
Matahari belum terlalu terik saat Pamela mengajak Mikha jalan-jalan di sekitaran kompleks. Sebenarnya, ia hanya menuruti kemauan Mikha, sih. Karena setelah Segara pergi ke rumah sakit, bocah itu benar-benar tidak mau diam di rumah. Mikha terus merengek padanya untuk dibawa keluar, jadi Pamela memutuskan untuk menurutinya saja daripada bocah itu menangis.
Pamela belum berpengalaman dalam hal mengasuh anak-anak. Sebagai anak tunggal, sekaligus cucu satu-satunya di dalam keluarga, dia terbiasa hidup sendiri. Tidak ada agenda berebut mainan. Tidak ada kehebohan yang berasal dari dua bocah yang saling sikut demi hal-hal sepele. Pun tidak ada euforia khas seperti ketika seseorang menimang keponakannya yang lucu. Jadi, sedari tadi, Pamela benar-benar hanya menuruti keinginan Mikhaela.
"Aunty, I want ice cream." Mikha menunjuk tukang es krim yang berhenti di dekat taman, sibuk melayani beberapa bocah yang rempong memilih es krim mana yang ingin dibeli. Para orang tua tampak menunggu di bangku taman yang lain, sambil bergosip soal anak tetangga depan rumah yang sering pulang malam diantar laki-laki bermobil mewah.
"Emang boleh sama Daddy?" tanya Pamela. Ia tidak terlalu tahu bagaimana Segara mendidik Mikha selama ini dan apakah ada hal-hal yang boleh dan tidak boleh bocah ini lakukan. Tadi sebelum pergi, Segara hanya bilang kalau Mikha alergi kacang.
"Boleh, kok. Kata Daddy Mikha boleh makan es krim, tapi nggak boleh lebih dari satu." Jelas si bocah lucu yang kini rambut hitam lurusnya dikuncir dua. Membuatnya terombang-ambing lucu saat bocah itu berlarian.
"Oke. Mau rasa apa?" Pamela menggandeng Mikha, lalu mereka berjalan mendekati tukang es krim yang sudah selesai melayani bocah-bocah tadi yang kini sibuk menikmati es krim sambil berjalan menghampiri orang tua masing-masing yang menunggu di bangku taman--sibuk bergosip.
"Coklat." Mikha menjawab tanpa ragu.
Pamela agak terkejut dengan jawaban Mikha. Padahal biasanya anak-anak seusia Mikha ini akan kesulitan kalau disuruh memilih satu di antara banyak. Tapi bocah ini benar-benar menjawab tanpa ragu. Diam-diam Pamela mengagumi bagaiamana Segara telah berhasil mendidik Mikha untuk hal-hal semacam ini.
Pamela pun membelikan sepotong es krim rasa coklat yang Mikha mau. Mereka hendak kembali ke rumah karena matahari sudah mulai naik dan sinar yang dipancarkan sudah tidak sehat lagi untuk tubuh. Sebelah tangan Mikha masih berdiam di genggaman Pamela, sedangkan satu lagi menggenggam erat stik es krim yang sedang dijilatinya dengan begitu khidmat.
__ADS_1
Saat hendak menyeberang jalan, Pamela terpaksa melepaskan gandengan tangannya karena tali sepatunya lepas. Ia buru-buru mengikat kembali tali sepatunya dan sesegera mungkin berdiri.
Namun saat tubuhnya sudah tegak berdiri, ia sudah melihat Mikha berada di tengah jalan, berjalan santai tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri. Tepat ketika bocah itu hampir sampai di pinggir jalan, sebuah motor melaju kencang ke arahnya.
Pamela yang panik lantas berlari menghampiri Mikha. Ditubruknya tubuh mungil itu, di dekap dalam pelukan untuk memastikan Mikha tidak terluka saat keduanya tersungkur ke atas aspal.
Pamela meringis merasakan perih di lengan kirinya. Namun ia lebih mementingkan kondisi Mikha sehingga buru-buru ia cek kondisinya.
"Mikha, kamu nggak pa-pa?" tanyanya panik. Diperhatikannya betul-betul tiap inci tubuh Mikha, memastikan tidak ada sedikit pun bagian tubuhnya yang terluka.
Mikha menggelengkan kepala. Tampaknya memang tidak ada bagian tubuhnya yang terluka. Hanya saja bocah itu memang terlihat terkejut. Barangkali juga sedikit kesal karena es krim rasa coklat yang sedang ia nikmati berakhir mengenaskan di atas aspal.
"Maafin Aunty Mel, ya karena udah lalai jagain kamu." Pamela menurunkan tubuh Mikha di sofa ruang keluarga.
"I'm ok, Aunty. But..." Mikha menghentikan ucapannya.
"Kenapa?" Pamela kebingungan.
__ADS_1
"Lengan Aunty berdarah." Tunjuk Mikha.
Pamela mengikuti arah telunjuk Mikha dan seketika itu juga meringis melihat darah mengalir dari lengan kirinya. Padahal tadinya ia pikir itu cuma luka gores kecil yang akan sembuh dalam waktu singkat. Rupanya ia salah.
"It's ok, bukan masalah besar. Yang penting kamu nggak apa-apa." Pamela berusaha menenangkan Mikha yang terlihat khawatir. Ia paksakan seulas senyum.
"Tunggu di sini ya, Aunty." Mikha tiba-tiba turun dari sofa, berlarin menaiki tangga sehingga membuat Pamela kebingungan.
Tak lama kemudian, Mikha turun membawa kotak obat di tangan. Bocah itu lalu meletakkan kotak obat di atas meja kemudian mulai menguarkan obat merah, alkohol, plester luka dan juga kain kasa.
"Mikha bantu obati ya, Aunty?" tawarnya.
Pamela hanya mengangguk. Sekali lagi dibuat takjub dengan sikap Mikha yang tidak terlihat seperti anak usia empat tahun. Segara benar-benar membesarkan Mikha dengan baik. Mungkin di lain kesempatan, Pamela akan bertanya pada Segara tentang kiat-kiat merawat anak agar tumbuh dengan baik.
Tangan mungil Mikha mulai bergerak membersihka luka di lengan Pamela. Perih seketika menjalari tubuhnya saat alkohol yang dituang ke atas kapas menyentuh lukanya yang terbuka. Sensasi dingin dan perih yang bercampur menjadi satu membuat Pamela menggigit bibir bawahnya.
Selesai membersihkan luka, Mikha hendak membubuhkan obat merah untuk kemudian membalut luka Pamela menggunakan kain kasa dan plester. Tapi pergerakan tangan mungil itu terhenti saat suara langkah kaki perlahan mendekat.
__ADS_1
Keduanya serempak menoleh ke arah pintu dan...
Bersambung