Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
TUJUH PULUH TIGA


__ADS_3

Sejak pagi, ketika dia pertama kali masuk ke dalam ruang kerja Segara, Adella tidak bisa berhenti salah fokus pada sebuah cincin yang melingkar di jari manis tangan kanan bosnya. Adella tidak bodoh, dia tahu itu adalah cincin kawin yang di mana untuk bisa mengenakannya, Segara sudah pasti harus menikah terlebih dahulu.


Pertanyaan yang kemudian muncul setelahnya adalah, kapan bosnya itu menikah? Dengan siapa? Dan, mengapa tidak ada lembar undangan yang datang ke meja kerjanya? Adella tahu dia mungkin bulan seseorang yang terlalu penting di dalam hidup Segara, namun tetap saja dia merasa tidak terima jika bosnya itu melangsungkan pernikahan tanpa memberi tahu dirinya yang sudah jungkir balik membantu mengurus perusahaan.


“Revisi,”


Masih sambil terus memandangi cincin di jari Segara, tangan Adella bergerak pelan mengambil alih lembar berkas kontrak yang barusan disodorkan oleh lelaki di hadapannya.


“Apa yang salah?” tanya Adella. Ia masih ingin memandangi jari Segara lebih lama, namun dia harus lebih dulu menarik pandangan untuk memeriksa apa yang salah dari berkas kontrak sehingga bosnya meminta untuk direvisi.


“Ada salah ketik nama perusahaan, tuh. Ceroboh banget, masa kontrak yang nilainya puluhan miliar bisa salah gitu.”


Adella menganggukkan kepala singkat setelah selesai mendengarkan komplain yang Segara layangkan. “Langsung saya follow up.” Ucapnya mantap, lalu berkas kontrak itu dia tutup dan map berwarna merah tua yang membungkusnya dia letakkan di sisi kursi.


Selama beberapa saat, Adella kembali membisu. Sungguh, dia sama sekali tidak bisa mengalihkan fokus dari jari Segara. Bibirnya terasa gatal sekali, ingin bertanya dengan lantang kapan persisnya bosnya menikah dan mengapa ia tidak diundang.


Namun, belum sempat pertanyaan itu betulan dia layangkan, ruang kerja Segara yang didobrak keras dari luar membuatnya seketika menoleh ke arah pintu. Hanya untuk menemukan Arkana berjalan secara terburu dengan napas yang satu-satu.


“Kenapa?” terdengar suara Segara dari belakang tubuhnya, namun Adella tidak menoleh dan tetap memperhatikan Arkana yang berjalan semakin dekat sampai akhirnya lelaki itu tiba persis di sebelahnya.


“Istri lo nyusahin.” Celetuk Arkana.


Adella ingin pura-pura terkejut, namun keberadaan cincin yang dia pandangi sejak pagi sudah cukup menjadi alasan untuknya tetap diam, menunggu kalimat apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh Arakana (yang selama ini dia tahu sebagai teman baik Segara yang kebetulan juga bekerja di perusahaan ini).


“Lo tahu dia minta gue ngapain?” tanya Arkana, sementara Segara terlihat menggeleng dan Adella hanya bisa diam sambil terus menoleh ke kanan dan ke kiri sesuai dengan siapa yang tengah berbicara.


“Dia minta gue buat maling mangga muda di pohon dekat gerbang depan kompleks. Literally maling karena dia mau gue nunggu satpam yang jaga pergi dari pos, dan gue harus manjat pohon itu buat dapetin buah yang tumbuh di tangkai paling tinggi.” Arkana menjelaskan dengan semangat yang menggebu-gebu.

__ADS_1


Dari sorot mata yang terlihat lelah dan pasrah, tergambar jelas betapa nelangsanya Arkana ketika harus menjalankan misi dari Lana yang sedang ngidam. Perempuan itu hamil, sekarang usianya sudah masuk enam minggu dan sebagai seseorang yang mendukung sekali agar Mikha memiliki adik, Arkana harus menanggung risiko untuk dijadikan seksi repot oleh perempuan itu. Sebab suami perempuan itu, si Segara Adhitama yang super duper sibuk, melebihi presiden republik Indonesia itu jelas tidak akan mampu untuk memenuhi segala bentuk ngidam istrinya.


“Terus, dapat?” itu bukan jawaban yang Arkana mau, maka lelaki itu mendengus hanya sedetik setelah Segara selesai bicara.


“Ini bukan soal dapat atau enggak, ya, Segara Adhitama yang terhormat. Ini tuh soal wibawa gue sebagai seorang laki-laki yang tampan dan berkarisma, tapi harus jadi maling mangga cuma demi menuhin ngidamnya bini lo.” Mirip petasan di acara sunatan, Arkana bicara cepat tanpa jeda. Sosoknya yang ini kelihatan asing di mata Adella, maka wajar ketika perempuan itu berakhir cengo di tempatnya duduk.


“Justru wibawa lo akan bertambah karena udah mau berkorban demi seorang ibu hamil yang suaminya lagi sibuk nyari nafkah. Selain bisa bikin cewek-cewek jatuh hati, lo juga dapat pahala.” Tidak ada akhlak. Segara mengatakan itu sambil lalu, seraya menarik ponselnya mendekat dan mulai mengetikkan beberapa pesan untuk dikirimkan kepada sang istri tercinta yang sedang mengandung buah hati mereka.


Hampir dua bulan berlalu sejak malam panas mereka yang terakhir kali, dan setelah itu, mereka lebih sering berhubungan hingga akhirnya Lana memberitahukan kepada dirinya bahwa perempuan itu tengah mengandung. Segara senang. Mikha senang. Papa dan Mama senang. Arkana juga senang, tetapi pemuda itu juga banyak mengeluh karena harus melakukan ini itu.


“Ngeles mulu kerjaan lo kayak bajaj.” Arkana mencibir. Detik setelahnya, dia menoleh ke arah Adella yang duduk bengong memperhatikan perdebatannya dengan Segara. “Kamu ngapain deh di sini?” tanyanya sambil berkacak pinggang.


Adella mendengus sebal. Ia lalu memutar kursi, mendongak menatap Arkana yang tingginya hampir mencapai 2 meter. “Harusnya saya yang nanya, Pak Arkana ngapain di sini? Kenapa main masuk gitu aja ke ruangan Pak Segara, tanpa mengetuk pintu?” Adella balik bertanya, tidak kalah sengitnya.


“Suka-suka saya, lah, mau ngapain. Yang punya ruangan juga nggak ngelarang, kok malah kamu yang sewot?”


“Nggak bisa gitu, dong. Ada yang namanya manner, Pak. Saya tahu, di luar urusan kerja, Pak Arkana berteman baik dengan Pak Segara. Tapi kalau di kantor, kan, kalian tetap bos dan karyawan. Jadi Pak Arkana harus tetap bersikap sopan.”


“Pertama emang sekali, tapi nanti bakal jadi kebiasaan, dan itu nggak sopan.”


Arkana berdecak, bola matanya berputar kesal atas sikap profesional Adella yang dia nilai berlebihan. “Kaku banget sih, kayak kanebo kering.” Cibirnya.


“Aturan dibuat memang untuk ditaati, jadi wajar kalau saya kaku.” Adella membela diri. Ambisinya untuk memenangkan perdebatan sengit dengan Arkana tumbuh semakin besar, membuatnya seketika lupa pada rasa penasarannya terhadap Segara dan status pernikahan lelaki itu.


“Jadi orang jangan terlalu kaku, nanti susah ketemu jodoh.”


“Kok jadi merembet ke soal jodoh? Nggak nyambung banget, nggak ada korelasinya.”

__ADS_1


“Ada, lah. Kalau kamu terbiasa kaku di mode kerja, kamu bakal juga secara nggak sadar ikutan jadi kaku pas lagi mode manusia biasa. Ya saya sih cuma ngasih tahu aja, ya, sebagai rekan kerja yang baik.”


“Kesimpulan itu didapat dari mana, deh? Memangnya udah ada survei yang membuktikan?”


“Ada.”


“Mana.”


“Ya pokonya ada.”


“Ya mana, saya mau tahu.”


“Ada. Percaya aja kenapa, sih?”


“No bukti berarti hoaks.”


Makin lama, perseteruan mereka semakin seru. Sementara Segara malah Cuma melirik sekilas lalu kembali asyik dengan dunianya. Pikirnya, untuk apa mengurusi perdebatan tidak penting antara Arkana dengan Adella, jika istri tercintanya sedang menunggu hujan kasih sayang dari dirinya—meski hanya lewat pesan singkat yang sederhana.


“Mangga mudanya udah dapat, sekarang kamu mau apa lagi?”


“Pengin dipeluk sama kamu.”


“Boleh.”


“Bonus cium, boleh?”


“Boleh. Nanti aku kasih cium yang banyak.”

__ADS_1


Haaa... Ini yang katanya tidak akan tidur bersama, apalagi sampai saling jatuh cinta? Selamat. Selamat menjilat ludah sendiri, wahai manusia-manusia yang sok tahu akan masa depan yang jelas masih buram.


Bersambung


__ADS_2