Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
TIGA PULUH


__ADS_3

Di teras day care, ketika semua anak sudah pulang, Segara duduk dengan pandangan menerawang. Berjarak 1 meter di sebelahnya, ada Lana yang juga duduk di sana dengan tatapan melayang pada hamparan langit keemasan di atas mereka. Mikha sudah dibawa pulang, oleh Arkana yang ternyata juga diberi tahu oleh Grace soal kondisi gadis kecil itu.


Pemuda itu tadi berlari tergopoh-gopoh, peluh membasahi tubuhnya hingga membuat setelan yang dia kenakan hampir seluruhnya basah. Ia datang karena khawatir pada keadaan Mikha, rela meninggalkan pekerjaan penting demi bisa melihat langsung kondisi keponakannya yang tercinta.


“Maaf, Daddy, tapi Mikha benar-benar mau punya Mommy.”


Rengekan sedih Mikha kembali terdengar nyaring di telinga Segara. Ia tidak menyangka, diamnya selama beberapa hari terakhir ini ternyata berujung pada meledaknya emosi anak itu. Kepadanya, masih dengan lelehan air mata yang memenuhi seluruh bagian wajah bulatnya, Mikha mengatakan bahwa ia sama sekali tidak bisa menahan keinginannya untuk memiliki seorang ibu.


Lalu, di titik itu, kerinduannya terhadap Karenina seperti menyembur keluar, bagai lava yang lama terpendam di dalam kandungan gunung berapi, merayakan kebebasannya dengan menerpa apa saja yang dia lalui, membuatnya hancur, tanpa ampun, tanpa niat untuk berhenti.


Kalau mau mengikuti usulan Arkana soal mencari ibu pengganti sementara, Segara mungkin bisa-bisa saja. Tapi, apakah dia juga bisa menahan diri untuk tidak melangkah lebih jauh nantinya? Bagaimana jika yang niat awalnya hanya ingin mencarikan ibu untuk Mikha, malah berakhir membuatnya membawa perempuan lain masuk ke dalam hatinya, menggantikan posisi Karenina?


Tidak bisa. Segara tidak akan sanggup untuk mengkhianati perempuan itu, tidak sedikit pun ia mampu.


“Tapi, Ga, kasihan Mikha kalau harus kayak gitu terus.”

__ADS_1


Berengseknya, suara Arkana malah turut hadir di tengah kecamuk yang menyelimuti benak Segara, membuat segalanya semakin tampak rumit dan sulit sekali untuk dirinya menemukan jalan keluar. Usulan Arkana tidak masuk akal, tetapi untuk mencari alternatif yang lebih baik pun, Segara tidak mampu.


Sekarang ini, Segara hanya memiliki Mikha. Pusat dunianya adalah anak itu. Maka jika anak itu bersedih, ia pun akan merasakan hal yang sama, bahkan bisa jadi berkali-kali lipat sedih yang dia rasakan daripada milik gadis kecil itu sendiri.


Akan tetapi, sekali lagi, jika apa yang bisa membuat anak itu tersenyum lagi adalah sesuatu yang akan membuatnya merasa jahat pada Karenina, apakah dia mampu untuk menurutinya?


“Kalau Bapak nggak keberatan, saya akan coba bicara sama Mikha.”


Yang kali ini, suara Lana betulan menggema persis di sebelahnya, bukan sekadar bayang-bayang seperti suara Mikha dan Arkana yang dia dengar sebelumnya. Segara menoleh ke arah perempuan itu, menemukan dirinya tengah ditatap begitu dalam oleh sang empunya mata jernih di sebelah.


Kedengaran seperti ide yang bagus, tapi Segara tidak serta-merta menganggukkan kepala tanda setuju. Lagi-lagi, semuanya terasa sulit karena dia sadar betul bahwa Mikha adalah duplikat seorang Karenina. Hampir mustahil untuk membuat anak itu lupa pada apa yang diinginkannya. Terlebih, ketika hal itu sampai bisa membuatnya menangis tersedu-sedu seperti siang tadi. Itu berarti keinginan Mikha sudah benar-benar bulat, tidak ada satu pun hal di dunia yang bisa membuatnya urung.


“Terima kasih atas kepeduliannya, Miss, tapi Mikha bukan tipikal yang mudah untuk dibujuk.” Akhirnya, Segara menyampaikan fakta itu kepada Lana. Ia hanya tidak ingin membuat Lana terlalu banyak mengerahkan tenaga, sebab dia sudah tahu secara jelas bagaimana akhirnya.


Lana tidak mengatakan apapun setelah itu. Kembali dia labuhkan tatapannya ke atas, pas sekali saat sekumpulan awan berarak meninggalkan posisi awalnya, tampak seperti berkejaran dengan matahari yang sedikit lagi akan pulang ke peraduan.

__ADS_1


Lalu tiba-tiba saja, Segara kembali bersuara, hanya untuk membuatnya menoleh dengan tatapan tak percaya. Kata lelaki itu, “Seandainya, ini hanya seandainya saja. Bagaimana kalau saya gagal berbicara dengan Mikha, dan dia tetap menginginkan Miss Lana sebagai ibunya?”


Gila. Tidak waras. Sinting. Idiot. Apa lagi? Apa lagi kata yang artiannya mirip dengan kata-kata yang barusan disebutkan? Karena sekarang ini, Segara sedang ingin memaki dirinya sendiri.


Bisa-bisanya dia berkata pada Lana soal bagaimana jika Mikha tetap ingin seorang ibu. Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu kepada seorang perempuan yang baru dia temui kurang dari sebulan, dan ia masih sesekali salah menyebutkan nama perempuan itu. Bisa-bisanya dia gegabah, hanya karena sudah kepalang pusing dengan permintaan Mikha yang sulit.


Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah terlanjur memuntahkan kalimat itu, tidak bisa dia telan kembali. Maka yang bisa dia lakukan sekarang hanya pasrah, menunggu perempuan di sampingnya itu memberikan jawaban walaupun dia tahu kemungkinan besar dia akan ditolak—lebih parah lagi, dia akan dicaci maki.


Segara melihat Lana menegakkan punggungnya, lalu perempuan itu kembali menarik pandangan lantas dilabuhkannya kembali ke atas. “Untuk jadi seorang ibu, bukankah seseorang harus siap dari segala aspek?” tanya perempuan itu, Segara yakin pertanyaan tersebut ditujukan kepada dirinya, walaupun kini Lana masih terus menatap langit di atas mereka yang perlahan berubah gelap.


“Saya masih terlalu muda, terlalu dungu untuk bisa menjadi ibu untuk Mikha.” Lalu, Lana menoleh ke arahnya. “Ini bukan soal saya bersedia untuk dijadikan ibu sambung sementara atau tidak. Ini soal bagaimana nasib Mikha nanti, jika dia benar-benar harus diasuh oleh orang yang sama sekali nggak berpengalaman seperti saya.” Di akhir kalimatnya, perempuan itu tersenyum. Bukan jenis senyum yang umum, melainkan jenis senyum yang akan disunggingkan untuk menutupi rasa sakit yang tengah diderita.


Segara tergugu, terpaku cukup lama memandangi Lana yang masih enggan melenyapkan senyum tipisnya. Bagi Segara, senyum itu mengganggu, membuatnya merasa bersalah tanpa sebab yang jelas, membuatnya merasa simpati untuk sesuatu yang bahkan tidak dia ketahui penyebabnya.


“Saya nggak tahu seberapa susahnya untuk membujuk Mikha, tapi kalau Bapak izinkan, saya tetap akan coba. Mikha anak yang baik, dia juga cerdas, saya yakin dia bisa membaca situasi.” Usai mengatakan itu, Lana bangkit. “Sudah hampir malam, sebaiknya Bapak bergegas pulang menyusul Mikha. Kalau Bapak butuh bantuan, dan sekiranya Bapak rasa saya bisa membantu, tolong jangan ragu untuk menghubungi saya. Saya permisi, ada pekerjaan yang harus saya selesaikan sebelum pulang. Mari, Pak.” Kemudian perempuan itu berlalu, meninggalkan Segara yang semakin tidak tahu harus berbuat apa ke depannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2