Mama Untuk Mikhaela

Mama Untuk Mikhaela
TUJUH PULUH EMPAT


__ADS_3

Segara pulang dengan langkah yang melambung-lambung. Di kedua tangannya, terdapat masing-masing satu kantong belanjaan. Kantong belanjaan yang di tangan kiri (yang terdapat logo salah satu minimarket) berisi camilan dan susu kotak pesanan Mikha. Sementara kantong belanjaan berwarna putih susu di tangan kanan berisi dua kotak martabak manis, masing-masing rasa keju dan cokelat kacang—pesanan Lana.


Sementara di belakangnya, Arkana mengayunkan langkah sambil bersungut-sungut. Sisa perdebatannya dengan Adella di kantor masih meninggalkan jejak yang membuatnya kesal. Membuat mood-nya turun drastis ke level paling rendah.


“Hello, everyone!” sapanya seraya merentangkan tangan lebar-lebar. Jangan tanya apa yang dilakukan Arkana sebagai respons atas sapaan heboh itu. Pemuda berjaket kulit itu mendecih dan langsung ngeloyor begitu saja melewati tubuh kakak iparnya. Saking sewotnya, Arkana sampai dengan sengaja menabrakkan bahunya ke lengan Segara hingga membuat kakak iparnya itu mengomel kecil.


“Don’t talk to me!” sergah Arkana sebelum Segara melayangkan protes lebih lanjut. Lalu, pemuda itu setengah berlari, menaiki tangga menuju kamarnya dengan gerakan super sewot yang mengundang gelengan kepala dari orang-orang yang menyaksikannya.


“Idih, nggak jelas banget.” Segara mengoceh pelan, kemudian kembali melanjutkan langkah dan senyumnya seketika mereka saat menemukan anak dan istrinya di ruang tengah.


Mikha menjadi orang pertama yang menyambut kedatangannya dengan suara memekik yang bahagia. Bocah yang sebentar lagi genap berusia 5 tahun itu berlarian ke arah sang ayah, meninggalkan ibunya yang semula menemani ia bermain masak-masakan.


“Punya Mikha?” tanya Mikha seraya menunjuk kantong belanja di tangan kiri Segara.


“Yup.” Segara mengangguk. “Yang ini punya Mommy.” Imbuhnya seraya menaikkan satu kantong di tangan kanan hingga sejajar dada.


“Rasa keju sama cokelat kacang?” Lana bertanya setelah bergabung dengan anak dan suaminya. Yang laki-laki mengangguk, tersenyum bangga karena kali ini tidak salah membelikan pesanan sang istri.


Sebab pernah beberapa hari yang lalu, ketika Lana meminta Segara pergi ke supermarket untuk membeli susu hamil dengan merek dan varian rasa yang sudah dia tentukan, lelaki itu malah pulang membawakan susu hamil dengan merek dan vairan rasa yang lain. Tapi karena ini adalah Lana yang sabarnya seluas samudra, kesalahan itu tidak dibahas terlalu lama. Susu yang sudah kadung dibeli juga tetap diminum. Agar tidak mubazir, katanya.


“Makasih, Daddy.”


Percaya atau tidak, hanya karena dipanggil begitu saja oleh Lana, telinga Segara berangsur memerah. Iya, dia ini memang agak aneh. Kalau kebanyakan orang akan cenderung mengeluarkan semburat merah di pipi atau bagian wajah yang lain, bapak anak satu itu malah memerah di bagian daun telinga.

__ADS_1


“Sekali lagi.” Pintanya, seraya mengacungkan jari telunjuk tangan kanan hingga berada persis di depan hidungnya yang tinggi. “Call me Daddy sekali lagi.”


Menurut, Lana kembali mengatakan “Daddy,” dengan senyum tipis yang menyambut setelahnya.


Segara senang bukan main, sampai-sampai kantong kresek milik Mikha dijejalkan begitu saja ke dalam pelukan si bocah dan begitu tangannya bebas, ia menarik tubuh Lana, memeluknya erat seperti mereka baru saja menjalani long distance relationship yang menyiksa.


Ugh! Entahlah. Tidak tahu juga kenapa sikap Segara jadi berubah begitu banyak, terlebih setelah mengetahui Lana tengah mengandung. Bawaan bayi, mungkin? Tapi kalau dipikir-pikir lagi, dia tidak bertindak se-clingy ini sewaktu Karenina tengah mengandung Mikha dulu.


Sementara ayah dan ibunya berpelukan, Mikha mencebik. Kantong kresek berisi camilan yang dia pesan sudah tidak tampak menarik, semena-mena dia geletakkan di atas lantai sehingga ia bisa melipat kedua lengan kecilnya di depan. Cemburu. Mikha merasa ayahnya telah merebut sang ibu dari dirinya. Iya, benar. Mikha tidak peduli ayahnya hendak berbuat apa, asal jangan memonopoli ibunya. Mau ayahnya koprol atau salto di depan matanya sekalipun, Mikha tidak akan ambil pusing. Dia hanya ingin ayahnya tidak menjadi serakah dengan memiliki ibunya untuk diri lelaki itu sendiri.


“Daddy,” si bocah menegur dengan gaya yang sok seperti orang dewasa. Mata bulatnya yang berkelip-kelip seperti bintang kecil di langit menatap tajam ke arah ayahnya. “Itu Mommy Mikha.” Sambung si bocah seraya menunjuk ke arah Lana.


Segara menarik diri dari pelukan istrinya, menunduk untuk menatap Mikha sebentar hingga kemudian tawanya meledak-ledak begitu bebasnya. Riuh suara tawanya menggema ke seluruh penjuru. Bukan tidak mungkin kalau suaranya juga bahkan sampai ke telinga Arkana yang kini sudah bergelung di balik selimut di dalam kamarnya.


“Ga!” satu pukulan mendarat di lengan, namun Segara tidak peduli.


“Mommy-nya buat Daddy malam ini. Kamu main aja sama Om Ar, atau Hechi—atau siapa pun itu, asal jangan ganggu Mommy sama Daddy.” Kemudian kaki panjangnya kembali terayun mengambil langkah lebar.


Tidak peduli seberapa keras Mikha memekik setelah itu, Segara tetap melanjutkan langkahnya. Bahkan ketika lengannya terus menjadi sasaran gebukan dari sang istri, Segara hanya bisa senyum-senyum saja seperti orang gila.


“Kan, katanya mau dipeluk sama aku.” Ia menggoda ketika kakinya sampai di depan pintu kamar.


“Nggak gini juga, itu anak kita nangis di bawah.” Lana sembari mengintip dari balik bahu suaminya.

__ADS_1


Namun, alih-alih peduli, Segara malah cuek saja dan langsung gas membuka pintu. “Cuekin aja, itu dia cuma lagi akting.” Ucapnya santai, lalu dibawanya tubuh Lana masuk ke dalam kamar.


“Mine.” Bisiknya, lalu mendaratkan kecupan di bibir Lana.


“Anak kita,”


“Biar sama omnya.”


“Terus kita mau ngapain?”


“Pelukan sampai pagi. Kan, kamu yang minta.”


“Aku cuma bilang mau dipeluk, nggak sampai pagi.”


“Tapi aku maunya sampai pagi.”


“Nyebelin.”


“Tapi kamu sayang.”


Sayang seribu sayang, percakapan tidak jelas itu harus terputus saat suara Arkana tahu-tahu menggema begitu keras, persis seperti gelegar petir yang menyambar di siang bolong ketika matahari sedang bersinar begitu terik.


“SEGARA ADHITAMA! INI ANAK LO NANGIS, SIALAN!!!”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2