Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
TUJUH


__ADS_3

Keduanya serempak menoleh ke arah pintu dan menemukan Segara yang melangkah cepat ke arah mereka. Lelaki itu segera mengambil alih plester luka dari tangan kecil Mikha sementara satu tangannya yang lain meraih lengan Pamela.


“Ga, maaf ya, tadi aku lalai pas jagain Mikha, jadinya—“


“Jelasinnya nanti aja, kita obatin dulu luka kamu.” Potong Segara cepat. Dia kemudian memasang plester luka di tangannya ke lengan Pamela.


“Mikha, you okay?” tanya Segara pada Mikha yang diam saja menyaksikan ayahnya mengambil alih pekerjaannya.


“I,m okay, Daddy.” Mikha menjawab dengan suaranya yang jernih.


“Jadi,” kini Segara beralih pada Pamela. Dia bergerak pelan mengambil posisi duduk di seberang gadis itu dan meraih tubuh kecil Mikha kemudian dia daratkan tubuh kecil itu ke atas pangkuannya. “Apa yang terjadi, Mel?” lanjutnya.


Pamela terdiam sebentar, terlihat menggigiti bibir bawahnya sedangkan tangannya saling meremas dalam duduk yang tampak gelisah. Segara yang menyadari hal itu pun menghela napas rendah, kemudian dengan suara pelan dia berkata, “Tell me, Mel. I’m all ears.” Hanya untuk membuat Pamela mengangkat wajahnya sebentar dan meloloskan hela napas berat yang sarat akan ketakutan dan kecemasan yang berlebih.


Lalu setelah satu tarikan napas panjang, Pamela berucap, “Tadi aku ajak Mikha jalan-jalan ke taman kompleks, Ga.” Pamela mengalihkan pandangan dari Segara yang menatapnya dan mendengarkannya dengan sabar sebelum melanjutkan. “Awalnya aman-aman aja, Mikha kelihatan happy karena bisa ketemu sama teman sebayanya. Tapi, pas aku mau ajak Mikha pulang, tiba-tiba aja ada motor yang lewat kenceng banget dan hampir nyerempet Mikha.” Kemudian Pamela menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata Segara yang serupa samudera gelap tak berdasar itu.


“Maaf, Ga. Kalau aku nggak ceroboh, Mikha pasti nggak akan dalam bahaya. I'm so sorry, padahal kamu udah percayain Mikha ke aku, tapi aku malah ceroboh begini.” Bahu Pamela tampak bergetar. Dia benar-benar ketakutan sekarang. Takut kalau Segara kecewa dan tidak akan mau lagi meminta bantuannya karena kecerobohan yang dia perbuat hari ini.


Tapi, apa yang Segara katakan selanjutnya berhasil membuat Pamela mengangkat wajahnya dengan raut terkejut yang kentara. Katanya, “Bukan salah kamu. Jangan nyalahin diri kamu sendiri karena aku nggak suka kamu kayak gitu.”


“Tapi, Ga—“


“It’s okay, Mel. Yang penting Mikha nggak kenapa-kenapa dan kamu juga nggak terluka lebih parah. Aku berterima kasih karena kamu mau meluangkan waktu untuk jagain Mikha di saat kamu seharusnya bisa istirahat dengan tenang di rumah.” Segara mengulaskan senyum tipis, hanya untuk membuat Pamela semakin merasa bersalah.

__ADS_1


Padahal, tidak apa-apa kalau Segara menyalahkan dirinya. Padahal sah-sah saja kalau Segara membentak, mencaci-maki atau bahkan mengusirnya dari sini sekarang juga karena Pamela memang merasa dirinya telah lalai menjaga Miha. Tapi kenapa Segara tidak melakukannya? Kenapa lelaki itu tidak pernah marah kepadanya untuk kesalahan apapun yang pernah dia perbuat selama mereka berteman? Tidak tahukah Segara kalau sikapnya itulah yang membuat Pamela semakin sulit untuk melupakan perasaannya?


Belum reda gemuruh di dada Pamela karena rasa bersalahnya kepada Mikha dan Segara, dia dibuat terkejut dengan suara pecahan kaca yang berasal dari depan rumah. Pamela menolehkan kepala cepat, bersamaan dengan Segara yang bangkit dari duduknya dengan membawa serta Mikha di dalam gendongan.


Lelaki itu mendekap Mikha erat selagi matanya menatap tajam ke arah pecahan kaca yang berserakan tak jauh dari ruang tamu. Di antara pecahan kaca yang memenuhi lantai, ada sebuah botol kaca bening yang di dalamnya berisi sebuah gulungan kertas.


“Titip Mikha sebentar.” Kata Segara sembari menyerahkan Mikha kepada Pamela.


Pamela hanya pasrah saat tubuh kecil Mikha dioper ke arahnya. Dengan sigap dia bawa tubuh kecil itu ke dalam gendongan, sebelah tangannya bergerak naik turun mengusap punggung Mikha dalam upayanya untuk menenangkan gadis kecil itu yang pasti sama terkejutnya dengan dirinya.


Di dekat jendela kaca besar yang pecah, setelah melangkah hati-hati untuk memastikan dirinya tidak menginjak serpihan kaca yang berserakan, Segara meraih botol kaca dan mengeluarkan gulungan kertas di dalamnya. Rahangnya seketika mengeras setelah membaca sebaris kalimat di kertas tersebut yang ditulis menggunakan tinta warna merah.


Saya kembali. Persiapkan dirimu karena saya punya banyak kejutan untuk kamu dan keluarga kecil kamu yang bahagia.


Segala sumpah serapah telah terucap di dalam benak Segara, siap untuk dimuntahkan dengan lantang di depan muka manusia sialan yang sudah berani mengusik kehidupannnya dan keluarga. Dirematnya kertas yang telah selesai dia baca itu, seolah dia sedang meremat tubuh orang yang mengiriminya pesan ini hingga hancur tak bersisa.


Di belakangnya, Pamela masih tidak bisa membaca situasi yang terjadi sekarang. Dia hanya diam untuk waktu yang cukup lama, menunggu Segara sampai lelaki itu berbalik dan melangkah cepat ke arahnya dan Mikha.


“Aku antar kamu pulang sekarang.” Kata Segara, menarik lengan Pamela setelah mengambil alih Mikha ke dalam gendongannya.


Pamela jelas kebingungan karena tindakan Segara yang tiba-tiba, tapi dia tidak punya kesempatan untuk bertanya lebih lanjut karena lelaki itu telah melangkah lebar dan Pamela terpaksa mengikuti langkahnya karena lengannya dipegang erat oleh Segara.


Segara membawanya masuk ke dalam mobil. Tidak menunggu sampai dia selesai memasang seatbelt dengan benar dan langsung menginjak pedal gas. Dari kaca spion depan, Pamela bisa melihat Mikha yang duduk di jok tengah tampak kebingungan melihat ayahnya yang mengemudi bagai orang kesetanan.

__ADS_1


“Pelan-pelan, Ga, kasihan Mikha.” Pamela berucap pelan. Segara tidak menjawab, tapi Pamela tahu bahwa Segara mendengarkan perkataannya saat lelaki itu berangsur mengurangi kecepatannya.


Selama perjalanan, hening berkuasa. Mikha masih tampak anteng di jok tengah, Segara fokus pada jalanan dan Pamela mulai sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia mulai bertanya-tanya tentang situasi macam apa yanng sedang mereka hadapi saat ini.


Mengapa raut wajah Segara berubah begitu drastis dan lelaki itu menyeretnya untuk pulang setelah membaca tulisan di kertas tadi. Apa kalimat yang tertulis di sana berupa ancaman yang membuat Segara berubah gusar? Tapi, siapa yang berani mengirimkan ancaman kepada seorang Segara Adhitama?


Karena setahu Pamela, Segara bukanlah tipikal orang yang rentan memiliki musuh. Sikap tenangnya membuat Segara disukai banyak orang sejak mereka masih sama-sama di bangku sekolah. Jadi, rasanya mustahil kalau sekarang tiba-tiba ada seseorang yang menargetkan lelaki itu.


Berbagai pertanyaan datang silih berganti, namun tak satupun yang berhasil Pamela tanyakan bahkan sampai mobil yang mereka tumpangi berhenti di pelataran rumahnya. Pamela tersentak saat Segara memanggil namanya dengan suara yang agak keras. Mungkin lelaki itu telah memanggilnya berkali-kali dan dia tidak mendengarnya karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.


“Cepetan masuk ke rumah.” Perintah Segara dengan nada yang terdengar asing di telinga Pamela. Seumur-umur, dia tidak pernah mendengar Segara bicara dengan nada seperti ini. Seolah laki-laki itu benar-benar sedang marah dan bisa saja menelannya hidup-hidup kalau tidak menurut.


“Mel,”


“Iya.” Pamela bergerak cepat melepaskan seatbelt. Sebelum turun, dia menoleh ke belakang dan menemukan Mikha sudah tertidur lelap.


“Mikha tidur. Kamu nggak mau pindahin dia ke depan?” tanyanya. Pandangannya masih tertuju pada wajah polos Mikha yang menggambarkan betapa gadis kecil itu masih tidak tahu apa-apa.


“Lebih aman di belakang.” Segara menjawab cepat. “Karena kalau terjadi apa-apa selama perjalanan pulang nanti, setidaknya risiko Mikha celaka akan lebih kecil ketimbang kalau dia duduk di sebelah aku, Mel.” Lanjutnya dalam hati.


Saat menoleh ke arah Segara, Pamela nyaris kehilangan kemampuan mengolah kata karena yang dia temukan di hadapannya sekarang ini sama sekali tidak seperti Segara yang dia kenal dua puluh tahun lalu. Ada kilat amarah yang menyala jelas di kedua mata bak samudera itu. Bibirnya terkatup rapat dan kedua tangannya mencengkeram kemudi kuat-kuat.


“Cepetan masuk ke rumah, Mel. Jangan bikin aku nunjukin sisi nggak baik aku di depan kamu.”

__ADS_1


Pamela tidak mengatakan apa-apa lagi. Segera dia buka pintu mobil dan bergegas turun. Tak menungu lama, mobil Segara kembali melaju meninggalkan area perumahannya, membuat Pamela berdiri mematung di tempat dengan pikiran yang semakin ribut seiring semakin menjauhnya mobil Segara dari jarak pandangnya.


Bersambung


__ADS_2