
Di saat Lana butuh untuk segera diselamatkan, Arkana dan Segara malah sibuk berdebat soal keterlibatan Pamela. Yang satu kekeuh pada firasat buruknya, yang satu lagi juga tidak mau kalah dengan tetap mempertahankan argumennya bahwa dia mengenal teman masa kecilnya dengan baik—bahwa Pamela tidak mungkin terlibat apalagi sampai menjadi dalang atas hal-hal rumit yang terjadi dalam kehidupannya selama ini.
“Terserah.” Arsenio akhirnya menyerah. Lelah sudah dia mencoba meyakinkan Segara bahwa memang ada yang tidak beres dengan Pamela. Kejanggalan demi kejanggalan sudah dia ungkap, namun Segara tetap saja kekeuh bahwa Pamela tidak terlibat.
Sementara itu, perdebatan yang terjadi antara dua lelaki dewasa tersebut membuat Dharma (seseorang yang Arkana mintai bantuan sebelumnya) hanya bisa menghela napas berkali-kali. Di dalam mobil yang sudah standby, ia menjadi saksi atas perdebatan yang berlangsung selama hampir satu jam tanpa henti.
Sedangkan beberapa meter dari mobil mereka, tujuh orang bersenjata sudah disiapkan untuk berjaga, mengepung bangunan kosong terbengkalai yang letaknya jauh di dalam hutan. Mereka bertujuh hanya perlu menerima perintah agar bisa menerobos masuk, tetapi dalang di balik dijalankannya misi penyelamatan ini malah asyik berdebat dan kekeuh pada pendirian masing-masing.
“Begini,” lama-lama, lidah Dharma gatal juga, jadi dia mulai menggerakkannya untuk bicara. Ia menoleh ke bangku penumpang, di mana Arkana dan Segara duduk bersebelahan dengan tatapan yang sama-sama di buang ke arah lain. “Kita ke sini untuk menyelamatkan seseorang.”
“Dua orang.” Segara mengoreksi, sementara Arkana langsung mendengus kasar sambil melirik sinis.
“Yang satu cuma lagi cosplay jadi korban.” Bisik Arkana samar-samar.
Tolong, jangan mulai lagi! Dharma berteriak di dalam hati. Rasa ingin membungkam mulut dua lelaki dewasa di depannya itu meningkat seketika—andai dia bisa.
“Entah satu entah dua, whatever.” Kata Dharma pada akhirnya. “Yang jelas, kita harus gerak cepat, golden time.” Sambungnya seraya mengetukkan jari ke layar smartwatch di tangan kiri.
Dalam sebuah misi penyelamatan, ada yang namanya golden time. Di mana mereka harus mampu memperhitungkan dengan baik langkah apa yang harus mereka lakukan dalam waktu yang secepat mungkin untuk menghindari adanya kemungkinan yang lebih buruk seperti korban terluka lebih parah atau bahkan sampai kehilangan nyawa. Tidak boleh gegabah, tetapi juga tidak boleh untuk terlalu banyak membuang waktu.
Selama satu jam mengintai di luar bangunan, tujuh orang yang berjaga itu telah melakukan observasi. Memindai apakah ada tanda-tanda bahan peledak di sekitar, berapa kira-kira jumlah orang yang ada di dalam bangunan, juga persenjataan seperti apa yang mungkin mereka miliki. Dari semua observasi yang mereka lakukan, mereka sebenarnya bisa segera menggerebek para penculik di dalam sana untuk kemudian menyelamatkan sandera. Akan tetapi, dua lelaki dewasa ini malah menggunakan golden time mereka untuk mendebatkan sesuatu yang tidak berguna.
“Gue cuma bisa kasih perintah kalau kalian udah sepakat.” Dharma bersuara lagi setelah hening beberapa lama.
Arkana menarik napasnya susah payah, mengembuskannya dengan keengganan yang kentara. “Kita jalan.” Titahnya kemudian.
“Ar,” Segara menahan lengan lengan Arkana saat pemuda itu hendak meraih handle pintu.
Arkana menoleh, “Apa lagi?”
__ADS_1
“Pamela,”
“Bangsat.” Umpatan itu lolos tanpa diprediksi. Arkana sendiri langsung mengatupkan bibirnya begitu sadar bahwa dia baru saja mengutuk kakak iparnya sendiri. “Fine.” Tuturnya kemudian. “Pamela juga korban—anggap aja begitu, so let’s move, jangan sampai Lana makin kenapa-kenapa gara-gara para bajingan itu.”
Mereka pun bergegas turun dari mobil, berbondong-bondong menghampiri dua orang yang berjaga di depan pintu masuk. Mereka sudah dilengkapi dengan pistol, rompi anti-peluru dan peralatan lain untuk mendukung misi penyelamatan.
“Go.” Titah Dharma. Sepasang sapu tangan karet berwarna hitam legam dia keluarkan dari saku celana, lalu ia menariknya kuat-kuat sebelum menyelusupkan benda itu untuk membungkus kedua tangannya. Lalu, lelaki itu menjadi orang pertama yang melangkah maju, diikuti dua orang yang standby tadi beserta dengan Arkana dan juga Segara.
Mereka berjalan mengendap-endap, memastikan sepatu mereka tidak menimbulkan suara tapak yang terlalu keras. Mata mereka waspada, mengitari seluruh penjuru yang penuh debu dan sarang laba-laba. Kondisi gelap gulita, mereka hanya mengandalkan sinar rembulan yang menyorot dari celah-celah atap yang telah roboh. Sebab menyalakan senter yang telah mereka bawa bukanlah ide bagus.
Selagi mereka berlima bergerak dari pintu depan, lima orang lain bergerak dari arah yang lain. Mereka bergerak serempak menuju satu ruangan yang menjadi titik pusat dari GPS yang telah Arkana pasang di jam tangan milik Lana.
“Kiri.” Arkana memberikan arahan.
Dharma mengangguk, lalu mengisyaratkan kepada dua orang di belakangnya untuk berjalan lebih dulu, memeriksa kondisi di sekitar titik pusat.
Ketika hampir dekat dengan koordinat yang Arkana sebutkan, langkah mereka berhenti. Beberapa meter di depan, terlihat dua orang pria bertubuh gempal berdiri menjaga pintu ruangan yang dipasang gembok dan rantai segede gaban. Terdapat senjata laras panjang yang tersemat di pinggang keduanya, pertanda mereka tidak akan bisa mendekat dengan mudah.
Dharma mengintai situasi, lalu perlahan-lahan dia mengeluarkan sebuah pistol dari saku celana bagian belakang. Bukan peluru, pistol itu kemudian dia isi menggunakan kapsul berisi obat bius. Sekali menancap, ia akan bisa melumpuhkan sasaran dalam hitungan detik.
“Pas gue tembak, kalian langsung periksa area sekitar.” Titah Dharma lagi, yang langsung diangguki oleh dua anak buahnya.
Dengan teliti, Dharma membidik salah satu pria yang berdiri di sisi kiri. Pelatuk lantas ia tarik, kemudian dia lepaskan hingga kapsul obat bius di dalam pistolnya meluncur dalam kecepatan kilat, mendarat sempurna di leher sang sasaran. Tak membutuhkan waktu lama, satu pria berhasil tumbang.
Masih ada satu pria lagi, yang kemudian kebingungan karena rekannya tiba-tiba saja pingsan padahal dia tidak melihat adanya serangan. Hal itu dimanfaatkan oleh Dharma untuk membidik pria yang satu lagi.
Syuuuu... dan satu bius lagi berhasil menancap di lengan kiri.
“Nice!” Dharma mengepalkan tangan, melakukan selebrasi ringan atas kesuksesannya melumpuhkan lawan.
__ADS_1
Tak perlu dikomando untuk kedua kali, anak buah Dharma langsung melesat maju untuk mengecek situasi. Keduanya bergantian menendang pelan tubuh pingsan si dua pria besar, dan setelah memastikan mereka benar-benar tumbang, tubuh-tubuh lunglai itu lantas mereka seret ke sudut ruangan. Tali tambang mereka keluarkan, lalu digunakan untuk mengikat tubuh kedua pria besar.
Dharma mengamati semua prosesnya dengan senyum yang begitu tinggi. Membayangkan dirinya adalah peran utama dari sebuah film laga, sedang berjuang menyelamatkan kekasihnya yang disandera.
“Keren.” Pujinya, kedengaran narsis, tapi begitulah cara dia mengapresiasi diri sendiri.
Puas membanggakan diri, ia pun menoleh ke belakang, mencari keberadaan Arkana dan Segara yang sebelumnya dia suruh untuk sembunyi.
“Ayo,” ajaknya dengan dibubuhi isyarat gerakan kepala.
Dua lelaki yang semula adu argumen itu akhirnya kompak juga, berjalan beriringan mengikuti ayunan langkah yang Dharma ambil.
Tiba langkah mereka di depan pintu ruangan yang digembok, anak buah Dharma yang lain datang membawa tiga orang lain yang sudah dalam keadaan babak belur. Satu di antaranya mengalami luka robek di bibir yang seketika membuat Arkana meringis.
“Gemboknya segede gini tuh biar apa?” tanya Dharma pada salah seorang perampok yang duduk bersimpuh di depan kakinya. Wajahnya lebam-lebam, kedua tangannya diborgol di belakang tubuh dan kepalanya nyaris tidak bisa diangkat dengan benar.
Tentu saja, tidak ada jawaban yang keluar dari bibir pria itu. Dan toh Dharma memang hanya sekadar berbasa-basi. Maka yang selanjutnya Dharma lakukan adalah menarik pistol lain dari saku yang satunya. Kali ini isinya betulan peluru, yang lantas dia gunakan untuk menjebol gembok segede gaban di pintu.
Suara tembakan menggema memenuhi seisi bangunan, disusul suara nyaring dari gembok dan rantai yang berjatuhan ke atas lantai. Handle yang berdebu Dharma raih, ia tekan ke bawah lalu pintu kayu itu dia dorong ke depan. Terbukalah ia, menampakkan sebuah ruangan sempit penuh debu-debu halus yang tak baik untuk kesehatan.
Belum sempat Dharma bicara apa-apa, Segara sudah lebih dulu menerobos tubuh lelaki itu, grasah-grusuh hendak memeriksa kondisi istri tercinta beserta dengan buah hati yang ada di dalam kandungannya.
Segara nyaris tidak tahu bagaimana caranya bernapas kala dia menemukan Lana sedang berusaha bangkit dari lantai yang kotor. Wajahnya yang pucat juga binar matanya yang redup membuat seluruh tubuh Segara gemetar bukan main. Ia ketakutan, khawatir kehilangan itu akan terjadi lagi di dalam hidupnya.
“Ga,” suara lirih Lana semakin menyayat hati.
“Aku di sini.” Segara menyahut dengan suara yang bergetar. Kemudian, dia berjalan cepat menghampiri Lana, menangkap tubuh lemas istrinya tepat sebelum jatuh tak berdaya. “Kamu aman sekarang, Sayang.” Bisiknya seraya mendekap erat tubuh ringkih itu.
Sementara di belakang mereka, Dharma beserta anak buahnya sibuk mengurus para perampok sekaligus memastikan bahwa tidak ada anggota mereka yang tersisa. Sedangkan Arkana berdiri di ambang pintu dengan rahang yang mengeras dan kepalan tangan yang begitu erat. Tidak ada Pamela di sana, yang bagi Arkana itu berarti memang perempuan itu memiliki andil dalam kejadian yang menimpa Lana kali ini. Dan bisa jadi, perempuan itu juga lah yang menjadi dalang dari semua hal buruk yang terjadi di dalam hidup Segara.
__ADS_1
“Bajingan.” Arkana menggeram. Lalu saat semua orang sibuk sendiri, lelaki itu melesat pergi. Dia harus menemukan Pamela untuk membuktikan bahwa argumennya tidak pernah salah. Bahwa Pamela jahat, bahwa perempuan itu tak ubahnya serigala berbulu domba yang berniat menghancurkan segalanya.
Bersambung