Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
LIMA PULUH DELAPAN


__ADS_3

Sebelum pergi ke rumah Mama untuk menjemput Mikha, Segara menyempatkan diri melipir dulu ke mal untuk membeli ponsel baru. Setelah menimbang cukup lama, pilihannya jatuh pada satu unit keluaran terbaru dari sebuah merek ternama yang sedang hits di kalangan anak muda. Warnanya deep purple, cantik sekali. Jangan tanyakan alasannya memilih warna itu, karena Segara juga tidak secara spesifik benar-benar tahu. Dia hanya merasa, warna itu cocok untuk Lana. Cocok dengan kepribadian perempuan itu yang cenderung tenang dan tidak gegabah dalam memikirkan jalan keluar dari setiap permasalahan terkait Mikha.


Ponsel tersebut lantas Segara bawa mengarungi jalanan di jam pulang kerja yang macetnya bukan main. Suara klakson yang bersahut-sahutan, motor yang nyelip kanan kiri hingga tak jarang menyenggol pengendara lain, juga beberapa oknum nakal yang memilih jalan pintas dengan menerobos jalur busway. Pemandangan yang sudah biasa, tetapi Segara tetap tidak bisa menahan diri untuk menggelengkan kepala melihat tingkah manusia yang ada-ada saja.


Kalau ini adalah dirinya dari beberapa tahun silam, jauh sebelum dia bertemu dengan Karenina yang berhasil merubahnya menjadi sosok yang lebih tenang dan penyabar, Segara mungkin sudah turun dari mobil, memaki pengendara motor yang tak sengaja menyerempet mobilnya hingga membuat kaca spionnya baret. Tapi karena ini adalah Segara yang sekarang, yang sudah dirubah sedemikian rupa menggunakan begitu banyak cinta, maka yang dia bisa lakukan hanyalah menghela napas rendah lalu membetulkan posisi spion kiri yang miring.


Sebesar itu dampak Karenina untuk hidupnya. Jadi, tolong sekali lagi, jangan suruh dia untuk buru-buru melupakan keberadaan perempuan itu meski raganya sudah lama sekali rata dengan tanah yang menimbunnya bertahun-tahun silam.


Suara genjrengan gitar yang datang tiba-tiba membuat Segara tersentak. Kepalanya menoleh ke kanan, menemukan dua remaja—laki-laki dan perempuan—sedang berdiri di sela-sela kendaraan yang berjubel. Yang laki-laki menggenjreng gitar, sementara yang perempuan bernyanyi dengan suaranya yang—bagus.


Di depan, lampu lalu lintas sedang berwarna merah. Melihat padatnya kendaraan yang menunggu giliran untuk bisa menginjak pedal gas, mobil yang dia kendarai juga tidak akan bisa bergerak dalam waktu dekat.


Maka dengan keinginannya sendiri, Segara menurunkan kaca mobil sampai mentok. Setelahnya, ia mengeluarkan dompet dari saku celana, menarik selempar uang 50 ribuan lalu memasukkannya ke dalam topi yang ditadahkan oleh si remaja perempuan selagi bibirnya masih terus melantunkan nyanyian.


Ucapan terima kasih terdengar, disusul senyum lebar dari sepasang remaja itu sebelum mereka bergegas melipir pergi karena bunyi klakson dari kendaraan di belakang mobil Segara mulai kembali terdengar.


Sisa lantunan nyanyian merdu yang dia dengar hanya selama beberapa puluh detik itu akhirnya Segara bawa, turut dia simpan di dalam kepala selama dia mengarungi kembali jalanan yang masih beberapa kilometer lagi jauhnya.


Bertemu dengan orang-orang yang katanya kurang beruntung seperti dua remaja tadi tidak pernah membuat Segara merasa kasihan. Sebaliknya, dia merasa kagum. Sebab di antara keterbatasan yang mereka miliki, masih ada keinginan kuat untuk tetap menghidupi diri mereka dengan berbagai macam cara yang mereka bisa. Pemikiran itu juga datang dari Karenina, perempuan itu yang mengajarkannya.


Dulu, pernah satu kali ketika Segara mengajak Karenina makan di warung Indomie dekat universitas tempat mereka menimba ilmu, ia bertanya kenapa perempuan itu tidak pernah keberatan mengeluarkan uang dari dalam dompetnya untuk diberikan kepada pengamen yang datang, padahal bukan hanya satu atau dua yang menghampiri selagi mereka makan? Apakah karena merasa iba?


Namun, jawaban yang diberikan perempuan itu sederhana. Katanya, “Ada hak mereka di setiap rezeki yang aku punya. Dan, berbagi itu jangan didasarkan pada rasa kasihan, Ga. Berbagi itu harus dengan kesadaran bahwa ada bagian orang lain yang dititipkan Tuhan ke kantong kita. Kalau kita dititipin sesuatu, masa iya mau kita simpan terus, bukannya dikasih ke sang empunya?”


Bagaimana Segara tidak tergila-gila, jika dari sekian banyak orang yang dia temui, hanya Karenina yang saat itu memiliki pemikiran demikian?


Sisa perjalanan itu lantas Segara lalui dengan kenangan tentang Karenina yang penuh, utuh.


...****************...


Siapa yang menyangka kalau perjalanan dari mal ke rumah Mama akhirnya memakan waktu sampai 2 jam lamanya? Saking padatnya jalanan, yang ternyata dipicu oleh adanya tragedi kecelakaan di sebuah persimpangan. Ada sebuah truk muatan berat yang terguling, memakan lebih dari setengah badan jalan sehingga mau tak mau orang-orang harus bersedia antre untuk bisa dibiarkan lewat.


Lelah, energi yang ada di dalam tubuh Segara sudah habis ketika dia melangkah lunglai memasuki kediaman ibunya setelah memarkirkan mobilnya dengan asal di halaman depan. Ia tidak berencana untuk berbasa-basi, hendak langsung membawa Mikha pulang agar dia bisa beristirahat di dalam kamarnya yang hangat.


Namun, rencana yang dia susun apik di kepala itu hanya berakhir menjadi rencana ketika Mama dengan entengnya mengatakan, “Nginep aja.” Dengan raut wajah tanpa dosa.


Kabar buruknya, Mikha yang saat ini tengah duduk anteng di atas pangkuan Papa sembari nyemil biskuit juga turut menganggukkan kepala. Sedangkan Lana tidak bisa memberikan opini apa pun karena toh itu tidak akan dianggap oleh Mama.


“Duh, besok ada meeting pagi, nggak keburu kalau harus berangkat dari sini.” Keluhnya.


Namun keluhan itu langsung ditepis begitu saja oleh Papa. “Keburu. Kalau kamu tahu jam-jam kapan harus keluar, nggak bakal kejebak macet.” Ujar lelaki setengah abad itu, seakan sudah pro sekali dengan kondisi jalanan di sekitar.


“Di persimpangan depan tadi ada kecelakaan, nguler macetnya di mana-mana.”


“Kan kecelakaannya hari ini, besok pagi juga udah beres itu.” Papa masih bersikeras. “Papa masih kangen sama Mikha. Please lah, kasih Papa waktu buat manja-manja sama cucu Papa.”


“Ta—“


“Kalau kamu emang nggak mau nginep karena takut besok telat ke kantor, ya udah, kamu pulang sana. Tapi Mikha sama Lana biarin nginep di sini.” Mama memotong ucapan Segara yang bahkan belum dikatakan sampai setengah.

__ADS_1


Segara menatap Mikha dengan sorot mata nelangsa, berharap anak itu mau mengeluarkan jurus ngambeknya untuk saat ini agar mereka bisa pulang ke rumah. Namun sayang, bocah itu sepertinya memang sudah tidak berada di kubu yang sama lagi dengan dirinya sekarang. Sebab alih-alih ngereog minta pulang, Mikha malah semakin erat menggelendot pada sang kakek.


Ujung-ujungnya, Segara terpaksa mengalah lagi. Dengan gerutuan yang dia layangkan terang-terangan, Segara berjalan menaiki tangga, hendak menuju ke kamarnya yang sudah lama tidak dia sambangi.


Aroma pengharum ruangan yang khas seketika menyebar memenuhi indra penciuman Segara ketika pintu kamar pertama kali dibuka. Fokusnya langsung tertuju pada sebuah gitar akustik yang tertata rapi di sudut kamarnya, bersama dengan beberapa benda lain seperti buku-buku bacaan dan beberapa Lego koleksinya yang tertata rapi di atas meja.


Segara berjalan menghampiri ranjangnya yang kali ini dibalut seprai polos warna biru tua. Meski sudah tidak dihuni, ia tahu kamarnya masih mendapatkan perawatan yang maksimal.


Ranjang miliknya itu, semakin dipandang semakin terlihat seperti sedang melambai-lambai, merayunya agar segera merebahkan diri di sana. Berhubung memang sudah lelah maksimal, Segara tidak menolak rayuan itu. Dia melompat naik, segera mencari posisi nyaman lalu mulai memejamkan matanya, membiarkan serat-serat seprai yang halus membelainya, membuatnya terlena sampai akhirnya jatuh tertidur dalam waktu singkat.


...****************...


Kalau bukan karena suara cempreng Mikha yang terasa dekat sekali dengan telinga, Segara mungkin tidak akan terbangun dari tidur lelapnya. Pusing seketika menjalar ke seluruh bagian di kepala ketika ia memaksa untuk langsung bangun ke posisi duduk, membuka matanya dalam sekejap hanya untuk menemukan Mikha sedang menatapnya begitu dalam.


“Mommy,” ujar bocah itu.


Nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya membuat sebuah “Hah?” lolos begitu saja, bersamaan dengan kerutan yang muncul di keningnya. “Mommy? Mommy kenapa?”


“Mommy juga mau tidur, Daddy.” Celoteh Mikha, kali ini seraya menunjuk sosok Lana yang rupanya berdiri mematung di ambang pintu.


“Ya udah,” sahut Segara, penuh kepasrahan. Tidak seperti kasur di kamarnya di rumah sana, kasur di kamarnya yang ini kecil, sejatinya hanya muat untuk satu orang seperti sebagaimana kasur seorang bujangan. Tapi yah, dia tidak mungkin menyuruh Lana untuk tidur di kamar tamu karena itu hanya akan membuat Mama dan Papa curiga. “Miss Lana sama Mikha tidur di kasur, biar saya gelar kasur lantai nanti.” Sambungnya. Ada satu kasur lantai yang dia simpan di bagian bawah lemari pakaian. Kalau Mama tidak usil, seharusnya kasur itu masih ada di tempatnya.


Lana tidak mengatakan apa-apa, masih tidak beranjak juga dari posisinya. Bahkan ketika Segara sudah bergerak menuju lemari dan menggeret sebuah kasur lantai lalu menggelarnya di dekat ranjang, ia masih diam tidak melakukan apa-apa.


Merasa ada yang janggal, Segara pun menoleh. Di mana dia malah dibuat terheran-heran sebab Lana justru terlihat salah fokus pada keberadaan gitar akustik miliknya.


Lana tidak sedang melamun, dia hanya terlalu berkonsentrasi mengamati benda yang menarik perhatiannya sejak tadi. Maka ketika panggilan itu sampai di telinga, tidak ada keterkejutan yang nampak di raut wajahnya. Dengan tenang, perempuan itu berjalan mendekat.


Ketika Lana sampai di sisi kasur, Mikha yang semula masih nangkring di atas sana tahu-tahu melompat turun.


“Heh, mau ke mana?” tanya Segara saat mendapati Mikha hendak berlari menuju pintu.


“Ke kamar Oma. Tadi Oma sama Opa minta Mikha tidur di sana,” aku si bocah.


“Loh, nggak bisa gitu. Terus Daddy gimana? Kamu tega ninggalin Daddy? Padahal Daddy bela-belain ke sini nyusulin kamu.”


“Kan, ada Mommy. Udah ah, Daddy cerewet. Mikha mau ke Oma sama Opa, bye bye Daddy.” Lambaian tangan yang begitu semangat itu menjadi akhir dari obrolan mereka. Sosok Mikha yang kecil dalam sekejap telah berlalu, menghilang bersamaan dengan pintu yang kembali tertutup rapat.


Segara mendecih, ini jelas adalah rencana Mama. Wanita tua itu pasti sedang berpikir untuk membuatnya menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan Lana. Apa lagi tujuannya kalau bukan untuk menagih cucu? Menyebalkan sekali.


“Miss Lana tidur duluan aja, saya mau mandi dulu.” Ujar Segara lalu ia melengos menuju kamar mandi setelah menyambar setelan tidur dari dalam lemari.


...****************...


Adanya meeting yang akan digelar pagi-pagi sekali nyatanya tidak membuat Segara bisa memejamkan matanya sesegera mungkin. Agaknya, tidur singkat yang dia lakukan sebelum si cerewet Mikha menginterupsi tadi sudah berhasil mengisap seluruh rasa kantuk yang dia punya selama seharian sehingga kini, ketika jam telah menunjukkan pukul setengah 12 malam, kantuk itu sudah tidak bersisa lagi.


Segara mendesah panjang, menyerah berusaha memejamkan mata dan memilih untuk kembali duduk dia tas kasur lantai yang tebalnya tidak seberapa. Gerakannya mungkin terlalu tiba-tiba, hingga ketika ia menoleh untuk memeriksa keadaan sekitar, ia menemukan Lana yang masih terjaga tampak terkejut kala tatapan mereka bertemu.


“Oh, Miss Lana belum tidur?” tanyanya untuk mengurai kecanggungan.

__ADS_1


Lana yang awalnya rehanan dengan posisi miring ke kanan menghadap ke arah Segara akhirnya bangun, turut mendudukkan dirinya di atas kasur yang empuk. “Tadi siang saya ikut tidur sama Mikha, that’s why....”


“Ah, I see.” Segara manggut-manggut. “Saya juga nggak ngantuk lagi gara-gara tadi sempat ketiduran.” Akunya kemudian.


Untuk beberapa lama, keduanya kembali bungkam. Hening kembali menyapa dengan lagak jemawa, berpikir ia akan berkuasa cukup lama seperti yang sudah-sudah.


Namun, hening itu lantas pergi, terhempas tanpa bekas ketika Lana menyuarakan sebuah pertanyaan yang berujung pada sebuah obrolan panjang.


“Pak Segara bisa main gitar?” tanya perempuan itu seraya melirik ke arah gitar akustik yang sejak tadi menarik perhatiannya.


Segara turut melabuhkan pandangan, lalu mengangguk kemudian. “Dulu bisa. Sekarang, karena udah lama nggak main, saya nggak tahu masih bisa atau nggak.”


“Kalau gitu, gimana kalau coba main lagi?”


Segara menoleh kembali ke arah Lana. “Miss Lana mau dengar saya main?” tanyanya.


Tidak ada keragu-raguan ketika Lana mengangguk, “Mau.”


Maka dengan begitu saja, Segara bangkit. Dia ambil gitar akustik yang terdapat stiker boneka beruang di bagian body-nya itu, lalu dia bawa kembali ke atas kasur lantai, dia letakkan di atas pangkuan.


“Mau saya mainin lagu apa?”


“You’re Gonna Live Forever in Me.” Pun ketika mengatakan itu, Lana seakan telah memikirkannya sejak lama. Seakan jika ada yang menanyainya soal lagu apa yang ingin dia dengar berkali-kali, perempuan itu akan selalu memberikan jawaban yang sama.


Segara tidak pernah percaya kebetulan, tetapi lagu yang Lana minta adalah lagu favoritnya—lebih tepatnya, lagu yang dia dedikasikan penuh untuk Karenina.


“Oke,” adalah jawaban yang mejadi awal dari dipetiknya senar gitar. Meski lama tak tersentuh, meski ia ditinggalkan cukup lama bersama kenangan yang mulai lusuh, nada-nada yang terdengar masih terasa utuh, berhasil menjernihkan kepala yang semula begitu keruh.


Intro mengalun, mengalir apa adanya seperti air yang bergerak dari hulu ke hilir. Lalu ketika tiba saat lirik mulai harus diperdengarkan kepada setiap telinga yang bersedia mendengar, Segara mulai membuka mulutnya yang sedikit bergetar.


“A great big bang and dinosaurs. Fiery raining meteors. It all ends unfortunately, but you’re gonna live forever in me. I’ll guarantee, just wait and see.”


“Parts of me were made by you, and planets keep thier distance too. The moon’s got a grip on the sea, and you’re gonna live forever in me. I guarantee, it’s your destiny.”


Karenina. Karenina. Karenina. Nama itu terus berulang seiring dengan lagu yang semakin sampai di pertengahan. Iramanya, konsistensinya, segalanya masih sama.


Sampai kemudian, ketika suara lembut Lana mengudara, menyambung lirik bersama dirinya, Segara menemukan nama Karenina perlahan-lahan menepi.


“Life is full of sweet mistakes, and love’s an honest one to make. Time leaves no fruit on the three, but you’re gonna life forever in me. I guarantee, it’s just meant to be.”


“And when the pastor asks the pews, for reasons he can’t marry you. I’ll keep my word and my seat, but you’re gonna live forever in me.”


Di penghujung lirik yang mereka nyanyikan bersama, tatapan itu bertemu. Di satu titik yang sama, dengan frekuensi yang sama pula. Maka detik ketika bait terakhir mengalun bersama-sama dari bibir-bibir mereka yang semula hanya saling diam, Segara untuk pertama kali menemukan bayangan wajah lain yang muncul selain milik Karenina ketika lagu sakral itu dimainkan.


“I’ll guarantee, just wait and see.”


Pukul 12 tepat, genjrengan gitar berhenti, suara merdu yang mengudara seirama turut berubah menjadi senyap. Malam itu, untuk pertama kalinya, bibir-bibir mereka saling mengulas senyum. Bak sebuah salam perkenalan yang seharusnya mereka ucapkan lebih awal di pertemuan mereka yang pertama.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2