Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
DELAPAN PULUH SATU


__ADS_3

Astanu Wijaya. Nama yang terus-menerus Arkana ulang di dalam kepalanya selama ia dalam perjalanan menjemput Segara. Sudah tidak perlu ditanyakan seberapa besar emosi mengungkung dirinya. Sebab jika boleh, dia bahkan ingin membunuh tua bangka itu dengan tangannya sendiri.


Mati-matian ia dan Segara mencari tahu siapa dalang di balik segala kekacauan yang ada, lantas jawaban malah telah ada di depan mata mereka, tanpa sempat mereka sadari saking terlalu pandainya bajingan itu menyembunyikan diri.


Lampu lalu-lintas yang berkali-kali berubah warna sudah tidak lagi menjadi masalah bagi Arkana. Dalam kungkungan emosi yang tak terkira, ia menyetir mobilnya sudah tidak menggunakan logika. Salip kanan, salip kiri, memencet klakson sesuka hati. Ia bahkan tidak peduli jika seseorang akan mengejar lantas menggebuki dirinya karena telah berbuat onar di jalanan. Asalkan dia bisa tiba di tempat bajingan itu berada lebih cepat, mati pun dia rela.


Hiruk-pikuk yang dia lalui di jalanan membawa Arkana tiba juga di pelataran rumah sakit yang sepi. Dari kejauhan, bahkan sebelum mobilnya berhenti sempurna, sosok Segara sudah tampak berlarian keluar dari dalam rumah sakit. Wajahnya penuh dengan emosi, persis seperti milik Arkana saat ini.


“Lokasinya udah ketemu?” tanya lelaki itu, hanya sesaat setelah pintu mobil berhasil dibuka.


Arkana mengangguk, lantas kembali bersiap menginjak pedal gas setelah melihat Segara selesai memasang seatbelt.


“Lo yakin para bajingan itu nggak salah nyebut nama, kan?” di tengah hening yang sempat terjadi ketika mobil kembali bergabung dengan keramaian di jalan, Segara kembali memastikan.


Tidak hanya kali ini. Ia telah berkali-kali berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa telinganya masih berfungsi dengan baik.


Karena... bagaimana bisa Astanu Wijaya yang merupakan teman karib kedua orang tuanya, adalah dalang dari segala kekacauan yang terjadi di dalam hidupnya? Dipikirkan sebanyak apa pun, Segara masih tidak bisa menemukan alasan yang cukup masuk akal mengapa Astanu melakukannya.


“Kita akan tahu mereka salah sebut nama atau nggak begitu sampai di sana.” Arkana menoleh sekilas, lalu kembali fokus ke jalanan dan memperdalam injakan di pedal gas.


...****************...


“Kenapa?” jikalau ada pertanyaan yang lebih baik untuk ditanyakan, Pamela pasti akan memilihnya. Namun, karena kepalanya terlalu penuh dan terasa keruh, hanya pertanyaan itu yang kemudian bisa dia lontarkan kepada ayahnya yang masih saja membisu setelah hampir tiga puluh menit lamanya.


“Kenapa Papa lakuin ini?” desaknya. Sementara yang ditanya semakin menundukkan kepalanya begitu dalam. Mengundang desah frustasi sebab Pamela membutuhkan jawaban, bukannya keterdiaman panjang yang justru membuatnya semakin kebingungan.


“Segara punya salah apa sama Papa, sampai-sampai Papa lakuin banyak banget hal jahat ke dia?” ketika bertanya soal itu, suara Pamela mulai bergetar. Dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Tidak ada satu hal pun yang hilir mudik di kepalanya mampu menjelaskan mengapa ayah yang dia bangga-banggakan selama ini—setidaknya sampai skandal perselingkuhannya terungkap—tega melakukan hal-hal keji kepada sahabatnya sendiri.


Masalah apa? Dendam apa yang ayahnya miliki kepada Segara sehingga semua bencana ini bisa terjadi?

__ADS_1


“Pa,”


“Sorry, Mel.”


“No.” Pamela menarik paksa tangannya yang digenggam oleh Astanu. “Permintaan maaf itu seharusnya Papa ucapkan kepada Segara, bukan aku.”


Astanu menghela napas berat, lalu mengangkat kepalanya hingga tatapannya bertemu dengan sang putri. “Dia udah ambil terlalu banyak hal dari hidup Papa, Mel.” Ucapnya. Raut wajahnya sedih, tidak seperti seseorang yang telah melakukan begitu banyak perbuatan dosa dengan teramat keji.


“Apa? Apa yang udah Segara ambil dari hidup Papa? Kasih tahu aku sekarang.”


“Dia—“


Brakkk!!!


Ucapan Astanu terputus kala pintu ruangan di mana ia dan Pamela berada didobrak paksa. Tubuh anak buahnya yang dia tugaskan berjaga ambruk ke lantai. Bau anyir menyeruak seketika, berasal dari darah segar yang mengalir di sudut bibir dan pelipis laki-laki bertato naga itu.


Tidak lama berselang, dua lekaki lain muncul dari balik pintu. Wajah-wajah penuh amarah terpampang nyata, menyebarkan aroma-aroma permusuhan yang tidak lagi dapat terelakkan.


Pamela meringis sebab Arkana mencengkeram lengannya terlalu kuat, tetapi ia tidak berani protes dan hanya pasrah. Terlebih, saat matanya tak sengaja bersirobok dengan milik Segara. Perasaan bersalah seketika melingkupi dirinya, sekalipun dia sadar bahwa apa yang ayahnya lakukan sama sekali tanpa sepengetahuan dirinya.


Hening sempat terjadi selama beberapa saat. Hingga kemudian, suara pekikan mengudara begitu lantang ketika sebuah tinju mentah mendarat sempurna di wajah Astanu. Pelakunya adalah Segara, dan lelaki itu terus-menerus melayangkan pukulan lain hingga wajah Astanu lebam-lebam dan membiru. Sudut bibirnya robek, matanya bengkak, rahangnya nyaris bergeser. Namun, Segara masih tidak berniat untuk berhenti. Sampai tubuh lelaki tua itu tersungkur ke lantai yang dingin sekalipun, Segara masih terus melayangkan tinju.


“Dosa apa yang sudah saya perbuat kepada Om, sampai-sampai Om tega melakukan semua ini kepada saya?” tanyanya. Kedua tangannya mencengkeram erat kerah kemeja Astanu. Dadanya naik turun, napasnya tidak keruan setelah banyak tenaga yang dia kuras untuk memukuli lelaki di bawahnya itu.


Sambil terbatuk-batuk, Astanu berusaha meraih lengan Segara agar ia bisa bangkit. Namun, belum sampai tangganya menggapai, seseorang telah lebih dulu menginjaknya menggunakan ujung sepatu.


Rintihan terdengar, namun Arkana masih enggan menggeser kakinya dari pergelangan tangan Astanu. Jika boleh, dia malah ingin mematahkan setiap tulang di tubuh lelaki itu hingga remuk tak berbentuk.


“Ar, bawa Pamela keluar.” Masih tak mengalihkan pandangan dari sosok Astanu yang merintih kesakitan, Segara memberikan perintah.

__ADS_1


“Tapi—“


“Bawa keluar, Ar.” Segara mengulangi. Suaranya lebih terdengar tegas, sehingga mau tidak mau, Arkana segera menuruti keinginannya.


Pamela kembali diseret, dibawa keluar bersama tubuh anak buah Astanu yang


pingsan.


“Kita akan cari tahu apakah lo terlibat atau enggak, setelah Segara selesai sama bokap lo.” Ujar Arkana. Tidak ada keramahan di dalam nada bicaranya. Sebab dari dulu, dia memang tidak menyukai Pamela.


Sedangkan Pamela tidak bisa berkata apa-apa. Ia juga ingin tahu mengapa semua ini bisa terjadi. Ia juga ingin berharap, bahwa semua ini hanyalah mimpi buruh yang akan selesai setelah ia membuka matanya kembali.


Karena, jika ini adalah sebuah kenyataan yang harus ia peluk sampai akhir, Pamela tidak yakin apakah dia akan mampu.


Sementara itu, di dalam ruangan, Segara masih menanti jawaban. Dia masih menunggu penjelasan dari Astanu, yang sayangnya malah membungkam mulutnya semakin rapat sekalipun ia telah dihadiahi banyak sekali tinju.


“Jawab. Jangan sampai saya betulan bunuh Om malam ini juga.” Kata Segara dengan rahang yang mengeras. Dia sudah bersumpah untuk membunuh seseorang yang telah menyakiti Karenina, dan sekarang dia benar-benar memiliki kesempatan itu. Jadi, dia mungkin akan benar-benar melakukannya.


Namun, seakan belum cukup membuat hidupnya hancur berantakan, Astanu malah tidak mengatakan apa-apa. Lelaki itu malah tertawa, terbahak-bahak seperti baru saja menyaksikan pertunjukan lawak paling asyik sejagad raya. Tawanya yang meledak-ledak serupa percikan kecil yang menyulut kobaran api. Dada Segara terasa panas. Lalu dalam sekejap saja, dia kembali melayangkan pukulan demi pukulan dengan lebih brutal.


Setiap satu pukulan mendarat di wajah Astanu, sosok Karenina muncul di kepala. Senyumnya yang cantik serta binar matanya yang menarik membuat rasa sakit di dada Segara semakin memburuk. Air mata pun tak tertahankan. Ia menangis, sambil terus memukuli Astanu yang masih juga keras kepala untuk tidak buka suara.


“Kenapa?!!!” satu pukulan lagi mendarat, dan kepala Astanu terkulai lemah di lantai.


Seluruh tubuh Segara bergetar hebat. Buku-buku tangannya berwarna merah dan terasa perih. Dadanya sesak. Napasnya terasa sulit dan seperti ada yang mengganjal begitu besar di tenggorokan.


Bersama tubuh Astanu yang terkulai dengan napas yang melemah, Segara menangis sejadi-jadinya. Ia meraung-raung. Mempertanyakan kepada apa saja yang dia temui tentang mengapa semua bencana ini harus terjadi di dalam hidupnya, dan mengapa pelakunya adalah Astanu Wijaya, seseorang yang sudah dia anggap seperti ayah kedua.


Segara tahu dunia memang kejam, tetapi yang kali ini, rasanya sudah benar-benar kelewatan.

__ADS_1


“Arggghhh!!! Kenapa, Tuhan?! Kenapa?!” raungnya kesetanan. Namun sekali lagi, tak ada yang bisa menjawab pertanyaan kenapa, karena satu-satunya orang yang bisa menjawab pertanyaan itu malah merapatkan kedua matanya, perlahan-lahan kehilangan kesadaran.


Bersambung....


__ADS_2