Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
DELAPAN PULUH TIGA


__ADS_3

Katanya, hidup akan terasa lebih tenang jika kita telah ikhlas menerima segala ketentuan Tuhan. Sore ini, Segara berusaha memupuk ikhlas itu di dalam hati, sedikit demi sedikit sampai nanti tak tersisa lagi kemarahan yang dia bawa selama bertahun-tahun hingga membuat tidurnya tidak pernah tenang.


Di depan pusara Karenina, ditemani Lana, lelaki itu berjongkok dengan tatapan yang lurus menatap papan nisan bertuliskan nama mendiang istrinya. Sebuket bunga Lily telah ia letakkan di atas gundukan tanah berwarna merah. Buket cantik yang dibuat khusus oleh Lana atas keinginan perempuan itu sendiri—katanya, sebagai persembahan spesial untuk Karenina yang pernah hidup cukup lama di dalam hati Segara.


Untuk menuju sepenuhnya ikhlas, Segara tahu prosesnya tidak akan pernah mudah. Namun, melihat lagi berapa banyak karunia yang telah Tuhan berikan untuk dirinya selama ini, ia bertekad untuk melangkah lebih mantap.


Karenina sudah pergi, kecintaannya itu sudah damai di dalam surga yang diidamkan semua umat manusia ketika kelak mereka mati. Maka, sebagai yang masih hidup, Segara menyadari bahwa ia tak boleh lagi menangisi perempuan itu sebanyak kemarin. Ia tidak boleh menghambat jalan Karenina, tak boleh membuatnya teringat pada hal-hal menyakitkan di dunia.


“Kamu boleh pergi, Sayang. Pergi dengan tenang, pergi tanpa harus khawatir meninggalkan aku dan Mikha dalam kesedihan. Kamu boleh beristirahat dengan nyaman sekarang, aku nggak akan menahan kamu di sini lebih lama hanya supaya aku punya alasan untuk tetap memelihara dendam di dalam dada ini.” Ucapnya, seraya mengusap nisan Karenina dan berusaha keras agar air matanya tidak luruh.


“Bajingan itu udah menerima hukuman, dan aku harap itu adalah harga yang memang pantas untuk dia bayar.”


Hari ini, putusan sidang sudah dibacakan. Astanu yang telah menyebabkan hilangnya nyawa beberapa orang dan membuat beberapa lain berada dalam kesulitan diberikan 25 tahun hukuman penjara. Entah apa itu adalah angka yang setimpal, Segara bahkan tidak yakin segalanya akan menjadi imbang andai kata lelaki biadab itu dipancung di depan matanya sekalipun. Akan tetapi, ia tidak berniat untuk memprotes apa pun. Ia menerima segala putusan yang diberikan oleh pengadilan, menyetujuinya tanpa banyak perlawanan.


Ternyata, melepaskan sesuatu yang semula digenggam memang tidak seburuk itu. Setelah memutuskan untuk menerima apa pun hukuman yang diberikan kepada Astanu, Segara merasa sesak di dadanya berkurang banyak. Amarah tentu masih ada di dalam hatinya, namun kini sudah tidak sebesar dulu, dan dia percaya semuanya akan segera mereda.

__ADS_1


“Now I have a new family, but you have to know that you’re still in it. Kamu masih menjadi bagian dari keluarga kecil aku, Ren. Kamu masih menjadi bagian dari kami, dan selamanya akan tetap begitu.” Ucapnya lagi, kali ini sambil menatap manik cantik istrinya yang setia menemani dengan kondisi perut yang sudah semakin besar.


“Iya, kan, Sayang?” tanyanya kepada Lana.


Perempuan di sampingnya itu lantas tersenyum, kemudian tangannya bergerak pelan menangkup milik Segara, mengeratkan jari-jemari mereka dalam sebuah tautan yang hangat.


“Iya, Mbak Karenina akan selalu jadi bagian dari keluarga kecil kita.” Kata perempuan itu, turut menatap nisan dengan sorot mata teduh.


Ketulusan yang terpancar dari senyum di wajah Lana telah berhasil membuat hati Segara menghangat. Ia merasa beruntung memiliki perempuan itu sebagai istrinya. Sebab pada hakikatnya, perempuan adalah makhluk pencemburu, dan ia tidak yakin apakah ada perempuan lain yang berhati seluas Lana, yang dengan berlapang dada menerima keberadaan sosok lain meski raganya telah berada jauh dari jangkauan mata.


“You already know the answer, even if I didn’t say anything.” Balas Lana, senyumnya masih bertahan, seakan tidak apa pun di dunia yang bisa melenyapkan senyum tulusnya itu.


Segara mengangguk, lalu sebuah kecupan ia berikan ke punggung tangan Lana. “Terima kasih.” Ucapnya.


Terima kasih atas kesediaan Lana menjadi ibu sambung untuk Mikha. Terima kasih atas kesediaan Lana untuk menjadi istrinya, meski bayang-bayang Karenina masih terus ada. Terima kasih atas kesediaan Lana mengandung buah hatinya. Terima kasih atas segalanya.

__ADS_1


Di sisa waktu yang ia miliki, yang entah kapan Tuhan akan memanggilnya untuk pulang, Segara telah memutuskan bahwa ia hanya akan lebih banyak berterima kasih alih-alih merutuk atas apa yang telah terjadi. Di sisa waktunya yang entah masih berapa lama lagi ini, dia telah memutuskan untuk benar-benar hidup lebih baik. Bersama Mikha, bersama Lana, bersama calon buah hati mereka, juga bersama sosok Karenina dan segala kenangan yang perempuan itu tinggalkan untuk dirinya.


“Terima kasih.” Ucapnya sekali lagi, dan itu menjadi yang terakhir sebelum mereka berdua bangkit, berjalan bergandengan tangan meninggalkan malam Karenina yang diselimuti pelangi.


Hidup belum berakhir. Badai lain mungkin masih akan tandang sesekali. Tetapi karena kini mereka sudah saling menggenggam tangan satu sama lain, semoga segalanya menjadi lebih mudah untuk dilewati.


...-Tamat- ...


Haloooooo... I haven’t been here for a long time, terima kasih kepada kalian yang masih setia menunggu cerita ini di update meskipun jadwalnya sudah tidak beraturan lagi.


Sama seperti karya-karyaku yang sebelumnya, yang ini pun masih jauh dari kata sempurna. Tetapi, berkat kehadiran kalian yang masih bersedia membaca dan meninggalkan jejak dukungan, karya ini masih bisa dilanjutkan sampai akhir, di tengah tak terkendalinya rutinitasku di real life.


Sekali lagi, terima kasih sudah membaca sampai selesai. Semoga hal-hal baik selalu datang ke dalam hidup kalian, dan kalian senantiasa diberikan kesehatan serta kebahagiaan.


Salam dariku yang jauh dari kata sempurna, peluk jauh untuk semua.

__ADS_1


Rain ❤️


__ADS_2