
Selepas subuh, Lana terbangun dari tidur, sedikit tersentak kala menemukan telapak tangan besar Segara menangkup miliknya yang berada di atas perut Mikhaela. Sepertinya, mereka secara tidak sengaja telah saling menyentuh dalam tidur ketika sama-sama berusaha memeluk Mikha.
Perlahan-lahan, Lana menarik tangannya, sedikit mungkin menimbulkan kegaduhan agar tidak membangunkan Segara dan Mikha yang masih terlelap. Kaki jenjang Lana kemudian diayunkan menuju kamar mandi, ia terdiam cukup lama di depan kaca di atas wastafel, memandangi pantulan dirinya sendiri. Puas melamun, ia menyalakan keran, menangkup air lantas membasuhkannya ke wajah untuk membantunya bangun lebih cepat. Tak lupa, ia juga mengambil sikat gigi dan odol, turut membersihkan giginya dengan teliti.
Selesai urusan di kamar mandi, Lana kembali ke kamar. Ia berjalan menuju lemari, hanya untuk mencomot sepotong kardigan berwarna cokelat tua untuk menghangatkan tubuhnya yang berbalut baju tidur. Setelahnya, ia mengambil dompet dan ponsel, lalu keluar dari dalam kamar dengan langkah yang mengendap-endap, masih berusaha agar tidak membuat kegaduhan.
Seluruh lampu di rumah itu dalam keadaan padam. Baik di dapur, ruang tengah, bahkan ruang tamu sekalipun. Lana tidak suka gelap, tetapi berhubung ini bukan rumahnya, jadi dia tidak bisa protes. Dengan sabar, dia menyalakan satu lampu di ruang tengah, hanya agar dia bisa berjalan dengan baik tanpa risiko tersandung. Menyalakan satu lampu ketika pagi sudah hampir menjelang seharusnya tidak akan membuat Segara keberatan, kan?
Langkah Lana terus terayun, sampai kini dia sudah berada di luar rumah dan sedang bersiap-siap untuk membuka pagar yang menjulang tinggi di hadapan. Untungnya, pagar besi itu tidak menimbulkan suara gaduh saat ia dorong ke kanan sehingga dia bisa meloloskan diri dengan mudah tanpa perasaan was-was.
Dari gerbang, Lana masih terus berjalan, menyusuri jalanan kompleks yang masih sepi hingga sampai ke pos jaga di gerbang depan. Ia menyempatkan diri melemparkan senyuman pada seorang satpam yang berjaga, lalu melipir keluar dari gerbang kompleks dan berhenti di pinggir jalan, menunggu ojek online yang sudah dia pesan selama perjalanannya kemari.
Sekitar 5 menit menunggu, ojek online yang dia pesan akhirnya tiba. Ia menghela napas lega karena pengemudi ojek online itu masih cukup muda dan motor yang dia gunakan adalah motor matic, bukan tipikal motor besar yang akan menyulitkannya untuk naik.
“Dengan Kak Lana, betul?” tanya pengemudi ojek online yang Lana perkirakan baru berusia awal 20-an tersebut.
Lana mengangguk seraya menyunggingkan senyum. Lalu helm yang disodorkan oleh pengemudi ojek online itu dia raih dan segera dikenakan. Setelah memastikan Lana naik dengan aman di jok belakang, motor pun melaju dalam kecepatan sedang.
Selama perjalanan, baik Lana maupun pengemudi ojek online itu tidak saling berbincang. Lana sendiri memang tipikal yang lebih banyak diam jika bertemu dengan orang asing, sementara si pengemudi ojek online sepertinya bukan tipikal yang pandai berbasa-basi juga.
Tujuan Lana pergi pagi-pagi buta begini adalah pasar tradisional yang jaraknya hanya 15 menit dari kompleks perumahan Segara. Ia hendak berbelanja, memenuhi kewajibannya sebagai ibu rumah tangga meskipun Segara tidak akan menuntutnya untuk melakukan apa-apa.
Motor berhenti melaju, Lana segera turun seraya merapatkan kardigan yang dia kenakan. Tak lupa, dia mengucapakan terima kasih kepada si pengemudi ojek online yang sudah mengantarkannya sampai ke tujuan dengan aman dan selamat.
Setelah itu, Lana melanjutkan langkah, ikut membaur dengan orang-orang yang sedang sibuk memilih belanjaan. Walaupun judulnya adalah pasr tradisional, tapi kondisi di sini jauh dari kata kumuh. Lantainya sudah dicor, kios-kios dibangun dengan pondasi tembok yang kokoh, bukan sekadar bangunan kayu yang akan rubuh jika terkena terpaan angin kencang. Kebersihannya juga terjaga, sampah-sampah dikumpulkan jauh dari lokasi kios sehingga tidak ada yang namanya bau tidak sedap. Kalau bau amis yang menguar dari daging dan ikan-ikan segar yang dijual sih, sudah biasa.
__ADS_1
Destinasi pertama yang Lana kunjungi adalah kios sayur-sayuran. Di sana, dia memilih beberapa macam sayuran hijau seperti brokoli, bayam dan kawan-kawan. Kemudian, dia bergeser lagi ke kios daging. Bergeser lagi ke kios bumbu dapur dan seterusnya sampai kini sudah ada tiga kantong belanjaan berukuran besar di tangan.
Agak kepayahan, namun Lana tetap mengayunkan langkahnya dengan riang. Sudah terbayang di kepalanya dia hendak memasak apa untuk menu sarapan pagi ini.
Berhubung belanjaan yang dia bawa cukup banyak, Lana akhirnya memutuskan untuk memesan taksi online, bukan lagi ojek seperti yang dia lakukan ketika berangkat tadi.
Taksi online yang dia pesan tiba hanya beberapa menit setelahnya. Pengemudi laki-laki sekitar usia 40-an dengan sigap membantu Lana memasukkan belanjaan ke dalam bagasi, lalu membukakan pintu penumpang sehingga Lana bisa duduk dengan nyaman.
Berbeda dengan pengemudi ojek online yang tadi, pengemudi taksi online yang ini berbicara lebih banyak. Mungkin karena sudah bapak-bapak, pengalamannya di jalan sudah lebih banyak sehingga ada saja pertanyaan yang dilontarkan kepada penumpang. Lana tidak keberatan untuk menjawab karena toh apa yang ditanyakan masih seputar hal-hal yang wajar, bukan tipikal pertanyaan yang sifatnya personal.
Ketika taksi berhenti melaju dan parkir di depan gerbang rumah Segara, matahari sudah mulai muncul sedikit dari ufuk timur. Lana kembali mengucapkan terima kasih kepada pengemudi taksi online yang berkenan membawakan belanjaannya sampai ke depan pagar. Lalu setelah taksi berlalu, Lana mengusung tiga kantong belanja yang lumayan berat itu sendirian.
Agak kesusahan sebenarnya ketika dia harus membuka pintu utama saat dua tangannya sedang dalam keadaan penuh, tapi Lana tetap mengusahakannya sehingga kini dia bisa berjalan bebas masuk ke dalam rumah.
Satu hal yang pertama kali Lana temukan ketika langkahnya mulai terayun menuju ruang tengah adalah keberadaan Segara, di mana lelaki itu sedang berjalan menuruni tangga dengan muka bantal dan rambut yang sedikit acak-acakan. Saat tatapan mereka bertemu, Lana melihat lelaki itu menghentikan langkah di anak tangga ketiga dari bawah.
Lalu saat Segara meneruskan langkahnya yang tertunda dan berjalan menghampirinya, barulah Lana merasa kakinya bisa digerakkan kembali.
Tanpa bicara apa-apa, tiga kantong belanja yang ada di tangan Lana direbut oleh Segara, dibawa ke dalam genggaman yang lebih kokoh dari milik yang perempuan.
“Biar saya aja, Pak.” Lana hendak merebut kembali kantong belanjaan itu, namun Segara menolak.
“Saya aja.” Ucap lelaki itu, lalu berjalan menuju dapur. Lana tidak punya pilihan selain mengekor, dengan penuh pengertian menekan saklar untuk menyalakan lampu dapur karena tangan Segara yang penuh tidak bisa melakukannya.
“Miss Lana ke pasar sendirian?” Segara bertanya setelah meletakkan tiga kantong belanjaan itu ke atas pantri. Ia lantas membalikkan badan, menatap Lana yang berdiri di dekat meja makan.
__ADS_1
Lana menjawab, “Iya.” Lalu berjalan ke arah pantri, dalam sekejap tenggelam dalam kegiatan memilah bahan makanan yang telah dia beli.
“Kenapa nggak bangunin saya supaya saya bisa antar Miss?”
“Nggak apa-apa, Pak, saya bisa sendiri.” Lana berhenti sejenak dari kegiatannya mengeluarkan bahan makanan dari dalam kantong, hanya untuk menoleh ke arah Segara seraya menyunggingkan senyum tipis. “Pak Segara butuh apa? Mau saya buatkan teh? Kopi? Atau—“
“Saya cuma mau ambil air putih.” Potong Segara, lalu dia berjalan menuju kulkas. Setelah mendapatkan air putih yang dia inginkan, dia kembali berjalan mendekati Lana. “Saya nggak minum teh atau kopi, jadi Miss nggak perlu repot-repot.” Imbuhnya.
Lana mengangguk mengerti. Oke, itu akan dia catat baik-baik di dalam kepala. Kemudian, Lana kembali melanjutkan kegiatannya, membiarkan Segara tetap berdiri di sisi tubuhnya seraya menenggak air putih miliknya.
Sesaat, hanya ada keheningan yang menyelimuti keduanya. Segara tak melepaskan pandangan dari Lana yang terlihat begitu cekatan membersihkan daging dan sayuran. Lalu sebelum dia semakin tenggelam dalam kegiatan tak berfaedah itu, Segara menarik diri kembali ke alam sadar.
Botol air mineral yang sudah setengah kosong Segara letakkan di atas meja makan, kemudian dia berjalan lebih dekat ke sisi Lana sambil menggulung lengan baju tidurnya hingga sebatas siku. “Miss Lana mau masak apa? Biar saja bantu.” Ucapnya. Itu bukan sebuah tawaran, tapi benar-benar sesuatu yang akan dia lakukan. Jadi dia tidak akan mengharap Lana berbasa-basi dengan mengatakan “Saya bisa sendiri.” seperti yang perempuan itu katakan sebelumnya.
“Brokoli chicken teriyaki dan sosis telur. Tapi kalau Pak Segara ada menu yang mau dimakan, saya bisa buatkan, asal bahan-bahannya tersedia, itu nggak masalah.”
“Kita masak sesuai yang Miss Lana mau aja.”
Mereka berdua pun akhirnya bekerja sama menyiapkan bahan-bahan yang hendak dimasak. Segara menyiangi sayuran, Lana menyiapkan bumbu. Pokoknya, dilihat secara kasat mata, mereka sudah tampak selayaknya sepasang suami istri pada umumnya.
Setidaknya, itulah yang terlihat di mata Arkana. Pemuda itu berdiri di pembatas antara ruang tengah dengan dapur, menyadarkan bahunya di dinging pembatas dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada dan senyum yang tipis yang lama-kelamaan kian melebar.
Mungkin kedengaran aneh, tapi dia merasa senang melihat Segara akhirnya bisa berinteraksi dengan orang lain, tidak melulu selalu menangisi kepergian Karenina yang sudah bertahun-tahun berlalu.
“Kak, please kasih restu supaya suami lo bisa jatuh cinta lagi. Dia berhak melanjutkan hidup, berhak bahagia dengan orang yang benar-benar bisa bikin dia jatuh cinta persis kayak dia jatuh cinta sama lo dulu.” Bisik Arkana dalam hati, lalu dia segera berlalu, membiarkan Segara menikmati waktunya bersama Lana. Membiarkan lelaki itu meresapi perasaannya sendiri, sampai nanti ia sadar bahwa cintanya masih tersisa banyak untuk diberikan kepada orang lain, tidak berhenti di Karenina seperti yang selalu ia katakan kepada semua orang.
__ADS_1
Bersambung