Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
DELAPAN PULUH DUA


__ADS_3

Jauh sebelum anak-anak dilahirkan, mereka bertiga berteman. Tumbuh bersama dari individu-individu kecil buta dunia, menjadi orang-orang dewasa yang mampu berpikir kritis untuk setiap langkah kehidupan. Dari hari ke hari, hubungan mereka kian erat. Hingga kemudian, terbit sebuah janji untuk tetap seperti itu sampai nanti anak-anak keturunan mereka lahir. Memperpanjang jalinan pertemanan hingga garis keturunan paling akhir. Bersamaan dengan janji itu, terbit pula satu janji lain. Sebuah janji untuk tidak saling jatuh hati. Janji untuk tetap memegang status sebagai teman agar tidak ada yang rusak.


Tahun demi tahun, janji itu terus mereka bawa. Di setiap pertemuan, mereka tak pernah lupa untuk mengingatkan perihal dua janji penting yang harus mereka jaga sampai maut menjemput.


Akan tetapi, mereka agaknya lupa bahwa ada yang lebih berkuasa perihal hati manusia. Mereka lupa bahwa Tuhan, sang pemilik hidup yang berkuasa atas segalanya, lebih mampu untuk membolak-balikkan keadaan.


Terus bersama selama bertahun-tahun nyatanya membuat mereka bertiga saling nyaman. Benih-benih cinta mulai bertebaran, tumbuh sedikit demi sedikit hingga lama-kelamaan menjadi ladang bunga warna-warni yang terlalu indah untuk dilewatkan.


Astanu menyadari dirinya telah jatuh cinta kepada Margaretha, namun demi menjaga pertemanan mereka, ia menekan perasaannya dalam-dalam. Dia pendam semuanya. Dia simpan perasaan itu untuk dirinya sendiri, meski harus sesering itu meringis menahan sakit hati.


Katanya, tidak ada yang berakhir sia-sia. Makanya Astanu rela menepikan perasaanya. Namun, pada suatu hari yang cerah tepat setelah mereka berhasil meraih gelar sarjana, ia malah menemukan kedua temannya berkhianat. Keduanya mengaku telah saling jatuh cinta, bahkan telah secara diam-diam menjalin hubungan tanpa seorang pun mengetahuinya.


Dalam perih yang menerpa dadanya, Astanu hanya bisa menghela napas dengan ketidakberdayaan yang menguasai dirinya. Margaretha, yang dia sayang-sayang dalam diam lebih memilih untuk jatuh cinta kepada Damian, di saat ada banyak sekali laki-laki lain di sekitar perempuan itu. Tidak ada yang bisa Astanu lakukan saat itu selain merelakan. Meski sejak hari itu, hubungan pertemanan yang ia jaga mati-matian tidak lagi berjalan seperti sebelumnya.


Butuh waktu yang cukup lama bagi Astanu untuk menyembuhkan diri. Sebab ini bukan sekadar perihal putus cinta, tetapi juga adanya perasaan dikhianati oleh teman-teman yang dia sayangi seperti keluarga.


Ikhlas memang tidak pernah mudah untuk dilakukan. Walaupun lukanya sudah kering, perasaan dikhianati masih terus menghantui Astanu di sisa hidupnya kemudian. Bahkan sekalipun ia telah menikah dan memiliki Pamela, perasaan sakit itu masih ada.

__ADS_1


Kendati demikian, Astanu tetap berusaha untuk menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Ia doakan Margaretha dan Damian agar selalu bahagia. Karena biar bagaimana pun, mereka berdua tetap teman-teman yang dia sayangi.


Lalu seiring berjalannya waktu dan Astanu hampir sepenuhnya lupa pada apa yang telah terjadi di masa lalu, hal lain datang dan membuat semuanya berantakan.


Segara, putra tunggal Margaretha dan Damian tahu-tahu mengumumkan rencana pernikahan. Hanya beberapa hari sebelum Astanu menyampaikan keinginan untuk menjodohkan anak itu dengan Pamela.


Sebagai seorang ayah yang mengurus Pamela sendirian sejak istrinya meninggal dunia, Astanu jelas mengetahui bahwa putrinya telah jatuh cinta terhadap teman masa kecilnya. Ia ingin membantu, agar setidaknya kisah kisah putrinya tidak berakhir menyedihkan seperti miliknya.


Dan Segara kembali mengacaukan segalanya.


Astanu marah. Karena hampir setiap malam setelah rencana pernikahan itu tersebar, ia mendapati Pamela menangis sendirian. Rintihannya yang pilu mengingatkan Astanu kepada dirinya sendiri di masa lalu. Rasa sakit yang diderita oleh putrinya terlalu familier untuk membuatnya diam saja. Dan karena ia terlalu akrab dengan perasaan itu, amarahnya menjadi tidak terkendali.


Sejak hari itu, tidak ada lagi yang namanya pengampunan di dalam kamus hidup Astanu. Ia telah bertekad untuk menuntut balas. Atas air mata yang dia keluarkan dulu, juga atas air mata yang putrinya habiskan dengan sia-sia untuk Segara.


Kemarahan yang besar telah membuat Astanu hilang arah. Satu demi satu kejahatan dia perbuat demi menunjukkan kepada Damian dan keluarganya soal betapa pedihnya kehilangan.


"Ini dosaku, Nu. Limpahkan ke aku, jangan ke anak-anak kita." Ketika semua orang membisu mendengar cerita masa lalu yang keluar dari mulut Astanu, Margaretha tiba-tiba berjalan mendekat, bersimpuh di kedua kaki Astanu seperti ialah sang pendosa yang pantas menerima penghakiman.

__ADS_1


Melihat istrinya bersimpuh sambil berurai air mata, Damian pun menyusul. "Ampuni kami atas apa yang udah terjadi, Nu. Kami nggak tahu kalau perasaan kami ternyata menyakiti kamu sampai segini dalamnya. Kalau aku tahu kamu juga menyukai Margaretha, aku pasti mundur, Nu. Aku pasti mengalah."


"Kamu jelas tahu bukan itu yang aku mau." Astanu menyahut dengan suara seraknya. Seragam tahanan berwarna oranye melekat di tubuh, sementara kedua tangannya yang diborgol di depan tak menjadi alasan untuk dia tetap duduk dengan angkuh.


Astanu menatap Margaretha dan Damian secara bergantian. Potongan demi potongan dari kisah masa lalu berkelebat di kepalanya, dan itu adalah kabar buruk karena perasaannya malah semakin terasa tidak keruan.


Ada banyak sekali hal yang ingin Astanu utarakan, namun dia urungkan semuanya. Dia telan kembali kata demi kata yang sudah siap dia muntahkan. Memilih untuk menyimpannya kembali, untuk dia bawa sendirian, sampai nanti dia mati. Dia hanya merasa semuanya akan sia-sia. Baik Margaretha maupun Damian tidak akan mengerti bagaimana perasaannya. Bagaimana tersiksanya ia karena terus merasa dikhianati oleh orang-orang yang dia percaya. Mereka tidak akan mengerti, karena tidak pernah secara langsung mengalaminya.


"Saya mau kembali ke sel." Pinta Astanu kepada sipir yang berjaga beberapa meter di belakang tubuhnya.


Sang sipir bergerak maju, meraih lengan Astanu untuk dia giring kembali ke sel tahanan yang dingin.


"Nu," Damian cepat-cepat berdiri, hendak menahan agar Astanu tidak pergi.


"Aku nggak akan minta maaf." Potong Astanu. Sejenak, ia kembali memaku tatap pada Damian yang berdiri di hadapannya. "Anggap aja kita impas sekarang." Pungkas Astanu, sebelum akhirnya dia melangkah lebar meninggalkan dua temannya di belakang.


Suara tangis Margaretha terdengar memilukan. Hingga Astanu harus memejamkan mata serta berusaha menulikan telinga. Untuk kali ini saja, dia ingin tidak lagi peduli pada perempuan itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2