Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
DELAPAN PULUH


__ADS_3

Suara langkah yang bersahutan menggema memenuhi ruang bawah tanah yang gelap dan berdebu, di mana para penculik disekap untuk dimintai keterangan perihal siapa dalang sebenarnya di balik peristiwa yang menimpa Lana serta di mana keberadaan Pamela.


Pintu besi berderit terbuka, sedikit cahaya dari luar menyelusup masuk, mengiringi langkah tegap Arkana yang tampil bak ksatria perang, begitu gagah demi memenangkan pertarungan.


Dalam gelap yang mengerubungi makin pekat, tatapan lelaki itu tampak begitu tajam, tertuju lurus pada salah seorang penculik yang kedua tangannya diborgol ke atas. Wajah penculik itu babak belur. Satu matanya bengkak dan membiru, sudah tidak bisa terbuka dengan benar. Sudut bibirnya dihiasi luka sobek yang mengaga, mengalirkan darah segar berbau anyir menyebar ke mana-mana.


Semakin dekat langkahnya, semakin tatap pula Arkana menatap. Gundukan emosi yang bertumpuk di dadanya seolah sedang diterpa guncangan hebat, siap runtuh dalam sekejap, mengubur hidup-hidup manusia-manusia laknat yang telah berani menyentuh keluarganya.


“Siapa orangnya?” tanya Arkana, hanya sedetik setelah dia berjongkok di hadapan sang penculik yang tak berdaya.


Sama seperti sebelumnya, lelaki bertubuh kekar di hadapan Arkana itu masih enggan buka suara. Seakan bibirnya memang terlah terkunci rapat dan tidak ada siapa pun bisa membukanya.


Padahal, Arkana tidak akan sesabar itu menunggu. Dia bukan orang baik dengan kondisi hati yang bersih. Bahkan jika harus, dia bisa saja menghabisi lelaki di hadapannya ini dengan tangannya sendiri.


“Lo tahu? Bajingan itu bahkan nggak akan peduli apakah lo akan hidup atau mati. Jadi, kenapa lo harus seloyal ini sama dia?” Arkana menunduk, hanya untuk kembali mendongak sambil menyuguhkan tatapan dingin yang dapat membekukan segalanya dalam sekejap. “Better buka mulut lo sekarang, atau gue akan bikin luka robek di sana makin lebar.” Ia sembari menunjuk luka robek di sudut bibir sang lelaki. Bukan menggunakan tangan, melainkan sebuah belati yang memang telah dia genggam sejak tadi.


Namun seperti bisu, lelaki di hadapan Arkana itu masih tidak kunjung buka suara. Seolah mati pun bukan masalah besar untuknya, asalkan dia masih bisa terus setia kepada Tuannya.

__ADS_1


“Oh,” Arkana tiba-tiba terkekeh. Lama-kelamaan, kekehan itu berubah menjadi tawa mengerikan. Sebuah gelak tawa yang bahkan bisa membuat Dharma dan beberapa anak buahnya menarik langkah mundur, bergidik ngeri karena baru pertama kali melihat sisi lain dari diri seorang Arkana.


Arkana bangkit. Belati di tangan di lempar ke sembarang arah, menimbulkan suara nyaring yang terdengar ngilu di telinga. Kemudian, ia mengeluarkan ponsel, menggulir layar cukup serius hingga ia berhasil menemukan apa yang dicari dan kembali tersenyum sadis.


“Nyawa lo mungkin nggak penting buat diri lo sendiri, tapi nyawa orang ini jelas akan lo perjuangkan sampai mati, kan?” usai bicara, Arkana kembali berjongkok. Ia bawa ponselnya mendekat ke arah wajah lelaki babak belur di depannya.


Sebuah foto yang menampilkan seorang perempuan bersama bayi dalam gendongan tersuguh di depan wajah si penculik. Senyum Arkana semakin terkembang lebar tatkala dia menyadari tubuh lelaki di depannya bergetar hebat. Aura ketakutan menjalar ke mana-mana, berbanding terbalik dengan perasaan Arkana yang makin meletup-letup dibuatnya.


“Lo nyari gara-gara sama orang yang salah, bajingan. Nggak susah buat gue nyari tahu tentang keluarga lo. Anak dan istri lo cuma bagian kecil. Gue bahkan tahu di mana orang tua lo tinggal, di mana adik bungsu lo yang masih SMP sekolah, di mana kakak perempuan lo yang lagi sakit kanker menjalani pengobatan. Gue tahu semuanya, dan bukan hal yang sulit juga buat gue nyingkirin mereka semua tanpa jejak. Gue bisa bikin seolah-olah mereka mati karena sebuah musibah, bukan atas campur tangan manusia lain.” Puas mengoceh, Arkana memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.


Seperti seorang psikopat, Arkana kembali tersenyum jahat. “Pilihan ada di tangan lo. Mau tetap bungkam sampai mati, dan bikin seluruh anggota keluarga lo ikut terseret ke neraka, atau buka mulut untuk setidaknya menyelamatkan nyawa mereka.”


Arkana kembali terkekeh, “Iya, memang.” Ia mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju. Ada jeda sebentar sebelum dia kembali bersuara, menyetel tatapannya kembali menjadi dingin seperti semula. “Tapi setidaknya, bukankah lo tetap berusaha menyelamatkan nyawa mereka? Siapa tahu aja, dengan lo mau jujur, gue bisa berbaik hati untuk jagain mereka dari sentuhan bos lo yang jahanam itu?”


Si lelaki terdiam, berpikir keras tentang langkah apa yang harus dia ambil. Ini bagai buah simalakama, tetapi dia juga tidak bisa pasrah begitu saja tanpa usaha.


“Gue nggak ada waktu buat nungguin lo selesai mikir.” Arkana menginterupsi dengan tegas. Membuat lelaki itu kembali mengangkat kepala menatapnya takut-takut. “Kasih jawaban ke gue sekarang, supaya gue juga bisa ambil keputusan.”

__ADS_1


Terdesak, lelaki itu kemudian menoleh ke tempat di mana teman-teman berada. Keadaan mereka tidak jauh berbeda. Sama-sama babak belur tak berdaya. Satu persatu anggukan samar muncul dari mereka, terjadi dalam keadaan yang begitu pasrah.


Akhirnya, kepasrahan itu pun turut menyebar kepadanya. Hingga kemudian dia setuju untuk menyebut satu nama. Sebuah nama yang seketika membuat Arkana mengepalkan tangan erat-erat dengan gigi yang bergemeletuk di dalam rongga mulut.


“Ulangi sekali lagi. Siapa namanya?” titah Arkana.


Si lelaki kembali menyebut nama bosnya. Lalu dalam sekejap saja, persis setelah bibirnya kembali terkatup, Arkana bangkit dan berlarian meninggalkan ruang bawah tanah yang baunya sudah tidak keruan. Keringat, debu, darah. Semuanya bercampur menjadi satu, mengerikan.


Dharma dan beberapa anak buahnya berlari menyusul Arkana, beberapa lagi dibiarkan tetap berjaga di sana untuk memastikan tawanan mereka tidak berbuat macam-macam.


“Bajingan.” Adalah umpatan terakhir yang keluar dari bibir Arkana sebelum ia melajukan mobilnya dengan ugal-ugalan.


...****************...


Pintu terbuka, merebut atensi Pamela yang semula sedang merenung memikirkan bagaimana nasib Kelana. Ia menoleh cepat, dengan kondisi jantung yang berdegup sangat kencang. Hanya untuk dibuat diam seribu bahasa ketika seseorang yang muncul dari baliknya adalah sosok yang sama sekali tidak dia duga.


“Apa-apaan ini?” tanyanya, masih tidak mengerti harus mengartikan kehadiran orang itu dengan kesimpulan macam apa. Otaknya mendadak beku, ia tidak lagi bisa berpikir dengan baik. Terlebih saat orang itu berjalan mendekat dan langsung memeluk tubuh Pamela sangat erat.

__ADS_1


“I’m sorry.” Ucap sosok itu, yang sayangnya malah membuat Pamela semakin membeku seraya membatin di dalam hati, “Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”


__ADS_2