
Baru pukul delapan ketika Segara tiba di rumahnya, namun dia jelas dibuat keheranan saat menemukan rumah sudah dalam keadaan gelap gulita. Dari pintu depan sampai ke ruang tengah, lampu-lampu sudah dimatikan. Dan seakan tidak cukup sampai di sana, ia juga dibuat semakin bertanya-tanya saat menemukan istrinya, Lana, tengah berdiri di dekat pantri dengan penampilan yang tidak biasa.
Sepotong kemeja—yang terlalu besar jika Segara asumsikan sebagai milik Lana—melekat di tubuh perempuan itu, membuat lebih banyak bagian tubuh bawahnya terekspos. Rambut panjangnya digerai, menjuntai indah seakan tengah melambai kepada Segara untuk minta dibelai.
Aroma kopi berputar-putar di udara, sampai pada Indra penciuman Segara yang kemudian membuat lelaki itu tahu bahwa Lana tengah menyeduh kopi dengan begitu asyiknya. Tapi masalahnya, dia tahu istrinya tidak menyukai kopi. Sejauh ini, ada 2 hal yang Segara tahu tidak disukai oleh Lana. Pertama adalah hujan badai, dan yang kedua adalah kopi. Jadi, bukankah wajar jika dia bertanya-tanya, untuk apa perempuan itu menyeduh kopi jam segini?
“Mom?” akhirnya setelah termenung cukup lama di area pembatas antara ruang tengah dengan dapur, Segara berbicara. Langkahnya terayun pelan, mengendap-endap meski tak lama setelah dia memanggil, Lana telah membalikkan badan dengan senyum tipis yang manis. “Ngapain?”
“Bikin kopi.” Jawab Lana. Cangkir berisi kopi yang baru dibuatnya diangkat sejajar dada, ditunjukkan kepada Segara sebagai barang bukti. “Kamu mau juga?”
“Kamu kan nggak suka kopi?” mengabaikan tawaran Lana, Segara meletakkan tas kerja di atas meja makan, lalu berderap mendekati istrinya seraya berkali-kali menaikturunkan pandangan. “Dan, ini kenapa outfit kamu jadi begini?” tanyanya ketika kepalanya sudah terangkat kembali.
Melupakan sejenak soal eksistensi cangkir kopi di tangan, Lana turut menurunkan pandangan. Lalu tidak lama setelahnya, dia kembali menatap Segara dengan kening yang berkerut. “Kenapa emangnya? Ada yang aneh?”
Tak ragu sedikit pun, Segara mengangguk. “Baju tidur kamu habis? Nggak ada baju lain yang bisa kamu pakai?” tanyanya secara bertubi-tubi, seperti berondongan peluru yang tidak bisa ditepis.
“Jelek, ya?” alih-alih menjawab saja, Lana malah menanyakan sesuatu yang berakhir membuat Segara membuang napasnya dengan nelangsa.
“Nggak gitu, Mom. Kamu cantik, nggak peduli baju apa yang kamu pakai. Aku cuma heran aja, kok cara berpakaian kamu nggak biasa? Dan, itu kemeja siapa yang kamu pakai? Punya aku, bukan?”
“Satu-satu,” Lana menyela. Kepulan uap dari permukaan cangkir sudah mulai memudar, seperti minat yang ia miliki untuk menyeruput cairan berwarna pekat itu demi tetap terjaga.
Sekali lagi, Segara mengembuskan napas berat. “Oke. Pertama, itu kemeja siapa yang kamu pakai?”
“Kemeja kamu.”
“Kenapa kamu pakai kemeja aku?”
“Pengin aja.”
See? Ada yang aneh. Batin Segara. Tidak dia lanjutkan pertanyaan lain yang ada di kepala. Sebenarnya, masih ada banyak. Banyak sekali malah kejanggalan yang dia temukan sejak membuka pintu rumahnya. Mengapa seluruh lampu dimatikan? Mengapa suasana rumah kelihatan sepi? Di mana Mikha? Di mana Arkana? Mengapa Lana menyeduh kopi, padahal jelas-jelas perempuan itu tidak menyukainya? Namun, pertanyaan-pertanyaan itu hanya dibiarkan mengendap di dalam kepala karena Segara lebih tertarik untuk berjalan lebih dekat, menelisik lebih teliti sosok istrinya untuk tahu, apakah ia memang benar Kelana Larasati, istri yang dia nikahi beberapa bulan lalu, atau sosok astral yang sedang berusaha menyamar?
Untuk waktu yang cukup lama, Segara tidak bicara atau melakukan apa-apa. Dia benar-benar menghabiskan waktu untuk mengamati Lana. Sampai akhirnya, dia jengah. Lelah sudah dia mencari tahu, sebab sejauh mana ia meneliti, hanya satu yang kelihatan salah dari sosok Lana saat ini—caranya berpakaian.
“Kamu lagi sakit?” tanyanya, yang tentu saja tidak dijawab oleh Lana dan ia malah mendapatkan tatapan keheranan sebagai gantinya.
“Muka aku kelihatan pucat?” telunjuk Lana terangkat, hampir menyentuh ujung hidungnya yang lancip. “Harus pakai make up? Kamu mau aku pakai make up dulu?”
“Lana,” Segara mencegah sebelum Lana nyerocos lebih jauh. “Bukan masalah pucat atau enggak. Aku cuma heran kenapa kamu berpenampilan lain malam ini. Ada apa?”
__ADS_1
“Aku cuma....” Lana kedengaran ragu-ragu. Refleks, ia menggigit bibir bawah, tatapannya jatuh pada lantai berwarna gelap yang terkena terpaan cahaya lampu kemuning di sudut ruangan.
“Cuma apa?”
Alih-alih jawaban, Lana malah meloloskan helaan napas panjang sebagai gantinya. Lalu tak lama berselang, kopi yang sudah mulai dingin diseruput perlahan, didiamkan cukup lama di dalam rongga mulut yang kosong sebelum akhirnya ditelan dengan susah payah. Rasa pahit dari kopi yang terlalu banyak dia masukkan ke dalam cangkir membuat Lana mengernyit. Kapok. Tidak ingin lagi dia meminum cairan pekat itu. Jadi, dia meletakkan cangkir ke atas pantri, lalu dengan susah payah dia memaksa netranya kembali bertubrukan dengan milik sang suami.
Di tempat berdiri, Segara masih menunggu jawaban dengan sabar. Walaupun sebenarnya kepalanya mulai ribut dengan berbagai pertanyaan yang menuntut untuk diberikan jawaban, dia tetap tidak mengatakan apa-apa sampai beberapa detik kemudian.
“I just missing you....” pengakuan itu dilontarkan dengan suara teramat pelan, nyaris seperti berbisik. Dan kalau pendengaran Segara tidak cukup baik karena dia terbiasa memasang telinga untuk mendeteksi suara sekecil apa pun dari dalam kamar Mikha, lelaki itu mungkin tidak akan bisa mendengarnya.
Kendati demikian, Segara tetap bertanya “Kamu bilang apa barusan?” untuk sekadar meyakinkan diri sendiri bahwa dia tidak salah dengar.
Rona merah menjalar cepat dari pipi hingga ke telinga Lana. Membuat sebuah pengakuan seperti itu adalah sesuatu yang sulit untuknya. Kalau kata anak zaman sekarang, love language-nya bukanlah word of affirmation, jadi afirmasi-afirmasi seperti itu sering kedengaran cringe di telinganya sendiri. Untuk mengatakan yang barusan butuh banyak sekali keberanian, dan diminta untuk mengulanginya yang kedua kali, Lana tahu akan lebih sulit ketimbang yang pertama.
“Mom,”
“Ugh,” Lana melenguh pendek. “Can you stop calling me that way?”
“No.” Sahut Segara, lugas. Baginya, butuh waktu dan usaha yang tidak sedikit juga untuk bisa mendekatkan diri pada Lana. Dan memanggil istrinya dengan sebutan itu adalah salah satu upaya untuk menarik diri lebih dekat. Maka Segara tidak akan berhenti, sekalipun Lana yang meminta.
Merasa terpojok dan benar-benar sudah dibungkam, Lana tidak melanjutkan protesnya perihal panggilan yang Segara berikan. Sebab, di depan matanya, ada tantangan lain yang harus dia lewati, yaitu menyebutkan kembali apa yang sudah dia katakan sebelumnya karena Segara masih terus menunggu.
“I’m miss you, so much. Kamu bilang bakal sibuk seharian dan mungkin bakal pulang larut malam. So, yeah, aku pergi ke lemari, ambil kemeja kamu terus aku pakai karena di kemeja ini ada bau parfum kamu.”
Nyaris tidak ada yang bisa Segara katakan setelah mendengar pernyataan jujur itu. Ralat. Dia memang tidak memiliki apa pun untuk dikatakan ketika tubuhnya bergerak lebih cepat daripada kinerja otaknya sendiri. Tubuh mungil yang tenggelam dalam kemeja kebesaran itu dia raih, dia dekap erat sekali dengan mengabaikan fakta bahwa si empunya tubuh tersentak karena gerakannya yang tiba-tiba.
“Ga,” Lana menepuk punggung Segara beberapa kali, tetapi suaminya itu tidak bereaksi apa-apa.
“Ga, too tight, I can't breathe.” Barulah kemudian, pelukan lelaki itu mengendur dan perlahan-lahan terlepas.
Netra mereka yang berbeda warna kembali bertemu, berlarian di satu ruang khusus yang hanya bisa dimasuki oleh mereka berdua saja. Berkejaran cukup lama di sana sampai tahu-tahu jarak yang ada telah habis dan bibir-bibir mereka bertemu begitu saja.
Pelan, dalam, menghanyutkan. Saling menyesap. Sesekali satu di antara mereka bergerak iseng menggigit bibir yang lain, menimbulkan rintihan kecil yang tidak berarti apa-apa ketika kecupan lembut datang menyerbu setelahnya. Saliva mereka bertukar dengan leluasa, tidak ada penghalang apa pun untuk mereka mereguk rasa manis dari bibir masing-masing selain pasokan oksigen yang menipis—mengharuskan mereka mengambil jeda demi menarik napas dalam-dalam.
“Say it again,” bisik Segara persis di depan bibir Lana. “Say that you miss me. Miss my body. Miss my cologne.”
“I miss you. I Miss everything in you,”
Malam masih muda, Segara tidak ingin menyia-nyiakannya dengan meratap seperti hari yang lalu. Dia ingin berhenti merasa khawatir. Dia ingin, bersama Lana, jalan hidupnya bergerak lain dan dia bisa lebih leluasa mengekspresikan perasaannya tanpa dibayangi rasa takut akan ‘seseorang’ yang bahkan tidak tahu seperti apa wujudnya.
__ADS_1
“I miss you too, Dear.” Sekali sentakan, tubuh kecil Lana yang beratnya tidak seberapa itu Segara angkat, lalu dia daratkan di atas meja makan. Kemudian, pagutan itu kembali dimulai. Lengan Lana sukarela bersemayam di leher Segara. Jemari lentiknya sesekali merayap naik, menjamah helaian rambut Segara yang tebal dan kasar, meremasnya pelan untuk menyalurkan letupan-letupan manja yang terasa hebat memenuhi dada.
Waktu terus berjalan, membawa Segara semakin jauh menjelajah pada tubuh istrinya yang pasrah. Bibir Lana sudah tidak lagi menjadi satu-satunya tempat yang dia tuju. Kini, belah bibir tebal Segara menginvasi area leher Lana yang terbuka sebab perempuan itu sepertinya sengaja membuka dua kancing teratas dari kemeja yang dikenakannya.
“Akh!” Lana memekik pelan kala merasakan nyeri singkat di lehernya. Segara baru saja menggigit kecil di sana, meninggalkan tanda gigitan yang akan berubah menjadi merah keunguan nantinya.
“Oh, wait.” Di sela-sela kecupan basah yang dia daratkan di leher Lana, Segara tiba-tiba teringat sesuatu. Ia mendongak, menatap Lana dari sudut tak biasa dengan sorot bertanya-tanya.
“Apa?”
“Mikha.”
Kepekaan Lana membuat perempuan itu tidak perlu mendengar pertanyaan lebih lengkap. Dengan senyum tipis, ia menjawab, “Nginep di rumah Mama. Tadi siang Mama sama Papa ke sini, terus Mikha ngerengek minta ikut.”
“Arkana?”
“Pergi sama teman. Dia bilang nggak akan pulang malam ini.”
Dengan jawaban itu saja, senyum miring tiba-tiba terbit membingkai wajah Segara.
“Jadi, kamu sengaja pakai outfit kayak gini karena nggak ada siapa-siapa di rumah? Sengaja mau mancing, hmm?” godanya.
Sudah tentu, perkataan itu membuat rona merah kembali hadir menghiasi wajah Lana. Dia malu. Terlebih, memang bukan itu tujuan dia mengenakan kemeja milik Segara. Dia memang merindukan Segara, sebesar itu hingga tidak terpikir cara lain olehnya selain mencuri satu potong kemeja untuk dia kenakan agar tetap merasa dekat dengan sang suami yang entah kapan akan pulang.
“Ng—nggak, nggak gitu.” Lana gelagapan.
Reaksi itu membuat Segara tergelak. Puas sudah dia menggoda istrinya yang... polos itu.
“Iya pun nggak apa-apa, kok. Aku suka.”
“Ish!” bunyi bugh kencang terdengar kala Lana memukul dada Segara, namun suaminya itu malah semakin kencang tertawa.
Lana kesal, tetapi dia tidak punya daya untuk membuat tawa itu mereda. Ah, sebetulnya, dia hanya tidak mau. Tawa itu membahagiakan untuknya. Sesuatu yang berharga jika harus dia stop hanya karena merasa kesal ataupun malu. Maka, Lana memutuskan untuk membiarkan tawa itu menggaung memenuhi seluruh area dapur yang semula sunyi. Menerobos keheningan yang suka semaunya sendiri.
Malam itu menjadi salah satu malam terbaik bagi Segara dan Lana. Karena setelah gelak tawa itu mereda, mereka kembali melanjutkan aktivitas yang tertunda. Melakukannya di dapur sepertinya asyik juga, tetapi demi menjaga kenyamanan bersama, Segara membawa tubuh Lana yang sudah dia obrak-abrik ke kamar mereka. Melanjutkan sisa perjalanan mereka menuju surga di kamar yang dulu dia bilang tidak akan dimasuki perempuan mana pun selain Karenina.
“I love you.” Pernyataan cinta dari Segara yang pertama untuk Lana, di malam yang penuh dengan euforia.
Bersambung
__ADS_1