
Dalam perjalanan menuju rumah setelah mengantarkan Pamela pulang, Segara hampir tidak bisa fokus pada jalanan di depan. Bukan hanya karena dia gusar perihal teror yang lagi-lagi datang menghampirinya, tetapi juga karena dia baru saja menunjukkan kepada Pamela satu sisi dirinya yang lain.
Segara sadar, sikap yang dia tunjukkan kepada Pamela tadi pasti akan membuat perempuan itu syok berat. Karena selama mereka berteman, dia cenderung menunjukkan kepada Pamela sisi dirinya yang tenang.
Seperti perkataan "air tenang menghanyutkan", dia baru saja menunjukkan kepada Pamela bahwa di balik ketenangan yang dia tunjukkan, dia punya begitu banyak ombak yang disimpan rapat. Ombak yang bisa saja menggulung segala hal yang dia temui, ketika pada akhirnya ia menyembul keluar dari persembunyiannya selama ini.
“Sorry, Mel. Aku cuma nggak mau kamu terlibat dalam kejadian buruk apapun yang terjadi dalam hidup aku.” Gumamnya seorang diri.
Meskipun sambil melamun, nyatanya Segara tetap sampai juga di rumah. Dan untungnya, dia sampai dengan selamat.
Setelah memarkirkan mobilnya, Segara turun dan bergegas menuju jok penumpang. Mikha masih tertidur, jadi dia bergerak sangat perlahan saat memindahkan tubuh kecil itu ke dalam gendongannya kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.
Segara berhenti sejenak di ambang pintu, rahangnya kembali mengeras saat matanya menangkap serpihan kaca yang masih berserak di dekat ruang tamu. Seolah setiap kepingnya merupakan api amarah yang selama ini dia simpan rapat di balik manik kelamnya yang terlihat tenang. Satu tarikan napas berat diambil dan Segara kembali melanjutkan langkah.
Sampai di kamar Mikha, dia baringkan tubuh kecil itu pelan-pelan. Dia tarik selimut bermotif karakter frozen berwarna biru muda itu untuk menutupi tubuh putrinya. Satu tangannya terangkat, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah ayu gadis kecilnya kemudian mengusap kepala anak itu pelan.
“Maaf karena kamu hampir celaka karena Daddy, Sayang.” Gumamnya.
__ADS_1
Rasanya, dada Segara sakit sekali. Seperti seseorang telah sengaja melemparkan belasan belati ke arah dadanya hingga menancap dan menghasilkan luka menganga. Belum cukup, luka itu juga kemudian ditaburi garam, dikucuri air perasan jeruk sehingga perih yang ada semakin terasa menyiksa.
Padahal yang dia inginkan sekarang hanya mengurus Mikha dengan baik, sambil terus mencari kebenaran di balik kematian istrinya karena itu memang sudah menjadi haknya untuk tahu. Tapi, bajingan terkutuk itu seakan tidak rela membiarkan dia menjalani sisa hidupnya, walau sudah begitu banyak hal yang direnggut darinya.
Mata Segara tiba-tiba terasa panas saat menatap wajah polos nan lugu itu untuk waktu yang cukup lama. Wajah polos itu kemudian membawanya pada satu fase di mana keping-keping kenangan dari masa lalu yang selama ini tersimpan rapat di dalam dada mulai berhamburan keluar satu persatu.
Dimulai dari pertemuannya dengan Karenina tujuh tahun lalu, sampai akhirnya dia memutuskan untuk jatuh cinta pada gadis sederhana itu dan menikahinya. Berlanjut pada teriakan kegirangan yang dia gaungkan saat tahu bahwa istri tercintanya tengah mengandung buah hati mereka yang pertama.
Kemudian, kenangan saat Mikha lahir ke dunia dan untuk pertama kalinya dia meneteskan air mata bahagia ketika tangan kecil Mikha menyentuh kulit wajahnya diringi tangis bising yang sama sekali tidak mengganggu. Hingga sampai pada kenangan paling buruk saat dia memeluk tubuh tak bernyawa Karenina yang berlumuran darah dan tengkorak kepalanya nyaris pecah.
Hari di mana dia menguburkan jasad Karenina adalah hari paling terkutuk yang Segara pernah alami. Setidaknya, itu yang dia pikirkan selama ini.
Segara nyaris lupa kapan tepatnya kejadian buruk ini mulai kembali menimpanya setelah bertahun-tahun lamanya. Setelah kematian Karenina, dia sempat memiliki waktu tenang untuk mengurus putrinya.
Dan kini, Segara mulai bertanya-tanya, apa kiranya yang membuat orang ini begitu terobsesi untuk membuat hidupnya hancur? Mengapa merenggut Karenina seolah masih belum cukup? Lebih dari itu, Segara sibuk menerka, dosa apa yang telah dia perbuat di masa lalu yang mungkin telah melukai orang ini hingga begitu besar dendamnya untuk menghancurkan dia sedikit demi sedikit dengan cara yang begitu menyakitkan?
Dan pertanyaan itu masih tidak menemukan jawaban meski Segara telah bersusah payah untuk mengurai satu persatu teka-teki di balik semua kejadian ini.
__ADS_1
Merasakan kepalanya semakin ribut dan dia bisa saja membuat Mikha terbangun dengan suara desis yang tanpa sengaja keluar dari belah bibirnya, Segara pun memutuskan untuk pergi dari kamar Mikha.
Dia bergegas masuk ke dalam kamarnya dengan tangan yang sibuk menggulir layar ponsel, mencari-cari nomor seseorang. Setelah menemukan kontak seseorang yang dia inginkan, Segara langsung men-dial nomor tersebut dan dalam waktu kurang dari empat detik, telepon berhasil tersambung.
“I need your help. Gue tunggu di rumah.” Katanya langsung tanpa embel-embel basa-basi apapun.
Seseorang di seberang pun menyetujui permintaannya sehingga dengan cepat sambungan telepon terputus. Segara lalu melangkah menuju ruang kerjanya yang terletak di ruangan lain di sebelah kamarnya, mendaratkan bokongnya di kursi sementara matanya mulai fokus pada layar laptop di hadapan.
Jemari panjangnya bergerak lincah di atas papan ketik, sampai muncullah beberapa gambar hitam putih di layar laptopnya. Itu adalah gambar thumbnail dari cctv yang dia pasang di beberapa sudut rumah. Gambar yang akan membantunnya lebih dekat dengan pelaku peneroran yang selama ini menghantui hidupnya.
“Cepat atau lambat, saya pasti akan menemukan kamu. Dan saat hari itu tiba, saya harap saya bisa mendaratkan seribu pukulan ke wajah kamu sebelum menjebloskan kamu ke penjara dan membuat kamu membusuk di sana.” Ucapnya sebelum mengklik salah satu gambar dan video di dalamnya mulai berputar.
Segara serius mengamati detiap detik yang tersuguh di dalam video, menelisik objek yang tertangkap kamera satu persatu demi mencari sesuatu yang janggal untuk bisa dia selidiki lebih jauh. Dia berkali-kalli mem-pause video itu, mengulangi beberapa adegan yang dirasa cukup mencurigakan hingga akhirnya dia berhasil mengenali sosok orang yang telah melemparkan botol kaca ke jendela rumahnya tadi.
Namun, alih-alih senang, Segara semakin merasa kalut karena sosok yang tertangkap kamera itu adalah sosok yang dia kenal baik dan seharusnya tidak melakukan hal-hal semacam itu kepada dirinya.
“Kamu ngapain, Rud? Kenapa harus kamu yang tertangkap di kamera cctv rumah saya?”
__ADS_1
Bersambung