
Ingatan tentang ‘aktivitas panas’ yang dia lakukan bersama dengan Lana semalam membuat tingkat konsentrasi Segara nyaris berada di angka 0. Ia terus terngiang-ngiang suara lembut Lana yang menggema menggaungkan namanya, terbayang pula wajah merah yang tampak malu-malu menerima setiap sentuhan yang dia berikan di sekujur tubuh perempuan itu. Dalam hal mengendalikan diri, Segara bisa mengatakan bahwa dia cukup ahli. Namun malam tadi, dia hampir-hampir kehilangan kontrol diri saking gemasnya ia pada reaksi lucu yang Lana tunjukkan.
Tak bisa lagi melanjutkan sisa pekerjaan yang memang tidak terlalu mendesak, Segara memutar kursi. Pemandangan langit siang hari yang merupakan perbaduan antara warna biru dan putih yang cantik tersuguh apik di depan matanya melalui jendela kaca besar yang bening.
Untuk beberapa lama, ia terpaku, terkagum melihat segala keindahan yang Tuhan suguhkan secara cuma-cuma untuk para manusia. Sampai kemudian, bayangan wajah Lana kembali menyita perhatiannya. Hamparan langit yang cantik seketika pudar, tergantikan dengan raut menggemaskan yang Segara temukan ketika ia pertama kali membuka mata pagi tadi.
Tidak seperti hari-hari monoton yang dia lewati selama beberapa tahun terakhir, Segara mengawali harinya dengan perasaan yang berbunga-bunga. Degup-degup manja yang sudah lama tidak dia rasakan pun kembali, tatkala ia menemukan wajah polos Lana yang terlelap di dalam dekapannya. Tubuh mereka masih sama-sama bersih, hanya terbalut selimut tebal yang bahkan sempat melorot hingga membuat bahu mulus Lana terekspos begitu saja.
Seakan tidak ingin bahu istrinya ikut dinikmati oleh benda-benda mati yang ada di dalam kamar, Segara menaikkan lagi selimut yang mereka gunakan hingga menutupi ke batas leher Lana. Lalu ia memeluk Lana lebih erat, membiarkan hidung Lana menyentuh dada bidangnya yang telanjang.
Kalau saja ia tidak memiliki kewajiban untuk datang ke kantor, Segara pasti akan menghabiskan waktu lebih banyak untuk berbaring dan tetap memejamkan mata seraya memeluk tubuh mungil Lana kian erat. Mungkin akan memakan waktu seharian. Mungkin akan butuh banyak sekali menit yang terlewat sampai dia rela melepaskan Lana dari dalam dekapannya yang hangat.
“Project berjalan lancar bukan berarti Pak Segara bisa malas-malasan.” Suara Adella menginterupsi, membuat Segara tersentak dan tertarik kembali ke alam sadar. Ia pun segera memutar kursi, sedikit cemberut saat menatap Adella yang berjalan ke arahnya seraya membawa satu kotak makan siang.
“Ada yang namanya adab, Del. At least kamu bisa ketuk pintu dulu sebelum masuk.” Ocehnya.
Tidak terima dikatai akhlakless alias tidak punya adab, Adella mencebik. Ia meletakkan kotak makan siang yang dia bawa ke atas meja Segara dengan gerakan sedikit membanting, membuat sang bos terkesiap dan melongo tak percaya. “Saya udah ketuk berkali-kali, tapi Bapak sama sekali nggak menyahut.” Ucap Adella membela diri. Tak takut, perempuan itu mulai bersedekap, menatap galak sosok Segara seperti seorang ibu yang hendak memarahi anaknya. “Sesuai SOP, saya boleh masuk kalau Bapak nggak menyahut setelah ketukan kelima. Di sini, saya hanya menjalankan tugas sesuai SOP dan justru Bapak lah yang melanggar.” Lanjutnya.
“Saya nggak dengar kamu ngetuk.” Tutur Segara. Seingatnya, dia memang tidak mendengar suara ketukan. Mungkin saking tenggelamnya ia di dalam pikiran tentang Lana.
“Gimana mau dengar kalau Bapak sibuk melamun?” tuduh Adella, tepat sasaran.
Tapi bukan Segara namanya kalau mau mengalah begitu saja. Apalagi ini ada hubungannya dengan wibawa seorang pimpinan. “Saya nggak melamun.” Dia mengelak.
Adella memutar bola mata jengah. Sedari pagi ketika bosnya itu datang ke kantor, ia sudah mencium gelagat aneh. Raut wajah Segara yang biasa terlihat serius tiba-tiba saja berubah menjadi lebih kalem. Bahkan, Adella bisa melihat dengan jelas adanya lengkungan di kedua sudut bibir lelaki itu, mengindikasikan adanya hal baik yang kemudian memengaruhi suasana hatinya.
Sebenarnya, itu bukan hal buruk. Bagus malah kalau Segara bisa lebih sering tersenyum saat datang ke kantor. Sebab biar bagaimanapun, suasana hati seorang pimpinan yang baik juga akan berpengaruh banyak pada karyawannya. Tapi kalau suasana hati baik itu malah membuat daya konsentrasi Segara menurun, jelas tidak bisa dibiarkan begitu saja.
“Kamu udah makan?” tanya Segara tiba-tiba, membuat Adella mau tak mau menurunkan sedikit tensinya untuk menganggukkan kepala.
“Good.” Segara ikutan mengangguk. Kemudian, kotak makan siang yang tersaji di depannya mulai dia buka, dia amati satu persatu isinya lalu dia kembali mengangkat kepala menatap Adella. “Hari ini saya nggak ada jadwal meeting sama klien, kan?” tanyanya. Selagi tatapannya masih tertuju pada Adella, tangannya mulai bergerak menyendok makanan, lalu membawa suapan kecil ke dalam mulut.
“Nggak ada. Bapak free sampai besok sore. Kenapa?” Adella balik bertanya. Jarang-jarang Segara memastikan jadwalnya seperti ini.
“Saya mau pulang cepat, ya. Satu jam sebelum jam pulang. Boleh?” tanya Segara. Sudah menjadi kebiasaan. Ia akan selalu meminta izin kepada Adella kalau kiranya harus pulang cepat atau tidak bisa masuk ke kantor. Padahal kalau dipikir-pikir, dia punya wewenang untuk mengatur kehadirannya sendiri.
Adella berpikir sebentar, mengingat-ingat dulu adakah kiranya pekerjaan yang mengharuskan Segara tetap stand by di kantor meski tidak ada pertemuan dengan klien. Lalu setelah dia yakin tidak ada, barulah ia menganggukkan kepala.
__ADS_1
“Oke, makasih, Del.”
Adella hanya menganggukkan kepala, lalu pamit undur diri karena masih ada pekerjaan yang harus dia urusi. Lagipula, untuk apa dia berlama-lama di ruangan Segara? Untuk menyaksikan laki-laki itu makan sambil terus mengulum senyum? Tidak, terima kasih. Meski ia begitu penasaran apa kiranya yang berhasil membuat seorang Segara Adhitama yang serupa kulkas 21 pintu itu mencair, Adella tidak akan mau repot-repot menghabiskan waktu untuk bertanya.
Setelah Adella pergi, Segara melanjutkan acara makan siangnya dengan lebih khidmat. Suapan demi suapan yang berakhir pada kosongnya kotak makan siang yang Adella bawakan sudah cukup menjadi bukti bahwa suasana hati yang baik memang memengaruhi begitu banyak hal. Di hari-hari biasanya, Segara hampir tidak pernah bisa menghabiskan makan siangnya. Selalu saja ada hal-hal mengganjal yang membuatnya meninggalkan kotak makan siang dalam keadaan setengah penuh.
Beres makan, Segara membasuh tenggorokannya yang seret menggunakan air mineral yang selalu tersedia di dalam ruangan. Ia mengambil satu botol ukuran sedang, lalu menenggaknya hingga benar-benar tandas menyisakan botol kosong yang kemudian dia remas-remas sedemikian rupa sebelum akhirnya dia buang ke tempat sampah.
Tadinya, Segara ingin kembali bekerja. Yah, sekadar memeriksa hasil kerja para karyawannya saja, bukan pekerjaan yang benar-benar akan menguras energi dan konsentrasi yang berlebihan. Namun, keberadaan ponsel yang sunyi senyap di atas meja kerja membuat Segara mengurungkan niatnya.
Segara menarik ponselnya mendekat. Saat diketuk dua kali, layar ponsel yang semula padam itu menyala, menampilkan wallpaper dengan foto dirinya tengah menggendong Mikha. Itu adalah foto yang mereka ambil akhir tahun lalu, ketika mereka pergi liburan ke Bandung hanya berdua saja. Status bar di bagian pojok kiri atas menunjukkan jam 13:29. Hampir setengah dua, tapi tumben sekali ponselnya sepi dari notifikasi yang biasanya datang beruntun. Setiap jam makan siang dan setelah jam tidur siang Mikha usai, Lana biasanya akan rutin mengirimkan pesan. Isinya tidak jauh-jauh dari laporan tentang menu makan siang apa yang Mikha makan dan berapa lama Mikha tidur siang hari itu.
Sepinya notifikasi di ponsel membuat Segara bertanya-tanya. Apa gerangan yang terjadi di rumah, sampai Lana tidak sempat mengabarinya seperti biasa? Apakah perempuan itu sedang mengerjakan pekerjaan rumah yang sejatinya merupakan tugas Bi Surti seperti yang sudah selalu perempuan itu lakukan tanpa sepengetahuan dirinya?
Tak ingin menerka-nerka, Segara pun segera men-dial nomor Lana pada mode panggilan video. Ia harus menunggu cukup lama, untuk berakhir menerima bahwa panggilannya tidak diangkat.
Awalnya dia masih berusaha berpikir positif, mungkin Lana sedang menemani Mikha tidur siang atau perempuan itu sedang berada di kamar mandi. Tapi setelah ia mencoba menelepon empat kali lagi dan masih tidak ada jawaban, Segara berubah gusar.
“God....” lirihnya, dalam hati masih berdoa semoga tidak sedang terjadi apa-apa.
Pikiran buruk serta kenangan tentang teror yang dia terima di masa lalu kembali menyambangi kepalanya. Selama berminggu-minggu terakhir, dia menjalani kehidupannya dengan terlalu damai, sampai-sampai sempat lupa bahwa hidupnya masih tidak baik-baik saja karena pelaku peneroran terhadap keluarganya masih belum ketemu juga.
Hingga akhirnya, satu denting yang nyaring membuat Segara buru-buru memeriksa ponselnya. Pesan itu datang dari Lana. Sebuah gambar dikirimkan kepadanya tanpa embel-embel pesan apa pun sehingga membuatnya mau tak mau bertanya.
Perut Segara yang tadinya hanya terasa kenyang kini mendadak mual, kepalanya pusing dan napasnya jadi pendek gara-gara detak jantungnya juga ikutan meningkat. Baru juga dia merasa hidupnya adem ayem, mulai bisa mendekatkan diri dengan Lana dan baru akan membuka hati lebih lebar, si Mikha malah ada-ada saja.
Tahu bahwa Mikha sudah tidak akan bisa dibujuk lagi, Segara akhirnya mengembuskan napas panjang. Panjang sekali, sampai-sampai dia berpikir itu mungkin adalah kali terakhir dia bisa bernapas. Lalu, alih-alih membaca deretan balasan yang Lana kirimkan, Segara memilih untuk men-dial nomor perempuan itu sekali lagi.
Tak butuh waktu lama, telepon pun langsung tersambung. Wajah sembab Mikha menyambut, hidung merahnya seakan mempresentasikan seberapa banyak dia menguceknya dalam upaya menyingkirkan ingus yang turut keluar selagi ia menangis.
“Kenapa?” tanya Segara dengan suara selembut sutra. Meski sudah mendapatkan penjelasan dari Lana, ia tetap ingin mendengar langsung dari bibir Mikha.
Namun sayang, Mikha tidak menjawab. Bocah itu malah memalingkan muka, menyembunyikan diri di dada ibunya.
“Mikha, Daddy lagi nanya sama kamu, malah ngelengos.”
__ADS_1
Masih sama. Mikha masih enggan bersuara. Tangan kecilnya malah memeluk erat pinggang Lana, seperti memberi kode agar ibunya itu tidak memaksa melepaskan pelukan dan menyuruhnya berbicara dengan sang ayah. Kalau bisa ditumpahkan, Mikha mungkin akan mengatakan bahwa ia malas sekali berbicara dengan ayahnya karena hasil akhirnya akan tetap sama. Ia pasti tetap tidak akan dibolehkan memiliki adik, seperti yang sudah-sudah.
Segara memijat pangkal hidungnya, merasakan pening yang super duper mengganggu. Ia enggan mengatakan ini, tapi ujung-ujungnya tetap dia katakan karena sudah lelah melihat Mikha ngambek untuk yang ke-sekian kalinya karena alasan yang sama.
“Ya udah, iya, boleh punya adik.” Seraya melirik takut-takut ke arah Lana. Benar saja, perempuan itu langsung melemparinya tatapan terkejut, antara siap dan tidak siap mendengar celetukannya yang terkesan asal. Untuk itu, dia hanya bisa menatap balik Lana seakan berkata melalui matanya; “Ya gimana lagi, anaknya mau.”
Sudah diiyakan begitu pun, Mikha masih enggan berbicara. Hanya sudi menjauhkan wajahnya sedikit, mengintip ke arah layar ponsel untuk memastikan ayahnya masih ada di sana.
“Daddy bilang boleh.” Segara mengulangi statement-nya. Kalau-kalau Mikha belum menangkap apa yang dia sampaikan karena masih sibuk ngambek.
Barulah setelah itu, Mikha mau mencurahkan kembali perhatiannya kepada Segara. Seraya mengusap sisa air mata menggunakan tangan kecilnya, bocah itu merebut ponsel dari tangan Lana, mengambil alih panggilan. Kini yang terhampar di depan Segara benar-benar hanya wajah tembam Mikha yang masih memerah.
“Beneran boleh?” tanya anak itu dengan suara serak.
“Boleh, tapi ada syaratnya.”
“Apa?”
“Nggak boleh ngambek terus. Kalau mau punya adik, Mikha harus jadi anak baik. Nanti gimana mau ngajak main adiknya lalu kamu masih suka ngambek?" Segara menjelaskan. Dilihatnya Mikha tampak berpikir, lagaknya sudah seperti orang dewasa yang sedang hendak melakukan negosiasi. “Bisa, nggak?”
Diawali dengan hela napas pelan, kepala Mikha kemudian mengangguk. “Bisa, Daddy.”
“Janji?”
“Eheum, janji.”
“Good girl. Sekarang, kamu tidur siang. Jangan nakal, jangan bikin Mommy pusing. Nanti pulang kerja Daddy bawain biskuit kesukaan kamu.”
“Tapi Daddy juga janji kan soal adik?”
“Iya, janji.”
“Okeeeee Daddy!” raut wajah Mikha langsung berubah cerah. Hilang sudah kemurungannya, lenyap entah ke mana. Setelah itu, panggilan diputus begitu saja, membuat Segara melenguh kecewa. Padahal dia masih ingin bicara, setidaknya dengan Lana.
“Anakmu, Ren, Ren, kelakuannya.” Keluhnya. Bedanya, di keluhan kali ini, sudah tidak ada lagi bayangan sosok Karenina yang hadir. Ia sudah merelakannya. Sudah tidak akan lagi memaksa perempuan itu datang karena dia sadar, menahannya terlalu lama untuk tetap ikut terlibat dalam setiap permasalahan dunia hanya akan membuat jalan perempuan itu untuk menuju ‘keabadian’ terhambat.
Siang itu, Segara bertekad, ia akan memulai kehidupan barunya. Dengan lebih bahagia, dengan lebih berlapang dada.
__ADS_1
Bersambung