Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
TUJUH PULUH LIMA


__ADS_3

Pamela menghentikan mobilnya di depan perumahan Segara. Perempuan yang kini mengenakan dress semi formal di bawah lutut berwarna cokelat tua itu lalu berdiam diri cukup lama di dalam mobil, mengamati bangunan yang dibingkai pagar tinggi itu dengan saksama.


Beberapa hari yang lalu, ketika dia sedang berjalan di koridor untuk kembali ke ruang kerjanya, ia tidak sengaja mencuri dengar obrolan yang terjadi antara Segara dan Arkana. Kedua lelaki itu bicara dengan suara lantang, seolah tidak lagi menjadi masalah jika ada seseorang yang mendengar apa isi pembicaraan mereka.


Dari pembicaraan itu, Pamela jadi tahu kalau ternyata istri baru Segara sedang mengandung. Usianya kandungannya baru enam bulan, masih cukup dini untuk dikabarkan kepada orang-orang terdekat, termasuk dirinya.


Sejujurnya, kabar kehamilan Lana itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuk Pamela. Sampai hari di mana sebelum dia mendengar kabar tersebut, Pamela masih berharap bahwa pernikahan yang Segara jalani kali ini hanya sekadar untuk menyenangkan Mikha, atau agar anak gadisnya yang imut itu bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Namun, mendengar akan hadirnya seorang bayi di dalam pernikahan itu, Pamela menjadi tahu bahwa Segara tidak main-main dengan pernikahannya.


“Well,” Pamela menarik napas dalam-dalam. Lalu, dia melirik ke arah jok penumpang di mana dia meletakkan paper bag berisi hadiah untuk dia berikan kepada Lana, sebagai ucapan selamat atas kehamilannya. “At least, hadiahnya harus tetap sampai ke tangan yang bersangkutan, kan?”


Dipandangi sekian lama, paper bag itu akhirnya dia raih. Isi di dalamnya tidak dia intip lagi, langsung saja dia bawa turun dari mobil.


Seraya merapikan sedikit bagian-bagian dress-nya yang kusut, Pamela berjalan dengan percaya diri mendekati gerbang rumah Segara. Bel di sana dia tekan satu kali, lalu dia menunggu dengan sabar sampai seseorang membukakan pagar itu agar dia bisa masuk.


Dari sela-sela pagar, Pamela bisa mengintip ke dalam garasi, di mana hanya ada satu unit mobil dan satu unit sepeda motor matic yang terparkir di sana. Mobil yang segara biasa gunakan tidak ada, pertanda bahwa lelaki itu sedang tidak ada di kediamannya.


“Good timing, Mel.” Ucapnya, seraya menyunggingkan sebuah senyum yang hanya bisa dimengerti oleh dirinya sendiri.


Berselang beberapa menit setelah dia menekan bel sekali lagi, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Segara berlari tergopoh-gopoh dari dalam rumah. Perempuan paruh baya berbadan sedikit berisi itu lantas membukakan gerbang dengan terburu, kemudian mempersilakan Pamela untuk masuk sambil meminta maaf karena ia terlalu lama datang.


Pamela tidak mengatakan apa-apa, dia hanya melanjutkan langkahnya dengan anggun. Seperti memasuki rumah sendiri, ia tidak canggung sama sekali saat berjalan melewati ruang tamu, menjamah ruang tengah hingga akhirnya kaki jenjang itu berhenti melangkah kala menemukan Lana sedang asyik dengan dunianya sendiri, di dapur.


“Tok, tok.” Ucapnya, yang seketika membuat Lana berbalik.


“Oh, ada Pamela.” Seperti biasa, tutur kata Lana kedengaran sopan dan lembut. Satu hal yang sayangnya membuat Pamela malah tidak senang karena sikap Lana itu mengingatkannya kepada Karenina.


Lana yang semula bertukat dengan buah semangka dan pisau dapur kemudian berjalan menghampiri Pamela setelah mencuci bersih tangannya yang merah terlumur air semangka. Dengan senyum tulusnya, dia merentangkan tangan, menyambut tubuh Pamela ke dalam pelukan.


“Apa kabar?” tanyanya setelah pelukan singkat itu usai.


“I’m good. How about you, and ... the baby?” tatapan Pamela turun pada perut rata Lana. Ada rasa iri yang datang menyerang kala dia terpikirkan kembali pada satu angan yang dia pupuk tinggi sejak lama. Angan di mana seharusnya dialah yang menikah dengan Segara dan mengandung buah hati mereka.


“How did you know about the baby?” meski keheranan, Lana tetap melanjutkan. “Kami oke.” Dibubuhi senyum manis yang memabukkan.

__ADS_1


“Nggak sengaja dengar obrolan Segara sama Arkana. You know, lah, Segara nggak akan mungkin sesukarela itu buat umumin kehamilan kamu ke sembarang orang.”


“Tapi kamu bukan sembarang orang.” Lana menyela.


Pamela hanya tersenyum menanggapi hal tersebut. Kemudian, paper bag yang dia bawa diserahkan kepada Lana. “Hadiah, buat kamu sama calon baby.” Ujarnya.


Lana menerima pemberian itu dengan penuh rasa terima kasih. Tidak peduli apa pun isinya, dia selalu lebih dulu mengapresiasi apa pun yang orang lain berikan.


“Thank you, may your life full of happiness.”


Happiness? Kata itu udah nggak exist di hidup aku lagi. Pamela meratap di dalam hati.


“By the way, aku nggak lihat mobil Segara di garasi. Dia pergi?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.


“Iya, lagi keluar sebentar sama Mikha, beli camilan.” Lana menjelaskan.


Pamela mengangguk. Untuk beberapa lama, fokusnya sempat teralihkan pada keberadaan pisau dapur yang tergeletak di dekat wastafel cuci piring. Warna peraknya yang mengilat terkena terpaan lampu seakan memprovokasi satu sisi dirinya yang lama tertidur.


What if I use that knife to stab you, Lana? What will happen to you, and the baby?


Sekali lagi, Pamela hanya mengangguk. Dia melirik ke arah pisau dapur itu sekali lagi sebelum kemudian berlalu menuju ruang tengah tanpa menunggu sampai Lana selesai mengangkut piring berisi semangka.


...----------------...


“Daddy,”


Segara yang hendak memasang seatbelt sontak berhenti. Dia menoleh ke jok penumpang, untuk sekadar mendengarkan apa yang hendak Mikha ucapkan selanjutnya.


“Adik bayinya kapan lahir?”


Dengan begitu saja, Segara menghela napas panjang. Pertanyaan itu sudah dia dengar sebanyak 113 kali dalam kurun waktu satu minggu sejak kabar kehamilan Lana dia bagikan kepada bocah itu. Dan harusnya, dia menahan diri lebih lama untuk tidak membocorkan semuanya jika tidak ingin hal-hal seperti ini terjadi.


“Lama. Masih 7 bulan 2 minggu lagi.” Jawabnya, lalu dia meneruskan memakai seatbelt dan langsung tancap gas.

__ADS_1


“Kenapa lama? Kenapa nggak satu minggu aja?”


“Adik bayinya harus tumbuh sempurna dulu, baru bisa dilahirkan. Sekarang masih belum ada bentuknya. Belum ada mata, hidung, mulut, rambut. Semuanya belum ada.” Segara mengambil jeda untuk melalukan pembayaran di pintu keluar parkir mal tempat dia dan Mikha berbelanja.


Palang terbuka, Segara kembali melajukan mobilnya dan menaikkan kembali kaca jendela. “Emangnya kamu mau lihat adik bayi yang belum ada apa-apanya kayak gitu?” sambungnya.


Mikha tampak menggeleng. Meskipun di dalam kepalanya, tidak tergambar dengan jelas maksud perkataan ayahnya itu seperti apa, dia hanya yakin melihat adik bayi tanpa mata, hidung, mulut dan bagian-bagian tubuh yang lainnya pasti tidak akan menyenangkan.


“Nah, ya udah, berarti kamu harus sabar. Kita tunggu sampai adik bayinya lengkap dulu.” Ujarnya, dan dia menemukan Mikha hanya mengangguk.


Satu hal yang Segara sadari adalah, Mikha menjadi cenderung lebih penurut sejak dia tahu adik yang dia idam-idamkan sudah ada di dalam perut ibunya. Seakan-akan anak itu sedang menepati janjinya untuk menjadi anak yang baik, serta mempersiapkan diri untuk menjadi kakak yang pengertian bagi calon adiknya.


Tidak seperti biasanya, jalanan di Minggu sore kali ini terbilang cukup padat. Lampu lalu lintas yang sudah dia lewati sebanyak tiga kali juga selalu pas berganti merah hanya beberapa detik sebelum dia melintas, membuatnya harus sabar menunggu sampai lampu berganti hijau sebelum dia kembali tancap gas.


Padatnya jalanan itu membuat perjalanannya untuk sampai ke rumah menjadi molor hampir setengah jam lamanya. Dan ketika mobilnya memasuki kompleks perumahan, Segara justru disambut oleh sebuah pemandangan yang membingungkan.


Dari radius 50 meter, dia bisa melihat keramaian tak biasa di depan bangunan rumahnya. Lalu saat mobilnya semakin dekat, Segara semakin tidak bisa berpikir jernih kala menemukan keberadaan dua unit mobil polisi yang parkir di depan gerbang rumahnya.


Masih belum tahu apa-apa, Segara menepikan mobilnya. Ia lalu turun setelah berpesan kepada Mikha untuk tetap berada di dalam mobil selagi dia memastikan apa yang terjadi. Hanya untuk dibuat membeku di sisi mobil saat Arkana keluar dari kerumunan, berlari cepat menghampiri dengan air muka yang panik setengah mati.


“Ada apa?” tanya Segara. Suaranya masih terdengar tenang. Bukan karena dia tidak merasa khawatir, tapi justru karena dia sudah tidak bisa lagi berpikir dengan rasional. Segala kemungkinan buruk sudah berseliweran di kepala, bahkan sebelum Arkana membuka mulutnya.


“Kenapa, Ar? Ada apa?” tagihnya, sebab Arkana tak kunjung bicara.


“Sorry, Ga.” Itu yang pertama kali Arkana ucapkan. Dan jelas, bukan itu yang ingin Segara dengar.


“Sorry? Sorry kenapa? Ada apa, sih? Jawab yang benar.” Segara semakin tidak bisa tenang.


“Lana, Ga. Lana,”


“Lana kenapa?!”


“Lana....”

__ADS_1


Bersambung


Hayoooo... Lana kenapa hayoooo???


__ADS_2