
Sebuah restoran yang hanya berjarak 15 menit dari rumah menjadi pilihan Segara untuk mengajak keluarga kecilnya makan malam. Mama dan Papa tidak turut serta, dua orang tua itu memilih pulang karena tidak ingin terlalu lama terkena angin malam yang tidak sehat dan Segara dengan senang hati mempersilakan. Tentu, lebih baik memang orang tuanya tidak banyak berinteraksi dengan Lana, demi menghindari munculnya pertanyaan-pertanyaan nyeleneh yang lainnya.
Kondisi restoran tidak terlalu ramai, untungnya, sebab bepergian dan menikmati waktu di luar memang tidak terlalu cocok dengan Segara. Dulu, saat ia dan Karenina masih berpacaran pun, mereka akan lebih senang untuk menghabiskan waktu di rumah, bergelung di atas sofa sembari menonton serial film favorit, atau merecoki Mama yang tengah bereksperimen membuat kue di dapur. Sampai mereka menikah pun, kebiasaan itu masih tetap sama. Jarang sekali mereka pergi keluar kalau bukan untuk urusan yang benar-benar penting. Satu-satunya kegiatan rutin yang mengharuskan mereka keluar adalah berjalan-jalan di taman kompleks, sebab Karenina gemar sekali menggoda anak-anak kecil yang sedang bermain di sana, membuat mereka menangis.
“Ga,”
“Hmm.” Segara hanya berdeham, lalu memasukkan dessert ke dalam mulut sebagai sentuhan terkahir dari kegiatan makan malamnya.
“Gue balik ya malam ini.”
Mendengar penuturan Arkana itu, barulah Segara menoleh ke arah pemuda yang duduk persis di sebelahnya, satu alisnya terangkat begitu tinggi. “Kenapa?”
“Apanya yang kenapa?” Arkana balik bertanya. Piring berisi puding cokelat dia geser ke arah Mikha, menyerahkan dessert berasa manis itu kepada keponakannya yang terlihat masih kurang dengan puding miliknya sendiri. “Gue punya rumah, jadi buat apa gue lama-lama menginap di rumah lo? Lagipula, sekarang udah ada Miss Lana.”
“Ya emang kenapa kalau ada Miss Lana?”
Arkana berdecak pelan, memutar kursi hingga menghadap ke arah Segara lalu berkata, “Lo nggak pernah dengar ada yang bilang kalau orang udah menikah itu nggak boleh bawa orang lain tinggal di rumah yang sama? Pamali.”
Tidak langsung menjawab, Segara malah menoleh ke arah Lana yang duduk di seberangnya, sibuk menyuapi Mikha. “Miss Lana nggak ada masalah soal itu, kan?” tanyanya kepada Lana.
Yang perempuan sontak mengangkat kepala, menatap bingung pada Segara dan Arkana secara bergantian. Rupanya, ia tidak terlalu mendengarkan apa yang kedua lelaki itu bicarakan, sehingga dengan polosnya kemudian ia bertanya, “Keberatan soal apa?”
Ya Tuhan... Segara mendesah pelan, lalu ia kembali menoleh pada Arkana. “Pamali atau apalah itu, I don’t believe that. Tetap tinggal di rumah, kalau perlu, lo pindahin semua barang-barang lo biar bisa tinggal permanen.” Titahnya. Sungguh sebuah perintah, sebab ia sama sekali tidak menunjukkan akan memberikan kelonggaran pada Arkana untuk menolak.
“Ah...” Lana tiba-tiba bersuara, membuat Segara dan Arkana serempak menoleh ke arahnya. Ketika itu terjadi, perempuan itu kemudian tersenyum tipis lantas melanjutkan, “Pak Arkana mau tinggal di rumah Pak Segara?” tanyanya, baru memahami konteks pembicaraan keduanya.
“Nggak, saya mau pulang ke rumah saya.”
“Iya, dia mau tinggal di rumah saya.”
Dua jawaban yang berbeda itu dikatakan secara bersamaan oleh Arkana dan Segara, membuat Lana kebingungan. Yang mana yang benar? Tinggal atau tidak?
“Arkana tinggal di rumah saya. Miss Lana nggak keberatan, kan?”
“Sure. Itu rumah Pak Segara, kenapa saya harus keberatan?”
“Right?” Segara tersenyum senang. “Miss Lana nggak keberatan, lo nggak ada alasan.” Pungkasnya seraya menatap ke arah Arkana dengan penuh kemenangan.
Dengan begitu saja, Arkana dibuat terdiam. Sungguh, dia ingin pulang ke rumahnya sendiri. Ini bukan soal dia yang merasa keberatan untuk turut membantu mengasuh Mikha, tidak sama sekali. Dia menyayangi bocah cerewet itu, jadi mengurusnya bukanlah sesuatu yang menyebalkan. Arkana hanya merasa, baik dia ataupun Segara membutuhkan waktu mereka sendiri mulai sekarang.
Oh, iya, iya, dia tahu pernikahan antara Segara dan Lana itu tidak sungguhan. Tapi tetap saja, kan, dia tidak bisa tinggal di sana sebagai orang asing. Apa yang akan dipikirkan oleh orang-orang kalau tahu? Belum lagi kalau sampai kedua orang tua Segara yang tahu, bisa kacau!
__ADS_1
Tapi agaknya, otak Segara dan cara lelaki itu berpikir memang sudah berubah banyak sejak kematian istrinya. Susah, Arkana pikir dia tidak akan memiliki cara untuk memperbaikinya.
“Habiskan pudingnya, kita harus cepat-cepat pulang, udah malam.” Segara membantu Mikha mengelap sudut bibir yang belepotan. Sebelumnya, itu adalah tugas Lana yang memang sedari tadi menyuapi Mikha. Ia hanya mencari pengalihan saja, supaya Arkana tidak lagi berkomentar dan mereka bisa segera pulang.
Si bocah gemas hanya mengangguk degan pipi yang menggembung penuh puding. Beberapa suapan lagi dan penganan manis itu pun berhasil ditandaskan.
Sebagai seseorang yang berinisiatif membawa mereka pergi makan malam, Segara bangkit lebih dulu untuk memproses pembayaran. Sementara yang lain menunggu seraya membereskan apa-apa saja yang harus mereka bawa pulang, memastikan tidak ada yang tertinggal untuk menghindari adegan putar balik yang menyebalkan.
Beberapa menit kemudian, Segara kembali dan mereka pun bergegas pulang ke rumah. Dengan Mikha yang nemplok terus di gendongan Lana dan Arkana yang berjalan mengentak-entak, masih tidak terima soal keputusan Segara yang melarangnya untuk pulang ke rumahnya sendiri.
“Laki lo ngeselin, Kak. Gue benci.”
...----------------...
Ternyata, keputusan untuk membiarkan Mikha makan dua porsi puding cokelat adalah salah. Sebab kini, bukannya tidur, anak itu malah begitu aktif berlarian ke sana kemari, menenteng Hechi, mengajaknya berbicara layaknya teman sendiri.
Segara mengurut pangkal hidungnya sendiri. Dari sofa tempat ia duduk di ruang tengah, Segara memperhatikan bagaimana Mikha terus-menerus mondar-mandir di depannya dan berkali-kali menolak untuk diajak masuk ke dalam kamar.
“Mikha, udah malam, Sayang. Kita tidur yuk? Besok main lagi sama Hechi.” Suara Lana yang lemah lembut membuat Segara mengangkat kepalanya lagi. Dilihatnya perempuan itu berjongkok di depan Mikha, menangkup tubuh kecil sang putri seraya menatapnya penuh cinta—seperti anaknya sendiri.
“Mikha belum ngantuk, Mommy.”
“Oke, Mikha mau tidur.” Statement itu hampir membuat Segara bisa menghela napas lega, kalau saja bocah cerewet itu tidak melanjutkan kalimatnya dan membuatnya menelan ludah susah payah. “Tapi Mikha mau tidur sama Mommy dan Daddy, oke?”
Segara refleks menatap Lana, pun demikian dengan perempuan itu. Tatapan mereka bertemu, terpaku cukup lama seakan mereka sedang mengobrol menggunakan bahasa kalbu. Tapi yang namanya hati mereka bahkan belum bertemu di satu titik yang sama, mau selama apapun mereka berpandang-pandangan, bentuk komunikasi itu tetap tidak berhasil juga.
Sadar bahwa Mikha masih menunggu jawaban dan agaknya Segara enggan—atau mungkin kebingungan—untuk menolak keinginan putrinya, Lana pun berinisiatif untuk berbicara. “Malam ini, Mikha tidur sama Miss—ah, Mommy dulu, ya? Daddy capek, Sayang, jadi kita biarin Daddy tidur sendiri di kamarnya. Boleh?”
Alangkah lebih baik jika kepala kecil itu segera mengangguk agar mereka bisa cepat pergi tidur, tapi sayangnya, Mikha mendadak jadi anak menyebalkan ketika kepalanya justru menggeleng begitu keras, mengundang Hela napas begitu panjang lolos dari bibir Segara tanpa bisa dicegah.
“Mikha mau tidur sama Mommy dan Daddy.” Ucap anak itu. Kabar buruknya, itu diucapkan sambil menunjukkan raut sedih yang—sebenarnya baik Lana ataupun Segara tahu hanya dibuat-buat, tapi tetap saja membuat mereka tidak tega untuk menolak.
Akhirnya, dengan begitu pasrahnya, Segara menganggukkan kepala. Mau bagaimana lagi? Daripada Mikha menolak untuk tidur sampai pagi? Bukankah akan lebih merepotkan kalau itu betulan terjadi? Hei, jangan lupakan bahwa anak itu baru keluar dari rumah sakit beberapa waktu lalu.
Keinginannya yang dituruti tanpa perlu usaha yang terlalu banyak membuat Mikha melompat kegirangan. Bocah itu melompat ke dalam pelukan Lana, minta tubuhnya diangkat menuju kamar supaya mereka bisa pergi tidur bertiga. Keberadaan Hechi yang semula terlihat begitu berharga pun kini tak berarti lagi, boneka beruang berwarna cokelat itu dijatuhkan dari tangan Mikha, dibiarkan teronggok tak berdaya di atas lantai dan berakhir dipungut oleh Segara.
Lana dan Mikha sudah berlalu lebih dulu, sedangkan Segara justru terpaku di ruang tengah, memikirkan kembali kenapa bisa-bisanya dia mengiyakan permintaan Mikha, padahal jelas-jelas dia sudah berjanji kepada Karenina untuk tidak membawa orang lain ke kamar mereka.
Sadar bahwa sesal itu sudah tidak berarti, Segara pun melanjutkan langkah. Namun alangkah terkejutnya ia saat tidak menemukan Lana dan Mikha di dalam kamarnya. Sebagai gantinya, ia malah menemukan dua orang itu di kamar Mikha, dengan si bocah yang membaringkan diri di kasur kecilnya sementara Lana setengah berbaring dengan menumpukan kepalanya pada satu tangan, satu tangannya yang lain bergerak naik turun mengusap perut Mikha yang terlihat menggembung.
“Tidur di sini?” tanya Segara kepada Lana usai meletakkan Hechi di keranjang mainan milik Mikha yang ada di sudut ruangan.
__ADS_1
Lana menghentikan kegiatannya sejenak, lantas menatap Segara dan mengangguk. “Bapak nggak akan biarin saya tidur di kamar utama, benar?” tutur perempuan itu. Seperti sebuah kalimat sarkas, tapi karena Lana yang mengatakannya, Segara mengerti bahwa perempuan itu hanya terlalu peka.
“Ranjang Mikha kecil, nggak akan muat untuk bertiga.”
“Any better idea?” tanya Lana.
Segara terdiam cukup lama. Tatapannya berkali-kali beralih dari Lana ke Mikha, begitu terus selama hampir 1 menit penuh. Lalu, yang bisa dia lakukan hanyalah menghela napas rendah sebab ia tidak menemukan jalan keluar.
“Kita tidur di kamar Daddy aja.” Usul Mikha. Tanpa menunggu ayahnya menjawab, anak itu sudah lebih melompat turun dari ranjang, membuat Lana ikut melakukan hal yang sama.
“Nggak boleh, kamar Daddy berantakan.” Segara berusaha mengelak.
Mendengar jawaban ayahnya, Mikha cemberut. “Bisa dibereskan dulu.” Cicitnya.
“Kelamaan, Mikha, kamu harus cepetan tidur, ini udah malam.”
“Di kamar saya aja,” celetuk Lana yang tidak tahan pada drama tidur yang seperti tidak ada habisnya ini. “Kalau Bapak nggak keberatan, kita tidur di kamar saya aja.”
“Oke!”
Oh, tidak, jawaban itu keluar dari bibir Mikha. Seakan suara ayahnya sudah tidak penting lagi untuk mengambil sebuah keputusan, Mikha sekonyong-konyong menggandeng tangan Lana, membawa perempuan itu keluar dari kamar. Bahkan saking serasa tak terlihatnya Segara, bocah itu lebih memilih untuk keluar dari pintu kamarnya sendiri, tidak melewati connecting door yang mengharuskannya mampir ke kamar sang ayah terlebih dahulu.
“Ren, anak kamu makin-makin aja nih kelakuannya, aku harus gimana?”
...----------------...
Ajaibnya, tidak sampai 15 menit setelah Mikha merebahkan diri di atas ranjang Lana, bocah itu sudah terlelap sambil menggenggam erat jempol tangan Lana dan Segara di masing-masing tangannya. Hal itu jelas membuat Segara dan Lana tidak bisa ke mana-mana, terpaksa terus berbaring di posisi mereka sampai kini sudah 1 jam lebih berlalu.
“Miss Lana harus tidur sekarang.” Kata Segara setelah sebelumnya hanya ada keheningan di antara mereka. Ia mengatakan itu dengan tatapan yang tertuju lurus ke arah langit-langit kamar, enggan menoleh ke arah Lana karena takut dia akan salah bersikap.
“I’m trying.” Sahut Lana dengan suara pelan.
“Maaf kalau Mikha merepotkan,”
Hening. Lana tidak menyahut. Karena penasaran, Segara akhirnya tetap menoleh juga. Dan di titik itu, dia menemukan dirinya merasakan sesuatu yang asing saat melihat Lana justru sedang menatap penuh cinta ke arah Mikha yang terlelap. Entah sejak kapan perempuan itu sudah merubah posisinya menjadi miring menghadap ke arah Mikha, sebab ia sama sekali tidak merasakan ranjang yang mereka tiduri bergoyang.
“She’s so cute.” Kata Lana, out of context, semakin membuat Segara tidak mengerti harus merespons bagaimana. Lalu saat perempuan itu tiba-tiba mengarahkan pandangan kepadanya, Segara sepenuhnya kehilangan kata-kata. “Saya nggak merasa kalau Mikha merepotkan. I think I’ve ... fallen in love with this cutie.”
Dan itu menjadi kalimat terakhir yang Lana katakan sebelum perempuan itu memejamkan mata, meninggalkan Segara dalam kebisuan panjang bahkan sampai bermenit-menit setelahnya.
Bersambung
__ADS_1