Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
DUA PULUH DELAPAN


__ADS_3

Kehilangan kedua orang tuanya di waktu yang bersamaan adalah mimpi buruk yang selalu Lana harap akan berakhir ketika dia membuka mata. Tetapi mendapatkan tawaran untuk menjadi ibu sambung sementara bagi salah satu anak yang dia ajar di daycare adalah mimpi buruk lain yang—dia bahkan tidak bisa menemukan di mana letak masuk akalnya.


Sewaktu Mikha tiba-tiba saja bertanya apakah dia bersedia menjadi ibu bagi anak itu, Lana pikir itu benar-benar hanyalah celetukan asal dari seorang bocah berusia 4 tahun yang belum mengerti banyak hal. Namun ketika Arkana menariknya untuk berbicara empat mata, sambil masih mengawasi bagaimana Mikha bermain dengan boneka kelinci pemberiannya, Lana tahu bahwa itu bukan sekadar celetukan biasa.


Mikha merindukan sosok ibu, sedangkan Segara masih terlalu jatuh untuk mendiang istrinya sehingga menikah lagi adalah sesuatu yang hampir mustahil. Setidaknya, itu yang bisa Lana tangkap dari bertele-telenya penjelasan yang Arkana berikan kepada dirinya, beberapa menit sebelumnya.


“Kenapa saya?” akhirnya, dari sekian banyak pertanyaan yang dia simpan di dalam kepala, Lana memutuskan menanyakan yang satu itu. Ia menatap Arkana serius, berusaha membaca gurat apapun yang nampak di wajah lelaki itu.


“Karena Mikha yang milih Miss secara langsung.” Jawab Arkana. Kembali lelaki itu terlihat menoleh ke arah Mikha. Dari sisi samping, Lana bisa melihat betapa tatapan itu berisi banyak sekali kesedihan yang mati-matian ditahan. Lana merasa, Arkana berada di tengah-tengah. Lelaki itu mungkin juga sedang kebingungan, menentukan perasaan siapa yang lebih dulu harus dia diurus, antara Mikha yang ingin memiliki ibu atau Segara yang masih belum bisa move on dari masa lalu.


Detik setelahnya, Arkana terkekeh canggung saat kembali menatapnya. “Saya tahu ini kedengaran konyol, tapi di kepala saya saat ini, sama sekali nggak ada ide lain. Satu-satunya yang bisa saya pikirkan ya hanya itu—mencari ibu sambung sementara.”


Lana tidak akan menghakimi, pun mempertanyakan lebih jauh kenapa ide itu bisa muncul di kepala Arkana. Sebab dia pernah ada di posisi yang sama, begitu frustrasi hingga tidak tahu ke mana harus melangkahkan kaki demi tetap hidup di dunia. Tapi sekali lagi, Lana tidak mengerti, kenapa harus dia?

__ADS_1


“Mikha nggak gampang dekat dengan orang asing. Saya nggak tahu pasti kenapa, tapi anak itu seperti punya standar yang tinggi untuk orang-orang yang bisa dia ijinkan masuk lebih jauh ke dalam hidupnya.”


“Dari usia sekecil itu?”


Arkana mengangguk, “Titisan ibunya. Sama seperti bagaimana ibunya selalu bersikap dulu, Mikha juga selalu berhati-hati.”


“Tapi kami bahkan baru mengenal beberapa hari, nggak ada jaminan bahwa saya bisa menjadi ibu sambung yang baik untuk Mikha, in case saya setuju untuk melakukannya.” Karena memang, Lana tidak percaya dia bisa. Hidupnya masih dalam proses perbaikan. Setelah kematian orang tuanya yang mendadak, ia kehilangan banyak hal. Kepercayaan diri, semangat hidup, bahkan kepeduliannya terhadap hal-hal di sekitar. Jika diukur dengan skala, jika itu mungkin, proses perbaikan itu baru sampai di angka 30 persen, masih terlalu jauh untuk dirinya bisa mendeklarasikan diri dengan kata sembuh. Masih terlalu dini untuk mencoba menjadi obat bagi orang lain, di saat dirinya sendiri masih tertatih.


“Saya menyayangi Mikha, dia anak yang manis. Tapi kalau untuk berjalan sejauh itu, dengan menjadi ibu sambungnya sekalipun itu hanya pura-pura dan sementara, saya tidak sanggup.” Terang Lana apa adanya.


Penjelasan Lana membuat Arkana melenguh kecewa, namun dia tidak berusaha membujuk lebih banyak karena dia tahu, itu adalah sepenuhnya hak Lana untuk menerima atau menolak tawarannya. Mungkin, dia juga terlalu tergesa-gesa. Pertemanan antara Lana dan Mikha masih seumur jagung, sedikit gila memang ketika dia berpikir untuk menarik mereka ke dalam sebuah hubungan yang jauh lebih serius daripada itu.


“Saya mengerti. Maaf sudah membuat Miss Lana nggak nyaman.” Ucap Arkana, lalu dia berjalan menghampiri Mikha.

__ADS_1


Tak lama kemudian, bel di apartemen Lana berbunyi. Perempuan itu tergesa berlari menuju pintu sebelum bunyi-bunyi lain muncul dan mengganggu. Saat pintu dibuka, sosok Segara sudah berdiri tegap di depannya. Lelaki itu datang dengan dua kantong belanja, satu yang di tangan kiri merupakan kantong belanja Indomaret, satu lagi di tangan kanan adalah kantong belanja dari restoran Jepang yang terkenal.


“Saya bawa makan siang dan buah-buahan untuk kita.” Kata lelaki itu seraya mengangkat dua kantong belanja yang dibawanya.


Lana tidak mengatakan apa-apa, dia hanya membantu Segara membawa salah satu kantong belanja lalu mereka berjalan beriringan masuk ke dalam apartemen. Di mana ternyata, Mikha sudah berada di dalam dekapan Arkana di atas sofa. Sepertinya, anak itu sedang dalam mode merajuk jilid 2.


“Makan siang dulu, Ar.” Segara mengatakannya setelah meletakkan satu kantong belanja berisi makan siang mereka di atas meja.


“Gue kira lo pergi keluar buat ngerokok?” tanya Arkana heran, tapi tak urung, tangannya mencomot satu kotak makan siang lalu membawanya ke hadapan. “Mikha makan sama Om Ar aja, ya.” Bisiknya kemudian kepada Mikha yang tengah menyembunyikan wajah di dada bidangnya.


“Gue lupa nggak bawa rokok.” Alasan Segara sekananya.


Setelah itu, tidak ada percakapan lain yang terjadi. Mereka berempat menikmati makan siang yang Segara beli dengan atmosfer yang jauh lebih terasa canggung ketimbang sebelumnya. Mikha yang masih enggan turun dari dekapan Arkana juga tidak lagi banyak mengoceh, hanya sesekali melirik ke arah sang ayah sembari mulut kecilnya sibuk mengunyah.

__ADS_1


Semakin siang, udara di luar semakin terasa panas. Tapi anehnya, hawa di dalam ruang tengah apartemen Lana malah semakin terasa dingin.


Bersambung


__ADS_2