Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
TIGA PULUH SATU


__ADS_3

Lana pernah mendengar seseorang mengatakan bahwa tidak semua perempuan bisa menjadi ibu. Ada beberapa yang melahirkan bayi-bayi lucu, namun berakhir tak mampu mengurus mereka hingga bayi-bayi tak berdosa itu tak mendapatkan kehidupan yang layak. Pun sebaliknya, ada beberapa perempuan yang tidak melahirkan anak-anak dari rahim mereka sendiri, namun bisa begitu telaten merawat anak-anak yang dipercayakan kepada mereka, memberikan cinta tulus tanpa batas, hingga gugur sudah status tak sedarah yang mereka sandang.


Bagi Lana sendiri, menjadi ibu tidak pernah kelihatan mudah. Merawat bayi tak berdosa, menghujani mereka dengan cinta, serta mendidik mereka agar kelak bisa tumbuh menjadi manusia dewasa yang berguna bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan hanya dengan belajar teori dari sebuah buku. Butuh banyak waktu, tenaga dan kesediaan untuk belajar lebih banyak. Dan sampai detik ini, Lana tahu dirinya masih tidak ada di porsi yang cukup untuk bisa percaya diri menjadi ibu bagi siapapun.


Tapi lihatlah di mana dia berada sekarang. Dengan baju tidur yang hanya dirangkap menggunakan sweater, ia duduk di sebelah ranjang pasien di ruang VVIP sebuah rumah sakit ternama di Jakarta, tangannya sibuk menggerakkan sendok, menyuapkan bubur ke mulut Mikha yang duduk di atas ranjang dengan wajah yang pucat.


Semalam, hampir pukul 1 dini hari, dia menerima telepon dari Segara. Lelaki itu mengabarkan bahwa Mikha demam tinggi dan anak itu terus meracaukan namanya. Lana jelas panik, karena yang dia tahu, Mikha memang absen selama 3 hari berturut-turut sejak adegan menangis di day care karena mood anak itu belum membaik. Dia tidak menyangka kalau Mikha malah jatuh sakit, lebih tidak menyangka lagi saat diberitahu bahwa anak itu malah mencari dirinya, alih-alih orang lain.


Lana yakin dia tidak keibuan, setidaknya belum. Tetapi setelah menerima telepon dari Segara dan dia tahu di mana Mikha dirawat, ia buru-buru datang dengan kondisi yang tidak ada bagus-bagusnya sama sekali.


“Udah, Miss.”


Lana menurunkan kembali sendok berisi bubur, tidak berniat memaksa Mikha untuk makan lebih banyak karena toh anak itu sudah memasukkan beberapa sendok sejak tadi.


“Minum dulu,” ucapnya seraya menyodorkan air putih ke arah Mikha. Dengan senang hati dia membantu Mikha minum dengan tetap memegangi gelasnya.


Selesai Mikha minum, gelas yang tadi dia kembalikan ke atas nakas, beserta dengan mangkuk berisi bubur yang sedari tadi masih dia pegang. Saat hendak kembali ke posisinya, tatapannya tidak sengaja bersirobok dengan Segara, yang kini duduk di sofa panjang dekat pintu bersama Arkana.


Tak ingin berlama-lama melakukan kontak mata, Lana segera menarik diri. Perhatiannya kembali dia curahkan sepenuhnya kepada Mikha. Berkali-kali dia bertanya, apa yang anak itu butuhkan, atau apa yang sekiranya terasa tidak nyaman. Tapi jawaban Mikha masih sama seperti saat pertama kali dia datang dengan napas yang ngos-ngosan beberapa jam lalu. Bahwa anak itu hanya ingin ditemani tidur, dipeluk juga kalah bisa.


Bukan permintaan yang sulit, jadi Lana menurutinya. Dia membawa tubuh Mikha ke dalam pangkuannya, membiarkan anak itu tidur sambil memeluknya, menyandarkan kepala di dadanya.

__ADS_1


Sementara itu, di tempatnya duduk, Segara tidak henti-hentinya berdebat dengan dirinya sendiri. Kalau sampai kemarin dia masih bersikukuh bahwa menikah lagi adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan dalam hidup, maka kini, setelah melihat bagaimana Lana begitu telaten merawat Mikha, dia jadi berpikir bahwa tidak ada salahnya untuk membujuk Lana sekali lagi.


Tapi, bagaimana caranya? Kesepakatan seperti apa yang bisa dia tawarkan kepada perempuan itu agar ia bersedia menjadi ibu untuk Mikha, setidaknya selama 2 atau 3 tahun ke depan?


“Ini cuma seumpama,”


Segara menoleh ke arah Arkana yang baru saja bersuara. Sama seperti dirinya, pemuda itu juga tak melepaskan pandangan dari interaksi antara Mikha dan Lana.


“Seumpama dia bersedia jadi ibu sambung buat Mikha, dan di tengah perjalanan tiba-tiba lo jatuh cinta sama dia, gue rasa Kak Ren nggak akan keberatan.”


Arkana yang ia kenal tidak pernah salah menilai seseorang, jadi sampai di titik di mana lelaki itu mengatakan bahwa Lana cukup baik untuk menjadi ibu sambung untuk Mikha, ia mempercayainya. Akan tetapi, di bagian ketika Arkana sampai jauh sekali berpikir bahwa ada kemungkinan dia akan jatuh cinta pada perempuan itu, Segara merasa tidak suka.


“Lo yang paling tahu bahwa nggak ada perempuan mana pun yang bisa menggeser posisi Karenina.”


Setelah kalimat panjang itu, Arkana bangkit. Pemuda itu menyakui kedua tangannya, berlagak jadi manusia paling keren ketika berjalan menghampiri Lana dan menawarkan untuk bergantian menggendong Mikha.


Sedangkan Segara dia tinggalkan sendirian, semakin ramai beradu dengan isi kepalanya sendiri.


...----------------...


Dalam sekejap saja, Mikha dan Lana menjelma menjadi serupa dua kutub magnet yang saling tarik-menarik. Mikha yang biasanya cukup selektif dalam memilih orang-orang yang boleh dekat dengan dirinya, seakan tidak menerapkan batas itu kepada Lana, begitu pun sebaliknya.

__ADS_1


“Miss mau pulang?” tanya Mikha ketika Lana bangkit dari duduknya dan tampak merapikan sweater yang kucel.


“Iya, Sayang. Miss harus pulang dulu, harus ganti baju.” Jawab Lana seraya tersenyum tipis. Satu tangannya mengusap kepala Mikha, mengusak rambut halus anak itu dengan gemasnya.


Mendengar Miss kesayangannya akan pergi, Mikha cemberut. “Tapi Mikha masih mau sama Miss Lana.” Ia merengek begitu saja.


Segara yang berdiri tak jauh dari mereka tak bisa berbuat apa-apa. Tidak seperti biasanya, lelaki itu malah lebih banyak diam karena sejujurnya, perkataan Arkana malah semakin lantang menggaung di kepalanya, membuat konsentrasinya terpecah sehingga tidak cukup mampu untuk melerai Mikha dari rengekannya yang melelahkan.


“Nanti sore Miss ke sini lagi, Sayang.” Lana berusaha memberi pengertian. Sebenarnya tidak masalah kalau dia harus di sini seharian, karena ini hari Sabtu dan dia tidak memiliki agenda apapun untuk dilakukan. Tapi, yah, dia juga harus mandi dan berganti pakaian supaya setidaknya bisa tampil lebih layak.


“Janji?” tagih si bocah seraya mengeluarkan jari kelingkingnya.


Lana dengan senang hati menyambut jari kecil itu, lantas menautkannya dengan miliknya sendiri. “Janji.” Seraya tersenyum lembut.


“Fyi aja nih, Miss, tapi bocil ini nggak bisa dijanjiin, soalnya kalau belum ditepati, dia bakal nagih terus sampai ujung dunia sekalipun.” Arkana menginterupsi. Sekadar memberitahu saja, kalau-kalau Lana belum tahu bagaimana watak Alena Mikhaela Adhitama yang sesungguhnya.


Untuk aduan itu, Lana juga menyunggingkan senyum manisnya. “Saya tahu kok, Pak. Saya nggak akan berjanji kalau nggak bisa menepati. Nanti sore, saya betulan akan datang lagi.”


Setelah itu, Lana pamit undur diri. Dengan sopan dia tolak tawaran Arkana untuk mengantarkannya pulang.


Arkana hanya bisa pasrah membiarkan Lana berlalu dari pandangannya, sementara Segara masih tak bergerak dari posisinya yang semula.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2