
Arkana cuma bisa menghela napas saat Segara memutuskan untuk membiarkan Rudi pergi. Kepada Segara, remaja laki-laki itu mengatakan bahwa ia terpaksa melaksanakan perintah dari seseorang yang tidak dikenal untuk menyampaikan teror kepada Segara karena dia diancam.
Dan Segara dengan begitu murah hatinya membiarkan Rudi berlalu bersama ibunya tanpa meminta penjelasan lebih lanjut. Lelaki itu bahkan tidak mencoba mendesak Rudi untuk mengatakan siapa yang telah menyuruhnya ketika remaja itu berkata tidak tahu dan dia hanya mendapatkan perintah melalaui surat kaleng yang dilemparkan seseorang ke pekarangan rumahnya.
Dengan langkah mengentak-entak, seusai memastikan Rudi dan ibunya pergi dari rumah Segara, Arkana menghampiri lelaki itu. Matanya masih tidak bisa lepas dari lelaki yang kini duduk anteng di kursi kerjanya itu. Arkana menatap Segara tajam, seolah hanya dengan tatapannya saja, ia bisa membuat Segara hancur berkeping-keping.
"Gue dateng jauh-jauh ke sini bukan buat dengar omong kosong ini, Ga." Kata Arkana, menumpukan kedua lengannya di depan meja kerja Segara. Tubuhnya dicondongkan ke depan, hingga matanya bisa menatap langsung ke manik kelam lelaki di hadapannya ini.
"Seharusnya kita paksa dia buat kasih informasi lebih banyak. Gue yakin dia tahu sesuatu, Ga." Arkana masih setia pada pemikirannya bahwa mustahil Rudi tidak tahu apapun.
"Rudi bilang dia nggak tahu siapa orang yang udah kasih perintah." Segara masih bisa bicara dengan nada suara yang tenang, membuat Arkana yang sudah termakan emosi menjadi semakin geram. Tangannya yang berada di atas meja mengepal, sekuat tenaga menahan diri untuk tidak melayangkan tinju mentah ke wajah Segara untuk membuat lelaki itu sadar.
"Dan lo percaya? Lo percaya sama omongan bocah ingusan itu? Tampangnya aja udah berandal gitu, Ga. Lo yakin dia mau nurut sama orang yang nyuruh dia cuma karena diancam ibunya bakal celaka kalau dia nggak nurut? Bullshit, Ga. Gue nggak percaya sama omongan dia." Arkana bicara dengan menggebu-gebu, ia memukul meja beberapa kali hanya untuk membuat Segara meloloskan hela napas berat.
Saat Segara akhirnya bangkit dari kursinya dan memaksa Arkana untuk kembali menegakkan badannya, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana mata-mata kelam itu berubah menjadi lautan amarah yang sama sekali tak berusaha untuk disembunyikan. Di tengah-tengahnya, ada guratan luka dan kepedihan yang semakin membuat kilat marah itu kian menjadi.
Arkana menelan ludahnya susah payah ketika Segara berjalan melewatinya, setelah mengucapkan sesuatu yang begitu menusuk sampai ke ulu hatinya.
"Mikha diam-diam dengerin omongan kita dari dalam kamarnya, itu sebabnya gue minta Rudi pulang karena gue nggak mau anak gue mendengar hal-hal yang nggak seharusnya dia dengar."
Kemudian punggung tegap itu menghilang di balik belokan, menyisakan Arkana yang diam mematung dengan tatapan nanar.
...****************...
__ADS_1
Segara berjalan menuju kamar Mikha. Saat sampai di sana, dia menemukan bocah itu sedang berbaring memunggungi connecting door seolah bocah itu sedang lelap dalam tidurnya. Padahal Segara tahu kalau bocah itu tadi diam-diam menelusup masuk ke dalam kamarnya dan menguping pembicaraan antara dirinya dengan Rudi.
Kadang kala, Segara memang lupa kalau Mikha itu anaknya Karenina, perempuan yang tumbuh dewasa bersama banyak luka dan air mata hingga otak cerdiknya harus bekerja ekstra memikirkan bagaimana caranya untuk bertahan hidup di tengah berputarnya dunia yang sialan ini. Segara lupa kalau Mikha mewarisi otak cerdas Karenina, sehingga di umurnya yang masih kecil, anak itu sudah memiliki begitu banyak keingintahuan tentang dunia sekitarnya.
"Mikha," panggil Segara pelan setelah duduk di tepian kasur. Tangannya bergerak pelan mengusap kepala Mikha, karena hanya itu satu-satunya cara untuk meredam emosinya yang nyaris meledak-ledak.
Tidak ada sahutan, Mikha masih bersikeras untuk melanjutkan sandiwaranya sehingga membuat Segara terpaksa menarik tangannya dari kepala gadis kecil itu. Dia berdeham, kemudian bergerak naik ke atas kasur hingga membuat kasur kecil itu bergoyang.
Tak berhenti di sana, Segara mulai mengulurkan kedua tangannya lalu jemari panjangnya bergerak begitu lincah menggelitiki tubuh mungil Mikha yang sontak membuat si bocah menggeliat bagai cacing kepanasan.
Tawa renyah Mikha mengudara, diiringi pekikan berisi permohonan agar Segara menghentikan ulah jemari panjangnya menggelitiki anak itu. Tapi Segara tentu tidak akan berhenti. Dia terus melanjutkan aksinya hingga akhirnya tawanya meledak ketika Mikha membalikkan badan dengan raut kesal yang tampak lucu. Bibir kecilnya mencebik, sedangkan wajahnya sudah merah padam.
Gerakan tangan segara otomatis terhenti. k
"Daddy iseng!" protes Mikha, hanya untuk membuat Segara semakin tergelak.
"Kenapa sih gelitikin Mikha? Daddy nggak happy main sama Om Ar, makanya gangguin Mikha tidur?" bocah itu bangkit, duduk bersila dan ikut-ikutan menyilangkan tangan di depan dada. Bibirnya semakin cemberut dan mata bulatnya melotot lucu.
"Emang kamu tidur?" Segara menjawab santai. Nada suaranya sama sekali tidak terkesan marah, tapi berkat kalimat itu, ekspresi wajah Mikha seketika berubah.
"Daddy tahu kamu nggak tidur." Lanjut Segara. Matanya menatap Mikha serius, berusaha menelisik lebih dalam ke manik indah milik putrinya yang selalu mengingatkannya pada sosok Karenina.
"Daddy marah?" tanya Mikha pada akhirnya. Ada ketakutan yang tersembunyi dari balik manik yang kini berbinar terang itu.
__ADS_1
Segara menggeleng, memaksakan seulas senyum meski rasanya sulit sekali untuk tidak menampakkan emosinya yang masih belum mereda. Kemudian ia bergerak mendekat, meraih tubuh kecil Mikha dan mendaratkannya ke pangkuan. Dia kecup puncak kepala Mikha dan membiarkan bibirnya ada di sana untuk waktu yang cukup lama.
Lalu, dengan suara yang tenang dan selembut mungkin, ia berkata, "Daddy nggak marah karena kamu pura-pura tidur. Tapi, Mikha, Daddy nggak suka kamu nguping pembicaraan orang lain seperti tadi. Itu nggak sopan, dan Daddy nggak pernah ajarin kamu untuk jadi anak yang nggak sopan."
Di atas pangkuannya, Mikha hanya diam. Tatapannya jatuh pada gambar beruang di kaus yang Segara kenakan, lalu jemari kecilnya bergerak pelan menyentuh gambar beruang itu dan mengusapnya beberapa kali. Segara tahu Mikha paham perkataannya. Dia yakin otak cerdas Mikha mampu mencerna apa yang dia sampaikan dan gadis kecil ini pasti sedang merenungkan kesalahannya.
"Untuk kali ini, Daddy maafkan. Tapi nggak boleh diulangi lagi, oke?" Segara mengangkat dagu Mikha agar mata-mata mereka bisa saling bertatapan. Dan ketika itu terjadi, Segara terpaksa menahan napas saat mata bulat itu tampak berair. Mikha hampir menangis, dengan bibir bawah yang maju beberapa senti.
"Hei, don't cry. Daddy nggak marah, Sayang. Daddy cuma mau kasih tahu kamu kalau menguping itu bukan hal yang baik untuk dilakukan. That's it." Kata Segara sembari menangkup pipi gembil Mikha, mengusap kulit lembut itu dengan ibu jarinya berharap hal itu bisa membantu Mikha untuk menjadi lebih tenang.
"Sorry, Daddy." Mikha berucap pelan, bulir air mata yang semula hanya menggenang di pelupuk matanya kini mulai berjatuhan, membasahi pipi gembilnya yang masih berada dalam tangkupan sang ayah.
Melihat putri kecilnya menangis, hati Segara mendadak sakit. Perih perlahan merayap memenuhi dadanya saat jemari panjangnya bergerak pelan mengusap tetes air mata yang menganak sungai di pipi Mikha.
"It's ok. Just promise me you wont do this again." Ucap Segara. Diraihnya tubuh kecil Mikha, dipeluk dan punggung kecil itu ia tepuk-tepuk beberapa kali. "It's ok, Sayang. It's ok." Bisiknya, mendaratkan sebuah kecupan lagi di puncak kepala Mikha.
Di ambang connecting door, Arkana berdiri menyaksikan sepasang ayah dan anak itu berpelukan. Di pandangan matanya, keduanya tak ubah rumah yang dipaksa untuk tetap kokoh berdiri saat satu tiang terkuat yang menyangga telah lebih dulu roboh menjadi kepingan kecil yang kemudian hilang tersapu angin, tak bersisa.
Kepergian Karenina adalah duka, dan serangkaian teror yang kini Segara terima adalah duka lain yang rasanya juga tak kalah pedih.
Arkana menghela napas panjang. Kepalanya kembali terasa penuh hanya dengan memikirkan kembali apa-apa saja yang telah terjadi selama beberapa bulan terakhir. Meski dia sudah bersusah payah mengerahkan tenaga untuk mengurai satu persatu permasalahan yang terjadi untuk sampai pada akarnya, pada akhirnya dia hanya menemukan jalan di depannya buntu, terhalang tembok tinggi yang dia tidak tahu ada hal apa di balik itu.
Bersambung
__ADS_1