Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
TIGA BELAS


__ADS_3

Setelah menyuapkan sendok terakhir ke mulut Mikha, Segara bangkit dari meja makan. Dia membawa serta tiga piring kosong ke wastafel, diikuti Arkana yang membantu membawa gelas dan beberapa alat makan lain yang kotor.


Di kursi kecilnya di meja makan, Mikha asyik mengunyah buah stroberi yang dia comot dari dalam kulkas. Dahinya mengernyit lucu tatlaka rasa asam dari stroberi menyapa indera pengecapnya. Tapi, bocah itu tidak menyerah hanya karena stroberi yang dia makan terasa asam, dia tetap mengunyahnya sampai habis.


Kembali pada Segara yang kini sibuk menggerakkan tangannya menyapukan sabun ke atas piring-piring kotor. Mengabaikan eksistensi Arkana yang berdiri di sampingnya dengan pinggang bersandar di konter. Mata lelaki itu fokus memperhatikan Mikha di meja makan.


"Mikha mirip banget sama Kak Ren." Ucap Arkana yang tidak dijawab oleh Segara, ia hanya mengamini perkataan adik iparnya itu di dalam hati.


"Dunia brengsek banget ya, Ga. Anak sekecil itu harus tumbuh tanpa ibunya."


Segara masih tidak menyahut. Kini ia sibuk membilas piring-piring yang sudah terkena sabun kemudian meletakkannya ke rak di sebelah wastafel.


"Dulu, Kak Ren sering banget bilang sama gue kalau cita-cita dia itu cuma pengin jadi ibu. Dia pengin ngerasain gimana rasanya ngelahirin dan ngurus anaknya sendiri. You know lah, kenapa."


Karena sejak masih sangat muda, Karenina udah nggak merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Segara menyahuti dalam hati.

__ADS_1


"Tapi baru aja dia senang karena akhirnya berhasil jadi ibu, Tuhan malah panggil dia duluan. Padahal, waktu itu Kak Ren kedengarannya happy banget waktu ngabarin gue kalau Mikha udah lahir." Arkana tersenyum miris. Kenangan manisnya bersama Karenina kini tidak lagi hanya mendatangkan kehangatan, tapi juga kepedihan yang terasa mencekik.


"Empat tahun, Ga. Empat tahun dan kita masih belum tahu kebenarannya." Kini, Arkana menolehkan kepala, hanya untuk menemukan Segara diam mematung di depan wastafel. Tatapannya jatuh pada gelembung sabun sisa kegiatannya mencuci piring, seolah gelembung-gelembung bening itu begitu menarik hingga ia enggan mengalihkan tatapannya dari sana.


Detik demi detik berlalu hanya diisi keheningan. Segara masih tidak beranjak, pun dengan Arkana yang masih pada posisinya dan kini tidak punya apapun lagi untuk dikatakan. Sebenarnya ada banyak hal yang masih mengganggu pikirannya, tapi tidak satupun berhasil keluar dari belah bibirnya hingga yang bisa lelaki itu lakukan hanya menghela napas berulang-ulang kali.


Masih di meja makan, ketika stroberi hasil jarahannya habis dilahap, Mikha mulai mencurahkan atensinya pada dua orang laki-laki dewasa yang sejak tadi saling bicara dari jarak yang cukup jauh darinya. Dia masih terlalu kecil untuk memahami apa yang sedang ayah dan omnya itu diskusikan, tapi lewat tatapan mata keduanya yang redup, Mikha tahu ada kesedihan yang berusaha dipendam sedalam mungkin agar ia tidak melihatnya.


"Daddy." Panggilnya, membuat ayahnya membalikkan badan dan sontak menatap ke arahnya dengan seulas senyum tipis yang terkesan dipaksakan.


"Om juga mau dicium dong." Sela Arkana, menyodorkan pipinya untuk mendapat giliran dicium oleh Mikha.


Namun, alih-alih mencium Arkana, Mikha justru menggerakkan tangan kecilnya untuk mencubit pipi tirus Arkana sehingga membuat lelaki itu memekik kesakitan.


"Om minta cium, bukan cubit!" kesalnya, tangannya bergerak pelan mengusap pipinya yang memerah karena ulah Mikha.

__ADS_1


"Kata Daddy, Mikha nggak boleh sembarangan cium orang." Kata Mikha.


Segara hanya terkekeh mendengar penuturan Mikha, sedangkan Arkana kembali mencebik dan masih terus mengusap pipinya serta mata yang melotot ke arah Mikha.


Lalu, sebelum Arkana melancarkan protes apapun lagi, Segara beranjak dari sana. Dia bawa Mikha yang ada di dalam gendongannya menjauh dari Arkana yang kini sibuk mendumal. Diabaikannya ocehan Arkana yang masih terdengar hingga saat dia sampai di tangga, bersiap naik ke lantai dua.


"Daddy," bisik Mikha.


Segara menghentikan langkahnya sebentar, hanya untuk mendengarkan kalimat apa yang akan Mikha ucapkan kepadanya.


"I love you."


Dan ketika kalimat itu keluar dari bibir kecil Mikha, Segara seolah mendapat kesempatan untuk memulai kembali hidupnya yang porak-poranda. Dia sering kali terlalu fokus pada rasa sedih atas kehilangan Karenina, sehingga lupa bahwa hadirnya Mikha adalah anugerah lain yang berharga.


Maka, dengan senyum yang mengembang, Segara menjawab. "Daddy love you too."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2