
Langit sudah sepenuhnya gelap ketika Lana menggandeng Mikha menuju gerbang depan. Anak-anak lain sudah dijemput sejak satu jam yang lalu, tapi karena Grace telah memberitahunya bahwa Mikha akan dijemput satu jam lebih telat daripada teman-temannya yang lain, maka ia hanya bisa menganggukkan kepala dan menurut ketika Grace menitipkan Mikha kepadanya.
Semua staf sudah pulang, Grace juga pamit undur diri tiga jam lebih awal karena ada urusan lain yang lebih mendesak untuk dikerjakan. Jadilah di daycare ini hanya tersisa dirinya, Mikha dan dua petugas keamanan yang baru saja berganti shift dengan dua petugas keamanan yang sebelumnya.
Lana mengajak Mikha duduk di bangku tunggu di teras depan bangunan daycare. Bocah itu menurut, duduk anteng sembari mengunyah cookies yang ia berikan sebelumnya. Berbeda dengan anak-anak kebanyakan yang akan duduk dengan tidak sabar jika orang tua mereka telat menjemput, Mikha tampak terlalu tenang. Gadis kecil itu bahkan sama sekali tidak cerewet menanyakan kapan ayahnya akan datang menjemput dan hanya duduk diam, menunggu dengan sabar.
Seharian ini, Mikha juga tidak banyak bertingkah. Dia aktif dan ceria, tapi keaktifan dan keceriaan itu anehnya sama sekali tidak membuatnya sakit kepala. Entah kenapa, Mikha tampak seperti pandai mengendalikan diri. Ia tidak ribut dengan teman yang lain ketika berebut mainan. Dengan senyum yang tersungging lebar, anak itu akan mengalah dan membiarkan temannya bermain lebih dulu sebelum dia. Mikha juga kedapatan beberapa kali meminjamkan mainan pribadi yang dia bawa dari rumah, tak keberatan saat mainan itu dioper dari satu teman ke teman yang lain.
Kelana merasa, Mikha terlalu dewasa untuk anak seusianya.
Entah sudah berapa belas menit yang mereka lalui, tapi ayah Mikha sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehadirannya. Lana juga tidak bisa berbuat banyak karena Grace tidak memberinya nomor telepon yang bisa dihubungi. Tadi sewaktu pamit undur diri, wanita itu tampak terburu-buru sehingga Lana juga tidak punya kesempatan untuk bertanya ini-itu.
Kini, Lana hanya bisa pasrah menemani Mikha sampai anak ini dijemput. Yang entah sampai kapan.
"Miss,"
Lana menoleh ke arah Mikha kala suara kecil nan murni itu mengalunkan namanya. Ia tersenyum tipis saat mendapati Mikha tengah menatapnya dengan mata bulatnya yang masih tampak bersemangat.
__ADS_1
"Kenapa, Mikha?" tanyanya. Jemarinya bergerak pelan mengusap remahan cookies yang mengotori sudut bibir Mikha.
"Maaf, ya." Kata Mikha tiba-tiba, membuat Lana mengerutkan keningnya. Kenapa anak ini tiba-tiba minta maaf kepadanya? Padahal seharian ini Mikha sudah menjadi good girl yang tidak merepotkan orang lain.
"Maaf untuk apa?"
"Karena Daddy telat jemput. Miss harusnya udah pulang seperti yang lain, tapi gara-gara Daddy telat jemput, Miss jadi ikut telat pulangnya."
Lana betul-betul kehabisan kata-kata saat mendengar penuturan Mikha. Bahkan dari caranya bicara saja, Mikha tidak tampak seperti anak berusia 4 tahun pada umumnya. Sisi-sisi Mikha yang tampak lebih dewasa dari umurnya mulai mengundang banyak pertanyaan ke kepala Lana, tentang sosok seperti apa orang tua Mikha hingga mereka bisa mendidik Mikha menjadi anak yang sedewasa ini.
Kemudian tidak ada lagi percakapan yang terjadi. Mikha tampak menunduk, sibuk menatapi sepasang sepatu yang membungkus kaki-kaki kecilnya yang kini diayun-ayunkan. Sedangkan Lana melayangkan pandangan ke gerbang depan, pada dua sosok petugas keamanan yang berdiri tegap dengan pandangan yang senantiasa waspada.
Lalu pandangannya beralih, sedikit mendongak untuk menatapi langit yang tampak sepi tanpa taburan bintang-bintang. Angin berembus cukup kencang ketika Lana memutuskan untuk berdiri, bergerak sedikit lebih dekat ke halaman depan ketika aroma hujan mampir ke indera penciumannya.
Gurat cemas tercetak jelas di wajahnya kala di tengah pekatnya langit di atas sana, kilat tiba-tiba datang menyambar, disusul guntur yang menggelegar yang membuatnya yakin hujan akan bertandang sebentar lagi.
Lana menggigit bibir bawahnya untuk meredam kecemasan kala tetes-tetes air hujan mulai berjatuhan dan dalam sekejap berubah menjadi hujan yang deras. Ia ingin segera berbalik ke arah Mikha, berniat membawa anak itu masuk kembali ke dalam gedung karena angin mulai berembus lebih kencang dan dingin menyergap dengan cepat.
__ADS_1
Namun, ia tidak melakukannya. Ia malah termenung di tempatnya berdiri, sibuk meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa hujan deras disertai petir bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan lagi sekarang. Sudah empat tahun, seharusnya ia sudah terbiasa dengan situasi ini. Empat tahun seharusnya cukup untuk membuat kenangan buruk itu tidak lagi menemukan celah untuk membuatnya menggigil ketakutan.
Tapi usahanya sia-sia saat petir kembali menyambar dengan suara yang lebih menggelegar. Lana kalah, ia jatuh tersungkur ke lantai, sibuk menutup mata dan telinga sembari berusaha keras mengendalikan detak jantungnya yang menggila. Kilasan memori dari empat tahun lalu kembali menyapa, berjejalan masuk ke dalam kepala hingga membuatnya pening bukan main.
Hujan, petir, suara decitan ban mobil, bau anyir darah dan suara sirine ambulans silih berganti datang ke dalam ingatannya, membuat pening di kepala kian memburuk.
Tubuh Lana bergetar hebat. Peluh bercucuran mengaliri pelipisnya dan perutnya mulai terasa mual. Kepalanya semakin pening, sampai rasanya ia akan kehilangan kesadaran sebentar lagi.
Dan dia mungkin betulan akan pingsan kalau saja bahunya tidak dipegang erat oleh tangan-tangan besar seseorang yang ia tidak tahu siapa. Lana terlalu ketakutan, tidak berani membuka mata untuk memeriksa siapa yang sedang berusaha menenangkannya kini.
Di tengah kekalutan, Lana masih bisa mendengar sayup suara Mikha yang terasa dekat di telinganya. Berkat suara jernih itu, ia jadi punya sedikit keberanian untuk membuka mata.
Dan ketika matanya terbuka, Lana tidak tahu mengapa tangisnya pecah seketika saat mendapati seorang laki-laki asing yang berjongkok di hadapannya, memegang bahunya erat sembari melemparkan tatapan yang terlalu sulit untuk diterjemahkan. Di samping laki-laki itu, Mikha ikut berjongkok, menatapnya kahwatir sembari tangan kecilnya bergerak pelan mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi pualamnya.
Kemudian, Lana tidak ingat apa lagi yang terjadi sebab gelap betulan menyapa. Ia jatuh pingsan, dalam pelukan seorang laki-laki asing tak dikenal.
Bersambung
__ADS_1