
Sejauh apapun berlari, pada akhirnya Segara tetap dibawa kembali ke sini, ke balik meja kerja dengan tumpukan berkas yang dengan melihatnya saja—dia sudah dibuat sakit kepala. Proyek yang terakhir kali masih mangkrak dan hendak Segara selesaikan secepat mungkin, nyatanya sampai detik ini masih belum terlihat kemajuannya. Sebab selalu saja ada masalah-masalah kecil yang datang, membuat rencana yang dia susun rapi di dalam kepala terpaksa dirombak pada beberapa bagian.
Di sofa panjang di seberang meja kerjanya, Adella tengah dengan telaten menyusun laporan. Ia telah secara khusus meminta kepada perempuan itu untuk membantunya menyusun kembali beberapa laporan yang berantakan, menyederhanakannya ke dalam bentuk paling mudah untuk dipahami oleh kepalanya yang kian hari justru kian penuh dengan berbagai macam hal.
Sebelumnya, ia telah berkata pada Arkana akan kembali sebelum makan siang, tapi dirinya malah berakhir di ruang kerja yang terasa pengap ini bersama Adella hingga sekarang sudah nyaris pukul 4 sore. Sungguh, rasanya, Segara telah kehilangan banyak sekali kendali untuk hal-hal yang terjadi di sekitarnya belakangan ini.
“Sedikit lagi laporannya selesai, Pak, saya akan kirim ke e-mail Bapak, sekaligus siapkan hard copy-nya.” Adella mengatakan itu seraya mengangkat kepala, sejenak melepaskan tatapan dari layar laptop yang ada di atas meja.
Dari balik meja kerja, Segara mengangguk paham. Dia sendiri bukannya sedang berleha-leha dan hanya memandori Adella yang sedang berkutat dengan laporan, ia juga sedang bekerja, meneliti berkas-berkas yang tumpukannya jadi jauh lebih tinggi hanya karena dia tinggal beberapa hari.
Setelah statement yang keluar dari bibir Adella itu, tak ada lagi yang bersuara. Yang perempuan kembali sibuk menyelesaikan laporan, sedangkan si laki-laki mulai jengah dengan deretan huruf yang lama-kelamaan membuat penglihatannya semakin memburam.
Sambil menghela napas rendah, Segara melepaskan kacamata bata yang nangkring di hidung mancungnya. Ia mengurut pangkal hidungnya sendiri seraya memejamkan mata, berusaha mengusir pening yang tiba-tiba menyergap tanpa permisi.
Dalam kegelapan yang dia temui selama memejamkan mata itu, bayangan Karenina yang menemuinya malam kemarin kembali datang. Sama seperti kehadirannya yang terakhir kali, perempuan itu juga tampak tersenyum dan sekujur tubuhnya bersinar. Semalam, dia juga sempat memimpikan perempuan itu hadir dengan keadaan yang sama, membuatnya bertanya-tanya, ada maksud tersirat apakah dari lebih sering munculnya Karenina dalam kurun waktu beberapa hari terakhir?
Pertanda kah, bahwa perempuan itu masih selalu ada, dan dia tidak membutuhkan orang lain untuk membantu merawat Mikha? Atau justru sebaliknya, bahwa perempuan itu tengah berusaha memberinya izin untuk bisa mewujudkan keinginan putri mereka memiliki seorang ibu?
Segara mendesah pelan saat tak satupun jawaban berhasil dia terima dari monolog yang dia lakukan diam-diam. Ujung-ujungnya, dia kembali membuka mata dan secara serabutan bangkit dari kursi hingga membuat Adella menoleh ke arahnya dengan raut wajah bingung.
__ADS_1
“Del, saya harus pulang sekarang.” Kata Segara, seraya meraih jas miliknya yang tersampir di bahu kursi kerja serta kunci mobil yang tergeletak di meja. “Kalau kamu masih mau pakai ruang kerja saya, nggak apa-apa. Tapi nanti tolong kamu matikan semua lampu, dan jangan lupa dikunci, ya.”
“Saya lanjutkan di ruangan saya saja, Pak.” Bersambut dengan itu, Adella membereskan beberapa lembar kertas yang berserakan di atas meja, lalu bangkit dari sofa sambil memeluk berkas-berkas itu beserta dengan laptopnya juga.
Segara hanya mengangguk, lalu mereka berjalan beriringan keluar dari ruang kerjanya. Mereka berpisah di ujung lorong, di mana Adella masuk ke dalam ruangannya sementara Segara lanjut berjalan menuju lift.
Ting!
Bersamaan dengan suara denting dari pintu lift yang terbuka, satu notifikasi juga muncul di ponsel yang dia genggam erat di satu tangannya. Mau tak mau, setelah ia masuk ke dalam lift dan memencet tombol paling bawah, Segara mengecek pesan masuk yang baru saja dia terima.
Dari Arkana.
Lo di mana, Segara Adhitama? Sejak kapan jam makan siang mundur jauh banget sampai jam 4 sore, hah? Ini anak lo rewel, minta ketemu sama Miss Lana yang tercinta.
Dah lah, panjang bener gue chat lo. Demi Mikha nih gue relain pegel tangan gue buat chat beginian doang.
Jangan lupa, ke day care dulu!
Sekali lagi, Segara menghela napas. Kenapa harus meminta ibu? Dan kenapa harus Lana? Tapi sampai lift berhasil membawanya ke basement sekalipun, pertanyaan itu tetap tidak mendapatkan jawaban apapun.
__ADS_1
...----------------...
Katakanlah Segara sudah gila. Saat seharusnya dia pulang saja ke rumah tanpa mendengarkan ocehan Arkana soal membawa serta Lana, ia malah berakhir di sini. Di day care? Bukan. Dia menyusul Lana ke apartemennya. Benar, apartemen. Karena ketika dia keluar dari kantor, jalanan ternyata macet parah sehingga tak keburu untuk menjemput perempuan itu di day care, sudah terlanjur pulang duluan.
Berkali-kali Segara mempertimbangkan untuk menelepon Lana, mungkin sudah 15 menit dia duduk diam di dalam mobilnya untuk mempertimbangkan hal itu. Tapi ujung-ujungnya, dia malah meletakkan ponselnya di atas dashboard dan berharap Lana akan muncul dari balik gerbang, menyambutnya dengan senyum yang terkembang seakan perempuan itu sudah tahu bahwa ia aka datang.
Sinting! Ya jelas saja hal itu tidak akan terjadi! Lana bukan tokoh superhero yang memiliki kekuatan super untuk membaca pikiran, dia hanya manusia biasa, sama seperti dirinya.
“Duh,” mengeluh lagi, lagi dan lagi. Akhir-akhir ini, rasanya dia memang lebih banyak mengeluh untuk semua hal yang terjadi. Padahal dia sendiri yang paling tahu bahwa mengeluh tidak akan menyelesaikan apa-apa. Setengah 7 malam, dan Segara masih belum bisa mengambil tindakan untuk menelepon perempuan itu.
Dering ponsel yang kemudian datang tiba-tiba membuat Segara yang tengah bimbang seketika tersentak. Benda pipih yang teronggok di atas dashboard itu meraung-raung, menuntut untuk segera disentuh agar dering sialannya berhenti.
Tapi bukannya meraih benda pipih itu dan mengangkat telepon yang masuk, dia malah melamun, memandangi nama yang tertera di layar ponselnya untuk waktu yang cukup lama. Seperti orang bodoh, yang tidak bisa lagi berpikir dengan jernih.
Miss Lana. Begitu dia menamai perempuan itu di dalam daftar kontaknya. Tadinya, dia cuma mau menuliskan Lana saja, tapi ketika dipikir-pikir lebih jauh, agak tidak sopan karena toh mereka tidak seakrab itu.
Katanya, jatuh cinta bisa membuat seseorang menjadi lamban dalam hal berpikir. Namun Segara tidak perlu sampai mengalami yang namanya jatuh cinta untuk bisa merasakan betapa otaknya tidak mampu bekerja dengan baik lagi.
Sebab, ketika dering ponselnya berhenti, meninggalkan satu tanda panggilan tak terjawab, barulah tubuhnya bersedia bergerak meraih benda pipih tak berdosa itu.
__ADS_1
“Wah, Segara ternyata goblok.” Racaunya. Mungkin baru sadar kalau dia sebenarnya memang lebih banyak sisi bodohnya, hanya tertutup saja dengan wajah tampan dan kecekatannya dalam melakukan berbagai macam hal. Untuk sesuatu yang berhubungan dengan hati dan orang lain, dia paling payah.
Bersambung