Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
TIGA PULUH ENAM


__ADS_3

“Menikah?!” di ujung telepon, Pamela terdengar meninggikan suaranya.


Sementara di balik meja kerjanya, Segara hanya menjawab iya seraya menganggukkan kepala. Ia meletakkan kembali berkas yang selesai dibubuhi tanda tangan, lantas bangkit dari kursi dan berjalan menuju jendela kaca besar yang ada di belakangnya. Pandangannya menerawang jauh ke arah jalanan yang basah oleh tetes air hujan. Langit di atas masih berwarna kelabu, meski sudah tidak terhitung berapa banyak air hujan yang jatuh sejak 1 jam yang lalu.


Di seberang, hening menyelimuti Pamela. Perempuan itu tak kunjung bersuara selama hampir 1 menit setelahnya. Segara sendiri tidak berniat untuk menginterupsi, membiarkan Pamela menemukan jalannya sendiri untuk kembali dari keterkejutan atas kabar yang dia bagikan kali ini.


Sebenarnya, Segara sudah berniat untuk memberitahukan perihal pernikahannya dengan Lana kepada Pamela secara langsung, bertatap muka. Tetapi berhubung mereka sama-sama sibuk dan rumor tentang hubungan mereka masih santer terdengar di lingkungan perusahaan, ia akhirnya tak punya pilihan selain menelepon perempuan itu di sela-sela kesibukannya memeriksa berkas kontrak. Karena, pernikahan itu sendiri akan digelar dalam waktu dekat—minggu depan.


“Kok mendadak?” tanya Pamela, hampir seperti berbisik. “Kayaknya aku nggak pernah ngeliat kamu jalan sama cewek, deh, Ga. Siapa orangnya? Aku kenal?”


Segara menarik napas dalam-dalam, selama beberapa detik memejamkan mata sebelum membukanya kembali dan menjawab. “Ada, kamu nggak kenal siapa orangnya.” Hanya sebatas itu. Sebab dia memang tidak berniat memberitahu Pamela secara detail tentang siapa Lana, juga alasan mengapa pernikahan mereka diadakan terlalu tiba-tiba. Ia pikir, semakin sedikit yang tahu soal alasan sebenarnya, itu akan lebih baik. Rahasia itu hanya akan dia simpan di antara dirinya, Arkana dan juga Lana. Bahkan Papa dan Mama pun tidak akan dia biarkan tahu.


“Aku udah siapin dress buat kamu pakai ke acara pemberkatan nanti, Mel. Mungkin besok atau lusa akan di antarkan ke kamu. Oh, aku juga ada siapkan kemeja dan Jas buat ayahmu.” Ungkap Segara. Ia memang secara khusus menyiapkan pakaian untuk tamu undangan yang tidak banyak, hanya kerabat terdekat yang benar-benar bisa dipercaya.


“Resepsi? Kapan resepsinya?”


“Nggak ada.” Segara memindahkan ponsel yang semula menempel di telinga kiri ke telinga kanannya. Satu tangannya terulur, menyentuh kaca di hadapannya yang berembun terkena tampias air hujan. “Calon istriku nggak mau diadakan pesta, jadi cuma acara pemberkatan aja di gereja, itupun tamu yang diundang nggak banyak.” Selesai bicara, Segara meringis. Agak aneh rasanya ketika dia harus menyebutkan kata calon istri di saat ia tidak benar-benar ingin mengakuinya.


“Oh, ya? Calon istrimu itu orang yang seperti apa? Sesederhana itu sampai nggak mau diadakan pesta resepsi?”


Entahlah. Segara sendiri tidak tahu kalau harus disuruh mendeskripsikan seorang Kelana Larasati. Mereka baru saling mengenal, sampai saat ini pun, dia—lagi dan lagi—masih sering salah mengingat nama perempuan itu. Yang jelas, ketika ia bertanya kepada Lana tentang pernikahan seperti apa yang ingin perempuan itu wujudkan, Lana hanya menjawab mereka cukup mengadakan pemberkatan di geraja. Tidak perlu ada pesta, tidak perlu mengundang banyak orang karena toh Lana tidak memiliki siapa-siapa. Yeah, Segara baru tahu kalau ternyata Lana adalah yatim piatu.


“Ga?”


“Dia tahu posisi aku lagi nggak memungkinkan untuk bikin pesta perayaan, jadinya dia mengalah dengan hanya mengadakan acara pemberkatan.” Begitulah akhirnya Segara menjawab rasa penasaran Pamela. Menurutnya, jawaban seperti itu lebih mudah untuk membuat Pamela tidak lagi menyodorkan pertanyaan lain yang membingungkan dirinya untuk mencari jawaban.


“Ah ... I see. Oke, deh, nanti aku datang.”


“Makasih, Mel.”


“No prob. Ya udah, aku kelarin kerjaan aku dulu, nanti kita sambung lagi. Bye, Ga!”

__ADS_1


“Bye, Mel.”


Dan telepon ditutup. Segera kembali menyakui ponselnya, kemudian dia bersedekap, menatap rintik hujan yang perlahan berubah menjadi gerimis tipis yang lebih bersahabat. Sesaat sebelum ia memasukkan ponsel, Segara sempat melihat jam, sudah pukul 6 sore. Harusnya, Arkana sudah dalam perjalanan ke sini bersama Lana dan Mikha. Benar, dia telah meminta pemuda itu untuk datang menjemput Lana dan Mikha di day care, ini hari terakhir mereka di sana.


Tapi, kenapa sampai sekarang mereka belum kunjung tiba? Apa karena hujan, sehingga jalanan menjadi lebih macet ketimbang biasanya?


Baru saja pertanyaan itu selesai dia gaungkan di kepala, pintu di belakangnya terbuka, memunculkan sosok Arkana yang hanya menyebulkan kepalanya saja.


“Ayo pulang. Miss Lana sama Mikha udah nungguin di basement.” Ujar Arkana.


Segara berjalan kembali ke meja kerjanya, membereskan berkas yang berserak dan menatanya berdasarkan kategori yang hanya dimengerti olehnya sendiri. Setelah itu, dia menyambar jas yang tersampir di bahu kursi lalu berjalan menghampiri Arkana yang—masih saja menyembulkan kepalanya saja. Entah kenapa pemuda itu tidak sekalian masuk saja.


“Lo tinggalin mereka di basement emang nggak apa-apa?” Segara bertanya setelah dia sampai di hadapan Arkana.


Pemuda itu menegakkan tubuhnya, sedikit menggeser posisi berdiri agar Segara bisa berjalan keluar. “Ya emang kenapa, sih? Emangnya lo mau gue bawa Mikha sama Miss Lana ke sini, terus bikin karyawan lo pada heboh? Mau?”


Segara tidak menjawab, malah ngeloyor begitu saja mendahului Arkana yang sontak bersungut-sungut di belakangnya.


“Lelet, ah.” Segara mencibir, langkah lebarnya terpaksa berhenti sebelum mencapai depan lift. Ia berbalik, memicing ke arah Arkana yang masih saja cemberut. “Nggak usah cemberut, nggak cakep.”


“Bodo amat.” Gerutu Arkana. Sudah ditunggu, dia malah dengan tidak tahu dirinya berjalan mendahului Segara, sekonyong-konyong menekan tombol lift yang kini masih berada 3 lantai di atas lantai mereka.


Segara hanya menggelengkan kepala pelan, bergegas menyusul Arkana yang sudah berdiri gelisah menunggu pintu lift terbuka.


Saat pintu lift terbuka, keadaannya ternyata hampir penuh. Segara tentu tidak akan bersedia untuk berdesak-desakan di dalam lift seperti itu, Arkana pun tidak, jadi mereka berdua secara serempak melangkah mundur, membiarkan pintu lift kembali tertutup.


“Lewat tangga darurat aja.” Usul Segara. Itu bukan ide bagus menurut Arkana, jadi pemuda itu menggeleng.


“Lo aja, gue ogah.”


Jangan pikir Segara akan mengalah dan kembali berdiri dengan sabar menunggu lift yang lain datang. Sebab katanya, waktu adalah uang. Maka tanpa mengatakan apapun, dia berjalan meninggalkan Arkana, melangkah menuju tangga darurat yang ada di pojok kanan lorong.

__ADS_1


Arkana jelas kesal. Sungguh, dia tidak sedang ingin berjalan menuruni tangga darurat yang—banyak sekali. Tapi dia tidak punya pilihan, menunggu lift selanjutnya datang sepertinya akan memakan waktu lebih lama. Maka sambil bersungut-sungut, dia menyusul Segara yang tubuhnya sudah hilang ditelan pintu.


“Papa Damian jadi pulang besok?” tanya Arkana setelah berhasil menyejajari langkah Segara. Sialannya, lampu di sepanjang tangga darurat tidak menyala, membuatnya terpaksa mengeluarkan ponsel untuk membantu menerangi langkah mereka.


“Jadi. Semua berkas kepulangannya udah diurus, besok tinggal pulang.” Segara menjawab singkat. Tidak seperti Arkana yang melangkah sambil banyak menggerutu tentang banyak hal, lelaki itu tampak tenang. Langkah yang dia ayunkan pun terlihat teratur, tidak terburu-buru, tapi juga tidak lamban seperti siput.


“Tapi kondisinya udah beneran oke?” tanya Arkana lagi ketika kaki mereka akhirnya sampai di basement. Flash hp dimatikan, benda pipih itu dia masukkan kembali ke dalam saku celana. “Udah bisa aktivitas kayak bisasa?”


“Udah oke, tapi belum fit banget buat balik ke kantor.”


“Berarti lo masih harus gantiin tugasnya, lebih lama lagi?”


Segara mengangguk, lalu tersenyum miris. “Mau nggak mau.” Ucapnya, lalu dia berderap menghampiri mobil Arkana yang parkir sendirian.


“Kunci mobil, Ar.” Segara mengulurkan tangan kepada Arkana, sementara si pemuda yang dimintai kunci itu malah terbengong-bengong tak mengerti. Melihat itu, Segara pun berdecak. “Gue aja yang nyetir.”


Barulah Arkana ber-oh begitu panjang, lantas menyurukkan kunci mobil kepada Segara. Si lelaki menerimanya, langsung berlarian menuju sisi kemudi dan melompat naik.


“Daddy!” sambutan meriah datang dari Mikha yang duduk di kursi penumpang belakang bersama Lana. Raut wajah gadis itu tampak berseri-seri, senyum mengembang, seperti baru saja ada hal baik yang membuatnya begitu bahagia.


“Halo, Baby.” Segara balik menyapa. Ia beringsut sebentar, hanya untuk mengacak rambut Mikha dengan gemas, lalu kembali ke posisi duduk yang benar setelah sempat melirik Lana sekilas. “Gimana hari ini? Senang? Kamu udah pamitan juga sama Nala dan Leah?”


Mikha mengangguk semangat. “Senang! Mikha bilang sama Nala dan Leah kalau mereka boleh main ke rumah kita. Boleh, kan, Daddy?”


Segara melirik Lana melalui spion tengah, kemudian beralih kepada Mikha. “Iya, boleh.” Jawabnya. Lalu, setelah memastikan semua orang naik dan mengenakan sabuk pengaman, ia segera melajukan mobilnya.


Sepanjang perjalan pulang, yang terdengar hanyalah celotehan Mikha yang bercerita tentang banyak hal, juga Lana yang dengan senang hati menanggapinya. Di kursi penumpang depan, Arkana tidak bicara apapun, lebih tertarik menekuri ponselnya yang entah sedang menampilkan apa. Sementara Segara sendiri fokus menyetir, sesekali melirik Mikha dan Lana secara bergantian, ikut tersenyum saat keduanya menertawakan sesuatu.


Di saat seperti ini, lagi-lagi yang terpikirkan olehnya adalah Karenina. Andai-andainya muncul lagi. Andai-andai yang sebelumnya tidak pernah berani dia suarakan karena terlalu larut dalam kesedihan atas kehilangan istri tercinta. Kini, andai-andai itu seakan berteriak di dalam kepalanya, mengatakan; Andai dia adalah Karenina.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2