamu nyariin aku? Kenapa? Mikha rewel, ya? Kebangun lagi dia karena mimpi buruk?” berondongan pertanyaan itu Lana muntahkan dalam satu kali tarikan napas. Meski sudah begitu, tetap saja malah gelengan kepala yang dia terima. “Terus, kenapa?”


“Istri aku nggak ada di samping aku pas aku kebangun tengah malam, wajar nggak kalau aku nggak nyariin?” serangan balik tak terduga dari Segara yang kemudian membuat Lana kembali kicep. Bahkan ketika Segara semena-mena mengambil posisi duduk di sebelahnya, mengambil alih ponsel yang masih dia genggam lalu meletakkannya di atas meja, Lana masih tidak bisa berkata apa-apa. Jangankan mengeluarkan suara, tubuhnya pun serasa membeku sekarang.


“Kamu ngapain di sini, hmm? Kenapa belum tidur?” tanya Segara. Suaranya yang berat nan serak serupa lullaby yang ajaibnya mampu mengundang rasa kantuk teramat hebat. Padahal sampai beberapa saat sebelum Segara datang, Lana masih merasa bugar.


“Aku....” apa? Aku apa? Kenapa otak Lana mendadak buntu sekarang? Sialan. Masalahnya, manik kelam yang kini menatapnya begitu intens itu seperti memaksanya untuk masuk lebih dalam, berkejaran di hamparan tanah lapang yang hanya ditumbuhi bunga warna-warni. Tidak ada jalan keluar, tidak ada cara untuk melarikan diri dari godaan kelopak bunga nan indah sementara ia adalah serupa kupu-kupu yang tengah memburu madu. “Aku....”


“Hmmm? Kamu apa?” sialannya lagi, suara Segara semakin kedengaran merdu, semakin membuat candu hingga Lana tidak sadar bahwa dia telah masuk ke dalam mantra ajaib yang lelaki itu tebar diam-diam. Bahkan tanpa sadar, seperti sudah kehilangan setengah kewarasan, tatapan Lana justru perlahan jatuh pada belah bibir tebal milik Segara.


Kabar buruk lainnya datang ketika tangan Segara terulur ke depan, membenahi surai panjang Lana yang kala itu ditangkup ke belakang dengan menggunakan jepit rambut besar warna hitam. Akan selalu ada helaian bandel yang keluar jalur, seperti mereka sengaja berbuat begitu agar bisa menjadi alasan dari terjadinya adegan romantis ala-ala drama Korea.


“N—no,” sekian waktu berlalu, akhirnya Lana bisa kembali berbicara. “Bukan, bukan gitu.”


“Terus, kenapa?”


“Aku lagi nungguin Ar.” Lana berkata jujur juga pada akhirnya. Bukannya dia ingin berbohong, tapi memang baru bisa dia bicara dengan benar sekarang meski jantungnya masih berdetak tidak keruan, serupa genderang perang yang berisik dan penuh provokasi. “Dia nggak bawa kunci cadangan, jadi aku tungguin dia.” Imbuhnya, agar tidak menimbulkan salah paham.


“Ar nggak pulang.” Ujar Segara usai mengembuskan napas pelan.


Mendengar itu, Lana membelalak kaget. Pasalnya, Arkana sendiri yang bilang akan tetap pulang meski harus lebih dari lewat tengah malam. Tidak mungkin Arkana berbohong, kan? Untuk apa? Tidak ada untungnya juga.


“Tapi, Ar bilang—“


“Dia ngabarin aku kalau dia nggak pulang malam ini. Dia nginep di rumah kenalannya karena ada project yang harus mereka bahas sampai tuntas.” Sebagai pendukung ucapannya, Segara mengeluarkan ponsel dari saku celana tidur dan menyodorkannya kepada Lana setelah dia membuka room chat dengan Arkana.

__ADS_1


Lana terbengong-bengong melihat sebaris kalimat yang memvalidasi pernyataan Segara. Bahunya terasa lemas, jatuh tak berdaya karena dia sadar penantiannya selama hampir 2 jam nyatanya berakhir sia-sia.


“Ar nggak kasih tahu aku,” lirihnya. Lemas sekali gerakan tangannya sewaktu mengembalikan ponsel milik Segara. “Jahat.”


Alih-alih prihatin, Segara malah terkekeh pelan. “Dia ada chat kamu kok, mungkin kamu yang nggak baca karena terlalu asyik nonton drama.”


“Nggak mungkin.” Lana ngotot. Notifikasi apa pun sudah dia nyalakan. Aneh juga kalau dia bisa sampai terlewat padahal kalaupun ada chat yang masuk, pasti akan muncul di pop up.


“Coba cek hape kamu,” Segara mengusulkan. Tak kuasa ia menahan senyum melihat wajah kecewa Lana.


Yakin dirinya tidak salah, Lana dengan percaya diri menyambar ponselnya. Saat layar menyala, yang terlihat masihlah adegan terakhir dari drama yang dia tonton. Kemudian setelah dia keluar dari laman tempat dia menonton drama secara streaming, barulah ia menemukan ada banyak notifikasi dari berbagai aplikasi di ponselnya.


Dan dari banyaknya notifikasi yang masuk itu, ada satu pesan dari Arkana yang menginformasikan ketidakpulangan pemuda itu seperti yang disampaikan Segara sebelumnya. Aneh. Karena sepanjang dia menonton, sama sekali tidak ada denting notifikasi apa pun, tidak juga ada yang muncul di pop up seperti biasa.


Merana. Dia kembali menatap Segara dengan nelangsa. Pikirnya, kok bisa? Kok bisa dia kecolongan sampai membuang waktu berjam-jam menunggu sesuatu yang sudah pasti tidak akan datang?


“Mode jangan ganggu-nya pasti aktif, makanya kamu nggak dapat notifikasi pesan di pop up. Suaranya juga nggak ada, kan?” Segara bukan asal menebak. Pasalnya, dia juga sering mengaktifkan fitur itu ketika sedang tidak ingin ada yang mengganggu fokusnya dalam bekerja.


Masih terlalu syok, Lana tidak menyahut. Memang, segala kemudahan yang diciptakan oleh manusia untuk menyokong kelangsungan hidup kita ini selalu memiliki poin plus dan minus. Yah, namanya juga buatan manusia, pasti tidak sempurna.


“Udah, nggak usah sedih gitu.” Segara mengambil alih ponsel Lana. Dalam sekejap, dia sudah sibuk mengutak-atik ponsel tersebut untuk menonaktifkan mode ‘jangan ganggu’ agar kejadian serupa tidak terulang kembali. “Nih, udah aku matiin. Wis, sekarang kita naik, tidur.” Ia mengembalikan ponsel Lana, lalu meraih tangan istrinya untuk ikut bangkit bersamanya.


Tapi karena Lana agaknya masih syok dan lama sekali tidak memberikan respons, Segara jadi geregetan sendiri. Akhirnya, dia mengambil inisiatif untuk menggotong tubuh Lana, mengangkutnya naik ke kamar meski harus diwarnai drama pemukulan ringan yang terjadi berkali-kali.


“Ga! Turunin!”


“Astaga, takut jatuh!”


“Segara!”


Tidak peduli. Segara tetap melanjutkan langkahnya. Dengan bobot Lana yang tidak seberapa, tidak sulit bagi Segara untuk tetap mempertahankan tubuh istrinya itu di dalam gendongannya. Sekalipun Lana banyak memberontak, Segara percaya diri pegangannya tidak akan lepas.


“SEGARA ADHITAMA!!!”


Dan itu adalah teriakan terakhir yang bisa Lana keluarkan karena detik berikutnya, bibirnya telah dipaksa bungkam. Dengan apa lagi? Jelas dengan bibir tebal Segara yang sedari tadi memang sudah gemas ingin meraup milik Lana yang tidak berhenti cemberut.

__ADS_1


Ah, sepertinya, akan terjadi lagi...


Bersambung


__ADS_2