Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
TIGA PULUH DELAPAN


__ADS_3

Lana sedang menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri, sepotong tuna sandwich dan segelas air hangat ketika ponsel yang dia tinggalkan di atas pantri berdenting beberapa kali. Terpaksa dia tinggalkan tuna sandwich yang sedikit lagi rampung, bergerak menghampiri ponselnya yang tumben-tumbenan berbunyi sepagi ini. Baru pukul 7, matahari juga masih mengintip malu-malu dari balik gumpalan awan berwarna kelabu.


Kening Lana berkerut banyak saat menemukan nama Segara terpampang di layar ponselnya. Tak banyak yang bisa dia baca dari pop up notifikasi di bagian atas layar, maka dia terpaksa membuka keseluruhan pesan itu untuk menemukan apa isinya.



Seketika terbuka, Lana sontak terkejut. Ia mencubit gambar cincin yang Segara kirimkan, meneliti dengan baik apakah itu memang benar cincin yang dia hilangkan 4 hari lalu. Itu adalah cincin peninggalan ibunya, benda keramat yang dia sayang-sayang layaknya dia menyayangi dirinya sendiri.


Empat hari lalu, sepulangnya ia ke apartemen dan hendak membasuh tubuhnya di bawah guyuran shower, Lana menyadari cincin itu tak lagi tersemat di jari manis tangan kirinya. Kalang kabut ia mencari, di seluruh sudut apartemen, juga sempat bertanya-tanya kepada rekan kerjanya di day care. Tapi tak kunjung ia temukan juga benda kesayangan itu. Rupanya, cincin itu malah ditemukan oleh Segara, yang padahal tidak masuk ke dalam daftar orang yang dia pikirkan sama sekali.


Kelegaan menjalar dengan cepat ke seluruh sel di tubuh Lana, kesedihan yang dia bawa dan kepasrahan yang telah dia berikan kalau-kalau cincin itu memang tidak ketemu akhirnya sirna. Dengan senyum yang terkembang, Lana mengetikkan balasan.



Agak lama menunggu, gerakan brutal dari cacing-cacing di dalam perut akhirnya membuat Lana terpaksa meletakkan kembali ponselnya, lantas menyelesaikan tuna sandwich yang sebelumnya dia tinggalkan agar bisa dimakan. Tak butuh waktu lebih lama, tuna sandwich itu sudah selesai dibuat dan Lana segera menikmatinya seraya kembali membuka room chat dengan Segara, masih menunggu balasan.


Akan tetapi, sampai tuna sandwich miliknya habis dimakan, balasan yang dia harapkan tak kunjung muncul.


“Kok nggak dibalas-balas, ya? Apa Pak Segara udah berangkat kerja?” monolognya. Namun, hal itu tidak dia pikirkan lebih lanjut karena yang terpenting dia sudah tahu kalau cincinya ketemu. Tidak harus sekarang, dia bisa mengambilnya lain waktu. Toh, mereka juga akan tetap bertemu untuk melangsungkan pernikahan 2 hari dari sekarang, bukan?


Omong-omong soal pernikahan... Sebenarnya Lana masih belum sepenuhnya percaya bahwa dia akhirnya mengiyakan permintaan Segara. Dia bahkan tidak keberatan untuk memberikan pengertian, tak menuntut diadakannya pesta pernikahan karena telah mendengar bagaimana kondisi Segara dari adik ipar lekaki itu, Arkana.


Lana bukan orang baik, setidaknya bukan tipikal yang bersedia berkorban sangat banyak untuk orang lain. Tapi dengan Mikha dan Segara, entah kenapa dia sama sekali tidak merasa sedang mengorbankan apapun, bahkan ketika mereka baru saling mengenal.


Setelah menenggak air hangat, Lana bangkit. Ia kemudian berjalan kembali menuju kamarnya dengan membawa serta ponsel di tangan, hanya untuk terduduk diam di depan meja rias seraya menatapi sebuah pigura tempat di mana ia menyimpan foto keluarga.

__ADS_1


Di sana, ada dia, ayah dan ibunya yang tersenyum cerah ke arah kamera. Foto itu diambil 4 tahun lalu di Bali, ketika mereka sedang liburan untuk merayakan ulang tahun sang ibu. Berbagai tempat mereka kunjungi dengan hati yang gembira, penuh sukacita. Sama sekali tidak terbersit di kepala Lana bahwa liburan itu akan menjadi yang terakhir, karena hanya berselang 18 hari setelah mereka kembali ke Jakarta, mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan parah hingga menewaskan kedua orang tuanya. Lana menjadi satu-satunya yang selamat dalam tragedi itu, tetapi trauma yang ditinggalkan membuat hidupnya berjalan tidak tenang bahkan sampai bertahun-tahun kemudian.


Demi menyembuhkan dirinya dari trauma, Lana sampai harus rajin bertemu dengan psikiater, meminum beberapa obat-obatan yang diresepkan untuk mengurangi kecemasan dan mimpi buruk yang kerap kali datang setiap malam. Sekarang, Lana memang sudah tidak mengonsumsi obat-obatan apapun lagi, dia juga sudah berhenti menemui psikiater sejak 9 bulan terakhir. Mimpi buruk hanya sesekali datang, kalau dia sedang dalam keadaan benar-benar lelah dan tidak ada seseorang yang bisa dia ajak untuk berbicara. Seperti mimpi itu datang sebagai luapan emosi yang dia pendam sendirian.


Meskipun begitu, Lana masih tidak bisa berdamai dengan hujan badai dan suara sirine ambulans. Dua hal itu masih menjadi faktor terbesar untuk membuatnya mengingat kembali kejadian naas 4 tahun silam. Saat kondisi mentalnya stabil, Lana palingan hanya akan merasa cemas dan sedikit ketakutan saat kenangan buruk itu kembali tandang. Namun jika kondisi mentalnya sedang buruk, dia bisa sampai berteriak histeris, bahkan pingsan, seperti yang terjadi padanya di day care beberapa waktu lalu.


Sebenarnya, kalau boleh jujur, Lana masih sering berharap bahwa kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya hanyalah sebatas mimpi. Bukankah bagus jika dia masih memiliki kedua orang tuanya di sini sekarang?


Berusaha menegarkan dirinya sendiri, Lana mencoba tersenyum. Ia masih ingat ayahnya pernah bilang, “Apa yang terjadi di dalam hidup ini, sudah ditentukan sedemikian rupa oleh Tuhan. Jangan merutuk, jangan memaki Tuhan atas rencana yang Dia buat karena kita manusia tidak pernah benar-benar tahu ada hal baik apa di balik itu semua.” Rindu itu sesekali masih tandang, membawa sesak yang tiada terkira dan berakhir membuatnya menangis sendirian.


Tapi sebagaimana yang ayahnya bilang, dia tidak akan merutuki keadaan. Pigura kembali dia letakkan ke tempatnya, lalu dia berjalan menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Mana tahu ketika dia selesai mandi nanti, Segara sudah membalas pesannya sehingga dia mendapatkan kepastian kapan harus mengambil cincinnya kembali.


...----------------...



Dan setelah ditelusuri, ternyata biang keroknya adalah Arkana. Pemuda yang sudah menginap di rumahnya selama beberapa hari dan menjadi baby sitter dadakan untuk Mikha itu menjanjikan anaknya itu untuk pergi jalan-jalan. Mereka baru berangkat 5 menit yang lalu, meninggakkan dirinya sendirian bersiap untuk berangkat ke kantor juga.


Mulanya, Segara ingin membalas pesan Lana dengan mengatakan bahwa perempuan itu bisa mengambil cincinya kembali sore nanti ketika dia sudah pulang dari kantor. Tapi setelah dia pikir-pikir, alangkah lebih baiknya jika dia langsung mengembalikan benda itu kepada sang empunya, tanpa terlalu banyak menunda-nunda.


Maka, niatnya untuk membalas pesan pun diurungkan. Sebagai gantinya, Segara memasukkan cincin itu ke dalam saku kemeja, lalu dia bergegas mengangkuti semua keperluannya untuk ke kantor seperti jas dan tas kerja.


Untungnya, dia sudah meminta tolong kepada Arkana untuk sekalian memanasi mesin mobilnya sebelum pemuda itu berangkat bersama Mikha, jadi ketika Segara sampai di garasi, dia tinggal tancap gas.


Jalanan di jam 8 pagi sudah terlihat padat, tapi masih bisa ditempuh dengan laju yang normal. Ya, maksudnya, tidak merayap-merayap amat seperti biasanya. Karena kalau itu terjadi, Segara mungkin akan mengurungkan niat melipir ke apartemen Lana dan lebih memilih untuk segera bergegas ke kantor, sebab dia memiliki meeting penting jam 10 nanti. Meeting itu tidak boleh terlewat, atau dia akan kembali diocehi oleh Adella. Benar, perempuan itu menjadi lebih cerewet beberapa hari terakhir.

__ADS_1


Sesampainya di depan kompleks apartemen Lana, barulah Segara mengeluarkan ponselnya. Kembali dia menggerakkan jemari panjangnya di atas papan ketik, menuliskan beberapa kalimat.



Sekitar 10 menit menunggu, sosok Lana muncul dari balik gerbang. Seperti biasa, perempuan itu akan datang dengan senyum tipis yang membingkai wajah ayunya.


Kali ini Segara berinisiatif untuk turun dari mobil lebih dulu, tidak menunggu sampai perempuan itu tiba di sisi mobil dan mengetuk kaca seperti yang biasa dilakukannya.


"Pak Segara sendirian?" tanya Lana seraya melongokkan kepala ke mobil, mencari keberadaan Mikha.


"Saya sendiri. Mikha lagi jalan-jalan sama Arkana." Sambil menjawab, Segara mengeluarkan cincin dari saku kemeja, lalu menyodorkannya kepada Lana.


Lana menerima cincin itu, lalu segera menyematkannya kembali ke jari manis tangan kiri. "Terima kasih, sudah mau jauh-jauh datang ke sini untuk mengantarkannya, Pak. Padahal saya bisa datang untuk ambil cincinnya di rumah."


Segara menyunggingkan senyum, "No problem, saya sekalian mau berangkat ke kantor. Lagipula saya sering lembur akhir-akhir ini, takutnya kalau menunggu saya pulang kerja, keburu cincinnya hilang lagi."


"Terima kasih sekali."


"Kalau begitu, saya permisi." Pamit Segara dan diangguki oleh Lana. Tapi sebelum dia menyentuh pintu mobil dan membukanya, Segara kembali membalikkan badan. Hanya untuk berkata, "Oh, ya, Miss ... dapat salam dari Mikha." Lalu berbalik cepat dan langsung tancap gas tanpa menunggu respons apapun dari Lana.


Bagi Segara, itu mungkin hanya sebatas kalimat biasa yang tak bermakna. Tetapi bagi Lana yang sudah bertahun-tahun hidup seorang diri dalam kesepian yang begitu panjang, kalimat itu sangat berarti.


Ada yang mencarinya. Ada yang menganggap keberadaannya berharga, selain kedua orang tuanya. Dan hal itu berhasil membuat senyum Lana terkembang lebih hebat, hatinya pun perlahan menghangat.


Persis setelah mobil Segara menghilang ditelan belokan, Lana sepenuhnya menghilangkan keragu-raguan yang sempat menyelimuti hatinya bahkan sampai beberapa saat sebelum ini. Kepada dirinya sendiri, dia berkata, bahwa keputusan untuk menjadi ibu sambung Mikha adalah yang tepat. Sebab sebagaimana anak itu membutuhkan dirinya yang bisa memberikan kasih sayang seorang ibu, ia pun membutuhkan Mikha untuk tetap bertahan hidup dengan pemikiran bahwa ia berharga.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2