
Jika Segara adalah pengembara yang tersesat di padang gurun yang tandus, maka bibir Lana adalah sumber mata air yang akan menjadi satu-satunya penyelamat agar ia tidak mati kehausan. Tapi lama-kelamaan, yang dia reguk jadi terlalu banyak, terlalu serakah hingga membuat sang empunya mata air nyaris kehilangan napas.
“W-wait,” beberapa kali tepukan mendarat di dada bidang Segara, persis setelah lelaki itu menjatuhkan punggung Lana ke atas kasur. “A—ada Mikha.” Lana menyambung dengan napas yang kepayahan.
Segara menoleh ke arah samping, di mana Mikha sudah terlelap sambil memeluk erat si beruang Hechi. Lalu, ia kembali melabuhkan fokus pada Lana yang ia kungkung di antara lengan kokohnya. “Emang kenapa kalau ada Mikha?” godanya.
“We’re not going to ... uhm, you know ... I mean—“ Lana tergugup. Tatapannya pun tak lagi mampu terarah langsung ke manik kelam Segara, malah beralih menatapi dada bidang Segara yang sedikit mengintip dari dalam baju tidur yang dua kancing teratasnya sudah terbuka. Entah siapa pelakunya, Lana tidak tahu.
“Apa? Kita mau ngapain? Yang jelas kalau ngomong.” Makin menjadi-jadi Segara menggoda istrinya. Dia tidak semesum itu untuk ‘menghajar’ istrinya selagi ada Mikha di dalam kamar bersama mereka. Hanya ingin main-main, sebab menjahili Lana terlampau mengasyikkan untuk dia lewatkan begitu saja selagi ada kesempatan. “Kamu mikir apa, hmm?”
“W-wow!” Lana memekik kala lengan Segara tahu-tahu menarik tubuhnya, membalikkan keadaan hingga kini ia lah yang berada di atas tubuh suaminya.
“Tell me, emang kita mau ngapain?” kedua tangan Segara berdiam di pinggang Lana, seakan tidak menginginkan perempuan itu beranjak dari posisinya.
“Ga!” satu pukulan lagi mendarat di dada Segara. Panik, Lana menoleh cepat ke arah Mikha untuk memeriksa kondisi putrinya. Adegan pembalikan posisi tadi membuat ranjang yang mereka tempati bergoyang, jadi dia khawatir tidur Mikha akan terganggu. Tapi untungnya, anak itu terlihat baik-baik saja.
“Kamu belum jawab. Emang kamu kira kita mau ngapain?” tanya Segara lagi. Kali ini, satu tangannya terulur, jemari panjangnya bergerilya menjelajahi pipi Lana yang merah merona dengan pola acak yang teratur. “Bikin adik buat Mikha?” sambungnya kala Lana tak kunjung bersuara.
__ADS_1
Celetukan itu berhasil membuatnya dihadiahi gebukan keras di lengan, namun Segara malah tertawa terbahak-bahak sebagai responsnya. “Apa, sih? Kok malah KDRT? Kan aku cuma nanya.” Ujarnya di sela-sela ledakan tawa.
“Diem. Nanti Mikha bangun!” Lana membungkam bibir Segara menggunakan kedua telapak tangannya supaya suara tawa Segara yang renyah tidak menggema ke mana-mana.
Tapi alih-alih berhasil membuat suaminya itu berhenti tertawa, Lana malah dibuat kembali tersentak kala sekali lagi Segara membalikkan posisi mereka. “Kamu lucu.” Segara berucap persis di depan wajah Lana, membuat yang diajak bicara kembali bungkam tak berdaya. “No. We’re not going to make love tonight. I just want to kiss you a good night.” Diakhiri dengan mendaratkan satu buah kecupan di bibir yang dibiarkan cukup lama. Hanya sebuah kecupan. Tidak ada gerakan-gerakan lain yang akan berubah menjadi penuh tuntutan seperti sebelumnya.
Mungkin 10, atau 15 detik kemudian, Segara menjauhkan lagi wajahnya, kembali menatap Lana dengan cara yang sudah sepenuhnya berbeda dari hari-hari sebelumnya. “Good night, Mommy.” Katanya, lalu satu kecupan lagi mendarat di kening Lana kemudian Segara menjauhkan diri.
“Aku pindahin Mikha ke kamarnya dulu,” ucap Segara seraya mengangkat tubuh Mikha dengan hati-hati.
Dengan gerakan yang sama pelannya pula, Lana mendudukkan diri di atas kasur. Terheran-heran ia melihat tubuh kecil Mikha yang hendak dipindahkan. Just why? Kenapa harus dipindahkan kalau mereka memang tidak hendak melakukan apa pun? Lagipula, mereka sudah berjanji untuk tidur bertiga. Apa jadinya kalau Mikha membuka mata dan menyadari bahwa ia telah berada di kamar yang berbeda?
“Nggak akan ngamuk kok, tenang aja.”
“Tahu dari mana?” Lana ragu-ragu.
“Tanya nih sama anaknya.”
__ADS_1
“Hah?” Lana keheranan. Anaknya lagi tidur begitu kok, bagaimana bisa akan menjawab pertanyaannya? “Kamu nih an—“
“Udah pura-pura tidurnya, tuh Mommy mau nanya.” Segara berbisik di telinga Mikha. Benar saja ternyata, bocah itu mesam-mesem dengan mata yang masih terpejam. Lalu detik kemudian, mata kecilnya perlahan terbuka dan senyuman tipis itu mengembang lebih lebar.
Jadi, apakah Mikha pura-pura tidur sejak tadi? Sejak kapan tepatnya? Sejak Segara membalikkan tubuhnya hingga membuat ranjang mereka bergoyang, atau malah sejak Segara turun menyusul dirinya ke ruang tamu? Entah. Lana sama sekali tidak memiliki ide apa pun. Yang terpikir olehnya hanya; sampai sejauh mana Mikha menyaksikan pergumulan antara dirinya dengan Segara?
“He-he ... Mommy,” si anak cengengesan. Lana tak langsung menyahut, ia masih terlalu syok dan melongo tak percaya atas tingkah Mikha yang ada-ada saja.
“Mikha nggak akan ngamuk kan kalau Daddy pindahin ke kamar?” karena Lana tak kunjung buka suara, Segara pun akhirnya mewakili untuk menanyakan hal tersebut kepada Mikha.
Yang ditanya masih cengengesan sambil menganggukkan kepala. Di dalam gendongan ayahnya, ia bahkan masih sempat-sempatnya mencari posisi wuenak agar lebih nyaman.
“Tuh, anaknya udah jawab.” Ujar Segara. “Ya udah, aku anterin dia ke kamarnya dulu. Kamu tidur duluan gih.” Sambungnya.
Tapi sebelum pergi, Segara berjalan mendekat, hanya untuk membiarkan Mikha mendaratkan kecupan singkat di pipi ibunya. “Good night, Mommy!” ujarnya riang. Lana masih tidak bisa merespons, jadi dia hanya diam. Masih terus diam sampai kemudian Segara berjalan menjauh bersama Mikha yang cekikikan.
Oh, sungguh... dia ini sedang dikerjai atau bagaimana oleh sepasang ayah dan anak itu?
__ADS_1
Bersambung