Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
ENAM PULUH EMPAT


__ADS_3

Disiapkan sarapan, ditemani makan malam, bahkan tidur di ranjang yang sama bukan lagi hal aneh yang canggung untuk Segara sekarang. Mungkin sudah berjalan dua minggu sejak obrolan mereka terakhir kali yang membahas soal ‘jatah’, mereka mulai perlahan mengikis jarak yang ada, sama-sama sepakat untuk membangun ikatan emosional yang kuat agar mereka bisa membesarkan Mikha dengan lebih banyak cinta dan kasih sayang.


Memang terbilang masih jauh langkah mereka. Tapi kata orang, lebih baik berjalan pelan daripada tidak sama sekali, kan? Maka sebagai seseorang yang menginginkan kebahagiaan Mikha jauh lebih besar ketimbang orang lain di dunia, Segara dengan penuh kesadaran diri telah menyingkirkan banyak sekali egonya.


Seperti hari ini, misalnya. Ini hari minggu, ia memutuskan untuk mulai membereskan jejak-jejak yang Karenina tinggalkan. Bukan untuk dibuang, melainkan disimpan di bagian paling rapat agar tidak semua orang bisa menemukannya. Agar Segara hanya bisa bertandang sesekali demi menghormati keberadaan Lana yang biar bagaimanapun, adalah tetap istri sahnya.


Beberapa waktu lalu, ia sudah mengambil langkah ekstra dengan mengepaki pakaian Karenina, memasukkannya ke dalam kontainer lalu menyimpannya di satu ruangan khusus yang memang sudah kosong sejak lama, di lantai 3. Semua itu dia lakukan tanpa sepengetahuan Lana. Karena kalau perempuan itu tahu, ia hanya akan dihujani protes dan kalimat pernyataan bahwa tindakan semacam itu sama sekali tidak perlu.


Dan hari ini, langkah ekstra lain yang Segara ambil adalah untuk menurunkan foto pernikahannya dengan Karenina yang sudah terpajang di dinding rumahnya sejak bertahun-tahun. Di mana tidak satu pun anggota keluarganya yang bahkan berani untuk mengusik keberadaannya, apalagi sampai menanyakan mengapa ia masih ada di sana padahal lelaki di dalam foto tersebut sudah menikah untuk yang kedua kalinya. Pernikahannya dengan Lana memang digelar sederhana, tapi sebagai sebuah penghargaan bahwa kehadiran perempuan itu bermakna, Segara hendak memajang foto pernikahan sederhana mereka di tempat yang akan ditinggalkan oleh foto sebelumnya.


“Yakin mau lo pindahin?” Dari arah dapur, Arkana tahu-tahu muncul. Segara sudah beradaptasi dengan baik, jadi dia sudah tidak terlonjak kaget saat adik iparnya itu tahu-tahu menunjukkan eksistensinya. Bisa dibilang, dari jarak berapa meter saja, Segara sudah bisa mengendus keberadaannya yang astral.


“Iya.” Segara menjawab singkat. Hati-hati sekali, dia meletakkan pigura foto berukuran besar itu lantas menyandarkannya di dinding. “Mumpung Lana lagi jalan-jalan sama Mikha. Kalau ada dia, pigura ini nggak bakal bisa ninggalin tempatnya barang sejengkal.” Imbuhnya.


“Kan? Gue juga nggak ngerti kenapa bisa ada perempuan dengan hati selapang itu.” Celoteh Arkana seraya menyesap kopi hitam yang baru dia buat. “Kayaknya dia mah bukan manusia sih, Ga, tapi titisan malaikat.”


Kendati kekehan lolos dari belah bibirnya, Segara tetap mengangguk setuju. Memang tidak pernah dia temui perempuan mana pun yang memiliki hati seluas milik Lana. Yang dia tahu, wanita itu pencemburu. Jangankan terhadap wanita lain, terhadap benda mati yang menyita terlalu banyak perhatian kekasihnya saja, para wanita itu pasti akan mencak-mencak bukan main. Mengomel seolah kekasih mereka telah melakukan kesalahan fatal dan pantas untuk diberi hukuman maksimal.


“Gimana rasanya?” pertanyaan itu membuat Segara urung menaikkan pigura foto pernikahannya dengan Lana. Terpaksa, ia membalikkan badan ke arah Arkana yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.


“Apanya?” tanyanya bingung.


“Gimana rasanya pas lo akhirnya bisa mulai membuka hati lo, nggak terus-terusan hidup di masa lalu kayak kemarin? Lega, kan?”


Segara bahkan tidak butuh waktu untuk mengangguk. “Mungkin karena orangnya adalah Lana.” Dan memang benar. Jika perempuan yang dia nikahi untuk menjadi ibu pengganti bagi Mikha bukan tipikal yang sabarnya seluas samudera seperti Lana, segara mungkin masih akan enggan membuka hatinya.


“Pilihan gue nggak salah dong, ya? Dari awal gue emang udah punya feeling yang oke sih ke dia.” Dalam kalimat itu, Arkana sedang menenangkan dirinya sendiri. Paling tidak, dia tidak salah memberikan rekomendasi. Karena kalau sampai salah, dia hanya akan berakhir merutuki dirinya sendiri sepanjang sisa hidup yang ia miliki.


“Iya deh iya, kali ini lo emang oke.” Lalu Segara melanjutkan kegiatannya. Pigura foto yang baru dia angkat tinggi-tinggi, kemudian dia pasang sambil memastikan letaknya sudah sempurna. Setelah beres, dia tersenyum bangga.


“Dilihat-lihat bini lo emang cantik.” Celetuk Arkana lagi. Tidak perlu mendebat panjang lebar untuk mencapai kata sepakat. Sejak awal juga Segara memang mengakui kalau Lana itu cantik. Ia hanya belum membuka mata hatinya saja waktu itu.


“Kamu nggak keberatan, kan, Ren?” gumam Segara begitu pelan. Itu dia tujukan kepada bayangan sosok Karenina yang memang sejak tadi ada bersamanya, mengikuti setiap kegiatan yang dia lakukan sebelum si kunyuk Arkana muncul. Biasanya, kalau ada orang lain yang bergabung, bayangan itu akan segera sirna, tetapi di siang yang cerah ini, Karenina tetap ada di sana, dengan senyum cerahnya yang seperti biasa. “Nggak apa-apa, kan, kalau aku mulai sama Lana?”


“It’s totally fine. Kamu harus bahagia, anak kita harus bahagia.”


Segara mengulum senyum. Kala ia menoleh, bayangan itu perlahan-lahan memudar. Namun, tidak seperti biasa ketika dia akan berusaha keras agar Karenina tetap ada di sana, kali ini Segara mengantarkan kepergian bayangan itu dengan lebih lapang dada. Dengan kesadaran penuh bahwa Karenina memang sudah tidak ada, dan hidup yang dia miliki harus tetap berjalan sebagaimana mestinya.


Sekali lagi. Memang masih jauh. Tapi semoga saja, ini adalah awal yang baik untuk menuju kehidupan yang baru.

__ADS_1


...****************...


Lana sadar ada banyak yang berubah dari sikap Segara akhir-akhir ini, tapi ia tidak menyangka bahwa perubahan itu akan membawa lelaki itu pada sebuah keputusan ekstra untuk menurunkan foto pernikahan sebelumnya dan menyimpannya di ruangan lain.


Normalnya, Lana boleh merasa senang karena itu mungkin berati bahwa Segara mulai mau membuka hati. Namun mengingat betapa besar rasa cinta yang lelaki itu miliki untuk mendiang istrinya, Lana menjadi takut bahwa Segara mungkin hanya sedang terlalu keras berusaha.


Padahal tidak ada yang mengejar mereka. Padahal pelan-pelan saja, dan ia sama sekali tidak keberatan. Padahal jika pun suatu saat nanti ia sudah pantas untuk menerima cinta dari Segara, ia masih tidak keberatan jika pigura itu tetap ada di posisinya.


Lana tidak datang sebagai penjajah. Dia tidak ingin mengubah apa pun yang sudah lebih dulu ada, cukup sadar diri bahwa setiap orang memiliki tempat masing-masing di dalam hidup orang lain, dan ia tidak perlu memaksa untuk menjadi bagian yang terpenting.


Di saat anggota keluarga yang lain kini sedang menikmati makan malam di dapur, Lana malah terpaku pada pigura foto pernikahan dirinya dengan Segara. Di sana, senyum yang terlihat menghiasi wajah Segara bahkan bukan senyum yang sebenarnya. Lalu mengapa lelaki itu begitu bersikeras untuk memajangnya di sana?


“Lana?”


Lana tidak menoleh, karena toh dia sudah tahu itu suara milik siapa. Ia tetap meluruskan tatapan pada pigura foto, seraya meresapi perasaannya sendiri yang berkecamuk tidak keruan. Bingung. Lana tidak tahu perasaan apa yang harus dia akui. Apakah ia boleh merasa senang, atau sebaiknya memupuk rasa bersalah sebanyak yang ia bisa?


“Kamu ngapain di situ? Mikha nyariin kamu.”


“Ga,” alih-alih menjawab, Lana malah memanggil nama Segara. Otomatis, yang dipanggil pun akhirnya berjalan mendekat, berdiri tepat di sebelahnya.


“Kenapa?”


“Biar foto kita bisa dipajang.” Masuk akal, tapi tidak cukup memuaskan untuk bisa Lana terima. “Kenapa? Kamu nggak suka?” kala bertanya, Segara baru menolehkan kepala.


“Bukan masalah aku suka atau enggak, tapi—“


“Tapi?”


“Kamu tahu aku nggak pernah berusaha menggeser apa pun di rumah ini.”


“Emang enggak. Aku sendiri yang mau, secara sadar dan tanpa adanya paksaan apa pun.”


“Iya, kenapa? Padahal foto itu udah ada lama di sana.”


Untuk beberapa lama, Segara terdiam. Dia sudah memprediksi bahwa Lana akan mempertanyakan keputusannya. Kendati begitu, ia tidak benar-benar tahu jawaban apa yang kiranya bisa memuaskan hati Lana dan membuat perempuan itu diam.


“Kamu yang bilang sama aku buat bertahan, kan?” tanya Segara. Lana mengangguk mengiyakan. “Nah, ini. Ini salah satu cara aku buat bertahan. Mindahin barang-barang Karenina bukan berarti aku nyingkirin dia dari hati dan pikiran aku, kan?”


“Tapi, Ga—“

__ADS_1


“Udah, deh. Aku tahu kamu tuh nanya gini karena ngerasa nggak enak, kan? Stop, ya. Mulai sekarang jangan ngerasa nggak enak atau apa pun itu, aku nggak suka.”


Lana dibuat bungkam. Dia tidak bisa lagi menyuarakan apa yang ada di dalam kepalanya karena omongan Segara barusan sudah seperti vonis akhir yang tidak bisa diganggu gugat.


“Mommy!!!”


“Tuh, anak kamu nyariin. Ayo,” tanpa permisi, Segara menggandeng tangan Lana. Kalau biasanya dia akan menempatkan tangannya di pergelangan perempuan itu, kali ini ia biarkan jemari mereka saling bertaut, seakan ingin memperjelas bahwa mulai saat ini, mereka adalah satu.


...****************...


“Om Ar nginep di sini, kan?” Mikha bertanya setelah menandaskan susu hangat miliknya.


“Nggak ah, besok kerja.” Arkana si usil. Aslinya, dia memang berniat menginap. Tidak cuma sehari, rencananya dia akan tinggal untuk seminggu ke depan karena ada pekerjaan yang harus dia urus dan akan lebih mudah pergi ke sana dari rumah ini.


Mendengar jawaban omnya yang tidak sesuai keinginan, Mikha mencebik. Seperti sudah menjadi kebiasaan, anak itu lalu ndusel ke dada ibunya, meminta pembelaan.


Segara yang sudah lelah karena seharian ini banyak memindahkan barang dari lantai satu ke lantai tiga pun tidak berbuat banyak. Dia hanya mengamati wajah cemberut Mikha yang kontras dengan raut girang Arkana sembari terus memasukkan potongan kacang almond ke dalam mulutnya. Dia jarang sekali nyemil, apalagi di malam hari mendekati jam tidur. Tapi berhubung Lana menyodorkan kacang almond yang baru dibeli dari supermarket sore tadi, ia pun tidak kuasa menolak.


“Om Ar nginep, kok.” Setelah terdiam cukup lama, Lana akhirnya buka suara. “Kenapa? Mikha mau tidur sama Om Ar sama Daddy?”


“Mau sama Om Ar!” seru Mikha seraya mengangkat lagi kepalanya yang semula tergolek di dada Lana. “Boleh, ya?” tanyanya kemudian, dengan tatapan penuh harap yang tertuju pada Arkana.


“Boleh nggak yaaaa.” Arkana masih saja bernafsu menggoda keponakannya. Dengan lagak tengil, ia mengetuk-ngetukkan jari telunjuk ke dagu.


“Boleh dong, pleaseeee.” Mikha memohon. Anak itu sampai menggosokkan kedua telapak tangannya, sebagai tanda permohonan yang serius. “Ya? Boleh, ya?”


Sudah puas menggoda, Arkana akhirnya mengangguk seraya terkekeh. “Ya udah, boleh. Yuk.” Ajaknya. Kedua lengannya merentang lebar, siap menerima Mikha ke dalam pelukan.


Tidak ingin kehilangan kesempatan, Mikha pun segera melompat turun dari pangkuan Lana, menghambur ke dada bidang omnya. Wangi Citrus yang menguar dari pakaian Arkana disesap oleh Mikha dalam-dalam.


“Let’s gooo!!!” anak itu berseru semangat. Tiga orang dewasa di sana praktis tergelak secara serempak.


“Gua bawa anak lo ke kamar. Serah deh lo berdua mau ngapain,” ucap Arkana seraya mengerlingkan mata kepada Segara. Kemudian, pemuda itu berlalu dari ruang tengah.


“Aku juga naik ke kamar deh, ya.” Pamit Lana.


Segara tidak punya alasan untuk mencegah, makanya dia iyakan saja permintaan Lana sehingga kini dia ditinggalkan di ruang tengah, hanya bertemankan kacang almond yang entah sudah berapa butir yang masuk ke dalam mulutnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2