Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
TIGA PULUH LIMA


__ADS_3

Malam bergerak lebih cepat, menyisakan keriuhan yang terjadi di meja makan beberapa jam sebelumnya, berpindah ke kepala Segara yang sejak setengah jam lalu memilih duduk sendirian di beranda rumah. Lana masih ada di sini, berusaha menidurkan Mikha yang masih terus merengek tidak ingin ditinggalkan. Entahlah, sihir semacam apa yang Lana gunakan sehingga membuat putrinya seakan terhipnotis pada pesonanya yang samar.


Di meja bundar, tepat di sebelah kursi yang dia duduki, ada 3 puntung rokok yang semuanya tidak Segara hisap sampai habis. Mereka hanya ditinggalkan ketika sisa setengah, entah kenapa, Segara hanya merasa kenikmatan yang dia dapatkan hanya berhenti di sana dan dia harus menyalakan rokok yang lain. Dalam sejarah hidupnya, ini adalah kali pertama dia bisa menghabiskan lebih dari 2 batang rokok dalam sekali duduk. Biasanya, dia hanya akan mengambil 1, paling banter 2, itu pun tidak akan sampai benar-benar habis.


“Ga,” suara Arkana muncul dari balik pintu, disusul hadirnya sosok pemuda itu yang kini sudah berganti pakaian menggunakan piyama berwarna biru tua berbahan satin yang licin. Segara tidak menjawab, hanya menoleh sebentar sebelum meraih rokok keempat lalu segera dia nyalakan.


Arkana tahu Segara tidak keberatan akan kehadirannya, maka dia pun mengambil posisi duduk di seberang lelaki itu, turut mengambil satu batang rokok dan ikut menyalakannya.


Cukup lama, mungkin hampir 3 menit mereka tidak saling bicara, hanya sibuk mengisap rokok masing-masing dengan tatapan yang sama-sama tertuju pada hamparan langit malam yang gulita. Mendung seakan menelan semuanya. Bulan, bintang, atau apapun yang biasanya tampak memancarkan sinar di tengah kegelapan.


Kemudian, alih-alih Arkana, Segara menjadi orang pertama yang buka suara setelah mengisap rokoknya dalam-dalam sekali lagi. “Gue udah memutuskan,” ucapnya dengan suara teramat pelan. Hal itu membuat Arkana menoleh, sejenak melupakan keberadaan rokok di sela-sela jemarinya. “Malam ini, gue akan coba bujuk Miss Lana sekali lagi. Yeah, buat jadi ibu sambungnya Mikha.”


Arkana tahu itu adalah kabar baik. Setidaknya, untuk saat ini. Kemampuannya menilai karakter seseorang boleh dibilang selalu baik, dan dia yakin Lana memang pilihan yang tepat setelah mengamati bagaimana perempuan itu memperlakukan Mikha selama beberapa hari terakhir.


“Tapi,” saat kata tapi itu muncul bahkan sebelum dia memberikan tanggapan, Arkana sepenuhnya melepaskan rokok dari tangan. Ia biarkan benda itu teronggok tak berdaya di atas asbak, membiarkannya terbakar dan nanti padam dengan sendirinya. “Gue nggak tahu apakah Miss Lana akan bersedia.”


“At least lo udah nyoba.” Kata Arkana. Kemungkinannya masih 50:50, tapi biarlah dia sedikit menghibur diri dengan kalimat yang dia sebutkan tadi. “Kalaupun nggak bersedia jadi ibu sambungnya, gue yakin kita masih bisa minta tolong dia untuk bantu jaga Mikha. Semacam jadi baby sitter, I guess?”


“Terlalu kejam.” Celetuk Segara tiba-tiba. Usai mengisap rokoknya untuk yang terakhir kali, ia turut meletakkan benda itu ke atas asbak. “Lagipula, Mikha pasti bakal minta Lana terus menginap di sini. Gue nggak mungkin biarin orang yang nggak ada ikatan apapun sama gue untuk tinggal seatap, benar? Lo tahu gimana sibuknya orang-orang menilai kehidupan gue dari luar.”


Arkana terdiam sesaat, kemudian mengangguk setuju. “Lo benar.” Jadi satu-satunya yang bisa mereka usahakan adalah membujuk Lana agar setuju menerima pinangan Segara, benar? Yeah, meskipun Arkana sendiri masih belum tahu bagaimana caranya.


Ibarat kata pucuk dicinta ulam pun tiba, perempuan yang sedari tadi mereka bicarakan muncul hanya beberapa menit setelah percakapan mereka terjeda sesaat. Perempuan itu berhenti di ambang pintu, menatap Arkana dan Segara secara bergantian.

__ADS_1


“Mikha sudah tidur, Pak. Saya pamit pulang.” Pamitnya dengan suara lembut yang khas.


Bukannya menyahut, Segara malah menoleh ke arah Arkana, di mana mereka kemudian terlihat seperti sedang berbicara melalui kontak mata sehingga membuat Lana kebingungan.


Beberapa detik setelahnya, barulah Segara menoleh kembali ke arah Lana, bersamaan dengan bangkitnya Arkana dari duduk dan pemuda itu segera pamit undur diri masuk ke dalam rumah.


Setelah Arkana menghilang, Segara turut bangkit, hanya untuk meminta Lana bergabung dengannya di kursi yang sebelumnya Arkana tinggalkan. “Bisa kita bicara sebentar, Miss Lana?” tanyanya.


Lana sendiri tidak tahu obrolan seperti apa yang akan terjadi setelahnya, tapi dia tetap menganggukkan kepala dan menurut ketika Segara mempersilakan dia duduk.


Semakin lama, udara semakin terasa dingin dan Lana tidak bisa menahan diri untuk mengusap kedua lengannya sendiri. Sementara Segara tak kunjung bicara, sebab dia tengah merangkai kata di dalam kepala, agar apa yang dia ucapkan tidak sampai di telinga Lana dengan cara yang berbeda.


“Miss,” Segara memanggil setelah merasa yakin susunan kata yang dia punya sudah pas.


“Can you be ... my daughter’s mom?”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hal tergila yang Lana lakukan sepanjang tahun ini adalah berkata iya untuk sebuah tawaran yang sebelumnya dia tolak mentah-mentah. Sepanjang perjalan menuju rumah, di mana Segara lah yang mengantarkannya pulang, Lana tak habis-habisnya bertanya kepada dirinya sendiri atas keputusan yang sudah dia buat. Kenapa ia setuju? Sudahkah dia memiliki kepercayaan diri yang besar untuk menjadi seorang ibu? Dan ... apakah dia benar-benar rela untuk menyandang gelar sebagai istri dari seorang laki-laki yang bahkan belum sebulan dia kenal?


Tapi sampai mobil Segara menepi di depan kompleks apartemen miliknya pun, Lana tidak mendapatkan jawaban atas segala pertanyaan itu. Otaknya sadar, seratus persen, bahwa semuanya sudah terlanjur terjadi dan dia tidak bisa mundur lagi. Bahkan sekalipun bisa, dia tidak akan tega. Melihat bagaimana sorot mata Segara yang semula terlihat sayu berubah menjadi penuh binar terang membuat Lana sedikit banyak mengerti, bahwa Mikha memang begitu berharga untuk lelaki itu.


“Terima kasih.” Lana melepaskan seatbelt yang membalut tubuhnya, lalu berniat segera turun dari mobil. Namun, suara berat Segara membuat niatnya urung. Dia kembali duduk, menoleh ke arah Segara dengan telinga yang dibuka lebar-lebar untuk mendengarkan lebih banyak perihal apa yang akan lelaki itu sampaikan selanjutnya.

__ADS_1


“Seperti yang saya sudah bilang sebelumnya, Miss Lana boleh ajukan syarat apapun, saya akan menyanggupinya. Kesediaan Miss Lana membantu saya mewujudkan keinginan Mikha adalah hal besar, jadi saya nggak keberatan untuk membayar mahal.”


Lana tersenyum, jenis senyum yang dia sendiri tidak tahu apa artinya. Ia tidak sedang merasa senang, tidak pula berusaha menutupi perasaan sedih dengan senyum itu. Hanya... Lana hanya merasa kebingungan. Ketika disuguhi pertanyaan itu untuk pertama kalinya saat mereka duduk berdua di beranda rumah Segara, tak satu pun hal terpikir olehnya.


Uang, perhiasan, rumah, mobil mewah atau apapun yang berbau materi sama sekali tidak menarik minatnya, sebab tanpa adanya pernikahan ini, dia masih bisa memilikinya. Satu-satunya alasan mengapa Lana setuju untuk menerima pinangan Segara adalah karena dia peduli pada Mikha, bahwa dia merasa anak itu memiliki nasib yang sama seperti dirinya—tidak memiliki ibu.


“Apapun, Miss, katakan saja.” Desak Segara. Lebih kepada momen di mana lelaki itu terlihat tidak ingin merugikan siapa-siapa.


“Saya nggak memiliki syarat apapun, Pak.” Begitu kata Lana pada akhirnya. “Sama seperti Bapak, saya pun melakukan ini demi Mikha. Mungkin, satu-satunya yang bisa saya minta adalah agar kita berjalan seperti ini saja? Maksudnya—“


“Saya mengerti.” Sahut Segara, mulai sok tahu. Padahal belum tentu apa yang dia pikirkan itu sama seperti yang ada di dalam kepala Lana. “Saya nggak akan menuntut apapun. Tentang hak saya sebagai suami, ataupun kewajiban Miss Lana sebagai istri. Hal-hal seperti itu sama sekali nggak terpikirkan di kepala saya ketika tawaran itu saya bawa kepada Miss Lana. Sepenuhnya, saya hanya ingin membuat Mikha bahagia.”


Melihat bagaimana sudut-sudut bibir Lana tertarik ke atas membentuk sebuah senyum tipis yang manis, Segara yakin pikirannya tidak salah.


“Terima kasih,” ucap perempuan itu, padahal Segara tahu ia lah yang seharusnya mengatakan hal tersebut.


“Saya yang harusnya berterima kasih, Miss. Terima kasih banyak.” Untuk pertama kalinya, Segara tersenyum lebih lebar kepada orang asing. Seharusnya itu kabar baik, semoga saja.


Tepat pukul 11 malam, ketika Lama pamit undur diri dan berjalan memasuki gedung apartemen yang dijaga ketat selama 24 jam, Segara menemukan satu beban yang berada di pundaknya terasa diangkat, membuatnya bisa menegakkan punggungnya untuk menuntaskan beban lain yang tersisa.


“Terima kasih juga, Ren. Terima kasih atas kelapangan hati kamu untuk membiarkan aku menikah lagi, demi putri kita.” Monolog itu terjadi lagi, tapi kali ini dalam suasana yang berbeda.


Setelahnya, Segara kembali melajukan mobilnya. Mulai besok, dia akan mengurus lebih banyak hal. Memang tidak akan ada pesta pernikahan yang meriah, karena dia masih ingin menjaga privasi keluarganya terjaga rapat seperti dulu. Tapi setidaknya, bukankah dia harus pergi mengunjungi kedua orang tuanya untuk meminta restu, sekaligus menyiapkan pesta pernikahan yang layak mengingat ini adalah yang pertama untuk Lana?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2