Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
ENAM PULUH LIMA


__ADS_3

“Lana,”


“Hmm?”


“Kalau seandainya kamu dikasih satu kesempatan buat balik ke masa lalu, kira-kira ada nggak yang pengin kamu ubah?”


“Hmmm....” Lana terdiam cukup lama, berpikir sangat serius untuk andai-andai yang seharusnya bisa dia jawab asal saja. Masalahnya, ini adalah Kelana Larasati, yang tidak pernah bisa menganggap remeh apa pun.


“Andai-andai aja,” Segara bersuara lagi karena Lana masih belum juga berbicara. Pandangan perempuan itu tampak menerawang, jauh pada langit-langit kamar yang kosong tanpa hiasan apa-apa. Sementara ia sendiri sudah sejak beberapa saat lalu mengubah posisi tidurnya, miring ke arah Lana dengan satu tangan yang dijadikan tumpuan. Segara tidak pernah menyangka bahwa memandangi sisi samping seseorang akan bisa semenarik ini.


“Kayaknya nggak ada deh,” setelah memakan waktu lama untuk berpikir, Lana berakhir menjawab demikian.


“Serius nggak ada?” Segara makin merasa tertarik. Kalau pertanyaan itu ditujukan kepada dirinya, jangankan hanya satu, dia mungkin akan menjawab ada banyak sekali yang ingin dia rubah dari masa lalunya. Tentu, sebagian besar adalah momen-momen menyedihkan yang membuatnya hampir kehilangan kewarasan.


Tapi Lana... Apa benar tidak ada satu pun yang ingin perempuan itu ubah dari masa lalunya?


“Iya, nggak ada.” Untuk kali ini, jawabannya lebih yakin. Atap polos di atasnya sudah tidak menarik, maka ia mengalihkan pandangannya. Tujuannya adalah Segara yang berbaring di sampingnya. Hanya saja, dia tidak menyangka bahwa lelaki itu sedang memaku tatap ke arahnya ketika dia menolehkan kepala.


“Kenapa?”


“Mungkin kedengaran klise, tapi kalau ada satu aja kejadian atau keputusan di masa lalu yang aku ubah, berarti masa sekarang yang lagi aku jalanin juga bakal berubah, kan?” lama-lama, pegal juga ketika Lana hanya menolehkan kepalanya. Jadi, dia mulai memiringkan tubuhnya, membuatnya berhadap-hadapan langsung dengan Segara yang masih enggan mengalihkan tatapan.


“Aku mungkin nggak akan bisa ngerasain jadi ibu buat anak secantik dan secerdas Mikha. Nggak akan tahu kalau di dunia ini ada orang yang super baik dan beruntung kayak Karenina, yang bisa dicintai segitu hebatnya sama kamu. Dan... aku mungkin nggak pernah kepikiran buat menikah sama duda anak satu.” Di akhir kalimatnya, Lana terkekeh. Renyah sekali suaranya, membuat ujung-ujung bibir Segara juga turut terangkat.


“Tapi, zaman sekarang nih, yang duda emang lebih menggoda tahu.” Celetuk Segara. Ini adalah sisi lain yang baru pertama kali Lana lihat dari seorang Segara Adhitama. Yang biasanya dominan dengan aura dingin, kini mulai lebih banyak melontarkan candaan dan menebar senyum yang menawan.


“Karena udah pengalaman, ya?” Lana menanggapi.


Segara mengangguk, tersenyum makin lebar. “Beruntung kamu bisa nikah sama aku.”


Meski awalnya memutar bola mata jengah, pada akhirnya Lana tetap kembali tertawa dan mengangguk setuju. “That’s why aku bilang nggak mau ngubah apa pun dari masa lalu.”


“Tapi,” Segara mengubah posisinya lagi. Satu tangan yang dia gunakan untuk tumpuan kepala sudah mulai kesemutan, jadi dia memutuskan untuk bangun saja dan duduk di atas ranjang. “Duda anak satu ini belum bisa kasih kamu cinta yang melimpah. Nggak apa-apa?”


Lana ikut-ikutan bangun. Sekali lagi tampak berpikir cukup keras sebelum akhirnya menganggukkan kepala. “Katanya, yang terlalu terburu-buru itu juga nggak bagus. Cinta yang terlalu menggebu-gebu bakal gampang habis karena udah terlanjur tumpah ruah. Jadi daripada dapat hujan cinta dari kamu di awal-awal, lebih baik nerima itu sedikit demi sedikit.”

__ADS_1


Jawaban itu membuat Segara terdiam. Kalau ada padanan kata yang lebih hebat dari sekadar bersyukur, ia akan menggunakannya saat ini juga. Sebab, sudah tidak tahu lagi bagaimana dia mendeskripsikan keberuntungan yang dia terima dari hadirnya Lana ke dalam hidupnya.


“Lana,”


“Apa, Segara?”


“Boleh aku peluk?”


Garis senyum di bibir Lana perlahan-lahan memudar. Bukan. Dia bukannya keberatan untuk memberikan pelukan kepada laki-laki yang secara sah adalah suaminya. Ia hanya sedikit gugup. Perlu sedikit lebih mendalami apa arti pelukan yang akan dia terima kali ini. Apakah sebuah pertanda bahwa hati lelaki itu sudah mulai kembali dibuka dan dia diizinkan untuk masuk? Atau hanya sekadar ungkapan terima kasih karena ia bersedia bertahan di sisi lelaki itu meski sudah tahu hatinya masih penuh oleh nama mendiang istrinya?


“Nggak boleh, ya?”


“Boleh.” Jawab Lana, lalu ia merentangkan kedua tangannya. “Akan lucu kalau aku menolak dipeluk sama suamiku sendiri, kan?”


“Nggak juga. Tubuhmu itu punyamu, kamu boleh nolak siapa pun yang mau nyentuh kamu kalau kamu emang nggak menghendakinya.”


Lana dibuat terkekeh kecil. “Om duda satu ini emang agak lain, ya? Padahal kamu juga punya hak atas aku.”


“Kewajibannya dulu dipenuhi, baru boleh menuntut hak. Itu yang selalu diajarkan sama Papa ke aku sedari dulu.” Sambil mengatakan itu, Segara bergerak maju. Perlahan tapi pasti, dia meraih tubuh Lana, menempatkan telapak tangan besarnya di punggung sempit istrinya sebelum membawa tubuh mereka menyatu. “Kewajiban aku belum penuh, jadi aku nggak pantes nuntut hak apa pun.” Ia melanjutkan setelah menyandarkan dagunya dengan nyaman di pundak Lana.


“Terus, kapan rencananya kamu mau penuhin kewajiban kamu?” Lana bergurau. Di dalam pelukan Segara yang hangat, ia bisa mengendus aroma musk yang biasanya hanya terendus samar karena jarak mereka tidak pernah sedekat ini. Aromanya yang menenangkan tanpa sadar membuat Lana memejamkan mata dan sedikit meremas bagian belakang baju tidur yang Segara kenakan.


“Jawaban paling ngeselin sedunia.” Lana memprotes, tapi bibirnya malah tersenyum dan lengannya makin erat merengkuh tubuh Segara. “Parfum kamu baunya enak, Ga.” Imbuhnya, mengomentari aroma parfum yang memang sejak tadi sudah menyita begitu banyak perhatiannya.


“Oh, ya?”


Di dalam pelukan Segara, Lana mengangguk. “Mirip punya papaku.”


“Wah,” usai melontarkan satu kata tak bermakna itu, Segara menarik dirinya secara tiba-tiba, membuat Lana melenguh kecewa karena ia sedang konsentrasi menyesap aroma tubuh Segara yang candu. “Pantesan dari tadi kamu endus terus, ternyata karena mirip sama aroma papamu?”


Dengan polosnya, Lana mengangguk. “Emang nggak boleh, ya?”


“Bukan masalah nggak boleh.”


“Terus?”

__ADS_1


“Ya aku pikir kamu betah dipeluk sama aku karena emang itu adalah aku, bukan karena aroma parfum aku mirip sama punya papamu.”


Tak disangka-sangka, Lana malah tergelak.


“Apanya yang lucu?” Segara kebingungan dan sewot di saat yang bersamaan. “Aku lagi serius.”


“Bercanda, Ga.” Katai saja gila atau mungkin tidak tahu diri, Lana tidak peduli. Entah hilang ke mana rasa malunya ketika dia kembali menghambur ke dalam pelukan Segara, menyasar leher suaminya untuk bisa menyesap aroma memabukkan itu lebih banyak. “Ini aroma paling enak yang pernah aku cium selama hidup. Aroma papaku nggak kayak gini, lebih strong khas aroma parfum bapak-bapak.”


“Biar apa bercanda begitu?” meski mulai merasa geli karena hidung mancung Lana masih mengendus lehernya dengan leluasa, Segara tidak berusaha menghindar. Malahan, dia melingkarkan kedua lengan di pinggang ramping Lana, membawa tubuh mereka lebih dekat.


“Biar dramatis. Biar kesannya kayak kamu ngingetin aku ke papa aku, terus aku jadi punya alasan buat ndusel terus ke kamu?”


“Kamu kebanyakan nonton drama.”


Lana tergelak lagi. Entah sudah berapa kali ia tergelak hari ini, dan hampir sebagian besar penyebabnya adalah celetukan-celetukan yang keluar dari bibir Segara.


“Tapi jujur, parfum kamu aromanya emang enak banget.” Ujar Lana jujur, lalu ia menjauhkan wajahnya dari leher Segara, beralih menatap lekat manik suaminya. “Ngaku, ini tuh salah satu senjata kamu buat ngegaet anak gadis orang, ya?”


Segara tidak menjawab, malah fokus memaku tatap pada Lana yang entah kenapa kelihatan beribu kali lipat lebih cantik daripada biasanya.


Ditatap begitu membuat Lana yang awalnya masih cengengesan seketika menciut. Apakah dia barusan salah berbicara sehingga menyinggung perasaan Segara?


“Ga—“


“Sssst....” Segara memotong, sekonyong-konyong meletakkan satu jari telunjuk di belah bibir Lana untuk membuat perempuan itu diam. “Diam dulu, aku lagi mikir.”


“Mikir apa?” pertanyaan itu hanya Lana teriakkan di dalam kepala sebab jari panjang Segara masih mengunci bibirnya.


Bermenit-menit, tidak ada suara yang keluar dari bibir Segara. Pun jari lelaki itu yang masih enggan berpindah dari bibir ranum Lana yang masih tertinggal jejak pulasan liptint rasa anggur.


Sampai akhirnya, Segara merasa mantap pada apa yang dia pikirkan dan memilih untuk menyuarakannya lebih cepat sebelum keyakinan itu hilang lagi nantinya.


“Lana,” ia memanggil pelan.


“Hmmm?”

__ADS_1


“Kamu mau minta ‘jatah’ kamu, nggak?”


Bersambung


__ADS_2