Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
TIGA PULUH TUJUH


__ADS_3

Tiga hari menjelang pernikahan, Segara justru lebih disibukkan dengan banyak sekali pekerjaan di kantor. Mentang-mentang hendak mengambil cuti selama 2 hari, Adella semena-mena menjejalinya dengan berbagai macam berkas kontrak yang harus ditandatangani, juga beberapa berkas lain yang harus dia tinjau ulang sebelum benar-benar di approve.


Ha... Seandainya saja Adella tahu bahwa alasan dia cuti adalah untuk menggelar pernikahan, akankah perempuan itu mau sedikit berbaik hati?



Segara melepaskan kacamata baca yang dia kenakan, meletakkannya di atas meja dengan gerakan sedikit membanting—saking kesalnya ia karena pekerjaannya seakan tidak selesai-selesai. Lalu, ia menunduk, seraya memejamkan mata dan memijat pangkal hidungnya guna meredakan pening yang tak kunjung hilang.


Selama beberapa hari ini, dia selalu pulang larut malam. Selalu lebih dari jam 11, di mana hal itu tentu saja berpengaruh pada jam tidurnya yang berantakan dan kinerja otaknya yang menurun drastis karena kekurangan waktu istirahat.


Bukannya dia tipikal yang suka mengeluh, tapi pekerjaan kantoran yang mengaruskan dirinya duduk berlama-lama di balik meja kerja, meneliti berkas-berkas yang jumlahnya tak terkira seperti ini sebenarnya memang bukan passion-nya. Kalau boleh memilih, dia akan lebih senang menghabiskan waktunya di rumah, mengurus Mikha sambil mengerjakan pekerjaan remote yang bisa dia lakukan di mana saja, kapan saja.


“Siapa yang sering bilang kalau jadi bos itu enak? Sini, kita baku hantam.” Tantangnya, entah kepada siapa.


Momen di mana dia mengangkat kembali kepala dan perlahan membuka mata, ponsel yang dia letakkan di ujung meja berdenting, menyuarakan dering notifikasi pertanda adanya pesan masuk. Dengan malas, Segara meraih ponselnya untuk memeriksa siapa gerangan yang menginterupsi kegiatannya sekarang ini, di jam setengah 12 malam.


Nama Arkana muncul di layar, tapi bukan itu yang kemudian menimbulkan kerutan di kening Segara, melainkan kenyataan bahwa pemuda itu mengirim lebih dari 2 pesan yang memberondong bagai peluru panas para serdadu. Deretan notifikasi itu baru berhenti setelah 5 atau 6 kali? Entahlah, Segara tidak segabut itu untuk menghitung berapa pastinya jumlah pesan yang Arkana kirimkan.


Usai mengembuskan napasnya dengan cara yang dramatis, seakan hanya dengan begitu saja hidupnya resmi berakhir, Segara membuka pesan-pesan yang Arkana kirimkan. Dan dengan begitu saja, kesedihannya bertambah banyak.



Mengabaikan cerocosan Arkana yang sudah menjadi ciri khas pemuda itu, Segara menggerakkan dua jarinya untuk mencubit layar, memperbesar gambar Mikha yang barusan Arkana kirimkan.


__ADS_1


Tidak terasa, sungguh Segara tidak sadar bahwa putrinya sudah tumbuh semakin besar, helaian rambutnya juga makin panjang dan sudah saatnya untuk dipotong sedikit agar tidak terlalu kusut saat pagi hari.


“Anak kita udah besar, Ren.” Tak pernah absen, apapun yang dia katakan soal Mikhaela, pasti selalu ia bawa nama Karenina di dalamnya. Kalau sudah begitu, fakta bahwa dia akan menikah lagi dalam tiga hari ke depan sepenuhnya terlupakan. Sebab lagi-lagi kerinduannya terhadap Karenina membuncah tanpa bisa dicegah.


Seakan tidak puas hanya dengan memandangi foto Mikha yang Arkana kirimkan, Segara pun men-dial nomor adik iparnya itu, hendak mendengar suara jernih putrinya secara langsung.


Tentu, tidak butuh waktu lama untuk membuat teleponnya tersambung sebab dia tahu Arkana masih stand by.


“Mana Mikha?” tanyanya langsung pada intinya. Oh, jelas, dia tidak akan berbasa-basi menanyakan bagaimana keadaan Arkana, apakah pemuda itu sudah makan malam, atau adakah kesulitan yang pemuda itu lalui selama menjaga Mikha seharian. Tidak, hubungan persaudaraan mereka tidak pernah berjalan seromantis itu. Atau munkin, lebih tepatnya, cara mereka menyampaikan kepedulian tidak pernah datang dari hal-hal semacam itu.


“Transfer gue dulu, nggak usah banyak-banyak, 50 juta aja, baru gue kasih lo ngomong sama Mikha.”


Segara memutar bola mata jengah. Di lain hari, guyonan itu akan dia balas dengan caci-maki, menuduh Arkana materialistis karena menjual nama keponakannya sendiri. Tapi malam ini, ketika perasaannya sama sekali tidak dalam keadaan baik, ia memilih untuk tidak melakukannya. “Nanti gue transfer, buruan, mana Mikha.” Akhirnya, dia memilih mengatakan itu.


Suara yang kemudian menyapa Segara dari ujung telepon adalah milih Mikha, sepenuhnya menelan gerutuan yang terdengar samar di belakangnya. “Daddy kapan pulang?” tanya anak itu dengan suaranya yang sedikit serak.


“Sebentar lagi Daddy pulang. Mikha kenapa bangun, hmmm? Mimpi buruk?” selagi menunggu Mikha menjawab, Segara memutuskan untuk membereskan sisa pekerjaannya, lalu bergerak mematikan air conditioner dan lampu.


“Nggak apa-apa, cuma kebangun aja. Daddy cepat pulang, Mikha tunggu. Kalau Daddy nggak pulang-pulang, Mikha nggak akan bisa tidur lagi.”


“Iya, Sayang, Daddy pulang sekarang. Kamu mau Daddy bawakan apa?”


“Nggak mau apa-apa, mau Daddy pulang aja.”


“Ya udah, iya. Tunggu Daddy, ya.”

__ADS_1


“Iya, Daddy.”


“Nggak usah ngebut. Ini anak lo matanya udah full baterai lagi, nggak usah takut ditinggal tidur sama dia.” Setelah bungkam cukup lama, Arkana kembali menyela.


“Iya, bawel. Ya udah, gue jalan sekarang.”


“Iye.”


Setelah telepon ditutup, Segara berjalan cepat keluar dari ruang kerjanya. Kantor sudah benar-benar dalam keadaan sepi, hanya tinggal ada dirinya dan satpam yang bertugas berpatroli setiap setengah jam sekali. Ya, pikir saja sendiri, siapa memangnya yang sudi lembur sampai tengah malam begini?


Segara terburu-buru, tapi anehnya, dia malah memilih menuruni tangga darurat alih-alih menggunakan lift. Menurutnya, menggunakan tangga bukan cuma bisa membantunya bergerak lebih banyak setelah seharian berkutat di kursi kerja, tetapi juga sekaligus membantu mengurai pikirannya yang kusut karena dia bisa berjalan sambil menghitung berapa anak tangga yang dia lalui. Semacam distraksi, sebut saja begitu.


Sampai di dalam mobil, ketika dia hendak menyalakan mesin, gerakannya justru terhenti saat menemukan sebuah benda berkilauan yang jatuh tepat di dekat kaki kirinya. Kondisi mobil gelap, jadi kilauan dari benda itu jelas langsung membuat perhatian Segara tercuri.


Segara lalu sedikit membungkukkan badan, meraih benda tersebut (yang ternyata ada sebuah cincin) lalu menatapnya cukup lama. Pikirnya, milik siapa cincin ini? Kenapa bisa ada di mobilnya? Sejak kapan benda itu ada di sini, dan... Apakah sang empunya tidak kebingungan mencari?


Untuk beberapa saat, Segara hanya terpaku menatapi benda kecil di tangannya itu. Otaknya sudah diperas habis-habisan untuk menyelesaikan pekerjaan sehingga untuk mencerna beberapa hal lagi, dia menjadi kesulitan.


Padahal, kalau otaknya sedang dalam kondisi normal, tidak akan sulit untuk menemukan siapa pemilik cincin tersebut. Memangnya ada berapa banyak sih wanita yang dia ajak naik ke dalam mobilnya selama ini? Paling banter juga cuma Mama dan, ah, Miss Lana! Perempuan itu juga naik mobilnya beberapa hari yang lalu.


Segara memperhatikan cincin yang dia pegang dengan lebih teliti lagi, sambil berusaha mengingat-ingat siapakah di antara Mama atau Miss Lana yang mungkin merupakan pemilik cincin tersebut. Tapi karena dasarnya dia memang tidak pernah sedetail itu memperhatikan apa yang orang lain kenakan, ia memutuskan menyerah di tengah jalan, malas menerka-nerka sendiri siapa sejatinya pemilik benda tersebut.


Cincin yang dia temukan itu lantas dimasukkan ke saku kemeja, lalu dia bergegas menyalakan mesin dan menginjak pedal gas. Sudah malam, masih ada hari esok untuk mencari tahu siapa pemilik cincin itu sekaligus mencari waktu untuk mengembalikannya. Sekarang ini, pulang lebih penting, sebab ada Mikhaela yang menunggunya di rumah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2